JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 169


__ADS_3

🔥 BALAS DENDAM - Part 4 🔥


Neraka menjadi rumah yang nyaman bagi para manusia dengan jiwa-jiwa berdosa. Mereka yang menjual jiwanya demi kesenangan sesaat, kemudian meringkuk dalam kegelapan. Sering kali, api neraka menyambar-nyambar jiwa mereka. Menautkan mereka dalam kesengsaraan yang tiada akhir.


Namun, mengapa manusia masih menginginkan seperti itu? Kejahatan, iri dengki, dendam, perbudakan mencuri, membunuh, memperkosa, segala kejahatan itu manusia nikmati dengan sengaja atau tidak sengaja. Bahkan, mereka melakukan itu dengan bangga.


Manusia yang lemah, manusia yang rapuh, manusia yang selalu mengulangi kesalahannya lagi. Mereka datang kembali dalam dosa dan terkungkum dalam kesalahan yang sama. Manusia-manusia seperti itulah yang menjadi incaran iblis untuk menjadi pengikutnya di dalam neraka. Ketujuh lapis neraka terbuka lebar, para Panglima neraka siap menerima jiwa-jiwa manusia yang berdosa dengan senyum dan seringai yang menakutkan.


...****************...


Evan mengikuti arah tujuan dari lokasi yang telah Nindy kirim. Lily pun bertanya kepada Evan. "Apakah kamu percaya terhadap gadis itu? Bukankah dia salah satu dari orang yang akrab dengan Ningsih? Bagaimana kalau dia menjebak kita?"


Evan pun tertawa dan menjawab, "Tenang saja, sayang. Jika gadis itu berani menjebak kita, atau bermain-main dengan kita, aku akan memerintah orang untuk membunuh orang tuanya. Aku sudah mengetahui di mana alamat gadis itu. Kedua orang tuanya sakit parah dan dijaga oleh orang suruhannya. Semua dalam kendaliku, sayang. Bukankah iblis harus lebih licik dari pada manusia?"


Lily pun tersenyum. "Kamu sangat hebat, Evan. Aku tidak akan meragukan kamu lagi," ucapnya sambil mengusap lengan Evan.


Evan pun tersenyum menatap Lily. Mereka bagaikan sepasang iblis yang kuat dan tak tertandingi. Dalam balutan asmara.


Di sisi lain, Alex dan Bima juga sudah berjaga. Mereka mulai merasakan gesekan kekuatan yang dikeluarkan oleh Evan dan Lily dari kejauhan.


"Alex, lebih baik kamu berjaga melindungi Mama dan juga keluarganya. Biar Papa yang menangani hal ini. Kamu tidak perlu ikut campur urusan ini. Biarlah Papa menyelesaikan dengan sahabat Papa itu," kata Bima dengan tegas kepada anaknya. Sesungguhnya, Bima tak ingin Alex ikut campur urusan ini karena tak ingin anaknya terluka.


"Ah, aku ini ingin membantu Papa dalam pertarungan ini. Alex tahu, mungkin Papa menganggap Alex ini masih anak kecil, tetapi Alex bisa membantu Papa lebih dari yang Papa kira. Untuk urusan Mama, Alex akan melingkarkan pelindung kepada Mama di sekitar rumah. Tenang saja, Pa." jawab Alex dengan penuh percaya diri.


Bima dan Alex berjaga di luar gerbang perumahan tanpa sepengetahuan Ningsih dan lainnya. Bima tahu pertempuran kali ini tidak bisa terelakkan. Semua hanya karena kesalah pahaman yang bergulir menjadi pertengkaran yang tiada akhir.


"Kali ini, aku harus mengakhirinya. Harus berakhir." tegas Bima saat melihat sebuah mobil melaju ke arah mereka.

__ADS_1


Seketika, awan gelap pun muncul. Angin berembus perlahan dan kemudian mulai kencang. Beberapa orang langsung berteduh karena hujan turun dengan deras begitu saja. Petir menyambar dan suara halilintar bergema. Cuaca ikut buruk, seakan menyambut kedatangan Evan dan Lily yang bertemu Bima dan Alex.


Evan menepikan mobilnya. Dia meletakkan di sana dan langsung mengajak Lily untuk mengubah wujud ke dalam bentuk tak kasat mata.


"Jadi, rupanya kau masih hidup? Kukira selama ini kau sudah musnah." Bima mengucapkan kata sapaan yang kurang bersahabat.


Evan pun merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan itu. "Bukankah kau yang seharusnya sudah lenyap? Aku tahu jika neraka lapis ketujuh sudah tidak menerimamu lagi. Kau masih terjerat dengan cinta pada manusia itu. Kau menyia-nyiakan kehidupan di neraka demi manusia yang berdosa. Harusnya kau bawa manusia itu jadi budak di neraka! Konyol sekali! Kau itu bukan malaikat! Kau itu iblis!" gertak Evan dengan merendahkan kan Bima.


"Apa bedanya aku dengan kau? Lalu, iblis wanita yang ada di sampingmu, bukankah dia dahulu juga manusia? Kau hanya beruntung, Tuan Asmodeus mau membantumu untuk membawa wanita itu menjadi iblis. Evan ... Evan ... sudahlah, kita hentikan saja pertengkaran Ini. Untuk apa kau mencariku dan ingin membuat masalah?" kata Bima pada sahabatnya yang masih penuh dendam dan amarah.


"Untuk apa kau bilang hal itu? Setelah kau memberikan segala pesakitan kepadaku, lalu kau mengajak damai? Lantas mau ditaruh dimana harga diriku sebagai iblis? Gara-gara kau, aku dan Lily dibuang dari neraka lapis keenam! Pertengkaran kita terakhir kali membuat Tuan Asmodeus marah terhadap kami, lalu sekarang kau mengajak damai tidak mungkin!"


Evan pun langsung menyerang Bima tanpa basa-basi lagi. Bima langsung menangkis serangan Evan. Dia khawatir jika Alex terkena dampaknya. Tanpa disadari Lily menyelinap untuk mencari di mana keberadaan Ningsih.


"Aku sudah berkata hentikan pertikaian ini. Tolong, Evan, kita dahulu adalah sahabat. Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku tidak ingin kita bertempur seperti dahulu lagi dan mengakibatkan semakin banyak rasa dendam di antara kita." tegas Bima berharap Evan menghentikan serangannya.


"Kau pikir aku bisa tertipu dengan akal mu itu? Jika aku lengah, kau pasti akan membalasku, 'kan? Bima ... Bima ... aku sudah hafal seperti apa dirimu!" seru Evan yang masih menyerang Bima bertubi-tubi.


Bima pun terkena serangan di bahu kanannya. "Apa katamu? Kau tidak tahu menahu tentang aku. Tolong, hentikan semua ini. Kita sama-sama iblis buangan dari neraka, bukan? Musuh kita bukanlah salah satu di antara kita, tetapi justru penguasa neraka. Jika kau ingin berdamai denganku, ayo kita cari cara untuk bisa kembali ke sana," bujuk Bima kepada Evan.


Evan pun menghentikan serangan. Dia terdiam sejenak memikirkan perkataan Bima. Ada betulnya juga apa yang dimaksud Bima. Evan pun berjalan menghampiri Bima perlahan.


"Bima, betul juga apa yang kau bilang. Sebenarnya aku ingin memusnahkanmu sekarang, tetapi bukankah kita sama-sama terbuang?" lirih Evan yang meratapi nasibnya.


"Pah, di mana iblis wanita tadi? Jangan-jangan ... datang ke rumah mama! Aku akan menyusulnya sekarang, Pa!" seru Alex yang menyadari keberadaan Lily sudah tidak berada di tempatnya lagi.


Bima pun seketika langsung ikut panik. Dia menyusul ke tempat Ningsih berada. Evan pun menyusul ke sana. Dia tidak tahu jika Lily nekat untuk datang ke rumah Ningsih tanpa ada persetujuan dari Evan.

__ADS_1


Ternyata benar dugaan Alex. Lily mencoba menembus lingkaran yang Alex buat untuk melindungi Mamanya. Ternyata lingkaran yang Alex buat cukup kuat untuk menangkal serangan. Lily tak bisa masuk. Justru Lily terpental jauh karena kekuatannya beradu dengan kekuatan Alex.


Evan langsung berlari menghampiri Lily. "Kamu tidak apa-apa, Lily? Sudah, jangan tembus lingkaran itu. Anak kecil yang bersama Bima bukan iblis sembarangan. Aku bisa merasakan auranya sangat berbeda. Dari kejauhan, kita sama sekali tidak mendeteksi adanya dia. Namun saat berdekatan, aku tahu juga kekuatannya melebihi dari antara kita." jelas Evan pada kekasihnya. Lily pun berdiri dengan bantuan tangan Evan.


Hujan deras mengguyur mereka. Empat Iblis yang kini berdamai untuk menghimpun kekuatan.


Alex pun menghampiri Lily dan Evan. "Om, Tante ... kalian tidak apa-apa? Maaf, perkenalkan namaku Alex. Aku anak dari Papa Bima dan Mama Ningsih," celetuk Alex membuat Evan dan Lily terperangah.


Evan dan Lily terkejut karena apakah bisa iblis mempunyai anak dengan seorang manusia? Mereka menatap lekat Alex lalu menatap Bima.


Bima pun mendekat. Dia pun tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sahabatnya yang sudah lama tidak dia pegang.


"Evan, betul kata Alex. Dia adalah anakku dan Ningsih. Kalau begitu, kau tahu, bukan? Apa alasanku ingin berdamai? Aku sudah muak dengan semua ini aku muak menyesatkan manusia. Andai kata aku bisa memilih, aku ingin kembali menjadi manusia dan hidup bersama Ningsih. Menghabiskan waktu bersamanya dan bersama anakku." ucap Bima penuh harapan.


Evan pun menjabat tangan Bima dengan erat. "Jika ini adalah alasanmu, aku akan menerimanya. Lily, hentikan pertikaian ini. Bukankah musuh kita yang sebenarnya adalah penguasa neraka lapis keenam dan ketujuh? Mereka yang telah membuang kita dan menyengsarakan kita." kata Evan meminta persetujuan Lily untuk berdamai.


Lily pun terdiam sejenak. Dia pun memikirkan tentang nasib Lee yang tersiksa di neraka. "Iya, setelah aku pikir-pikir, para penguasa itu menjebakku. Aku terpaksa menjadi seperti ini mengikuti perkataan Tuan Asmodeus. Nyatanya semua yang dia katakan jauh berbeda. Baiklah, aku akan membiarkan kalian hidup. Entah akan berakhir menjadi seperti apa, tetapi aku tidak akan mengungkitnya lagi." ucap Lily yang mengikuti perdamaian itu.


Alex pun tertawa girang melihat mereka sudah berbaikan. "Akhirnya aku punya Om dan Tante iblis yang baik hati. Terima kasih, Om dan Tante mau memaafkan Papaku dan juga Mamaku. Kalau begitu, hari ini harusnya kita rayakan dengan sesuatu," usul Alex terhadap kedua sahabat yang menjadi bersatu lagi.


"Iya, Alex. Terima kasih. Papa bangga mempunyai anak sepertimu. Oh iya, Evan, aku minta maaf jika selama ini membuatmu salah paham. Aku berlaku semua itu hanya karena menuruti perintah Tuan Chernobog. Kau tahu sendiri, bukan? Bahwa aku salah satu iblis yang paling patuh dengannya. Namun, semuanya berakhir dengan Tuan Chernobog membuangku begitu saja. Tak apa karena dia juga melepaskan Ningsih. Bagiku itu sudah cukup. Aku hanya ingin hidup bersamanya." jelas Bima membuat hujan mulai berhenti.


"Bima, bukankah kau tahu seorang manusia yang menjual jiwanya menjadi iblis masih mempunyai satu kesempatan untuk kembali menjadi manusia? Namun mungkin caranya tidak akan mudah. Apakah kau ingin mencobanya?" tanya Evan pada Bima.


Bima terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Seperti halnya waktu Alex memberi tawaran untuk membuat Bima menjadi manusia lagi. Bima sadar jika hal itu pasti ada bayarannya. Hal yang sulit dan tidak mudah untuk dilakukan, pasti membutuhkan pengorbanan yang besar juga. Bima tidak berani mengambil resiko itu. Terlebih saat ini sudah ada Alex bersamanya. Dia tidak bisa membahayakan kan diri dirinya sendiri ataupun istrinya, terlebih anaknya.


Jerat Iblis tak bisa lepas dari kehidupan Ningsih. Meski kini Bima bisa mengucap maaf, lantas masihkah dia disebut Iblis? Atau makhluk apakah dia saat ini?

__ADS_1


__ADS_2