JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 1


__ADS_3

...🔥 DARAH PERJANJIAN 🔥...


Lukas mendadak menjadi selebgram. Dia selalu menjadi trending topic dan incaran banyak wanita. Tanpa dia sadari, pengaruh yang Dinda berikan berefek pula pada sifatnya.


Lukas yang dahulu anak penurut, sekarang menjadi pembantah. Bahkan tak segan, dia memberontak terhadap perkataan Mama Fani.


"Apaan, sih, Ma? Atur-atur terus! Lukas sudah besar! Bentar lagi juga lulus kuliah. Biarinlah seneng-seneng dulu!" bentak Lukas pada Mama Fani yang memintanya untuk fokus skripsi.


"Lukas, kenapa marah sama Mama? Mama beri tahu yang terbaik buat kamu," lirih Fani berharap putranya sadar yang dilakukannya.


"BERISIK! Kalau mau ceramah jangan di sini! Dah, lah. Jenuh di rumah! Lebih baik pergi aja!" kata Lukas dengan nada tinggi..


Pemuda itu pun mengendarai motor sportnya melaju membelah jalanan Surabaya. Meninggalkan mamanya di rumah dengan segudang kecemasan di dada.


Lukas pergi dari rumahnya menuju rumah Angel. Kebetulan orang tuanya Angel sering pergi keluar kota untuk mencari nafkah. Angel anak tunggal seperti Lukas. Dia terbiasa sendiri di rumah. Namun, setelah mereka bersama dalam ikatan mistis yang dibuat Dinda, keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Tak elak, Lukas sering menginap di rumah Angel saat orang tuanya pergi.


Sesampainya di rumah Angel, Lukas segera memarkirkan motornya dan menghampiri Angel yang termenung di teras.


"Sayang, how are you?" sapa Lukas sambil duduk di samping Angel.


Angel langsung menatap Lukas dan memeluknya dengan erat. "Jangan pergi lagi. Tetap bersamaku. Please ...." lirih Angel yang terlihat belum mandi dan makan.


"Apa, sih? Aku cuma pulang tiga jam, loh, sayang. Sudah jangan begini. Yuk, mandi dulu. Terus kita makan di luar. Aku ada undangan review makanan di restoran terkenal. Kamu dandan cantik, ya," ucap Lukas sambil mengelus punggung kekasihnya yang memeluk tubuh Lukas.


"Iya, sayang. Asal bersamamu. Ke mana pun aku mau." Angel langsung berdiri dan seakan energinya kembali terisi.


Angel langsung melangkah ke kamar mandi. Dia bersemangat sekali. Berbeda dengan wajah muramnya saat menanti Lukas datang.


Lukas tak peduli dengan keanehan itu. Baginya, memiliki Angel sudah lebih dari cukup, untuk saat ini. Bukankah pikiran manusia bisa berubah dalam sekejap?


Angel mengenakan pakaian terbaiknya. Dress hitam selutut dengan jaket bulu warna senada dan sepatu berhak tinggi membuatnya anggun karena kulitnya yang seputih susu. Lukas selalu terpesona menatap kekasihnya. Hanya saja, pandangan mata Angel selalu kosong. Seakan tidak ada penghuni di dalam kedua manik mata gadis cantik itu.


"Lukas, aku sudah siap. Ayo kita pergi, sayang." ucap Angel yang kemudian membonceng samping di belakang Lukas.


"Oke, sayang. Sudah pakai helm, kan?" tanya Lukas memastikan.


"Sudah, sayang." jawab Angel dengan senyum manisnya.


Gadis itu memeluk erat Lukas seakan takut terjatuh. Selama perjalanan, banyak hal yang mereka bahas. Saat hendak sampai di tempat tujuan, Lukas terkejut melihat wajah Angel dari kaca spion yang mendadak berubah keriput, mengerikan.


Lukas mengerem motor mendadak. Hampir saja motornya menabrak mobil. Jantung Lukas berdegub kencang. Sangat ketakutan. Saat dia melihat ke kaca spion kembali, wajah Angel sudah seperti biasa. Pandangan kosong dari Angel seakan makin mengerikan. Lukas mencoba menepis pikiran itu. Dia pun memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan restoran.


"Angel, kamu nggak apa, kan? Sori ... tadi aku melamun." ucap Lukas saat hendak masuk restoran.

__ADS_1


"Nggak apa. Baru juga hampir menabrak. Andai mati pun, aku mau ikut bersamamu. Sampai di neraka juga aku mau." lirih Angel seketika membuat Lukas merinding.


"Apaan, sih? Nggak usah bercanda gitu nggak lucu. Yuk, masuk aja. Udah ditunggu pemiliknya," kata Lukas sambil menggandeng tangan Angel.


Angel tersenyum. Seakan hal yang dikatakannya bukan bercandaan.


Lukas pun menemui pemilik restoran. Sebagai selebgram yang lagi naik daun, Lukas memiliki banyak follower dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Tentunya akan sangat menguntungkan jika pemilik restauran mengendrose Lukas untuk promosi. Selain mendapat gratis makanan di sana, Lukas juga menarif untuk biaya promosi. Sejak mengikut Dinda, Lukas tak pernah kesulitan mencari uang.


Mereka pun selesai makan malam dan selesai promosi lewat live streaming dan postingan. Lukas mendapatkan lima juta dan makan gratis selama sebulan di restoran itu untuk dua orang. Keuntungan yang luar biasa. Lukas pun mengajak Angel pulang.


"Sayang, kamu mau apa? Aku dapat uang lagi. Kamu mau sepatu atau baju baru?" tanya Lukas sambil berjalan ke tempat parkir dan memeluk pinggang Angel.


"Aku mau bersamamu aja. Jangan tingalkan aku." jawab Angel. Lagi-lagi tatapan mata Angel yang kosong membuat Lukas merinding.


"Iya, sayang. Ini, kan, udah sama aku." Lukas senyum lebar sambil mencium pipi kekasihnya. Seketika bau amis menyengat tercium. Lukas kaget. Dia pun menatap Angel. Namun, tak berani berkata apa-apa. Dia memilih segera pergi dari tempat parkir restoran.


Malam itu, Lukas tidur di rumah Angel lagi. Dia berpagut kasih dengan Angel seperti biasa. Namun, saat ini ada rasa yang aneh mengganjal di hati Lukas. Saat menyentuh Angel dan menikmati kepuasan bersama. Angel beberapa kali berbisik, "Aku ingin bersamamu hingga di akhirat."


Lukas yang selesai menuntaskan nafsunya, segera mengenakan celana. Dia bertelanjang dada ke dapur membuat kopi, lalu duduk di teras. Lukas menikmati udara malam yang sejuk dengan menyeruntup secangkir kopi. Tiba-tiba ... kopi yang dibuatnya berbau amis dan rasanya tak enak.


Lukas menyemburkan minuman itu di lantai dan terkejut melihat kopi hitam yang dibuatnya berubah menjadi merah seperti darah. Lukas langsung takut dan masuk ke rumah. Mendapati Angel tak ada di kamar, Lukas pun panik. Dia segera mengambil kaos dan mencari di mana Angel.


Saat hendak keluar kamar, Lukas hampir menabrak Dinda. "Astaga!" teriak Lukas yang wajahnya mulai pucat ketakutan.


"Bu-bukan begitu. Ini 'kan rumah Angel. Bukan rumahku. Jangan muncul tiba-tiba begitu di sini," ujar Lukas mengalihkan rasa takutnya.


"Jadi ... setelah beberapa purnama, kamu sudah pikun dengan perjanjian kita?" tegur Dinda pada Lukas yang segera terbelalak menyadari sesuatu yang dia lupakan.


"Pur-purnama? M-maaf Dinda. Aku benar-benar lupa." lirih Lukas yang sangat ketakutan.


"Tak apa. Sebagai gantinya, malam ini darah perjanjian akan kuambil langsung. Di mana kekasihmu?" tanya Dinda membuat Lukas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Angel menghilang. Entah di mana. "Sebentar ... aku akan mencari Angel." jawab Lukas dengan penuh hormat.


"Kalau begitu ... aku akan mengambil darah perjanjian darimu terlebih dahulu." Dinda mendekat ke Lukas.


Tanpa terbayangkan, Dinda meraih tangan Lukas. Lalu, Dinda mengecup jemari tangan Lukas perlahan dan berubah menjadi sebuah gigitan yang menyakitkan. Lukas melihat jika wanita cantik dengan pesona yang tak bisa terelakkan itu menghisap darahnya. Lebih banyak dari yang biasa dia ambil untuk dituangkan dalam cawan.


Lukas hanya bisa pasrah. Darah perjanjian pelet yang dia buat dengan Dinda adalah murni keinginannya. Meski Mama Fani yang menyarankan menggunakan pelet, tetapi Lukas yang memilih seperti apa perjanjiannya. Lukas sadar jika kesalahan yang dia buat kali ini sangat fatal.


Dinda tersenyum kepada Lukas setelah menghisap darahnya. Dia pun melepaskan tangan Lukas yang mulai lemas. Lukas terlihat pucat.


"Cari kekasihmu itu, ya. Jangan buat aku marah," ucap Dinda dengan lembut sambil membelai wajah Lukas.

__ADS_1


Lukas tak menjawab. Dia hanya segera pergi mencari Angel di kamar mandi dan daput. Namun, belum dia dapati kekasihnya itu. Dia makin panik. Lalu, dia coba berkeliling rumah. Ternyata Angel berada di bawah pohon mangga belakang rumah. Dia meringkuk di sana seperti orang ketakutan.


Lukas mendekatinya. "Angel ... kamu kenapa?"


Angel menengok ke arah Lukas. Lalu, berteriak dengan suara bergetar seperti menggigil antara takut atau dingin. "Pergi! Jangan dekat-dekat! Kamu jahat, Lukas! Kamu tega!"


Lukas pun bingung. Mengapa Angel bersifat seperti itu. Dia pun lekas menggendong Angel untuk masuk rumah.


"Lepaskan aku! Lepas!" seru Angel yang mencoba menggeliat dari gendongan Lukas.


Lukas dengan cepat masuk rumah dan menutup pintu. Takut jika ada tetangga yang mendengar teriakan Angel.


Dinda menatap Lukas dengan senyum sinis. "Ini yang akan terjadi jika kamu terlambat memberi darah perjanjian. Kekasihmu akan mulai ingat kenyataan jika dia tak menyukaimu. Masih mau terlambat lagi?" tegur Dinda pada Lukas.


Lukas langsung meletakkan tubuh Angel di ranjang kamar. "Ampun ... Ampun Dinda Nyai Pelet. Aku tak akan lupa lagi. Ampun." Lukas memohon maaf atas kesalahannya.


Angel mencoba meronta. Namun, dengan tatapan Dinda saja, Angel tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dinda pun memegang tangan Angel dan segera menghisap darahnya. Seketika Angel terlelap.


"Jangan membuat kesalahan lagi, Lukas. Jika kamu terlambat lagi, nyawa taruhannya!" gertak Dinda yang kemudian pergi dan menghilang.


Lukas tertegun. Dia pun menatap tubuh Angel yang lemas tak berdaya. Lukas jatuh iba pada gadis pujaan hatinya yang kini wajahnya mulai pucat. Dia membelai perlahan wajah Angel.


"Angel, maafkan aku. Gara-gara ambisiku memiliki, kamu jadi seperti ini. Maafkn aku. Maaf ...." kata Lukas yang kemudian menangis dan memeluk erat tubuh Angel.


Angel masih dalam mata terpejam. Dia kini kembali dalam pengaruh mantra Dinda. Pelet yang luar biasa mengikat. Hingga jika terpisah, bisa menyebabkan gila atau kematian. Lukas mengambil kesepakatan mengerikan itu tanpa berpikir jernih.


Bukankah penyesalan selalu datang belakangan? Lukas pun tak kuasa mencurahkan segala sesal dan tangisnya.


satu pesan diterima


Ponsel Lukas bergetar. Dia segera membuka pesan yang masuk.


NoName: [ Hai, ini Lukas Wicaksono, bukan? Aku follower kamu. Bella Shiban. Ada waktu, kah? ]


Lukas terkejut melihat pesan itu. "Bella Shiban? Artis dan selebgram muda itu? Astaga kenapa bisa dia hubungi aku." gumam Lukas yang kemudian membalas pesan itu.


Lukas: [ Hai juga, aku senggang ini. Ada apa Bella? Apa yang bisa aku bantu? ]


Baru beberapa detik pesan terkirim, Bella langsung menelepon Lukas. Jelas pemuda itu langsung mengakat teleponnya.


Bella: "Hai, Lukas. Salam kenal. Aku Bella. Aku tertarik kolaborasi sama kamu. Apakah kamu mau?"


Lukas: "Hai, Bella. Oke. Aku mau. Kapan dan di mana?"

__ADS_1


__ADS_2