
π PERTEMPURAN GAIB π
Setelah pergi dari tepi danau, Bima tak pernah menyadari jika hal ini terjadi begitu cepat. Kyai Anwar beserta lima santri sudah bersiap menghalaunya. Mereka menggunakan ilmu rogoh sukma dan melepaskan roh dari raga agar bisa berkelana mencari Bima. Tepat seperti dugaan Kyao Anwar, Iblis yang mereka cari sedang sendirian dan tak ada persiapan.
"Hei, kau makhluk kegelapan! Lepaskan ikatanmu pada Ningsih sekarang juga! Atau kami musnahkan kau!" seru Kyai Anwar saat menemukan Bima.
Sebenarnya, melepas Ningsih demi kebahagiaan dan keselamatannya, jelas hal itu akan dilakukan Bima kapan saja. Namun, menghadapi Tuan Chernobog tak akan mudah. Selain itu, kesombongan manusia yang menantang Bima membuatnya makin semangat. "MAJU SAJA KALAU BERANI. AKU YANG MUSNAH ATAU KALIAN YANG MATI!" gertak Bima yang hendak melampiaskan amarah dan kekecewaannya.
Pertempuran gaib pun tak dapat terelakkan. Kyai Anwar dengan lima santrinya sudah mengunci posisi Bima. Mereka langsung menyerang Bima bersamaan, sayangnya energi Bima sudah maksimal dan kuat untuk menghadapi mereka.
Serangan demi serangan bergantian dilayangkan. Tidak terlihat satu pun yang akan mengalah ataupun menyerah. Justru semakin sengit pertempuran gaib itu. Tanpa mereka sadari, beberapa jam di dunia gaib sama dengan berhari-hari di dunia nyata. Bahkan, Bima tak tahu jika Ningsih tak makan selama beberapa hari hingga pingsan tak sadarkan diri.
Bima fokus menghadapi enam manusia di hadapannya. Kali ini, pertempuran yang mereka lakukan menarik perhatian dari banyak makhluk gaib. Tak hanya menonton, beberapa pun mencoba membantu Bima mengalahlan enam manusia itu.
"PULANG SAJA KALIAN JIKA TIDAK INGIN MUSNAH!" kata Bima yang sudah memberi peringatan. Namun, mereka masih bersikeras menghalau Bima.
Beberapa siluman membantu Bima. Ada siluman harimau dan siluman ular. Hal itu tidak menggoyahkan kemauan Kyai Anwar beserta santrinya untuk menolong Ningsih dari jerat iblis yang selama ini membawa hidupnya jauh dari cahaya Illahi.
"Allah hu Akbar!" teriak Kyai Anwar yang melemparkan tasbih ke arah siluman harimau yang hendak menerkam Ridho. Seketika, siluman itu terpental dan menghilang. Bima tak bisa menganggap remeh lelaki yang pernah hampir memusnahkannya.
Dahulu saat Bima membuat Budi terluka, Kyai Anwar sempat membuat perhitungan. Energi Bima yang tak maksimal, membuatnya hampir kalah. Untung saja Tuan Chernobog datang di saat yang tepat membantu Bima.
Mengingat hal itu, kali ini Bima tak boleh ceroboh. Membunuh atau dibunuh.
***
Di sisi lain ....
Laurent merasakan jika wanita yang Bima maksud dalam bahaya. Laurent bukan manusia biasa seperti lainnya. Dia sudah memiliki bakat dari dalam rahim ibunya. Orang tua Laurent mempertahankannya dari serangan makhluk gaib yang hendak menambah kekuata. Akhirnya, rumah besar seperti kastil menjadi benteng perlindungan Laurent.
Selama ini, Laurent yang terlihat sebagai gadis buta yang lemah dan tak berdaya, ternyata sering berjelajah ke alam mimpi, alam bawah sadar manusia, bahkan ke alam gaib. Dia bahkan pernah pergi ke neraka dan kembali dengan selamat. Meski tuna netra, Laurent bisa melihat segala sesuatu jauh lebih jelas dari pada manusia yang memiliki kedua mata yang indah.
Bola mata Laurent sejak lahir memang berwarna putih. Kornea mata yang seharusnya hitam atau berwarna indah, justru berwarna putih, membuatnya terlihat mengerikan. Orang tua Laurent yang sejak lama memperkerjakan keluarga dari Daniel sebagai bodyguard, akhirnya menyerahkan Laurent dalam pengawasan Daniel.
__ADS_1
Saat menerawang, Laurent melihat wanita yang dicintai iblis itu terjebak dalam alam bawah sadar. Kondisi seperti itu bisa membahayakan karena tubuh menjadi lemas dan jika tak kembali dalam hitungan waktu tertentu, bisa mengakibatkan kematian.
Laurent segera menolong wanita yang Bima cintai karena tahu Bima pun sedang dalam bahaya. Gadis buta itu lebih peka dari manusia biasa. Dia melakukan itu untuk balas budi karena pernah di tolong oleh Bima saat hendak diganggu gangster saingan bisnis alm. orang tuanya.
"Kalau aku tidak menolong wanita itu, dia bisa mati. Raganya sudah terlalu lemah tanpa rohnya." gumam Laurent sesaat kemudian menyusuri alam bawah sadar.
***
Peretempuran gaib masih berlangsung ....
Reno menjaga tubuh keenam orang yang sedang bersila dengan takut. Beberapa kali, ada yang seperti muntah darah dan hampir jatuh. Reno menahan tubuh mereka satu per satu lalu mengambil kursi untuk sandaran mereka. Hawa di homestay berubah dingin dan mencekam. Sebenarnya Reno tak suka keadaan seperti itu. Reno masih trauma berhubungan dengan hal gaib.
Saat Reno diruwat oleh PakLek Darjo dan akhirnya Ratih meninggal, membuat Reno terngiang dan trauma akan hal gaib. Terlebih, semua hal yang pernah terlampaui. Maka dari itu, empat tahun Reno dan Santi pernah tak bertemu Tante Ningsih karena masih trauma dan takut terulang lagi. Kali ini, Reno mau tak mau harus mengalahkan rasa takutnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Menyelamatkan Tante Ningsih jauh lebih penting.
Reno mencoba menghubungi kakaknya. Menanyakan keadaan di sana. Namun, teleponnya tidak diangkat. Reno pun mengirim pesan.
Reno: [Kak Santi, bagaimana keadaan Tante Ningsih? Kabari jika sudah membaca pesan.]
Reno: [Mas Budi, bagaimana keadaan Tante Ningsih? Tolong kabari jika sudah membaca pesan.]
Setelah menunggu lama, justru Budi yang lebih dulu membalas pesan Reno. Secerca harapan ada di benak Reno.
Reno: [Alhamdulilah ... lalu Tante Ningsih apakah mau mengikut rencana kita, Mas?]
Budi: [InsyaAllah mau. Tadi Tantemu sudah berkata mau pada Pak Darjo. Berdoa saja. Semua akan segera selesai.]
Reno pun berbinar membaca pesan itu. Dia merasa tak ada satu hal yang mustahil. Setidaknya Reno dan Santi sudah berjuang agar bisa menyelamatkan Tante Ningsih.
Tiba-tiba ... satu per satu santri terpental dan jatuh dari duduk sila. Mereka pun membuka mata dan langsung muntah darah.
"Uhuk ... uhuk ...."
Reno langsung panik. Dia membantu satu per satu dan mengambil tisu untuk mengelap darah yang masih ada di bibir mereka. "Ini tisunya, Mas. Ada apa ini?" kata Reno cemas.
__ADS_1
Belum ada yang menjawab. Mereka memegang dada karena terasa panas, nyeri, dan sakit. Reno bergegas mengambil air minum mineral dan membuatkan teh hangat. "Mas, ini silahkan di minum." ucap Reno dengan membawa satu nampan penuh.
Ridho menatap Reno. "Iblis itu terlalu kuat. Tumbal ketujuh membuatnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Semua tinggal di tangan Pak Kyai. Kamu hubungi PakLek Darjo agar bersiap. Ningsih harus dibawa pulang dan segera memberi pagar gaib." kata Ridho yang berusaha mengumpulkan tenaganya yang tersisa.
"Iya, Mas. Aku segera sampaikan." jawab Reno yang kemudia menelepon Budi. Reno mengatakan kondisi saat ini dan juga apa yang Ridho katakan.
Budi khawatir dengan keadaan ayahnya. Dia langsung mengatakan ke Santi dan PakLek Darjo agar bersiap pulang meski dokter belum mengijinkan. Mau tak mau, mereka harus tanda tangan surat perjanjian jika membawa pulang Ningsih secara paksa.
"Katakan pada Reno, bawa kelima santri dan Pak Kyai ke rumah Ningsih. Kita akan selesaikan di sana. PakLek akan memagari rumahnya segera setelah kita sampai sana." ucap PakLek pada Budi dan Santi.
"Baik, PakLek." jawab Budi dan Santi bersamaan.
Santi menyiapkan Tante Ningsih untuk pulang dari rumah sakit. Sedangkan Budi segera mengambil mobil, Paklek membantu Santi untuk segera pulang. Setelah Santi menyelesaikan administrasi, dia pun membawa Tante Ningsih pulang ke rumah.
Sesampainya di sana, PakLek Darjo memerintahkan Santi dan Ningsih di ruang tamu saja. "Kalian ke ruang tamu. Biarkan Tantemu makan dan minum dahulu. Setelah ini akan menjadi hari yang panjang. Semoga Allah memenangkan kita dari Iblis." kata PakLek Darjo yang segera memagari rumah bersama Budi.
Reno di sisi lain sedang mengajak kelima santri dan Pak Anwar ke dalam mobil. Pak Anwar sudah sadar. "Iblis itu pun terluka. Kami juga. Namun, insyaAllah kita akan memenangkan Ningsih. Tak ada banyak pilihan bagi iblis itu karena Tuannya pun menginginkan Ningsih diambil," jelas Pak Anwar dalam perjalanan ke rumah Ningsih.
Reno menyetir mobil, segera menuju rumah Tante Ningsih. Sejuta kekalutan di benaknya. Apakah Iblis semudah itu menyerah atau kalah? Bagi Reno, tidak akan semudah itu. Mungkin, Bima benar mencintai Tante Ningsih dan tak ingin membawanya menjadi budak di Neraka seperti pelaku pesugihan lainnya. Namun, apakah Tuan dari Bima akan melepaskan Tante Ningsih juga? Setelah apa yang Tante Ningsih lakukan dan menikmati semua harta dan kemudahan dari alam gaib.
Reno hanya bisa berharap, Ningsih tidak akan berakhir tragis seperti Mama Ratih. Saat menyetir, beberapa kali Reno mengamati spion, melihat para santri di belakang terlihat pucat. Apakah hal ini membuat energi mereka habis?
"Nak, fokus menyetir saja. Tak usah memikirkan semua hal itu," lirih Pak Anwar seakan tahu semua isi kepala Reno.
"Emm, iya, Pak Kyai. Maaf, saya hanya tak ingin hal dahulu terulang lagi," jawab Reno yang menjadi tak enak hati.
"Nak, takdir manusia sudah ditetapkan saat dibentuk. Allah pasti menolong, tetapi semuanya kembali lagi kepada manusia. Maukah manusia menyambut tangan Allah yang sudah terulur? Atau justru manusia memilih hidup abadi dalam api neraka. Saat di rumah Tantemu, jangan terkecoh. Nanti kami akan meruqiyah Tantemu. Jika dia meronta atau meminta tolong, jangan dipedulikan. Ketika kami meruqiyah, Iblis itu akan datang dan berusaha melepaskan diri dengan segala tipu daya." jelas Pak Anwar yang berada di samping Reno.
"Baik, Pak Kyai." kata Reno sambil mengangguk.
Saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Ningsih, Bima pun segera ke sana. Bukan untuk saling berebut Ningsih, Bima hanya ingin memastikan istrinya baik-baik saja sebelum hal buruk terjadi di antara mereka.
Seampainya di rumah Ningsih, Bima terhalang oleh pagar gaib. Namun, Bima sudah bertekad dan sekali dobrak, pagar gaib itu langsung tertembus. "NINGSIH ... APAKAH KAU BAIK-BAIK SAJA?" tanya Bima saat melihat Ningsih di ruang tamu bersama Santi.
__ADS_1
"Bi-Bima ...." lirih Ningsih yang membuat Budi dan PakLek Darjo bersiap dalam pertahanan.