JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 47 SPECIAL EDITION BIMA - 2 -


__ADS_3

Malam itu, hujan mengguyur perdesaan. Hujan lebat bersambut kilat dan petir. Ningsih saat itu di rumah sendiri. Sejak pagi, Agus pergi pamit bekerja membantu juragan sayur mengangkat barang ke kota. Lugunya, wanita yang mengandung itu percaya begitu saja.


"Mas berangkat dulu ya, Dek. Mas barus kerja keras buat cari biaya persalinanmu," ucap Agus berpamitan.


"Hati-hati di jalan ya, Mas. Terima kasih sudah berjuang," jawab Ningsih sambil melambaikan tangan ke arah suaminya yang berlalu dengan motor maticnya.


Sejak usia kandungannya masuk ke bulan delapan, Ningsih tidak bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh cuci. Meskipun Agus bekerja dari pagi sampai malam, kebutuhan mereka tak pernah tercukupi. Bahkan untuk makan pun barus berhutang di warung. Kadang orang tua Ningsih membawa sembako dan memberinya uang untuk pegangan, sekedar membelikan sesuatu saat Ningsih ngidam.


Ratih pun setia menemani Ningsih. Dia pernah tak sengaja melihat Agus memboncengkan seorang wanita. Demi menjaga hati sahabatnya yang sedang hamil, Ratih bungkam dan tak pernah menceritakannya.


"Mas Agus... kamu dimana sih? Sudah mau jam sembilan malam kok belum pulang," lirih Ningsih menanti suaminya sambil mengelus perutnya yang mulai kencang.


Entah kontraksi palsu atau sungguhan, rasa nyeri menjalar di sekujur perutnya. Ningsih hanya bisa berharap Agus segera pulang.


"KALAU DIBIARKAN, WANITA ITU BISA MELAHIRKAN DI SINI. AKU AKAN MEMBANTUNYA."


Bima yang belum terikat apa pun dengan Ningsih, mengubah wujudnya menjadi Agus. Tiba-tiba dia muncul di dalam rumah. Hujan deras membuat Ningsih tak curiga jika suara motor tidak terdengar.


"Mas... mas dari mana? Mas perutku sakit ini. Sepertinya si Tole mau lahir," ucap Ningsih, meringis menahan sakit.


"Ya, aku sudah membawa bidan ke sini," ucap Agus jadi-jadian membawa seorang bidan, tentunya dari alam gaib.


Persalinan pun terjadi di tengah hujan lebat. Kilat dan petir bersaut-sautan. Seorang wanita tengah berjuang melawan rasa sakit demi melahirkan si buah hati ke dunia.


Sementara itu di desa sebelah....


"Ah.... Mas Agus, terus Mas...." lirih Surti dalam dekapan suami Ningsih yang breng*ek itu.


Mereka memadu kasih sejak sore tadi. Pagi hingga siang, Agus memang bekerja. Hasil lumayan banyak hari itu. Tiga ratus ribu rupiah di tangan, membuatnnya lena dan memilih bersama Surti. Melupakan istrinya yang tengah mengandung menanti dirinya pulang.

__ADS_1


Hidup kadang selucknut itu. Wanita yang tulus mencintai dan mau hidup susah, justru dikhianati, disakiti.


Persalinan berjalan lancar. Bayi lelaki lahir dari rahim Ningsih, "Mas... anak kita lelaki."


"Anak yang hebat dan kuat. Hendak kamu beri nama siapa?" tanya Agus gadungan itu.


"Wahyu. Namanya Wahyu, Mas...." Ningsih tersenyum dalam pelukan Agus.


Dia tak mengerti jika suaminya yang asli justru sedang berkhianat dan lupa pulang rumah. Bima menunggu Agus asli datang. Menjelang subuh, hujan sudah berhenti turun. Ningsih dan bayi lelaki itu sudah tertidur nyenyak.


Agus yang asli pulang dengan santai. Rasanya Bima ingin memusnahkan manusia tak berguna seperti itu segera. Namun, belum waktunya. Agus meletakkan motor di depan rumah. Lalu tanpa merasa bersalah, melangkah dengan mantab ke dalam rumah.


Bima membuat Agus yang asli pingsan. Dia memberi ingatan palsu tentang malam tadi. Seolah yang menemani Ningsih adalah Agus yang asli. Lalu Bima menghapus ingatan tentang Surti. Dia pun memberi sejumlah uang pada kantong Agus, seolah itu hasil jerih payahnya bekerja.


"SETIDAKNYA, KAU DAN BAYIMU TIDAK AKAN KELAPARAN. BIARLAH KUURUS WANITA PENJUAL JAMU ITU!"


"Mas... Mas Agus, tolong bantu aku, Mas," seru Ningsih kepada suaminya.


Agus bangun dengan kepala nyeri, pusing. Samar-samar mengingat apa yang terjadi semalam. Ingatannya langsung saat mendampingi istrinya lahiran. Dia bergegas ke kamar untuk memastikan kondisi anaknya.


"I... iya Dek. Mas ke situ," jawabnya bergegas berlari ke kamar.


"Mas, tolong Wahyu nangis. Mungkin popoknya basah. Aku masih nyeri je, Mas."


"Iya, Dek. Wah tole pup ya. Ayah ganti ya popoknya," ucap Agus gemas memegang bayinya.


Seakan tak mengingat apa yang Agus lakukan dengan Surti, dia kembali menjadi suami yang siap membantu istrinya. Saat dia memegang kantong celana, betapa terkejutnya ada beberapa lembar uang seratus ribuan di sana.


"Pasti juragan beri lebih kemarin. Ningsih, Mas beli makanan dulu ya untukmu. Mas bawa upah kerja," kata Agus sumringah.

__ADS_1


Dia pergi ke warung, membeli makanan dan melunasi hutang di sana. Semua berjalan baik. Tanpa Ningsih ketahui kejahatan Agus.


****


"Mas... kok baru datang? Surti kangen...." lirih wanita berusia tiga puluh dua tahun yang belum menikah itu.


Celana pendek membuatnya terlihat seksi memamerkan paha dan tangtop dengan belahan rendah memperlihatkan dua bukit mulus miliknya. Bima sengaja ke rumah tukang jamu itu dengan wujud Agus. Dia mempunyai rencana yang jauh lebih baik daripada membuat Ningsih terluka.


Surti memeluk tubuh Agus gadungan itu. Mengecup pipi lalu telinganya. Saat Surti membuka mata, Bima menunjukkan wujud aslinya. Dua tanduk, mata merah dan wajah yang menyeramkan membuat Surti terkejut dan teriak ketakutan. Tetangga yang mendengar jeritannya pun bergegas ke rumahnya.


Bima menjulurkan lidahnya dan menjilat ingatan Surti. Membawa separuh kewarasan wanita itu. Lalu menghilang segera saat warga datang.


Surti menjadi gila. Berteriak tidak karuan, membuat warga ketakutan. Setelah itu... Surti menjadi orang gila yang dipasung agar tidak melukai penduduk lain. Dia sering menjerit tiba-tiba dan menggaruk tubuh dan wajahnya hingga menyisakan luka di sana.


"SEBENTAR LAGI, KAU AKAN MENJADI MILIKKU. SAHABATMU AKAN MENGAJAK MELAKUKAN RITUAL ITU. DAN... HANYA AKU YANG PANTAS MENYANDINGMU, NINGSIH."


Entah obsesi atau perasaan apa yang Bima rasakan. Bukankah Iblis tak memiliki perasaan? Neraka terlalu gelap dan kelam untum merasakan apa pun. Bahkan, Nyi Pelet tertawa terbahak-bahak saat mengetahui Bima melindungi wanita desa seperti itu.


"Iblis sepertimu sangat konyol melakukan hal seperti manusia. Jatuh cinta? Iba? Atau ...."


"JANGAN MELEDEKKU! KAU PUN PENJERAT LELAKI. BERAPA PUN TUBUH YANG KAU DAPATKAN TAK AKAN MEMBUATMU PUAS NYI PELET! PEMUJA LELAKI SEMACAM BUCIN, HANYA BISA MENGHINA IBLIS SEMACAMKU. HAHAHA...."


Bima pun mengejek adiknya. Mereka berdua memang menjadi abdi Tuan Chernobog untuk menyesatkan umat manusia sebanyak mungkin. Penguasa malam yang haus darah. Menawarkan kemudahan bagi manusia dan menyeret mereka jauh ke lembah dosa nan kelam. Menjerat jiwa mereka hingga tak bisa berkutik lagi. Bukankah itu semua tujuan Iblis diciptakan? Memperbanyak penghuni neraka dengan berbagai macam tipu daya. Menyenangkan. Manusia lemah dengan mudah iman goyah.


Bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Guys! Gimana nih suka nggak ama cerita Bima? Mau lanjut atau masih bahas BIMA dulu? Oiya jangan lupa boomlike yak guys^^ dukung Author agar semangat bekarya😊

__ADS_1


__ADS_2