JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 51


__ADS_3

Empat tahun kemudian ....


Ningsih melangkahkan kakinya yang mulus, keluar dari pintu mobil yang dibukakan oleh sopirnya. Wanita berusia 35 tahun itu terlihat cantik dan elegan dengan dress merah yang membalut tubuhnya hingga selutut, blazer putih sepinggang, high heels berwarna merah, make up flawess dan lipstick merah senada dengan busananya.


"Joko, kamu jemput jam satu siang ya. Aku ada meeting cukup panjang hari ini," ucap Ningsih kepada sopir yang berusia 27 tahun itu.


"Baik, Bu," jawab Joko sambil menunduk, segan.


Ningsih melangkah dengan mantab masuk ke gedung miliknya. Usaha fashion yang dia bangun susah payah selama empat tahun akhirnya membuahkan hasil manis. Selama empat tahun itu pun Ningsih tidak menikah. Dia senang menjanda dan sukses. Kejadian saat kenal Satria membuatnya trauma dan takut terulang lagi membahayakan keluarganya.


Orang tua Ningsih tidak tahu keadaannya sekarang. Hanya saja Ningsih rutin mengirim uang dan menelepon kedua orang tuanya. Dia tidak ingin mengambil resiko besar jika sering berkunjung ke rumah orang tuanya. Membuka lembaran baru bukan hal yang mudah, bukan?


"Bu Ningsih, rapat pertama di ruang 4C ya. Tamu yang datang pengusaha dari Singapura bernama Tuan Lee. Beliau memiliki brand pakaian RoxieLee, terkenal selama beberapa tahun ini di pasar Asia," kata sekretaris berparas cantik tapi berpenampilan cupu.


"Ok. Berkas-berkas sudah siap?" tanya Ningsih sambil berjalan menuju ruangan yang dimaksud.


"Sudah, Bu. Semua saya siapkan di meja rapat. Oiya, Bu Ningsih mendapatkan bucket bunga lagi."


"Dari siapa? Kalau lelaki tua itu lagi, buang saja. Atau buatmu saja. Dina, kamu perlu ganti penampilan deh," ucap Ningsih sambil lalu.


"Baik... Bu."


Dina mengekor di belakang Ningsih saat masuk ke ruangan 4C. Beberapa orang sudah datang di sana. Hanya Ningsih dan Tuan Lee yang belum duduk di kursinya.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Ningsih menghangatkan suasana.


"Selamat pagi, Bu Ningsih," jawab mereka serentak.


"Rapat kita mulai sekarang...."


"I'm comming. Sorry late," ucap seorang berpawakan tinggi, wajah seperti artis korea.


"Ya, silahkan duduk," jawab Ningsih singkat.


Lelaki bernama Lee itu merasakan sesuatu saat pandangan pertama ke Ningsih. Dia merasa, wajah Ningsih mirip dengan mendiang ibunya.


Rapat berjalan dengan baik, berakhir dengan adanya kerja sama dari pihak perusahaan Bima Sakti milik Ningsih dengan perusahaan RoxieLee milik Lee Min Hae serta bukanya beberapa cabang dengan kepala toko yang terpilih dirapat. Ningsih tersenyum puas dengan hasil rapat tadi. Dia pun menengok arlojinya yang menunjukkan pukul sebelas.


"Nona, bolehkah aku meminta nomor pribadimu?" tanya Lee pada Ningsih.


"Maaf... jangan panggil aku Nona. Cukup panggil namaku saja," jawab Ningsih.


"Baik, Ningsih. Nomor handphonemu?" Lee menatap Ningsih.

__ADS_1


"Ya, ini kartu namaku," ucap Ningsih sambil mengulurkan kartu nama dari dalam saku blazernya.


Ningsih menghindari Lee karena merasa lelaki itu menaruh hati padanya. Dia tak ingin berurusan dengan cinta terlebih dahulu. Baginya hidup bersama putera dan Bima yang hampir setiap malam datang menemaninya, itu sudah cukup.


Ningsih mengambil gawainya, mencoba menelepon Joko.


"Hallo, Joko. Bisa jemput sekarang? Rapat selesai lebih awal."


"Baik, Bu. Sepuluh menit lagi saya sampai di sana."


"Ok."


Ningsih menunggu sopir pribadinya datang. Dia mengamati kinerja para karyawannya. Satu gedung utama, lima toko pakaian, dan beberapa mitra di mall ternama. Semua Ningsih lakukan dengan baik, menggaji karyawan dengan layak bahkan ada bonus tiap bulannya. Dia ingin semua usahanya menjadi jalan karayawan-karyawannya hidup bahagia.


"Bu Ningsih, silahkan. Saya sudah buka pintu mobilnya," lirih Joko.


"Ternyata sepuluh menit itu singkat, ya?"


"Hahaha.... tidak, Bu. Saya ngebut. Kurang dari lima menit," ucap Joko sambil masuk ke kursi sopir di mobil Merci hitam elegan itu.


"Kenapa ngebut?" Ningsih duduk di kursi belakang merebahkan pundaknya yang pegal ke kursi empuk.


"Saya takut, Bu Ningsih menunggu terlalu lama. Kalau diculik orang bisa repot."


"Mana ada orang nyulik aku? Usia udah tiga puluh lebih pula."


"Joko, kamu juga pesan apa terserah nggak usah malu. Temani aku makan ya," perintah Ningsih.


Joko yang merasa tak enak hati tetap saja tak bisa menolak ajakan Ningsih.


"Baik, Bu."


Joko merasa canggung makan bersama Bosnya. Ningsih yang sudah terbiasa dengan Joko, tidak memikirkan apa pun saat menikmati makanannya.


****


1 pesan diterima....


[Ningsih, ini aku Lee.]


Ningsih meraih gawainya dan membalas chat itu.


[Iya, ada apa?]

__ADS_1


[Nanti malam ada waktu? Mau ke Cafe untuk merayakan kerja sama kita?]


[Hari ini aku tidak bisa.]


[Ok. Kalau besok?]


[Kuusahakan.]


"Ah, menyebalkan sekali para lelaki itu! Kenapa selalu saja ada yang mengejarku. Aku lelah dan malas memikirkan soal hati!" gumam Ningsih sambil melempar gawainya ke sofa.


"Ma, Wahyu pulang!" sorak anaknya berlari ke dalam rumah.


"Wah, anak Mama sudah pulang. Gimana sekolah hari ini?" jawab Ningsih sambil memeluk puteranya.


"Keren, Ma. Wahyu seneng. Mak Sri juga nungguin Wahyu."


"Syukurlah kalau kamu senang, sayang. Nanti sore kita jalan-jalan ke mall, mau?"


"Mau banget, Ma!"


"Ok deh."


Ningsih merencanakan bersantai sejenak di mall bersama anaknya.


"Mak Sri, nanti kalau Budi sudah selesai bersihkan taman, tolong sampaikan agar dia ke belakang memindahkan mainan Wahyu yang sudah tidak dipakai, biar besok dibawa Joko untuk disumbangkan ke panti," perintah Ningsih.


Budi merupakan ponakan Mak Sri. Orang yang baik dan cekatan sebagai tukang kebun sekaligus bertugas membantu kebersihan rumah. Sedangkan Joko orang asli Jakarta, dia khusus menjadi sopir pribadi dengan jam kerja pagi 06.00 sampai sore 18.00 kecuali ada acara khusus. Ningsih sudah merasa cocok dengan mereka jadi semua berjalan dengan lancar.


"Baik, Bu Ningsih."


Mak Sri sempat menginginkan berhenti kerja, tetapi Ningsih tidak mengijinkan. Hanya memberi cuti sementara dan membantu pengobatan keponakannya secara full. Hal itu yang membuat Mak Sri merasa hutang budi dan kembali bekerja setelah cuti tiga bulan.


Ningsih mulai kesulitan percaya orang lain. Hanya pegawai di rumahnya, Dina dan kaki tanggannya yang bernama Reyhan.


Saat ini Wahyu berusia tujuh tahun dan mulai masuk SD Internasional pilihan terbaik dari Ningsih. Dia berharap anaknya akan menjadi orang pandai dan bisa sukses tanpa hal gaib.


"Andai waktu bisa kuulang, lelaki manakah yang pantas bersamaku saat ini? Mas Agus, tak mungkin mendampingiku karena saat susah dia memperlakukanku buruk. Mas Tomi, mungkin kamu pilihan terbaik yang ada. Mas Rudi, lelaki sampah masyarakat. Mas Bayu, baik tetapi banyak hal yang membuat tak bisa bersama. Satria? Jelas tak mungkin! Bima.... andai kamu manusia..." lirih Ningsih dalam kamarnya.


Bukankah perasaan yang disebut cinta itu merupakan suatu yang rumit? Bisa menyentuh, belum tentu bisa memiliki. Bisa mencintai, belum tentu bisa bersama. Bisa memandang dan mendampinginya, belum tentu berjodoh. Ah, kalimat cinta memang dalam dan luas maknanya. Terlebih jika cinta itu berada di dua dunia yang berbeda.


"AKU TAK BISA MENGATAKANNYA, TETAPI HAL ITU YANG TERBAIK SAAT INI. SUDAH EMPAT TAHUN BERJALAN DAN AKU BUTUH SESAJI, MAAFKAN AKU NINGSIH. KAU HARUS MENCARI LELAKI SEBAGAI SUAMIMU."


Bersambung....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suka? Boomlike + Vote ya guys! Dukung Author agar tetap eksis di Noveltoon. Thank you 🌹


__ADS_2