JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 136


__ADS_3

πŸ€ AURA HITAM πŸ€


Santi dan Reno bergegas keluar dari mobil, menghampiri BuLek dan PakLek. Mengucapkan salam sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Nduk, apa yang kamu lakukan sudah benar. Namun, mengapa ada aura hitam di atasmu?" ucap PakLek membuat Santi bertanya-tanya.


Hal itu sontak membuat kakak beradik saling menatap dalam bingung. Mereka pun menceritakan semua yang sudah dialami kepada PakLek Darjo. Sedangkan BuLek sedang membuatkan minum teh tubruk yang segar.


Santi mulai menceritakan soal mereka kembali bertemu Tante Ningsih setelah empat tahun berpisah, lalu saat mereka liburan ke Yogyakarta dan mengunjungi Kakung Uti di Wonosari, hingga kecelakaan yang terjadi. PakLek mendengarkan hal itu dengan seksama.


"... begitu kisahnya, PakLek. Sampai akhirnya Wahyu boleh ikut Santi dan Reno untuk masuk pesantren. Lalu apa ada hubungannya dengan Santi dan aura hitam?" jelas Santi yang berganti tanya pada PakLek Darjo.


"Jadi, begitu ... PakLek menerawang, ada yang coba memelet kamu. Memakai ilmu pengasihan meski itu ilmu putih, tetap saja efeknya buruk. Untungnya imanmu kuat, Santi. Nanti PakLek coba bantu hilangkan biar kamu tidak mudah capek." kata PakLek Darjo membuat Santi tak mengerti.


"Pelet apa, PakLek? Santi nggak punya orang spesial, kok. Dekat sama Bang Joko, itu pun dia di Jakarta dan nggak percaya hal gaib." Santi mengkerutkan dahi.


Reno hanya diam menyimak pembahasan menarik itu. Dia meminum teh tubruk yang dibuat oleh BuLek dengan tenang.


"Sebentar, PakLek terawang dahulu ...."


Santi terdiam saat PakLek memegang dahinya. PakLek memejamkan mata dan menerawang.


***


Beberapa waktu lalu di pesantren ....


Kedatangan Budi dan Mak Sri dengan membawa orang dari kota membuat para santri penasaran dan ingin berkenalan. Terutama melihat Santi yang begitu mempesona serta soleha.


"Pak Kyai, siapa gadis itu?" tanya salah seorang santri kepercayaan Pak Anwar.


"Oh, itu keponakan dari bosnya Budi di Jakarta. Sana kalau mau berkenalan." jawab Pak Anwar kepada Ridho.


Ridho yang sedari dulu ikut Pak Anwar sejak kecil, tak pernah merasakan rasa cinta atau berinteraksi dengan gadis sebayanya. Hanya bertemu dengan orang tua atau saudara para santri yang datang, cukup membuat Ridho senang. Kemanapun Pak Anwar pergi memberi ceramat atau kegiatan lainnya, Ridho selalu diajak. Dia sudah seperti anak sendiri bagi Pak Anwar. Serta sudah dianggap adik bagi Budi.


"Apakah dia mau berkenalan denganku, Pak Kyai?" tanya Ridho dengan ragu-ragu.


"Tentu mau, kenapa tidak? Sudah, ke sana saja. Mereka sepantaranmu." jawab Pak Anwar sambil mendorong Ridho.


Ridho melangkah dengan ragu-ragu ke arah Budi, Mak Sri dan dua orang asing di ruang tamu. Mereka berbincang pada malam hari setelah ruqiyah Wahyu berhasil dan anak itu sudah tertidur nyenyak.


"Assalamualaikum ...." sapa Ridho.


"Wa'alaikumsalam ...." jawab mereka serentak.


"Wah, my Bro! Sini, aku kenalkan dengan Tuan Reno dan Nona Santi." ucap Budi dengan senyum mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"I-iya, Bro. Hallo, Budhe Sri. Apa kabar?" sapa Ridho kepada Mak Sri, tetapi matanya tertuju pada gadis di samping Budi.


"Kabar Budhe baik. Ridho apa kabar?" jawab Mak Sri.


Ridho pun tersenyum. Lalu berkenalan dengan Santi dan Reno. "Salam kenal, ya. Tuan Reno dan Nona Santi. Saya Ridho, santri di sini."


"Panggil nama saja, Mas Ridho. Malah jadi nggak enak kalau dipanggil Nona," sahut Santi dengan senyum yang manis membuat Ridho semakin terpana.


"Iya, maaf. Terima kasih, Santi." Ridho menatap Santi tanpa berkedip.


Budi melihat Ridho dan merasakan jika adiknya menyukai Nona Santi. Budi langsung mencairkan suasana. "Bro, nggak usah gugup gitu. Santi sama Reno nggak gigit kok," kata Budi sambil merangkul Ridho.


"Iya, Mas Ridho. Salam kenal, ya," sahut Reno sambil menepuk pundak Ridho.


"Iya, Reno. Kamu adiknya Santi?" Ridho masih kaku dalam bercakap.


"Iya, Mas. Sana kalau mau kenalan dengan Kak Santi. Boleh, kok!"


Santi pun tersenyum. Ridho pun mengajaknya berbicara meski sangat kaku dan terlihat aneh. Santi tetap menjawab karena dia memang orang yang ramah.


Hari berikutnya di pesantren, Ridho ingin kembali bercakap dengan Santi. Namun, tanpa disengaja, dia mendengar percakapan Santi dengan Budi.


"Nona Santi ...."


"Panggil nama saja, Mas Budi."


Santi terdiam sejenak. Dia menerawang jauh dan menjawab, "Mas, kalau boleh jujur, Santi suka sama Bang Joko. Awalnya Santi mengira Bang Joko juga suka sama Santi. Lama kelamaan, Santi tahu kalau Bang Joko suka dengan Tante Ningsih dari caranya melihat dan khawatir. Hal itu membuat Santi sakit hati, tetapi semua Santi tahan dan coba mengikhlaskan walau susah."


Budi pun menjadi tak enak hati mendengarkan pengakuan Santi. Memang terlihat jika Joko menyukai Ningsih. "Sabar, ya, Santi ... insyaAllah nanti dapat gantinya yang lebih baik. Kalau belum bisa bersama berarti belum berjodoh."


Mendengar hal itu, Ridho merasa sesak. Gadis yang dia sukai justru disia-siakan oleh lelaki lain. Ridho pun berusaha mendekati Santi.


Beberapa hari berlalu di pesantren, Santi dan Reno pun berpamit pulang karena Wahyu sudah mulai nyaman di sana dan bisa mengikuti kegiatan dengan baik. Ridho pun melepas kepergian Santi dengan meniupkan sesuatu yang tak disadari Santi. Jatuh cinta membuat Ridho kehilangan akal dan melakukan hal yang dilarang agama meski dengan cara ilmu putih. Namun, gaib tetaplah gaib, bukan?


***


PakLek menerawang dan menemukan jawaban. "Ridho ... salah seorang santri di pesantren milik Kyai Anwar menyukaimu, Nduk. Dia tak ingin kamu tetap memikirkan lelaki yang menjadi sopir Ningsih." tegas PakLek Darjo membuat Santi tercengang.


"Ri-Ridho? MasyaAllah ... kenapa tega sama aku? Padahal dia orangnya pendiam. Terus gimana, PakLek?" Santi pun tak habis pikir dengan tingkah laku lelaki.


"Tak apa, Nduk. Sudah PakLek hilangkan dan aura gelap di atasmu sudah tak kelihatan. Banyak berdoa dan dzikir, ya. Allah selalu melindungimu." PakLek pun memperingati Santi untuk waspada.


Setelah bercakap-cakap cukup lama, mereka pun berpamitan pada BuLek Darjo karena hendak ke Yogyakarta bersama PakLek. Rencananya, besok mereka hendak menemui Kyai Anwar dan Budi untuk membahas ke Jakarta membantu Ningsih.


"BuLek, kami berangkat dulu. Pinjam PakLek, ya, BuLek!" seru Reno sambil melambaikan tangan dari mobil. Mereka sudah berpamitan dan mencium tangan BuLek sebelum masuk ke mobil. Tentunya, PakLek Darjo juga sudah membawa tas berisi pakaian untuk sementara pergi dengan Santi dan Reno.

__ADS_1


Mereka melaju perlahan ke Yogyakarta. Banyak hal yang dibicarakan. Terlebih membahas soal Tante Ningsih. Sebenarnya, Ningsih sangat beruntung memiliki Reno dan Santi yang bukan keponakan kandung tetapi sangat perhatian dan peduli.


***


Jakarta ... setelah Ningsih sadar dari pingsan ....


Ningsih sudah sampai di rumah dengan ditemani Nindy dan Joko. Mereka membawa Ningsih ke klini dan menemaninya karena Pak Umar harus berjaga di rumah.


"Tante, jangan mikir yang berat-berat, ya. Sudah istirahat saja dulu. Nanti Nindy temani di kamar," lirih Nindy yang merangkul tangan Ningsih.


"Tante tidur di kamarmu, ya. Sementara saja. Tante masih takut tidur di atas," ucap Ningsih memohon.


"Iya, Tante. Tapi tahu sendiri kamar Nindy sempit."


"Nggak apa. Temani tante, ya. Joko, tolong bilang ke Aldo untuk mengawasi kerjaan di restauran hari ini dan besok, lalu laporan ke sini setelah pergantian sift." perintah Ningsih pada Joko.


"Iya, Tante. Nindy pasti menemani."


"Baik, Ningsih. Aku akan segera ke restauran."


Joko dan Nindy menjawab bersamaan dengan kalimat yang berbeda. Ningsih pun tertawa. "Makasih, ya. Kalian selalu ada buat tante Ningsih." ucap Ningsih seraya memeluk Joko dan Nindy bersamaan.


Joko merasa, jantungnya berdegub kencang. Joko memikirkan hal yang lain, sedangkan Nindy senang dan semakin bersemangat karena diperlakukan seperti keluarga sendiri. Dalam hati Nindy, dia berharap bisa bersama Reno.


Ningsih pun masuk ke kamar Nindy dan membuka pintunya. Nindy lekas ke dapur membuatkan sarapan untuk Tante Ningsih, sedangkan Joko segera ke N&B Resto mengabari Aldo yang menjadi chef andalan serta orang kepercayaan Ningsih.


Ningsih tiduran di kamar Nindy. Dia masih takut ke lantai dua mengingat makhluk penglaris itu. Sangat mengerikan, berbeda jauh dengan Bima. Ningsih pun mencoba menghubungi Bima lagi.


"Bima ... kamu di mana? Cepat ke sini. Aku takut ... ada sesuatu yang menggangguku," batin Ningsih berharap Bima menjawabnya.


Namun, kenyataan tak sejalan dengan harapan. Bima tak menjawab sama sekali. Ningsih pun bingung mengapa Bima pergi dan tak mengabari sama sekali. Saat itu, Ningsih belum mengetahui apa yang Bima lakukan.


***


Pada waktu yang sama ....


Bima menatap langit biru yang mulai berawan. Kemudian bergumam dalam kegundahan, "Ningsih ... bersabarlah. Aku sedang mencari jalan terbaik untuk kita bersama. Jika jalan ini tak berhasil, mungkin kita akan tetap bersama meski harus sirna."


Bima sudah berusaha dan berjuang. Namun, nasib Ningsih dan dirinya bagai di ujung tanduk. Bima tak akan menyerah, tetapi juga tak bisa berbuat lebih selain jalan terakhir ini. Andai ini tak berhasil, dia sudah siap menghadapi Tuan Chernobog meski harus musnah. Sedemikian besar cinta Bima pada Ningsih, tanpa sadar semua menjadi semaiij rumit.


Hera dan Della sudah memberikan dua tumbal darah gadis perawan. Jadi, Bima hanya menunggu tiga lagi sebelum Purnama agar Tuan Asmodeus membantunta. Hanya satu yang Bima pikirkan, semoga penguasa Neraka Lapis Keenam itu tak ingkar janji pada perjanjian mereka. Bima tak ingin makin terpuruk dengan keadaan ini.


Seketika dada Bima sesak. Dalam wujud manusia, dia semakin lama lemah karena memerlukan energi lebih. "Uhuk ... uhuk ...."


Bima memegang mulutnya yang batuk. Tak disangka, darah hitam mengalir dari dalam mulutnya. "A-apa ini? Kenapa aku? Jangan ... jangan seperti ini sekarang. Aku harus menyelamatkan Ningsih terlebih dahulu!" Bima mengelap mulutnya.

__ADS_1


Bima mengubah wujud menjadi Iblis dan tak berani menjadi manusia untuk waktu dekat ini. Dia menyadari, sepertinya kemampuannya makin lama berkurang.


Bersambung ....


__ADS_2