JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 55


__ADS_3

"Mimpi apa aku ini... ditaksir Tante Silvi yang kaya raya... dapat pinjeman motor Ninja yang bagus dan keren begini... dapat tawaran kerja gaji menarik atau justru nggak kerja malah jadi kekasih? Duh... kok macam film yang tante dan berondong. Ha ha ha ha... Duh gimana ini? Aku beneran bingung karena masih perjaka ting ting. Gimana ya?" gumam Joko sambil mengendarai motornya melaju perlahan.


Sesampainya di kerjaan, teman sepekerjaan Joko memperhatikannya dengan tatapan aneh. Mungkin karena dia membawa motor bagus. Terlebih mata Tina yang tak lepas dari memandang motor yang senilai hampir seratus juta itu.


"Joko... tumben pakai motor?" sapa Tina mendekatinya.


"Oh, iya. Biasanya nggak kubawa," jawabnya memancing wanita yang menurut gosip suka duit.


"Hmm... nanti siang makan ke mana yuk, tapi bawa motor," kata Tina yang terpancing Joko.


"Wah, nggak dulu Tina. Aku ada kerjaan mobil Bu Darmo," tolaknya halus.


"Yah, gitu ya... Yaudah deh," jawab Tina sambil berlalu ke belakang meja kasir.


Joko tersenyum merasa sedikit menang, akhirnya bisa menarik perhatian Tina. Namun, rasa sebal dengan perlakuan Tina sebelumnya membuat Joko mempunyai ide yang lebih menarik.


"Bro, dipanggil Pak Herman tuh!" ujar Fino memanggi Joko.


"Iya, siap."


Joko masuk ke ruang Bos. Sepuluh menit di sana, dia pun keluar dengan wajah murung.


"Harus dapat dari mana uang segitu banyaknya. Ada-ada saja sih. Baru aja mau hidup enak," gumamnya pada diri sendiri.


Pak Herman menuduh Joko merusakan spare part mobil Merci yang sedang diperbaiki. Padahal Joko tidak melakukannya. Namun, Bos tak mau tahu dan meminta Joko menggantinya cash sepuluh juta atau potong gaji selama sepuluh bulan (sejuta/bulan). Hal itu membuat Joko stress.


Dia bekerja menjadi tidak semangat. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ada satu pesan masuk.


[Joko, jangan lupa nanti sore ke rumah Tante, ya.]


"Wah iya, aku bisa bilang sama Tante Silvi buat bantu. Pasti dipinjamkan!" gumam Joko.


[Tante, Joko ada masalah di kantor. Bos baru saja memanggil. Ada sesuatu yang rusak dan Joko disalahkan. Kalau nggak bisa ganti sepuluh juta, Joko harus bekerja di sini sepuluh bulan lagi untuk mengganti.]


Belum ada semenit, Tante Silvi sudah membalas.


[Tante ke sana sekarang. Bayar saja. Langsung resign. Bosmu kurang sjsr memeras tenaga orang!]


[Baik, Tante.]


Joko berpikir jika Tante Silvi marah kepada Bos Joko, padahal ini semua termasuk dalam skenario Tante mendapatkan calon berondongnya.

__ADS_1


****


"Bos, ini uang sepuluh jutanya," kata Joko mantab.


"Cepet banget gantinya, uang dari mana Joko?" selidik Pak Herman.


"Bos kan nggak perlu tahu uang dari mana. Terpenting sudah sah ya kuganti. Maaf Bos, sekalian saya pamit resign," jelas Joko.


"Hlo kok mendadak?"


"Saya nggak nyaman, Bos. Dari pada bekerja kena tuduh sesuatu yang nggak kulakukan."


"Eh, kenapa jadi tersinggung gitu, Joko?"


"Maaf, Bos. Lebih baik saya mundur," tegas Joko.


"Yaudah ngga apa. Tapi gaji nggak bisa diambil ya karena belum full sebulan," kata Pak Herman, licik.


"Baik."


Joko keluar dari ruangan Bosnya dengan wajah kesal. Dia merasa dicurangi. Kerja bagai sapi perah.


"Dari pada perjaka hilang buat pacaran, dah lah mending sama Tante Silvi aja. Uang sepuluh juta udah buat bayar Herman licik itu! Huh! Untungnya Tante nawari lima puluh juta. Jadi masih ada empat puluh deh," lirih Joko membelah jalanan Ibu Kota.


****


Joko sampai di loby Hotel Rose Atrium, menuju ke kamar VVIP nomor lima yang dipesan Tante Silvi. Semenjak kesepakatan saat Tante mengantar uang sepuluh juta, Joko membulatkan tekad untuk mengabdikan diri pada wanita cantik berusia 45 tahun itu. Baginya, bukan hal yang buruk untuk lelaki melepas miliknya karena tidak berbekas.


Sampailah Joko di depan pintu kamar berwarna putih. Dia memencet bel dan menunggu Tante Silvi membukakan pintu. Beberapa saat kemudia, Tante menarik handle pintu perlahan. Joko masuk ke ruangan VVIP yang sangat luas. Seperti rumah, atau tepatnya apartemen.


"Joko... mandi dulu ya. Tante sudah mandi tadi...." lirih Tante Silvi yang mengenakan gaun tipis menerawang.


Joko pun mengangguk dan melangkah ke dalam kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat Tante Silvi sudah berbaring di tempat tidur.


Terjadilah hal yang diinginkan Tante Silvi sejak pertama melihat pemuda tinggi, kekar, berhidung mancung, dan berkulit sawo matang itu. Joko jatuh kepeluan tante girang.


Semenjak itu, kehidupan Joko berubah. Dia layaknya pengabdi setia Tante Silvi. Kapanpun dan dimanapun Tante butuhkan, dia selalu siap. Hal itu membuat penampilannya berubah drastis. Dari pemuda lugu dan penampilan sederhana, menjadi pemuda keren berpenampilan kekinian. Tentu saja perubahan itu membuat semua mata wanita tertuju pada Joko.


****


Keluarga Joko tak pernah berpikir macam-macam karena Joko meyakinkan pekerjaan barunya lebih baik dari sebelumnya. Berkedok sopir pribadi membuatnya leluasa pergi kapan saja. Tiga tahun berjalan cepat. Joko terpaut hati dengan Tante Silvi. Dia tidak tahu jika seorang tante girang tak pernah menaruh hati pada berondongnya dengan serius. Mereka dengan mudah akan membuang jika bosan.

__ADS_1


Tabungan Joko sudah cukup untuk membeli rumah baru di perumahan elite untuk keluarga. Dia melihat browsur di sebuah majalah dan menengok ke sana. Marketing begitu menjanjikan, membuat Joko mantab membeli sebuah rumah di sana.


Seminggu kemudian, Tante Silvi menghilang begitu saja. Tiap Joko ke rumahnya, penjaga selalu bilang tante tidak ada di rumah. Nomor handphonenya pun tak bisa dihubungi. Hal itu membuat Joko resah sang pujaan hati menghilang.


"Silvi, ada apa denganmu?" gumam Joko dalam perjalanan ke perumahan yang akan dia tempati.


Sesampainya di sana, keramaian terjadi di luar gerbang. Banyak orang berteriak minta ganti rugi. Joko masih belum paham situasi apa yang dihadapinya. Dia pun turun dari motornya dan medekati kerumunan orang.


"Kembalikan uang kami!"


"Dasar penipu!"


"Bunuh marketing penipu!"


"Kembalikan uang atau kami bakar perumahan ini!"


Joko yang masih mencerna perkataan mereka, mencoba bertanya pada salah seorang.


"Pak... ada apa ya ini?"


"Hlo, Mas nggak tahu ya? Marketing perumahan ini penipu. Perumahan ini tidak dijual. Ini milik pribadi pengusaha Singapura. Marketingnya mengambil uang orang yang tertarik beli di sini."


"A... apa? Penipuan?"


Seketika kaki Joko lemas, tak ampu menopang tubuhnya sendiri. Jika ini penipuan, lantas nasib tabungannya selama tiga tahun? SIRNA. Hasil dia menyenangkan Tante Silvi. Hasil keringatnya tiap malam maupun pagi. Hasil hubungan tak wajar yang berakhir dengan main hati. Hilang seketika. Ludes semua.


Padahal Joko sengaja tidak mau merenovasi rumah karena mengumpulkan uang untuk membeli rumah baru. Dia sangat sedih dan frustasi. Dia pun pulang ke rumah.


"Bang, ada apa? Coba cerita ke Ibu..." tanya ibu perlahan.


Joko hanya terdiam di kamarnya. Beberapa perabot baru menghiasi rumah Joko, tetapi dia memang tak ingin memperbaiki gubug reot yang mulai rapuh.


Joko memeluk kedua lututnya. Menyesali pemiliran pendeknya. Usia saat ini 24 tahun bukan usia yang mudah untuk mencari pekerjaan. Lalu bagaimana dengan Tante Silvi?


Joko yang tak kuat menahan pikiran yabg berkecamuk akhirnya mengamuk sejadi-jadinya. Dia berteriak dan memaki


Dia pun melemparkan aneka barang di kamarnya hingga berhamburan.


Abah, ibu dan adik sangat takut oleh sikap Joko yang mengamuk tak karuan. Itulah masa tersulit Joko. Dia kehilangan segalanya, bahkan harga diri pun hilang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2