JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 17


__ADS_3

...🔥 BERPISAH UNTUK BERTEMU 🔥...


Setelah beberapa kali terlibat urusan Bima dan Ningsih, Dinda memutuskan untuk berpisah dengan kakaknya. Bukan karena tak peduli, tetapi dia sudah mengetahui rencana Tuan Chernobog dan memperingatkan Bima. Justru pertengkaran yang terjadi.


"Kakak, harusnya dengarkan aku! Kenapa selalu mementingkan wanita itu? Aku ini adikmu! Aku ini kembaranmu! Kau tak tahu, Tuan Chernobog memutuskan akan mengambil Ningsih sendiri jika kamu tak tegas. Kali ini, Kakak akan dalam bahaya besar." seru Dinda pada Bima. Bima terlihat bimbang.


"AKU SUDAH JANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN NINGSIH. AKAN KUHADAPI BERSAMA." jawab Bima yang jelas membuat Dinda sangat marah.


"Sampai kapan? Sampai kiamat Kakak akan terus mempertahankannya? Dia itu manusia. Akan mati juga! Masih saja Kakak keras kepala!" Dinda sangat kecewa dengan jawaban Bima. Pertengkaran itu tak akan membuahkan hasil jika Bima tetap menyimpan cinta untuk Ningsih.


"BUKANKAH KAU JUGA MULAI MERASAKAN HAL YANG SAMA? BAGAIMANA DENGAN LELAKI KOREA YANG SELAMA INI MENUNGGUMU DI BALI? JIKA ADA HAL BURUK MENIMPANYA, KAU MAU APA?" Bima justru membalikkan pertanyaan ke Dinda.


Dinda makin kesal. Dia pun berteriak. "Kakak bodoh! Kakak akan dimusnahkan oleh Kyai dan satri itu, lalau Tuan Chernobog akan mengambil Ningsih. Lantas siapa yang akan di sisi Kakak? Aku menolong pun belum mampu! Arrrrggghhh!" Dinda menghentakkan kaki berkali-kali. Dia pun memukul pohon beringin di sampingnya hingga goyah hendak tumbang. Dia tak tahu lagi bagaimana caranya memperingatkan Bima.


Bima langsung memeluk Dinda. "DINDA, TERIMA KASIH SUDAH MENGINGATKAN. TETAPI INI KEPUTUSANKU. LEBIH BAIK KAMU JUGA MENGAMBIL KEPUTUSAN SENDIRI. JANGAN MENUNGGU KAKAKMU YANG TAK BERGUNA INI." Bima membelai lembut rambut Dinda, kemudian berpisah dengannya.


Setelah kejadian itu, selama bertahun-tahun lamanya, Dinda tidak berjumpa dengan Bima. Bahkan kabar dari kakaknya itu tak lagi terdengar. Tuan Chernobog sudah memilih iblis lain sebagai pengabdinya yang setia. Sedangkan Dinda masih menjerat manusia dalam kubangan dosa. Meski Boy masih bersamanya, Dinda belum mengakui hal yang menjadi kebersamaan itu adalah sebuah rasa. Dinda masih merasa Boy adalah tempatnya berpulang ketika penuh sesak.


"Boy, apakah kamu percaya dengan takdir?" tanya Dinda saat menghabiskan sore bersama menatap matahari terbenam.


"Takdir? Sepertinya hanya keputusan di tangan kita sendiri tanpa campur tangan semesta? Seperti keputusanmu selalu kembali di sisiku, meski tahu kita belum tentu bisa bersama selamanya," jawab Boy sambil menatap matahari yang mulai terbenam.


Mereka berdua terdiam sejenak. Dinda ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya, tetapi dia takut kalau Boy justru ketakutan dan meninggalkannya. Hal yang tak ingin Dinda rasakan, terlebih dia saat ini kehilangan komunikasi dengan Bima selama bertahun-tahun. Dinda pernah mencari kakaknya, tetapi tak pernah menemukan. Entah Bima berada di mana. Dinda tak tahu.


"Boy, jika aku mengatakan yang sebenarnya, apakah kamu akan tetap bersamaku? Meski kita hanya seperti ini. Membahas senja dan menjalani hari yang tak tentu." lirih Dinda dengan khawatir.


Boy memegang tangan Dinda. Lalu, dia mencium tangan Dinda perlahan. "Katakan saja. Tak akan mengubah apa pun." jawab Boy meyakinkan Dinda.


Dinda pun menatap Boy. Mata Dinda mulai mengembun. "Boy, aku ini bukan manusia. Aku adalah Iblis. Mungkin selama ini kamu bertanya-tanya dalam hati. Namun, inilah jawabannya." Dinda meneteskan air mata. Dia khawatir Boy tidak menerima keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Dinda, aku sudah tahu itu sejak pertama kita bertemu. Aku tak mempermasalahkannya. Dinda, aku juga mengaku. Aku ini malaikat." ucap Boy membuat Dinda berhenti menangis. Dia menatap Boy dengan tatapan tak percaya.


"Berhenti bercanda, Boy. Aku serius. Lihat ini," kata Dinda yang kesal dan terpaksa memperlihatkan wujud aslinya. Dengan kedua tanduk merah, wajah pucat, mata merah dan seringai menakutkan. Hal itu Dinda perlihatkan kepada Boy. Namun tidak membuat lelaki asli Korea itu takut.


"Ok. Kali ini kita sama-sama serius. Dinda, jangan terkejut." Boy pun mengeluarkan sayapnya. Tentu saja hanya orang tertentu dan makhluk tertentu pula yang bisa melihatnya. Dinda terperanga. Tak menyangka selama ini dia bersama malaikat.


Bagaimana bisa malaikat bersama iblis? Bagaimana bisa malaikat bersatu dengan iblis? Membayangkannya pun membuat kepala Dinda pening. Wanita iblis sepertinya tak pantas bersanding dengan malaikat berhati lembut seperti Boy. Namun, apakah cinta suatu kejahatan? Cinta dua dunia yang justru lebih rumit daripada yang dialami Bima dan Ningsih. Apakah surga dan neraka akan merestui? Semua pertanyaan itu menjejali pikiran Dinda dalam seketika. Dinda pun pingsan. Darah hitam keluar dari hidungnya. Boy panik. Dia langsung menggendong Dinda untuk kembali ke rumah. Dinda pingsan karena mimisan atau syok?


...****************...


Flashback hidup Boy di Korea ....


Malaikat bukan hanya dalam cerita. Boy salah satu malaikat yang terlahir dari kesalahan. Orang tua Boy adalah pasangan dari dua dunia berbeda. Ibu Boy saat itu adalah malaikat yang hendak mengambil nyawa lelaki yang saat itu sakit parah. Saat di ruangan rumah sakit, orang tua lelaki itu menangis dan memohon agar Tuhan menyembuhkan puteranya. Mereka sudah tua, hanya lelaki yang hampir meninggal itu sebagai penerus keluarga.


Hati ibu Boy sangat lembut. Dia pun jatuh iba pada lelaki itu. Tanpa berpikir panjang, ibu Boy mencium lelaki itu dan memberi nafas kehidupan dari malaikat. Lelaki itu selamat dari kritis. Lelaki itu adalah ayah Boy. Setelah kejadian itu, ayah Boy melihat malaikat cantik itu selalu bersamanya. Akhirnya, dia meminta malaikat itu tetap bersamanya.


Boy tumbuh normal seperti manusia lainnya, hanya saja dia bisa melihat dunia lain. Maka dari itu, saat pertama melihat Dinda, dia tahu jika Dinda juga special. Bukan Iblis murni. Boy tahu jika dahulu Dinda adalah manusia. Boy pun mendekati Dinda karena cinta pada pandangan pertama. Boy merasa jika wanita Iblis itu tidak sejahat kelihatannya.


...****************...


Di sisi lain ....


Ningsih, Bima, dan Alex dalam perjalanan ke pesantren. Mereka hendak memberi kejutan dan hadiah untuk Wahyu. Saat ini, anak-anak Ningsih sudah beranjak remaja. Dia pun berusaha seadil mungkin meski Wahyu belum ingin berkunjung ke rumah barunya. Selama perjalanan, mereka bertiga lebih banyak diam. Alex sudah mengubah aura Bima, sehingga Budi dan alm Pak Anwar tak mengetahuinya. Namun, hal itu juga yang membuat Dinda tak bisa menemukan kakaknya.


Setelah perjalanan panjang yang lumayan melelahkan, mobil itu pun sampai di tempat parkir pesantren. Terlihat Santi sedang bermain dengan anaknya. Pagi itu terlihat sangat sejuk. Angin berembus sepoi-sepoi. Membuat suasana nyaman.


Ningsih bergegas keluar mobil dan menyapa Santi. "Pagi, Santi." sapa Ningsih dengan senyum manisnya.


"Tante! Apa kabar, Tante? Alhamdulilah bisa bertemu lagi." ucap Santi yang berhenti bermain dengan anaknya dan langsung menggendong si kecil.

__ADS_1


"Kabar Tante baik. Ini mau kasih suprise buat Wahyu. Hari ini Wahyu ulang tahun ke tujuh belas." kata Ningsih menjelaskan.


"Masyaallah, Santi malah lupa. Reno juga belum tahu. Apa Santi hubungi saja?" Santi segera mempersilakan mereka masuk ke rumahnya. Agar nyaman merayakan ulang tahun dengan Wahyu dan Budi.


"Nggak usah, Santi. Reno 'kan repot. Abah dan Ibu juga kondisinya tidak cukup sehat. Kita berkumpul begini saja pasti Wahyu senang." jelas Ningsih. Bima dan Alex membawa kue tart buatan Ningsih dan beberapa bingisan serta makanan yang sudah dibeli. Satu set makanan untuk pesta besar.


Setelah meletakkan semuanya di atas meja, Santi membantu Tante Ningsih menata semuanya. Sedangkan Alex langsung ke pesantren mencari Wahyu. Sesampainya di kelas tempat Wahyu belajar, Alex pun mengetuk pintu. "Assalamualaikum, maaf mengganggu Pak Ustad ... keluarga saya mencari Kak Wahyu." lirih Alex dengan sopan.


"Wa'alaikumsalam. Wahyu, silakan boleh meninggalkan kelas. Orang tuamu mencari," kata Pak Ustad memberi izin.


"Iya, Pak Ustad." Wahyu pun keluar dari kelas. Menemui Alex yang tersenyum menatapnya.


"Pagi, Kak. Hari spesial ini, kita ke sini lebih awal dari jam kunjungan," ucap Alex sepanjang perjalanan ke tempat Ningsih berada.


"Iya, mau kasih kejutan ulang tahun? Kakak sudah besar, Dik. Tidak perlu seperti itu. Cukup doa saja sudah senang." jawab Wahyu dengan tenang dan santai.


"Tapi Mama yang menyiapkan. Kue tartnya kali ini asli buatan Mama. Mama ikut kursus terlebih dahulu. Kakak, jangan jawab yang buat Mama sedih, ya?" Alex coba memeringatkan Wahyu. Karena Wahyu terkadang berkata tenang dan santai tetapi menusuk hati Ningsih. Alex tahu jika Wahyu merasa dianak tirikan. Padahal tidak. Meski begitu, Alex pun tahu jika Wahyu sudah menutupi identitas Alex dan Bima selama ini. Itu yanh mmebuat Alex tetap menyayanginya sebagai kakak.


"Iya, Kakak nggak akan begitu. Oh iya, kamu yakin kalau Om Bima, maksudku Pa-Papa sudah tidak seperti dulu? Tidak mencari tumbal dan lain sebagainya?" lirih Wahyu menyelidiki yang terjadi.


"Nggak, Kak. Kami jadi Iblis insaf. Ha ha ha ... tapi aku serius, Papa nggak seperti itu lagi. Sejak ada aku, memulai hidup baru karena atasan Papa tidak tahu Papa masih ada di dunia ini." jelas Wahyu yang suka bercanda. Wahyu pun tersenyum.


"Bagus kalau begitu. Kalau tidak insaf, nanti berhadapan dengan Kakak. Calon Ustad muda," kata Wahyu sambil berlari meninggalkan Alex dan tertawa.


"Kak, tunggu! Jail kambuh, nih!" seru Alex yang berlari juga, mengejar kakaknya.


Mereka merayakan ulang tahun Wahyu dengan bahagia. Ningsih memesan makanan satu set besar steamboat, grill meat, dan minuman aneka rasa. Ningsih juga membawa alat makan sendiri. Tak lupa memberikan bingkisan-bingkisan kado untuk Wahyu dan oleh-oleh untuk Santi, Budi, dan anaknya. Mereka makan bersama dan merayakan ulang tahun dengan senang.


Dua dunia yang bersatu. Apakah suatu kesalahan? Dua keluarga yang berbeda jauh menjadi satu bagian karena Alex mampu menutupi semuanya. Budi pun senang melihat Ningsih bahagia. Meski tetap saja Ningsih berada dalam JERAT IBLIS.

__ADS_1


__ADS_2