JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 153


__ADS_3

πŸ€ KEKALAHAN UNTUK MENANG πŸ€


PakLek Darjo dan Budi membantu Santi dan Reno untuk sadar dari pingsannya. Sedangkan tubuh Ningsih yang terkulai lemas, sudah diletakkan pada sofa.


"Reno, Santi, ayo bangun," kata Budi yang berkali-kali mencoba menyadarkan mereka.


PakLek Darjo pun mengambil air yang digunakan untuk ruqiyah, kemudian segera memercikkan air dari wajah hingga kaki Santi dan Reno bergantian. Mereka pun sadarkan diri.


Reno dan Santi sudah bangun dari pingsannya, sedangkan Pak Anwar masih mencoba menenangkan Ridho yang gemetar dan ketakutan. Sesungguhnya, hati Pak Anwar sangat sedih dan hancur. Tak bisa menyelamatkan santri yang ia didik dan besarkan sejak kecil, membuat Pak Anwar merasa bersalah.


"Allah, kuatkanlah hambaMu dari semua hal ini. Terimalah amalan dan ibadah keempat anak santri hamba, ya, Allah," batin Pak Anwar.


Ridho seakan tak merespon apa pun yang Pak Anwar dan Budi katakan. Justru dia sesekali berteriak, "Aaaa ... aaaa!"


Hal itu membuat Pak Anwar semakin sedih. Kemungkinan, Ridho kehilangan akal sehatnya. Budi pun menepuk pundak ayahnya beberapa kali. Seakan berkata untuk sabar dan istigfar. Kali ini, mereka tak hanya diuji soal Ningsih diruqiyah, kepergian para santri menjadi duka tersendiri. Tuan Chernobog sangat pintar menghancurkan hati dan semangat manusia.


"Pak, sabar, Pak. Istigfar. Budi yakin, semua ada jalan keluarnya." bisik Budi yang takut jika ayahnya berlarut pada rasa bersalah.


Santi dan Reno melihat keadaan Tante Ningsih. Tubuh wanita itu lemas, detak jantungnya lemah, dan wajahnya pucat.


"PakLek, apakah lebih baik kita bawa Tante Ningsih ke rumah sakit?" tanya Reno yang semakin khawatir. Meski dia sendiri baru saja sadar dari pingsan. Bagaimana tidak pingsan? Melihat Iblis yang keluar dari Neraka begitu menakutkan.


"Jangan, ini bukan tentang hal medis saja. Tunggu Pak Kyai tenang, agar bisa memikirkan rencana selanjutnya." jawab PakLek dengan bijaksana.


***


Sementara di tempat lain ....


Bima menahan luka yang begitu parah di tubuhnya. Serangan demi serangan yang dia terima, membuatnya semakin lemah. Saat Ningsih di ruqiyah, energi Bima pun semakin tersedot. Bima tahu semua ini bisa saja berakhir dengan buruk. Namun, dia tetap berjuang demi wanita yang dicintai.


Beberapa kali Bima batuk, luka dalam tubuhnya membuat dia muntah darah. Darah Iblis yang berwarna hitam. Saat Bima hendak pergi menemui gadis buta, dia terjatuh.


Bima tumbang. Iblis itu kini tak berdaya. Tak bisa menggerakan tubuhnya yang sudah lemah.


"Jika aku harus musnah, aku ingin kamu tetap bahagia, Ningsih." lirih Bima sebelum akhirnya penglihatannya kabur dan semua menjadi gelap.

__ADS_1


***


Pak Anwar yang sudah tenang, akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke pesantren di Wonogiri. Hal ini dengan banyak pertimbangan. Kondisi Ridho yang psikisnya terguncang, Ningsih yang rohnya entah berada di mana, dan Reno serta Santi hang takut dengan semua ini.


"Kita kembali saja ke pesantren. Di sana, insyaAllah semua aman. Kita rawat Ningsih sembari mencari di mana rohnya pergi. Jika kita di sini terus, justru akan bahaya," jelas Pak Anwar yang langsung disetujui oleh semua orang di ruang tamu rumah Ningsih.


Mereka meninggalkan rumah Ningsih yang sudah terkunci. Santi sudah membawa beberapa kebutuhan serta pakaian untuk Tante Ningsih dan mengunci rumah mewahnya. Mereka bergegas pergi ke homestay untuk membereskan barang bawaan.


Setelah semua selesai, mereka segera melakukan perjalanan dengan dua mobil menuju ke Wonogiri. Perjalanan yang panjang, tetapi semua aman sampai tujuan.


Bisa disimpulkan mereka kalah karena belum berhasil menyelamatkan Ningsih yang saat ini rohnya menghilang. Sedangkan, keempat santri gugur dalam perjuangan membuat Pak Anwar sedih. Ridho yang masih terguncang jiwanya, akan dirawat di pesantren.


"Baru kali ini, ruqiyah berjalan dengan hasil tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Allah mempunyai maksud lain yang tak tak bisa dipahami umatNya," lirih Pak Anwar yang masih iba melihat Ridho yang bergumam sendiri.


Sesampainya di pesantren. Pak Anwar menugaskan beberapa orang untuk merawat Ridho sedangkan Mak Sri dan Santi merawat Ningsih. Budi mempersilahkan PakLek Darjo untuk beristirahat juga. Kegagalan ini sungguh memukul hati Pak Anwar.


"Budi, sementara semua kupasrahkan padamu. Bapak mau mencari jalan Allah dengan doa dan puasa di kamar. Selama seminggu, jangan masuk ke sana. Semoga Allah memberi jalan," kata Pak Anwar yang langsung dimengerti oleh Budi.


Budi tahu jika hal ini berat untuk ayahnya. Kehilangan santri yang sudah dianggap sebagai anak sendiri, bahkan Ridho menjadi seperti orang tak waras. Iman mereka benar-benar diuji oleh hal ini.


"PakLek, sebenarnya apa yang terjadi? Lalu kenapa Tante Ningsih lemas seperti orang pingsan?" tanya Santi yang masih belum paham apa yang terjadi.


"PakLek, kalau roh Tante Ningsih tidak ketemu, bagaimana?" tanya Santi dengan sedih.


"Nduk, kita semua di sini berdoa yang terbaik. Semoga segera ketemu. Maka dari itu, nanti ada dokter dan perawat yang dipanggil oleh Pak Anwar untuk mengecek kondisi Ningsih dan memasangkan infus agar tubuh Ningsih masih bisa bertahan. Jaga Tantemu, ya. Banyak doa dan dzikir agar Allah membantu usaha kita," ucap PakLek sambil menepuk-nepuk pundak Santi.


Apalah manusia tanpa harapan, mereka masih berharap karena tahu Allah akan membantu mereka. Sebenarnya kemungkinan Ningsih bertahan hidup sangat kecil. Namun, mereka akan berjuang semaksimal mungkin.


***


Beberapa hari kemudian ....


Wahyu tahu jika ibunya dirawat dalam rumah Pak Anwar. Anak sekecil itu, setiap malam mendoakan ibunya agar lekas bangun dari tidur panjangnya. Mak Sri dan Santi tak luput dari tangis, ketika melihat Wahyu dengan gigih belajar doa dan selalu mendoakan Ningsih.


"Mak, Allah sedang izinkan Mama istirahat, ya? Kalau Mama sudah cukup istirahatnya, pasti bangun lagi, 'kan?" tanya Wahyu yang belum paham dengan semua ini.

__ADS_1


"Iya, Wahyu. Kamu anak pintar. Allah pasti kabulkan doamu." lirih Mak Sri yang kemudian memeluk Wahyu, tak kuasa menahan tangis.


"Mak Sri, kenapa menangis?" ucap Wahyu dengan lugu.


"Mak bangga dengan Wahyu. Wahyu anqk baik. Semoga Allah secepatnya membangunkan Nyonya, ya," kata Mak Sri.


Santi pun terharu, kondisi Tante Ningsih yang lemah, seakan hanya mampu bertahan karena selang infus, obat suntikan, serta selang oksigen. Wajah Ningsih sudah tidak pucat, tetapi hanya seperti orang tertidur nyenyak.


Pak Anwar yang sudah selesai memulihkan tenaga pun dengan waspa membentengi seisi pesantren dengan pagar gaib. Tentunya, Budi menemani dan membantunya.


Sedangkan Ridho, akal sehatnya belum pulih dan beberapa kali mengamuk sehingga dengan berat hati, Pak Anwar membawa Ridho ke rumah sakit jiwa. Beliau sementara mengobatkan Ridho karena takut beberapa kali Ridho hendak bunuh diri bahkan hendak membunuh orang di pesantren.


PakLek Darjo masih tinggal di pesantren menemani Reno dan Santi sementara. Mereka berharap Ningsih segera sadar dan menanti mujizat. Sedangkan iblis yang menjadi suami gaib Ningsih, entah sudah musnah atau pergi ke mana karena tubuh Ningsih sudah tidak ada aura kejahatan dan aura hitam dari pengaruh Iblis itu.


***


Di tempat lain ....


"Nona, makanlah terlebih dahulu. Muka Nona sangat pucat." ucap seorang lelaki pada gadis buta di dalam rumah yang sangat megah seperti kastil.


"Iya, Daniel. Sepertinya aku butuh energi lebih selain makanan," jawab Laurent yang masih lemas.


"Nona ingin apa? Nanti saya segera mencari." kata Daniel yang selalu siap siaga membantu Laurent.


"Aku ... ingin bersamamu. Daniel, ayo menikah! Aku tahu ini memalukan karena perempuan yang mengatakan terlebih dahulu. Namun, aku takut jika akhirnya aku pergi tanpa sempat mengungkapkan hal ini padamu. Aku ... mencintaimu," lirih Laurent pada lelaki yang selama ini menjadi bodyguardnya.


"Laurent, kamu harus sehat dan berumur panjang. Mari kita menikah. Aku juga mencintaimu. Tetaplah sehat dan bertahan, kita jalani semua hal yang ingin kamu lakukan." Daniel segera memegang erat tangan Laurent yang dingin.


Lelaki itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Laurent, tetapi sungguh dia sangat takut jika hal buruk terjadi pada gadis yang selama ini dia jaga. Orang tua Laurent sudah mempercayakan perlindungan Laurent kepada Daniel karena orang tua Daniel merupakan bodyguard di keluarga Laurent secara turun temurun. Lantas, pantaskah Daniel menikahi Laurent? Kadang hal itu yang membuat pemuda baik dan gagah itu berpikir seribu kali lipat.


Seorang bodyguard yang jatuh cinta pada nona besar. Seperti drama percintaan di televisi, tetapi tak akan semudah itu dalam dunia nyata. Sebab, orang tua Laurent sudah meninggal dan kerabat Laurent pun sempat beradu untuk mengambil alih kekayaan yang ditinggalkan orang tua Laurent. Soal harta, pasti semua orang akan mengira apa yang Daniel lakukan demi kekayaan. Padahal, perasaan Daniel dan Laurent sudah ada sejak lama. Mereka memendam di hati masing-masing karena menunggu saat yang tepat untuk bersama.


Laurent berusaha bertahan dalam kondisi itu. Tubuhnya mulai lemas karena mengeluarkan tenaga dalam yang cukup besar. Dia memilih untuk membantu karena tahu bagaimana rasanya orang mencintai dan saling memperjuangkan meski banyak rintangan dan jurang perbedaan yang besar.


"Setidaknya aku sudah berjuang. Semoga semua bisa berjalan dengan baik. Tuhan, jika waktuku hampir tiba, izinkan aku untuk bersama Daniel. Aku ingin membahagiakannya meski dengan sisa waktu yang kumiliki," gumam Laurent dalam hati saat menatap Daniel yang menggenggam erat tangannya yang lemas.

__ADS_1


Tubuh Laurent terbaring di atas tempat tidur. Beberapa hari ini, Laurent tak banyak melakukan aktifitas karena kondisinya lemah. Daniel selalu siap menjaga Laurent, meski pemuda itu tak tahu apa yang terjadi di alam lain.


"Cinta yang layak diperjuangkan adalah cinta yang membahagiakan kita. Jika membuat luka, apakah cinta itu sungguh rasa cinta?" ~Rens09~


__ADS_2