
...🔥IBLIS TETAPLAH IBLIS🔥...
Tuan Abaddon tersenyum sudah berhasil memperdaya mereka. Keempat iblis tak murni itu bisa menikmati hidup sebagai manusia, tetapi Bima dan Alex hanya memiliki kesempatan satu tahun saja. Setelah itu, mereka akan menjadi pengabdi Tuan Abaddon. Licik sekali. Namun, Bima dan Alex tidak punya pilihan lain.
"HA HA HA HA ... MEREKA BODOH SEKALI. APA ITU CINTA? CINTA DERITANYA TIADA AKHIR. SEPERTI PEPATAH MENGATAKAN SEPERTI ITU. MEREKA MAU SETAHUN DI DUNIA MANUSIA UNTUK KEMBALI MENJADI ABDIKU. PADAHAL ... AKU SUDAH MEMPERKIRAKAN KEKUATAN ALEX BISA KUDAPATKAN SAAT ITU, TETAPI MEREKA SULIT DITEBAK. TAPI TAK APA. TETAP AKU YANG MENANG." seru Tuan Abaddon menggelegar di singgah sananya. Di sana ada Snowice yang ikut tertawa.
"Tuanku Abaddon memang hebat. Pantas saja saudara Tuan takut saat Tuan hendak bertindak. Selain hebat, Tuanku sangat pintar dalam strategi," sanjung Snowice pada ruannya.
"HA HA HA ... KAU JUGA PANDAI SEKALI MENYANJUNG! SNOWICE MEMANG HEBAT MENYANJUNG DAN MEMANIPULASI PIKIRAN! HA HA HA ... LIHATLAH BIMA DAN ALEX, MEREKA KIRA AKAN MUDAH LEPAS DARI NERAKA? IBLIS TETAPLAH IBLIS, APALAGI KEKUATAN MEREKA BEGITU KUAT. SAYANG JIKA AKU LEPASKAN MEREKA MENJADI MAKHLUK YANG DINAMAI MANUSIA ITU. MEREKA AKAN MENGABDI PADAKU SETELAH MENIKMATI SETAHUN DI DUNIA MANUSIA," tegas Tuan Abaddon yang tak bisa diganggu gugat.
Mengetahui hal itu, Tuan Lucifer tak bisa berbuat apa-apa selain gagal menjalankan aksinya. Dia mempertimbangkan semuanya. Jika harus berperang menghadapi saudaranya, dipastikan akan sama-sama menjadi abu dan arang. Oleh sebab itu, Tuan Lucifer mengurungkan niatnya untuk menjadikan satu neraka dan tidak mempermasalahkan soal Bima dan Alex.
Sebenarnya ada satu rahasia yang tak diketahui oleh Iblis tak murni atau yang dikatakan Iblis yang dahulu adalah manusia. Mereka tidak bisa menjalani keabadian atau kekal di neraka. Mereka bisa musnah jika sudah berusia seribu tahun. Berbeda dengan iblis murni yang bisa hidup abadi di dalam api neraka. Selain itu, mereka tidak menyadari jika iblis tak murni memang bisa memiliki kesempatan menjadi manusia sutuhnya. Namun, kesempatan itu hanya berlaku dalam jangka waktu tertentu atau selamanya, tetapi kekuatan mereka diambil oleh Tuan Iblis yang membantu mereka menjadi manusia kembali. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan Iblis Murni. Hanya saja Bima tak mengetahuinya. Tuan Abaddon sengaja mempermainkan mereka.
Tuan Abaddon tahu jika Bima akan mengikuti apa yang dia katakan asal bisa bersama wanita yang dia cintai meski sebentar saja. Hal itu yang dimanfaatkan Tuan Abaddon untuk menyamarkan ingatan para manusia itu. Bagaimanapun, dunia iblis tak boleh terungkap oleh manusia agar tidak banyak orang yang tahu dan menjadi baik. Dunia iblis harus tetap tersembunyi dan menjalankan semua misi dan visinya menyesatkan para manusia dengan diam-diam.
Meski pada kenyataannya, para manusia yang dibuat hilang ingatan akan memiliki mimpi cuplikan memorinya, hal itu tak diketahui Tuan Abaddon. Mereka bisa saja mengingat kembali apa yang sudah terjadi.
"IBLIS TETAPLAH IBLIS. KITA BEKERJA DALAM DIAM DAN KEGELAPAN UNTUK MENYESATKAN UMAT MANUSIA. JANGAN SAMPAI KETAHUAN. JANGAN SAMPAI ADA YANG MELIHAT. KITA HARUS BISA MENGUMPULKAN BANYAK JIWA BERDOSA. HA HA HA HA ...." Tuan Abaddon menghimbau para pengikutnya, termasuk Snowice. Snowice hanya tersenyum. Wajahnya yang tertutup rambut putih hanya memperlihatkan bibirnya saja.
...****************...
Beberapa hari kemudian di dunia manusia ....
__ADS_1
Pagi itu, Ningsih hendak mengantarkan putranya ke toko buku. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. "Wahyu ... kamu sudah siap? Ayo kita berangkat," ajak Ningsih pada putranya.
"Iya, Ma. Wait ... tadi Kak Reno telepon mau ajak makan siang bersama karena Om Budi dan Kak Santi kebetulan ada di Yogyakarta. Aku sudah bilang iya, Ma. Nanti kita ke sana menyusul kalau sudah tahu lokasinya," ujar Wahyu sambil berjalan menuju ke ibunya yang sudah menunggu di samping mobil, hendak masuk ke dalam mobil.
"Hah? Kamu lupa, ya? Bukannya kita ada janji makan siang dengan Om Bima dan anaknya?" kata Ningsih mengingatkan Wahyu akan janji tempo lalu.
"Aduh, aku lupa, Ma. Gimana kalau nanti makan siang bersama sekalian?" tanya Wahyu berharap bisa menepati kedua janji itu.
"Kalau gitu, coba kamu bilang ke Reno. Mama akan bilang ke Om Bima." Ningsih dan putranya pun masuk ke dalam mobil. Segera mobil itu melaju perlahan.
Sejak pertemuan pertama Ningsih dan Bima di mall, mereka mulai akrab dengan saling bertukar nomor handphone. Ningsih dan putranya merasa mengenal Bima dan Alex. Semua terasa samar-samar karena memang mereka mengalami mimpi seakan nyata dan kenyataan seakan seperti mimpi. Hal itu diakibatkan oleh pengaruh Tuan Abaddon yang membuat memori dan ingatan mereka lupa tentang segala sesuatu mengenai Bima dan Alex, serta tentang iblis dan neraka.
Sepanjang perjalanan, Wahyu mencoba menghubungi Reno melalui pesan singkat. Mereka bertukar pesan dan akhirnya mendapatkan sebuah kesepakatan.
Reno: [Hai juga Wahyu, wah, bagus itu. Semakin banyak yang makan bersama, semakin seru tentunya. Tidak apa-apa ... ajak saja untuk makan siang bersama. Terlebih nanti akan ada Mas Budi dan juga Kak Santi. Mereka pasti juga akan senang.]
Wahyu: [Wah, benarkah, bolehkah itu? Terima kasih banyak, Kak Reno, jika sudah mengizinkan kami mengajak kawan. Kalau boleh tahu, di mana tempat untuk makan siangnya? Nanti kami akan menyusul.]
Reno: [Oke. Bukan masalah. Sama-sama, Wahyu. Nanti kalian menyusul saja. Untuk tempat makannya, kami memilih di all you can eat tengah kota. Kamu tahu 'kan, sebelum perempatan galeri, di sana ada tempat all you can eat. Nanti menyusul saja di sana, oke? Untuk parkir mobilnya, kamu bisa masuk saja karena ada tempat parkir di basement.]
Wahyu: [Oke, Kak Reno. Itu tempat yang sangat bagus untuk makan siang. Terlebih jika untuk banyak orang. Pas sekali, aku suka steak di sana. Baiklah, kami nanti akan menyusul. Aku akan bilang ke Mama dan juga ke teman kami. Terima kasih.]
Wahyu dengan semangat segera memberitahu ibunya tentang percakapan yang sudah dia katakan kepada Reno. "Mama ... aku sudah bilang kepada Kak Reno. Dia sudah menyetujui. Kita boleh mengajak teman, apalagi tempat makan siangnya juga menyenangkan. Di tempat all you can it," ujar Wahyu dengan semangat dan bahagia kepada ibunya.
__ADS_1
"Benarkah itu? Wah, sungguh baik sekali Reno. Baiklah kalau begitu, nanti kita menyusul ke sana. Tempat all you can itu sangat enak. Kau suka karena kamu pernah makan di sana bersama Mama dahulu. Nanti kita beli bingkisan dahulu untuk memberi kepada Lisa dan juga Safira, ya," ucap Ningsih dengan semangat. Dia merasa keluarganya memang sangat baik dan juga hangat kepada dirinya dan juga orang lain.
Meski kepergian Nindy menorehkan rasa sedih yang mendalam di hati Reno, saat ini Reno menjadi seorang lelaki yang hangat dan mau menerima ajakan atau juga nasehat dari keluarga lainnya. Itu semua demi masa depan Lisa. Reno berjuang meski harus sendirian, seperti halnya Ningsih yang berjuang untuk Wahyu dan seperti yang Ningsih ketahui, Bima juga berjuang untuk Alex--putranya sendirian.
Sesampainya di sebuah toko buku ternama di Kota Yogyakarta, Ningsih dan putranya pun turun dari mobi. Mereka segera masuk ke dalam toko buku dan mencari beberapa buku yang dibutuhkan untuk Wahyu mempersiapkan pembelajaran kuliah nantinya.
"Kamu pilih saja, Wahyu. Mama mau menelepon Om Bima terlebih dahulu, ya, agar janjian makan siang nanti kita bisa bersama-sama dengan keluarga Reno," kata Ningsih sambil tersenyum manis.
"Baik, Ma, siap. Aku akan ke sana sebentar, ya, Ma. Aku mau mencari beberapa buku. Mama juga kalau mau mencari novel untuk membaca-baca biar tidak jenuh kalau sedang menunggu aku kuliah nanti," jawab Wahyu sambil tersenyum kepada ibunya.
Ningsih pun berjalan-jalan melihat rak buku yang penuh novel-novel dihadapannya. Dia meraih ponsel, lalu menelepon ke Bima. Setelah menunggu beberapa saat nada tunggu, akhirnya si empunya mengangkat telepon.
Bima: "Halo, selamat pagi. Ada apa Ningsih?"
Ningsih: "Halo, selamat pagi juga, Bima. Begini ... aku ingin membicarakan soal janjian makan siang nanti. Berhubung keluargaku juga mengadakan acara makan siang bersama, bagaimana jika kamu ikut bergabung dengan keluargaku? Aku sudah meminta izin kepada mereka akan mengajak kawan dan mereka tidak berkeberatan tentang hal itu."
Bima: "Wah, kedengarannya mengasyikkan. Baiklah, kami akan ikut bergabung jika diizinkan. By the way, tempatnya ada di mana? Nanti kami akan menyusul ke sana."
Ningsih: "Oke kalau begitu, Bima. Aku sangat senang kalau kamu tidak keberatan untuk bergabung makan siang dengan keluarga besarku. Tempatnya ada di all you can eat, sebelum perempatan Galeri. Nanti masuk aja ke sana ada basement tempat untuk parkir mobil, kok, di sana. See you Bima dan putramu yang manis, Alex."
Bima: "See you soon Ningsih dan juga Wahyu. Kami pasti akan datang ke sana."
Ningsih pun mengakhiri panggilan tersebut dan tersenyum menatap ponselnya. Entah mengapa, selalu ada rasa berdebar di jantungnya ketika berbicara dengan Bima atau membahas Bima. Seakan-akan memang Ningsih mengenal Bima dan memiliki perasaan khusus terhadap lelaki yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Terkadang Ningsih pun bingung, seperti telah mengenal Bima dan Alex sejak dahulu. Namun setiap kali mencoba mengingat hal itu, kepala Ningsih semakin pening dan sakit. Oleh karena itu, dia hanya menjalani saja dan tidak mengingat kembali untuk mencari tahu.
__ADS_1
Dari jauh, Bima tersenyum menatap ponselnya. Bima merasa senang jika Ningsih mulai menerima kehadirannya dan Alex. Bima yakin, Ningsih akan segera ingat tentang dirinya dan Alex. Tentang cinta dan perjuangan mereka sejak dulu. Bima ingin menjalani hidup sebagai manusia dengan bahagia bersama keluarganya meski hanya satu tahun. Bima meyakini jika Ningsih akan segera ingat dan mereka bisa menghabiskan waktu yang bersama. Mungkinkah semua itu terjadi?