JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 108


__ADS_3

πŸ€ JEBAKAN πŸ€


Seminggu kemudian ....


Pagi hari yang sama seperti beberapa waktu yang lalu. Ningsih merasa tak nyaman tanpa Bima yang mendekapannya. Dia ingin menanyakan hal itu pada Budi soal pagar gaib tetapi tak ingin menyinggung perasaan keponakan Mak Sri.


Jujur saja Ningsih berharap Mak Sri lekas pulang. Mbak Rahma memang cekatan dan sopan, tetapi entah mengapa Ningsih merasa kurang sreg dengannya.


"Bu, sarapannya sudah siap. Saya antar Wahyu ke sekolah dulu ya, Bu," ucap Mbah Rahma menggandeng Wahyu ke depan rumah.


"Iya, Mbak. Wahyu sayang, semangat sekolah ya ...." jawab Ningsih sambil mengecup kening anaknya.


"Iya, Ma ...."


Wahyu berlari menuju mobil jemputan sekolah bersama Mbak Rahma. Sedangkan Budi masih mencuci mobil.


"Budi ... hari ini katanya Joko mau mulai kerja. Kamu sudah lihat dia datang?" ucap Ningsih mengagetkan Budi yang sedang fokus mencuci mobil.


"Maaf, Bu. Saya belum ketemu Bang Joko. Ini saya baru selesaikan cuci mobil," jawab Budi sambil menyibakan rambutnya yang basah.


DEG!


"Sejak kapan Budi terlihat makin tampan seperti itu," batin Ningsih bergejolak melihat keponakan Mak Sri di hadapannya.


"Bu Ningsih mau pergi kah? Saya selesaikan dahulu ya mencuci mobil ini," kata Budi membuyarkan pikiran Ningsih.


"Oh, iya. Nggak apa lanjutkan aja. Itu Mbak Rahma sudah siapkan sarapan. Kamu makan dulu," ucap Ningsih.


"Iya, Bu. Terima kasih."


Ningsih masuk ke rumah dan menyantap sarapannya. Setelah selesai mencuci mobil, Budi pun berganti pakaian dan masuk ke rumah. Waktu yang sama saat Joko datang.


"Bro Budi!" sapa Joko.


"Bang Joko? Sudah sehat, Bang?" jawab Budi menoleh ke arah lelaki tinggi dengan wajah khas timur tengah.


"Alhamdulilah, Bud. Ini sudah nyaman buat jalan. Bu Ningsih ada di rumah?"


"Ada, Bang. Sedang sarapan. Ayo masuk saja Bang."


Joko pun masuk ke rumah bersama Budi. Mereka berbincang tentang keadaan masing-masing.


"Pantes kok ramai, Joko sudah sembuh ya?" ucap Ningsih senang melihat sopir pribadinya masuk kerja.


"Iya, Bu. Mohon maaf aku libur terlalu lama," kata Joko sambil menggaruk kepala.


"Iya, nggak apa. Welcome back, Joko. Jangan lupa kalau perlu kontrol bilang saja."


Mereka bertiga berbincang setelah seminggu tak berjumpa Joko. Keadaan Joko sudah jauh lebih baik. Tiba-tiba ada handphone Ningsih berbunyi.


Ningsih: "Hallo ... ada apa ya, Alex?"


Alex: "Selamat pagi, Bos. Bisakah bertemu sebentar? Saya ada kabar baik."


Ningsih: "Kamu ke sini saja kalau ada perlu. Lagi pula urusan bisnis sudah selesai semua, bukan? Gaji karyawan juga sudah diselesaikan lima hari yang lalu. Ada apa lagi?"


Alex: "Saya ada kabar baik untuk Bos. Pihak investasi Lee Min Hae tidak menarik uangnya dan justru menyerahkan satu toko cabang pakaian brand RoxyLee pada Bos Ningsih. Baru saja pihak dari Singapura menelepon."

__ADS_1


Ningsih: "Benarkah? Wah sangat menarik. Alex kamu bisa ke rumahku saja."


Alex: "Baiklah nanti malam saya ke sana."


Alex menutup pembicaraan di handphonenya. Seraya membanting ponsel pipih itu ke sofa.


"Heh! Ngapain banting handphone?" tanya Hartono pada kawannya yang terlihat wajah masam.


"Sialan tuh wanita! Udah aku pancing keluar rumah juga nggak mau. Terpaksa kita nanti malam ke sana. Paling duel sama tukang kebunnya," jawab Alex sambil merebahkan tubuhnya di sofa hitam.


"Nggak masalah. Aku sudah siapkan tiga orang yang siap bantu. Urusan tukang kebun atau sopirnya beres lah. Kita urus Ningsih saja," jelas Hartono menyeringai licik.


Ningsih tak tahu jika kedua mantan anak buahnya merencanakan hal licik dan tercela. Dia merasa aman di rumah dan lupa jika Bima tak bisa masuk ke rumahnya karena pagar gaib yang dibuat Budi.


***


Malam hari pun tiba. Joko sudah pulang sejak sore sekitar jam lima karena tak terbiasa menginap di rumah Ningsih. Terlebih saat ini pekerjaan Joko jadi lebih ringan. Sekedar antar jemput Wahyu dan Mbak Rahma yang menemani anak Ningsih sekolah. Selain itu, Ningsih juga sudah tak bekerja mengurus kantor jadi tak ada acara penting yang harus tiap hari pergi.


Wahyu sudah tidur jam delapan malam. Mbak Rahma sudah masuk ke kamarnya. Sedangkan Budi masih berada di pos dejat gerbang rumah. Ningsih sudah berpesan bahwa Alex akan datang urusan pekerjaan.


Sebuah mobil menyalakan klakson dan Budi membukakan gerbang.


"Pak Alex, ya?" tanya Budi memastikan tamu yang ditunggu Ningsih.


"Iya. Mobil saya parkir di dalam saja, ya?" jawab Alex.


Saat Budi membuka gerbang lebar, empat lelaki masuk dan menyergap Budi. Budi langsung membela diri. Perkelahian tak bisa dielakan. Budi melawan lima orang misterius yang memakai masker. Alex turun dari mobil dan mengambil sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Budi berhasil membuat dua orang tumbang. Saat hendak memukul Hartono, Alex membekap mulut dan hidung Budi. Hartono pun memegangi Budi hingga akhirnya tubuh Budi lemas dan tak sadarkan diri.


"Tepat waktu!" kata Hartono tertawa.


"Hei kalian ini payah! Lawan satu orang saja tak becus kalian berempat ini!" geram Hartono.


"Ampun Bos. Maaf." kata orang suruhan Hartono itu.


"Yasudah tak usah ribut. Sekarang sembunyikan tukang kebun itu dan tutup gerbang. Aku dan Hartono mau ke dalam dulu," kata Alex memerintah ke empat orang itu.


"Baik, Bos!"


Bima melihat apa yang Alex dan Hartono lakukan. Dia mencoba menembus portal gaib yang menyelimuti rumah Ningsih. Beberapa kali mencoba, hasilnya tetap sama. Bima terpental.


"NINGSIH! JANGAN BUKA PINTU RUMAHMU!" teriak Bima yang entah didengar Ningsih atau tidak.


Alex menekan bel rumah Ningsih. Beberapa saat kemudian, kunci pintu dibuka dan seorang berkerudung hitam membukakan pintu.


"Mau cari siapa, Tuan?" sapa Mbak Rahma yang bersambut keterkejutan Hartono.


"Rahma?"


"M-mas Hartono?"


Alex yang bingung mereka saling kenal, langsung saja membekap pembantu Ningsih itu dan membiusnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


"Ngapain kamu bius dia?" lirih Hartono yang memapah tubuh Mbak Rahma.


"Biar nggak ganggu kita. Lagi pula kenal sama Loe. Bahaya tahu!" desis Alex sambil memberi aba-aba Hartono untuk membawa Mbak Rahma ke kamar yang terbuka pintunya.

__ADS_1


Kemungkinan besar itu kamar Mbak Rahma. Saat Hartono sudah masuk meletakan Mbak Rahma, tepat sekali Ningsih turun dari kamarnya.


"Eh, Alex sudah datang. Kok nggak ada yang manggil aku ya?" sapa Ningsih melewati tangga.


"Tadi pembantu Bu Ningsih sudah memanggil. Mungkin Bu Ningsih tak dengar," jawab Alex seakan tak terjadi apa pun.


"Oh, iya. Suara Mbak Rahma kecil sih. Duduk dulu, Lex. Biar Mbak Rahma ambil minum." Ningsih mempersilahkan Alex duduk di sofa berwarna cokelat. "Mbak ... buatkan kopi dua ya ...." teriak Ningsih tak tahu Mbak Rahma sudah disekap Hartono.


Alex pun mendekati Ningsih. "Bu, boleh saya minta sesuatu?"


"Hlo? Bukannya sudah diberi pesangon tiga kali gaji? Mau minta apa lagi? Bukannya kamu ke sini mau bahasa soal toko pakaian brand RoxyLee?" Ningsih kebingungan saat Alex mendekat ke tubuhnya yang masih duduk di sofa.


"Ningsih ... tidak usah pura-pura tak tahu. Bukannya kamu tahu kalau aku menyukaimu? Mari saling memuaskan malam ini," bisik Alex membuat Ningsih risih.


"Jangan macam-macam kamu ya! Budii ... Budi ... Mbak Rahma ...." teriak Ningsih memanggil kedua pegawainya yang sudah dibius oleh Alex.


Alex semakin berani membelai wajah Ningsih membuat wanita itu ketakutan. "Relax saja Ningsih. Tak usah takut. Kedua pegawaimu sudah aman."


"M-maksudmu Alex? Jangan kurang ajar kamu!" Ningsih menepis tangan Alex dan hendak berdiri.


Alex dengan kasar menarik tangan Ningsih dan menghempaskan tubuh Ningsih ke sofa hingga terjatuh. "Nggak usah jual mahal! Loe mau kalau anakmu ******?"


Alex mengancam Ningsih. Ningsih mencoba memanggil Bima dalam hati. "Bima, tolong aku ... Bima ...."


Bima mendengar jerit hati Ningsih yang dalam bahaya. Dia mencoba menembus meski terpental berkali-kali.


"SIAL! PENGHALANG GAIB INI!" teriak Bima yang bahunya terluka saat berlari mencoba menembus pagar gaib itu tetapi belum bisa tertembus. Darah hitam mengalir dari luka di bahu Bima. Tak Bima pikirkan lukanya. Hanya takut keadaan Ningsih dalam bahaya.


Sedangkan Alex sudah menindih tubuh Ningsih dan hendak melecehkannya. Hartono yang merupakan mantan pacar Mbak Rahma pun melakukan hal panas di kamar. Mbak Rahma yang pingsan karena terbius tak tahu jika sedang dilecehkan. Dia meninggalkan Hartono karena tahu lelaki hidung belang itu sudah menikah dua kali dan suka berselingkuh.


"Nikmati saja sayang ...." lirih Alex membuka pakaian Ningsih secara kasar.


Ningsih meronta tapi tubuhnya tak cukup kuat melawan Alex. Sedangkan Hartono semakin berhasrat menunggu gilirannya dengan menggunakan tubuh Mbak Rahma terlebih dahulu.


Tiba-tiba ....


"Jangan bergerak!" teriak beberapa polisi yang datang dan membekuk empat orang di pos depan rumah Ningsih dan pergi ke dalam rumah Ningsih.


Alex kaget dan langsung mencoba berlari. Seorang polisi menembak kaki Alex dan membuatnya tersungkur.


"Bu Ningsih!" teriak Joko yang bergegas masuk melepas jaketnya untuk menyelimuti tubuh Ningsih yang terlihat pakaian dalamnya.


"Joko ...." Ningsih tak bisa menahan tangis. Ketakutan hampir diperkosa oleh mantan anak buahnya.


Sedangkan Hartono yang di kamar Mbak Rahma mendengar keributan itu pun segera mengenakan pakaian dan kabur lewat jendela kamar. Menembus pagar pintu belakang yang tidak dijaga siapa pun.


Polisi membekuk Alex dan segera membawa ke mobil. Sedangkan petugas medis datang membantu Budi yang pingsan karena bius dan Mbak Rahma yang terbius dan sudah diperkosa Hartono.


"Buronan satu orang. Belum diketahui identitasnya." kata seorang polisi dengan walkie talkie


"Joko, apakah kamu yang memanggil polisi?" tanya Ningsih yang berada di pelukan Joko.


"Iya, Bu. Tadi aku hendak mengambil handphone tertinggal saat melihat Budi dihajar enam orang. Aku menghubungi kepolisian karena tahu tak mungkin menghadapi sendirian. Empat orang di depan sudah diamankan polisi. Satu lagi ini. Berarti kurang satu orang dan kabur. Sudah, Bu. Sekarang sudah aman. Wahyu di mana?" jelas Joko menenangkan Ningsih.


"Wahyu tidur di kamar. Terima kasih, Joko." ucap Ningsih.


Bima merasa cemburu Ningsih dalam pelukan lelaki lain. Namun dia pun merasa lega kejadian buruk tak jadi menimpa istrinya. Bima pun mengejar Hartono yang berlari menuju kamar hotel temat dia dan Alex bersembunyi. Bima memastikan lelaki itu tak akan mati dengan mudah.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2