JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 101


__ADS_3

...🔥Cobaan Cinta Adalah Godaan🔥...


Ningsih dan Bima sangat senang dengan kehadiran janin di rahim Ningsih. Mereka berdua merawat kandungan itu dengan sebaik mungkin. Bima pun sangat memperhatikan segala kebutuhan dan apa saja yang menjadi pantangan bagi Ningsih. Dia betul-betul merawat dan menjaga calon bayinya dengan sebaik mungkin.


Hari demi hari pun berlalu. Pagi itu, Bima akan keliling ke minimarket miliknya bersama Wahyu. Sedangkan Alex bertugas menjaga Ningsih di rumah. Mereka selalu bisa membagi pekerjaan atau tugas dengan adil. Keluarga mereka saling menyayangi dan mendukung.


"Hati-hati di jalan, ya, Papa dan Wahyu. Nanti kalau pulang, bawakan sup daging sapi, ya," kata Ningsih sambil melambaikan tangan ke arah suaminya yang hendak pergi dengan mengendarai mobil.


"Iya, Sayang. Oke. Nanti aku belikan supnya. Alex, jaga Mamamu dengan baik, ya?" Bima pun bersiap pergi dengan menyalakan kontak mobilnya.


"Iya, Pa. Beres. Selamat jalan Papa dan Kak Wahyu!" seru Alex sambil melambaikan tangan.


Mobil itu pun melaju pergi dari halaman rumah Ningsih dan Bima. Alex segera menggandeng tangan ibunya untuk kembali berjalan ke dalam rumah.


Kabar kehamilan Ningsih sudah sampai ke keluarga besar Ningsih sejak kemarin. Reno dan Lisa siang itu berencana akan ke rumah Ningsih dengan membawa bingkisan sebagai ucapan selamat. Mereka berdua sampai di rumah Ningsih beberapa jam setelah Bima pergi karena Reno menunggu anaknya pulang sekolah terlebih dahulu. Kira-kira pukul satu siang, Reno dsn Lisa sampai di rumah Ningsih. Mereka langsung menekan bel di pintu rumah setelah parkir mobil di halaman depan rumah Ningsih.


Ting Tong ... Ting Tong ....


Bunyi bel pintu rumah Ningsih terdengar nyaring. Alex berlari hendak membuka pintu karena bibi sedang menjemur pakaian di belakang.


"Iya, sebentar!" seru Alex sambil membuka pintu rumah.


Saat membuka pintu, Lisa langsung berhambur memeluk Alex karena tahu siapa gerangan yang membuka pintu. "Kak Alex!"


"Wah, Lisa datang sama Kak Reno. Ayo masuk!" Alex langsung memeluk dan menggendong Lisa. Lelaki itu selalu memanjakan Lisa. Dia tak tahu jika bibit cinta bisa tumbuh kapan saja dan di mana saja. Bisa jadi Lisa kecil ini akan jatuh cinta pada Alex jika sudah dewasa kelak, bukan? Ya, karena mereka tidak memiliki ikatan darah. Reno bukan keponakan asli dari Ningsih. Jadi, Lisa dan Alex bukan saudara segaris atau sedarah. Lisa saat ini berusia delapan tahun dan Alex berusia enam belas tahun. Berbeda delapan tahun saat dewasa tidak akan terlihat mencolok, kan?


"Mama kamu ada, Alex?" tanya Reno yang terlihat berat membawa dua bingkisan besar.


"Ada, Kak. Sebentar biar aku panggilkan, Kak. Lisa, duduk sini dulu, ya." Alex meletakkan Lisa di sofa ruang tamu. Dia bergegas ke kamar ibunya untuk memberi tahu.


"Mama ... ada Kak Reno sama Lisa ke sini," lirih Alex saat membuka pintu kamar ibunya. Ternyata Ningsih sedang tidur siang. Dia tertidur karena merasa ngantuk dan lelah. Biasa, ibu hamil sering merasa seperti itu dan hal itu wajar.


Alex yang tahu ibunya masih tidur pun segera menutup kembali pintu kamar. Dia ke ruang tamu lagi. "Kak Reno dan Lisa, maaf ... ternyata Mamaku lagi tidur siang. Maklum, ya. Mama jadi mudah ngantuk karena ada adik bayi di dalam perutnya. Xixiixixi ...." ungkap Alex sambil tertawa geli. Dia sangat antusias soal kehamilan ibunya.

__ADS_1


"Oh, iya, nggak apa. Dulu almarhum Nindy juga sering mengantuk saat hamil Lisa. Hmm, aku boleh menengok ke dalam? Hanya ingin melihat kondisi Tante Ningsih," kata Reno sambil berdiri.


"Iya, nggak apa, Kak. Silakan ke sana. Ayo Lisa mau ikut lihat nggak? Oma kamu sebentar lagi mau punya adik bayi. Jadi, kamu punya Tante bayi. Ha ha ha," ujar Alex sambil tertawa geli. Dalam silsilah tetap saja anak dari Ningsih menjadi tantenya Lisa. Sunggug menggelikan.


"Iya, aku mau lihat perut Oma sudah membesar atau belum," ucap Lisa yang juga penasaran.


Mereka berjalan ke kamar Ningsih. Saat masuk ke sana, Ningsih masih tertidur. Wajahnya tetap cantik dan mempesona, tidak memperlihatkan usianya yang sudah masuk kepala empat. Reno menatap tantenya tanpa berkedip. Masih cantik seperti dahulu.


"Ssst ... jangan berisik ya, Lisa. Lihat Oma tidur," lirih Reno sambil meletakkan jari telunjuknya di tengah bibir. Lisa mengangguk tanda paham.


Alex senyum melihat ibunya tidur dengan pulas. Meski perut Ningsih belum membuncit, di sana ada nyawa yang dititipkan Sang Pencipta kepada rahim Ningsih. Keluarganya sangat bersyukur akan hal itu. Mereka tak sabar menanti perkembangan dan kelahiran bayi tersebut.


Setelah melihat Ningsih, mereka pun keluar kembali. Ada dalam benak Reno, merindukan masa lalu. Dia memang pernah menyukai tantenya dan itu bukan hal yang lazim. Cinta Reno menghilang dan mulai padam karena menikah dengan Nindy. Namun, saat ini Nindy sudah tiada dan Reno belum bisa dekat dengan wanita lain. Meski begitu, kenyataannya Reno senang melihat wajah Ningsih yang tertidur. Dia ingat kejadian masa lalu yang menjadi hal yang tak terlupakan.


"Aku tak boleh terus-terusan mengingat hal itu. Apalagi Tante Ningsih akan memiliki anak lagi. Dia sudah bahagia dengan Om Bima," batin Reno sambil keluar dari kamar Ningsih.


Alex mempersilakan Lisa dan Reno bersantai di ruang tengah saja. Sambil Alex membuatkan minum karena bibi masih sibuk. Setelah menyajikan dua gelas berisi sirop, Alex pun hendak duduk. Namun Lisa merengek untuk ke taman belakang rumah. Lisa mengajak Alex untuk bermain di sana.


"Iya, iya. Ayo ke sana. Kak Reno, kami ke belakang dulu, ya," pamit Alex yang sudah ditarik tangannya oleh Lisa.


"Iya ... selamat bermain!" jawab Reno sambil tersenyum.


Reno pun terdiam sejenak sambil menonton televisi LED 42 inc di ruangan tengah rumah tantenya. Saat itu, film yang tayang cukup mendebarkan karena film horor yang dibalut dengan banyak adegan dewasa. Reni pun merasa sedikit tak nyaman. Dia langsung mengganti acara televisi tersebut dengan acara lain. Saat asyik menonton televisi, Reno mendengar suara Ningsih memanggil Alex.


"Alex ... Alex ...."


Reno langsung berdiri dan berjalan ke kamar Ningsih karena Alex sedang di taman belakang, pasti tidak dengan panggilan Ningsih. Reno pun masuk ke kamar Ningsih. "Ada apa, Tante? Alex baru ke taman belakang rumah sama Lisa," ujar Reno membuat Ningsih kaget.


"Loh, Reno di sini? Kenapa nggak bangunin Tante?" Ningsih pun segera duduk di pinggir ranjangnya.


"Tadi Tante tidur pulas sekali, jadi aku nggak enak mau bangunin. Tante mau minum atau apa? Kok, panggil Alex?" tanya Reno pada Tante Ningsih yang menatap Reno dengan ekspresi terkejut. Tanpa sadar, Reno terangsang karena adegan panas di televisi tadi. Bagian bawah miliknya terlihat menonjol di celana jeans. Dia tak sadar akan hal itu. Ningsih yang melihat itu menjadi malu.


"Nggak apa, Reno. Udah sana keluar dulu. Nanti Tante menyusul. Mau ganti baju dulu, nggak pakai daster begini," kata Ningsih mencoba mengusir Reno dengan halus agar segera meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


Reno pun menatap ke arah tatapan Ningsih. Dia baru sadar kalau bagian tubuhnya menonjol. Dia malu sekali terlihat seperti itu. Namun, bukannya dia pergi, justru lelaki duda itu berjalan mendekat ke Tante Ningsih. Dia menginginkan sesuatu yang dahulu sekali, dia pernah rasakan.


"Tan-Tante ... bolehkah aku memegang perutmu?" Pertanyaan dari Reno sangat aneh. Ningsih langsung menolak.


"Reno? Kamu jangan kurang ajar, ya! Sana keluar dari kamar Tante!" Ningsih mulai tegas pada keponakannya itu.


"Tante ... dulu kita, kan, pernah melakukan ... apa Tante lupa?" Reno masih berjalan mendekati Ningsih. "Kalau sekarang Reno mau lagi, gimana, Tante?"


Ningsih sangat takut pada Reno yang seperti kehilangan kesadarannya karena nafsu. "Reno, sadar! Aku ini Tantemu. Tak mungkin seperti itu. Sudah sana keluar atau aku teriak!" gertak Ningsih agar Reno mundur.


Reno tersenyum. Ternyata iblis anak buah Tuan Asmodeus sudah mencium aroma hawa nafsu di tubuh Reno. Dia terus menjejali Reno dengan perasaan bergejolak dan bayangan masa lalu yang pernah melakukan dengan Ningsih.


"Ayo Reno, terus berusaha. Dia pasti akan luluh dan mau. Kalian pernah melakukannya, bukan? Wanita itu juga harus tanggung jawab karena dahulu mengambil perjakamu. Ayo, Reno ... ajak dia berhubungan ...." bisik Iblis yang membuat Reno semakin hilang kendali.


Reno mendekat dan mencoba memegang Ningsih. Ningsih sudah bersiap teriak. Tepat waktu itu, Alex dan Lisa masuk ke kamar mengagetkan Reno.


"Oma sudah bangun, ya?!" seru Lisa.


Reno langsung terdiam dan membalikkan tubuhnya. "Wah, kalian feelingnya tepat. Iya ini, Oma udah bangun. Alex, tadi Mamamu memanggil tapi karena kamu di luar, Kakak langsung ke sini," ujar Reno menjelaskan sebelum mereka curiga.


"Sial! Gagal menyentuh Tante Ningsih!" batin Reno menggerutu.


"Iya, Kak. Terima kasih, ya! Mama ada apa? Apa Mama haus? Alex ambilkan minum, ya?" tanya Alex menawarkan minum. Namun Ningsih hanya menggelengkan kepala. Dia sempat syok karena hal itu. Reno hampir saja melakukan sesuatu padanya.


"Mama kenapa?" imbuh Alex merasa ibunya seperti bingung atau syok.


"Mama nggak apa. Papamu dan Wahyu sudah pulang belum? Mama nunggu sup daging sapinya," jawab Ningsih mengalihkan pembicaraan agar tidak membuatnya gugup atas kejadian Reno barusan.


"Belum, Ma. Oh iya, Lisa sama Kak Reno bawa bingkisan juga buat Mama."


Ningsih pun berdiri menghampiri Alex dan Lisa. "Ayo kita ke ruang tengah aja," ujar Ningsih mengajak mereka pergi. Reno pun hanya mengikuti dari belakang.


Lelaki itu kesal karena kesempatan menyentuh Tante Ningsih jadi hilang. Cobaan cinta adalah godaan, itu hal yang benar adanya. Godaan dari dalam diri Reno adalah hal yang sulit ditakhlukan. Meski pada kenyataannya Reno mencintai almarhum istrinya dan belum bisa menerima wanita lain yang mendekatinya, godaan tetap ada. Iblis pintar mencari celah akan hal tersebut. Mengetahui ada celah di hati dan pikiran Reno, iblis yang menjadi abdi Penguasa Neraka Lapis Keenam Hawa Nafsu pun segera membuat iman Reno goyah. Siapa pun bisa terjerumus jika tidak berhati-hati karena JERAT IBLIS itu nyata adanya dan kadang tak terlihat serta tak dirasa.

__ADS_1


__ADS_2