
...🔥 MINGGU KEDUA 🔥...
Keadaan di minggu kedua masih sama. Tak ada yang tak berubah secara signifikan, tetapi di dalam hati masing-masing menyimpan kesedihan. Ningsih dan kedua putranya menyimpan rasa sedih itu dalam hati masing-masing karena Bima berjanji akan membicarakan semuanya kepada Dinda dan Lauren secara langsung.
Bima pun bermaksud membicarakan hal ini kepada Dinda dan Lauren. Mereka berdua diajak Bima untuk pergi bertiga saja. Sedangkan Boy dan Daniel di rumah bersama Ningsih dan kedua putranya. Mereka tak membicarakan soal kepergian Bima karena menunggu Bima yang menyampaikan secara langsung.
"Ada apa, Kak? Tumben ajak bicara pakai rahasia begini," ucap Dinda yang tak biasa melihat kakaknya seperti itu. Wanita iblis itu merasa ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya.
Dinda dan Lauren diajak oleh Bima pergi ke atas tebing di sebuah pantai di selatan Kota Yogyakarta. Sengaja Bima mengajak ke sana untuk menenangkan diri dan menyampaikan hal itu dengan lebih tenang.
Desir ombak terdengar menderu bersaut-sautan dan tak berhenti seperti alunan lagu. Angin berembus kencang menyibakan rambut mereka. Tebing itu menjadi tempat yang tenang sekaligus mengerikan. Terlihat luasnya laut membentang di sana. Seakan menarik diri untuk lompat ke sana. Namun juga pemandangan yang luar biasa indah. Laut Selatan merupakan salah satu portal alam gaib terbesar di dunia.
"Dinda ... Lauren ... ada hal yang harus aku sampaikan. Maaf jika baru saat ini, aku berani mengatakan. Dua minggu lagi aku akan kembali ke neraka. Sesuai kesepakatan saat meminta bantuan untuk mengambil Alex kembali dari neraka lapis keenam, aku akan mengabdi kepada Tuan Lucifer. Aku mohon, jagalah keluargaku selama aku pergi. Entah kapan aku bisa kembali lagi." Bima mengatakan hal yang sangat mengejutkan bagi kedua wanita itu.
"Bima, kau serius? Kamu mau kembali jadi budak neraka?" tanya Lauren yang tak menyangka hal itu terjadi. "Apa pun kesepakatanmu, batalkan saja! Aku dan Alex bisa membantumu jadi manusia utuh," imbuh Lauren yang panik mengetahui Bima akan pergi.
"Kak, jangan pergi," lirih Dinda yang mulai meneteskan air mata.
"Dinda, Lauren, terkadang ada hal yang bisa kita ubah dan ada hal yang tidak bisa kita ubah. Keputusan ini sudah final. Kalau aku menghindar, aku takut Tuan Lucifer akan murka dan membuat keluargaku bahkan kalian ikut terkena masalah. Kali ini, hal ini keputusan terbaik yang bisa kulakukan," jelas Bima dengan berat hati.
"Kakak bisa menolak. Kakak bisa cari cara lain atau minta bantuan Lauren dan Alex. Mereka pernah menawarkan sesuatu, bukan?" Dinda masih mencoba memikirkan jalan keluar untuk kakaknya.
"Tidak. Kalau aku mengelak, pasti akan banyak penderitaan yang terjadi lagi. Aku tak bisa mengambil risiko itu. Aku dengan berat hati, tetap akan pergi ke sana. Sesuai kesepakatan yang kubuat dengan Tuan Lucifer." Bima menegaskan kembali hal itu adalah yang terbaik yang dia ambil.
"Bima ... apakah Ningsih dan kedua putramu sudah tahu?" lirih Lauren bertanya.
"Sudah. Minggu lalu, aku memberi tahu mereka seusai tamasya. Meski berat, ini yang terbaik. Aku hanya meminta kalian menjaga keluarga kecilku setelah aku pergi," ucap Bima membuat hening kembali datang. Suara ombak yang terdengar, menutupi suara tangis di hati mereka.
Mereka pun terdiam sejenak dengan kesedihan dan pemikiran masing-masing. Mereka mungkin akan mencari jalan keluar, tetapi semua akan percuma jika yang terjadi hanya pertengkaran nantinya. Mereka bertiga terdiam dalam tangis yang menyesakkan dada. Bima tahu hal ini sulit. Namun ini yang terbaik. Dinda dan Lauren harus tahu dan bisa menjalani ini tanpa Bima. Demi keselamatan yang lain, Bima menjalani semua ini. Entah apa yang terjadi esok, Bima hanya bisa berusaha sebaik mungkin.
...****************...
__ADS_1
Pada waktu yang sama, di rumah Ningsih, Wahyu duduk di belakang rumah. Dia menatap ke langit biru yang dipenuhi awan. Alex menghampiri kakaknya dan duduk di sebelah, bangku yang cukup lebar untuk berdua.
"Meski kamu itu berbeda dunia dengan Kakak dan Mama, Kakak yakin Allah mempunyai rencana yang indah untuk umatNya. Ada ketetapan yang Allah berikan dan tak bisa manusia hindari. Salah satunya, Papa balik ke neraka. Kakak tahu, kamu bisa melakukan sesuatu agar Papa tetap di sini, tetapi saran Kakak lebih baik jangan melakukan apa pun. Kakak sayang kalian, tetapi kali ini melawan bukanlah sesuatu yang baik," ucap Wahyu masih sambil menatap langit biru.
Alex pun menerawang jauh ke langit yang dipenuhi awan putih bergerombol. Dia mencerna kata-kata Wahyu. Alex pun menyadari satu hal. Sesuatu yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi.
"Iya, Kak. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Meski rasanya ingin sekali membantu Papa. Namun, apa daya, kalau menghindar ... pasti penguasa neraka tak akan tinggal diam, bukan? Tak cuma kita yang akan bahaya, tapi Mama, Om Boy dan Tante Dinda, serta yang lainnya juga pasti terancam bahaya," kata Alex yang kemudian menundukkan kepalanya.
Wahyu pun menepuk-nepuk bahu adiknya. Dia mencoba menguatkan adiknya. "Apa yang kamu rasakan, sama dengan yang Kakak rasakan. Bahkan, Mama merasakan lebih sedih dan lebih sakit daripada kita. Percayalah, rencana Allah yang terbaik. Kakak hanya bisa berdoa padaNya semoga yang terbaik yang terjadi."
Mereka berdua pun larut dalam keheningan. Dalam hati Wahyu, dia mengucap syukur kepada Allah. Mungkin dengan adanya jalan takdir seperti ini, bisa menjadi jalan yang membuat Ningsih sadar dan kembali ke jalan Allah.
...****************...
Sedangkan kehidupan Reno, lelaki itu mulai jenuh di rumah dengan luka hati yang masih belum sembuh karena istrinya bersekutu dengan iblis. Dia sering kali pergi ke pameran buku untuk membaca dan membeli beberapa buku yang bagus atau menarik baginya. Lisa terkadang juga ikut bersama Reno. Gio dan Gilang juga masih sering ke rumah Reno saat makan siang atau saat pulang kerja.
Siang itu, Reno hendak mengecek kondisi pembangunan kost-kostan yang dia buat bersama investor. Dia sudah membuat janji dengan investor asing untuk mengecek progess pembangunan. Dia segera bergegas pergi setelah bersiap dengan kemeja biru muda dan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat elegan dan tampan.
"Mama ... Lisa ... Papa berangkat dulu, ya!" seru Reno berpamitan dan kemudian segera pergi setelah mendengar jawaban.
Nindy kembali menemani Lisa bermain setelah pulang sekolah. Reno memang sudah memberi tahu jika akan menengok lokasi pembangunan. Saat itu, mereka tidak merasakan firasat apa pun.
"Tumben Kak Gio dan Kak Gilang nggak ke sini, Mama?" tanya Lisa yang bermain boneka barbie.
"Iya, mungkin mereka sedang sibuk bekerja. Papa juga sibuk bekerja, bukan? Lisa jangan sedih. Kalau sudah tidak sibuk, pasti Kakak Gio dan Kakak Gilang ke sini," ucap Nindy menenangkan anaknya.
Reno segera masuk ke mobilnya. Dia menyetir mobilnya sendirian dengan santai. Mendengarkan lagu-lagu keluaran Blackpink dan BTS di audio playernya. Dia memang suka serba kekoreaan dan suka membaca buku novel romantis serta horor.
Perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan mobil. Sesampainya di lokasi pembangunan, Reno terkejut karena pembangunannya belum berlanjut setelah peletakan pondasi. Reno pun segera menghubungi kepala kontraktor. Dia merasa marah karena sesuai kesepakatan uang lima puluh persen sudah dibayar untuk memulai pembangunan. Reno mengambil ponselnya dan segera menghubungi kepala kontraktor.
Reno: "Hallo, selamat siang. Pak, kenapa pembangunannya tidak dilanjutkan? Kenapa tidak ada pemberitahuan?"
__ADS_1
Kepala kontraktor: "Maaf, Tuan Reno. Saya hanya menjalankan perintah dari pusat. Tuan Reno bisa menghubungi investor terkait saja."
Reno: "Loh, saya ini pimpinan di sini. Saya yang memiliki tanah dan menjalin kerja sama dengan para investor. Jangan main-main, ya. Saya sudah memberikan DP lima puluh persen di muka."
Belum selesai pembicaraan itu, ada seseorang mengetuk kaca mobil Reno. Ternyata orang itu salah satu investor yang bekerja sama dengan Reno. Bodohnya, Reno membuka pintu mobil tanpa melihat kondisi sekitar terlebih dahulu. Seorang investor yang bekerja sama dengan Reno ternyata berkhianat. Dia merencanakan hal licik. Saat Reno membuka pintu, ada seseorang yang membekap Reno dengan sapu tangan yang diberi obat bius. Seketika Reno pingsan.
Di saat yang bersamaan di rumah Reno, foto keluarga yang dalam bingkai pigura jatuh dan pecah. Membuat Nindy dan Lisa kaget.
"Ya, Allah ... ada apa ini?" Nindy merasa firasat tak enak.
Asisten rumah tangga Nindy langsung membereskan pecahan kaca pigura foto keluarga yang jatuh pecah. Perasaan Nindy yang tak karuan membuatnya menghubungi nomor Reno. Namun, tidak ada jawaban. Nindy semakin resah. "Apa yang terjadi padamu, Sayang?"
Nindy pun menghubungi nomor Reno lagi. Saat teleponnya diangkat, Nindy sangat syok.
"Suami Anda saat ini bersama kami. Siapkan uang dua milyar jika mau suami Anda selamat. Jangan lapor polisi jika tak ingin suami Anda cacat!" gertak seseorang yang mengangkat telepon milik Reno.
Nindy yang terkejut langsung melepaskan tangannya dari handphone. Ponselnya pun terjatuh dan pecah.
"Ma, ada apa, Ma?" tanya Lisa yang bingung ada apa dengan mamanya.
"Lisa, telepon Oma Ningsih dan Opa Bima. Bilang Bibi biar diteleponkan," lirih Nindy yang kemudian pingsan.
Lisa pun teriak meminta bantuan para asisten rumah tangga. "Bibi! Bibi, tolong! Mama pingsan, Bibi!"
Setelah para asisten rumah tangga menolong, Lisa pun menyampaikan pesan mamanya sebelum pingsan. Bibi pun segera menelepon Ningsih.
Bibi: "Hallo, Nyonya Ningsih. Maaf mengganggu. Saya asisten rumah tangga dari Nyonya Nindy.".
Ningsih: "Iya, hallo. Ada apa, Bibi?"
Bibi: "Nyonya Ningsih, maaf. Ini Nyonya Nindy pingsan setelah angkat telepon. Apakah Nyonya Ningsih dan Tuan Bima bisa ke sini? Sebelum pingsan, Nyonya Nindy berpesan ke Lisa untuk diteleponkan Nyonya Ningsih dan Tuan Bima."
__ADS_1
Ningsih: "Apa? Baik, Bi. Kami akan segera ke sana."
Ningsih langsung menghubungi Bima. Dia sangat panik karena Nindy pingsan. Mereka belum tahu jika Reno dalam bahaya.