
...🔥KEPUTUSAN YANG SULIT🔥...
Bima, Alex, Evan, dan juga Lily hanya memiliki waktu satu hari untuk memikirkan tekad bulat yang mereka rencanakan selama bersemedi satu tahun di puncak Gunung Everest. Hal yang pertamanya mereka yakini, saat ini membuat mereka menjadi bingung dan gentar. Apakah keputusan menjadi manusia adalah hal yang terbaik yang bisa mereka ambil saat ini? Mereka tidak bisa memastikan hal itu karena pada dasarnya setiap keputusan yang diambil akan memiliki risiko tersendiri bagi si empunya.
"Bima, bagaimana keputusanmu saat ini? Apa yang hendak kau katakan kepada Tuan Abaddon atas keinginan kita ini? Apakah kita bisa membuat pilihan yang berbeda, ataukah satu pilihan menentukan pilihan lainnya?" tanya Evan kepada sahabatnya itu.
Dari keempat iblis yang berada di tempat semedi itu, memang Bima lah yang paling bijaksana dalam mengambil keputusan. Dia selalu menimbang segala sesuatu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk hal yang terbaik bagi semuanya. Dia tidak merasa egois atau merasa paling otoriter dalam mengambil keputusan. Namun sebaliknya, dia selalu mementingkan hal untuk banyak iblis dan mementingkan keputusan terbaik untuk bersama daripada hal yang bersifat pribadi. Karena itulah selama menjadi pengabdi Tuan Chernobog, Bima selalu menjadi yang nomor satu. Bima selalu menjadi tangan kanan dan anak buah kepercayaan dari penguasa neraka lapis ketujuh itu.
Hal itu yang menjadi incaran Tuan Lucifer. Tidak semua iblis bisa menerapkan apa yang diterapkan oleh Bima. Apa yang Bima lakukan tidak semua iblis mampu menjalani. Karena pada dasarnya, semua iblis memiliki rasa iri hati, sifat otoriter, dan juga ingin terlihat paling berkuasa dan paling hebat. Berbeda dengan Bima yang memang bukan iblis murni.
"Aku belum bisa memikirkan apa yang akan aku katakan besok kepada Tuan Abaddon. Bagaimana menurutmu, Evan? Apa yang harus aku katakan? Bagaimana juga menurut kalian, Lily dan Alex? Ini adalah keputusan kita bersama. Kita berempat yang akan menjalani setelah mengambil keputusan itu. Aku tidak bisa mengatakan apa pun sebelum menyepakati dengan kalian terlebih dahulu," tegas Bima kepada ketiga iblis lainnya yang memang memiliki impian untuk menjadi manusia kembali seperti dahulu.
Sepertinya Snowice berhasil membuat mereka merasa ragu atas pilihan yang akan mereka ambil. Snowice memperlihatkan kepada mereka sisi negatif dari manusia. Dia juga membuat rasa takut akan keputusan yang akan mereka ambil. Hal itu memang menjadi tugas Snowice. Tuan abaddon lah yang memerintahkan hal itu kepada iblis Snowice yang pintar memanipulasi perasaan takut manusia. Dia juga pintar mempengaruhi para iblis untuk gentar saat hendak melawan satu dengan yang lain. Oleh sebab itu kali ini keempat iblis itu pun merasa bimbang dalam pilihannya. Padahal semua tinggal di depan mata. Besok adalah kesempatan memilih terakhir. Apakah mereka akan menjadi manusia atau tetap menjadi iblis? Satu kali permintaan yang akan terjadi selamanya.
Lili pun menatap ke arah Evan dan Bima secara bergantian. Berat rasanya untuk mengatakan, tetapi itulah yang menjadi keinginan wanita itu. "Kalau aku ... aku terus terang ingin kembali menjadi manusia. Mungkin semasa hidupku dahulu, aku ini manusia yang buruk hingga aku terjun ke dalam dunia yang seharusnya tidak menjadi milikku. Aku ingin mengulangi kehidupanku dan menjadi manusia yang baik agar tidak terjebak di dalam api neraka. Apakah bisa aku menjalani kehidupan seperti itu? Meski aku tahu saat menjadi manusia aku tidak akan memiliki ingatan apa pun tentang saat ini, tetapi aku ingin berjuang agar aku bisa hidup kembali dan menjadi manusia yang lebih baik dari pada masa laluku." Lily menjawab dengan mantab. Dia sudah yakin apa yang akan menjadi keputusannya.
__ADS_1
Bima paham betul apa yang Lily rasakan, karena memang sepanjang hidup wanita itu hingga meninggal, dia hanya berbuat dosa. Membunuh dan juga membuat kesusahan bagi orang lain. Meski pekerjaannya adalah bodyguard, tetapi membunuh tetaplah membunuh. Hal itu adalah dosa yang tidak terampuni.
Evan pun menatap Lily dengan rasa iba. Dia teringat semua yang diceritakan Lily kepadanya. Semasa hidup, Lily memang sering melakukan kesalahan yang disebut dosa. Menjadi bodyguard seorang lelaki yang dia cintai membuatnya rela untuk berbuat nekat, bahkan untuk membunuh orang. Mungkin saat ini Lily sudah menyesali segalanya. Evan tidak pernah mengerti apa yang ada di benak Lily. Dia hanya bisa menyetujui dan juga mendukung apa yang akan Lily lakukan.
"Baik, Lily. Aku mengerti hal itu. Kalau begitu, bagaimana dengan kalian, Evan dan Alex?" Bima berganti menanyakan jawaban tersebut kepada Alex dan juga Evan. Bagaimanapun, mereka harus melakukan kesepakatan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan besok.
"Tentunya kamu sudah mengetahui kisah kehidupanku, Bima. Semasa hidup, aku merasakan penuh kesedihan, hingga Ibuku meninggal dan aku pun dikejar orang karena mengikuti perkataan iblis untuk mendapatkan kaki yang utuh. Saat ini, kita memiliki kesempatan yang sangat bagus dan aku akan menerima kesempatan itu. Aku memilih menjadi manusia lagi. Aku ingin mengubah kehidupanku dan menjalani kehidupanku sebaik mungkin. Seperti yang Lily katakan, aku ingin menjadi manusia yang sempurna. Tanpa harus mendapat caci maki seperti dahulu," ucap Evan pada Bima. Dia yakin akan ada kehidupan lebih baik saat menjadi manusia.
Mendengar ungkapan dari Evan, Bima jelas tahu sudah ada dua suara keputusan menjadi manusia. Lantas, bagaimana dengan Alex? Bima pun menatap anak bungsunya itu dan menunggu penuturan dari Alex.
"Papa ... aku tahu umurku masih seumur jagung. Hidup dalam dunia gaib pun aku baru sebentar saja. Tapi jika kesempatan ini adalah yang terbaik, aku memilih ... aku ingin jadi manusia. Aku ingin merasakan kasih sayang Mama lebih lama lagi. Aku ingin hidup sama Kak Wahyu juga. Aku tahu jika keinginan ini terwujud maka kekuatan kita akan menghilang ... bagiku tak apa, asal aku bisa hidup bersama keluargaku. Aku ingin bersama kalian menikmati kehidupan dengan bahagia," ujar Alex dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia hampir menangis karena memang sangat merindukan ibunya.
"Kalau begitu ... semuanya sudah pasti, bukan? Kita akan tetap meminta menjadi manusia yang utuh. Saat ini, kita tinggal menunggu saja besok. Ketika Tuan Abaddon datang, aku akan menyampaikan semuanya. Semoga yang terbaik terjadi pada kita." Bima pun tersenyum dan merangkul mereka dalam satu pelukan bersamaan.
Mereka berempat memiliki harapan untuk memulai kehidupan baru. Meski pada kenyataannya, harapan dan kenyataan sering sekali berjalan tidak sesuai. Apakah mungkin mereka berempat bisa menjalaninya dengan baik?
__ADS_1
Mereka berempat pun kembali duduk di tempat semedi. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi besok dalam hati satu dengan yang lainnya. Mereka membayangkan segala kebahagiaan yang mereka dapatkan ketika menjadi manusia. Terlebih Alex yang membayangkan akan segera bertemu dengan ibunya. Bahagianya rasa hati Alex setelah semedi satu tahun. Dia juga sangat merindukan kakaknya. Hal itu pun yang dirasakan oleh Bima. Lelaki iblis itu sangat merindukan istrinya dan juga Wahyu yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Dalam benak Evan pun, dia menginginkan hal yang sama yaitu segera menjadi manusia dan menjalani kehidupan normal. Meski dia ingin selalu bersama Lily, ia harus menyadari satu hal. Jika ingatan mereka hilang, belum tentu Lily akan mengenalinya. Namun Evan tak pernah menyerah. Dia percaya jika Lily akan tetap bertemu lagi dengannya dan bisa merasakan hal yang sama. Dia meyakini hal seperti pepatah mengatakan, "Jodoh Pasti Bertemu" itulah yang menjadi pedoman Evan untuk menjadi manusia.
Berbeda dengan pemikiran Lily. Dia memang ingin menjadi manusia, tetapi sungguh dia ingin hidup yang berbeda jauh, tidak seperti masa lalunya. Meski dia tahu kemungkinan bertemu dengan pria yang dia cintai sangat kecil, dia tetap menginginkan menjadi manusia. Dia merasa ada hal yang harus diperbaiki dan dia ingin menjadi manusia yang baik agar tidak merasakan siksaan api neraka seperti yang sudah dia lihat selama ini. Jiwa manusia berdosa akan mengalami siksaan di neraka. Manusia seperti itu hanya akan mengalami kesakitan abadi. Lily tak ingin merasakan itu.
...****************...
Di tempat lain ....
Dalam kerajaan yang gelap di bawah dasar laut yang paling dalam di Samudra Pasifik, Tuan Abaddon duduk di singga sananya. Dia tertawa tak henti-henti melihat dari kejauhan apa yang menjadi hal perbincangan keempat iblis yang sudah bersemedi selama setahun di puncak Gunung Everest itu. Iblis nan kuat yang menjadi saudara Lucifer itu tidak akan dengan mudah melepaskan mereka. Segala sesuatu pasti akan ada bayarannya. Apalagi permintaan yang tak mudah itu.
"HA HA HA HA ... AKU SANGAT SENANG SEKALI KARENA BESOK AKU AKAN MENDAPATKAN APA YANG AKU INGINKAN. MUNGKIN SAAT INI KALIAN BEREMPAT BISA SENANG DAN BERANDAI-ANDAJ, TAPI BESOK, KENYATAAN AKAN LEVIH LAHIT DARI PADA HARAPAN!" tutur Tuan Abaddon sambil tertawa. Terdengar sangat mengerikan dan menakutkan. Iblis murni yang dahulu menjadi salah satu malaikat itu sudah mempunyai rencana.
Bima, Evan, Alex, dan juga Lily tidak tahu jika mereka sedang dipermainkan. Memang permintaan mereka itu akan dikabulkan. Namun semua ada bayaran yang harus diberikan. Tidak hanya soal semedi, tetapi ada hal yang akan membuat mereka bingung esok harinya.
__ADS_1
Tuan Abaddon sudah mengetahui masa lalu, kehidupan, tugas, dan segala tentang keempat iblis itu. Kekuatan yang mereka hasilkan pun cukup menggiurkan. Namun, satu hal yang Tuan Abaddon inginkan dan pasti terwujud karena Bima merupakan iblis dengan empati paling tinggi. Andai saja Bima bukan iblis, dia pasti menjadi salah satu malaikat kesayangan Sang Pencipta Hidup.
Tuan Abaddon sudah melihat semua kemungkinan yang ada. Dia juga sudah melihat masa depan jika hal itu terjadi. Tak ada yang dirugikan kecuali satu hal, dia akan kehilangan sumber tenaga jika tidak mengabulkan. Namun saat mengabulkan keinginan mereka, otomatis dia mendapatkan semua energi dan tenaga iblis itu.