
Setiap manusia ingin hidup dengan bahagia. Begitu pula Gladys. Dia harus melepaskan semua miliknya dan memulai semua dari awal. Tanpa bantuan orang tuanya, tanpa bantuan orang lain, Gladys harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Wahyu: [Assalamualaikum ... Bagaimana kabarmu, Gladys?]
Gladys: [Wa'alaikumsalam ... Kabarku baik. Bagaimana denganmu, Wahyu?]
Wahyu: [Alhamdulillah ... sudah dua Minggu kita tak bertemu, bolehkah aku mengunjungi kamu?]
Gladys: [Maaf, Wahyu. Aku belum bisa. Saat ini aku pindahan dan menyewa kontrakan kecil di pinggir jalan untuk mulai usaha. Tapi sepertinya belum berjalan dengan baik.]
Gladys tertunduk malu dengan apa yang dia kerjakan saat ini. Bi Munah mengikuti dirinya berjualan dan membantu semuanya dari awal perencanaan, belanja bahan, hingga pembukaan aneka juice dan makanan di situ. Namun semua tidak berjalan dengan baik. Gladys sangat sedih. Pembukaan pun sepi.
Wahyu: [Aku minta alamatmu. Nanti aku ke sana.]
Wahyu sedang dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta setelah meminta restu kepada Mak Sri dan Om Budi serta Santi. Bagi Wahyu, mereka tetap keluarga. Saat ini Mak Sri tinggal bersama Budi dan Santi karena kondisi yang sudah tua. Budi juga sudah memiliki beberapa pengurus yang bisa dipercaya untuk mengelola pesantrennya. Jadi, tidak sesibuk dahulu.
Perasaan Wahyu tak enak sejak kemarin, ternyata benar adanya. Gladys bersedih dan sudah pindah rumah. Wahyu merasa tak tega melihat Gladys yang sebatang kara hidup menderita.
Wahyu: [Share location, please. Aku ada berita baik untukmu.]
Gladys yang sebenarnya tak ingin Wahyu tahu kondisinya menyedihkan pun akhirnya membalas pesan itu.
Gladys: [Lokasi terkirim]
Wahyu tersenyum dan segera mengikuti google maps ke arah lokasi Gladys. Dia sadar betul apa yang akan dia perbuat. Menikah memang bukan soal kasihan atau permainan. Wahyu sudah bertekad akan menjadikan Gladys sebagai istrinya.
Gladys yang termenung terkejut saat ada seseorang mengagetkan dirinya.
"Dooor!" kata orang itu.
"Eh, kaget. Ya ampun ... Sisca!" seru Gladys yang kaget melihat kawannya di hadapan. "Ka-kamu kok tahu aku di sini?" imbuh Gladys yang bertanya-tanya.
"Tahu, dong! Sisca, gitu. Gimana kabarnya? Sorry aku baru ke sini sekarang. Tahu ndiri, kan, tugas kampus bejibun," terang Sisca sambil melihat apa saja dagangan di etalase kawannya.
__ADS_1
"Iya, nggak apa, Sisca. Aku kira kamu udah lupa sama aku. Syukurlah kamu ke sini, jadi aku ga merasa dilupakan. Ha ha ha ha ...." Gladys menertawakan dirinya sendiri.
"Eh, aku mau dong juice strawberry sama roti bakar, deh, pisang keju," kata Sisca yang langsung menarik kursi untuk duduk di samping etalase agar bisa mengamati kawannya yang sedang membuat pesanan.
"Oke. aku buatin dulu, ya," jawab Gladys bersemangat. Bi Munah sedang menata gudang di dalam kontraknya, jadi Gladys menjaga sendiri. Apalagi masih sepi.
Gladys dengan cekatan membuat juice dan memanggang roti pesanan Sisca. Dia berharap hari ini akan ada pembeli lagi.
"Gladys ... kenapa kamu ga pasang banner yang gede? Hmm ... kamu kasih, deh, musik juga. Sebenarnya ini dah strategis di pinggir jalan. Ada parkiran buat motor juga. Tapi ... mereka ga tahu kalau kamu jualan dan takut mau lihat kalau ga tahu harganya. Coba, deh, kamu pasang spanduk harga juice di depan situ," usul Sisca yang sangat tepat untuk usaha yang Gladys lakukan.
"Wah, ide bagus, Sisca. Thanks ya. Nanti aku pesan banner, deh."
"Iya, donk. Di sana ada bengkel, Deket situ ada sekolah SMK, terus ada kantor. Harusnya sini rame, dong. Apalagi kalau jam makan siang. Saran, ya. Jangan sediain roti bakar atau pisang bakar karena itu menu malam hari buat camilan. Mending kamu sama jualan makanan berat untuk makan siang," imbuh wanita yang berambut pendek sebahu itu.
"Oh, iya ya. Benar katamu. Kalau gitu, besok aku coba pikirkan menu apa yang pas."
Mereka pun berbincang hingga sebuah mobil Honda BR-V silver merapat ke tempat Gladys dan memarkirkan di sana. Seorang lelaki tampan dan mempesona turun dari mobil. Wahyu. Dia benar-benar datang.
"Wa'alaikumsalam ... iya, Wahyu. Sini duduk dulu."
"Maaf kalau ganggu, lagi ada yang beli, ya?"
"Hei, Mas. Aku kawannya Gladys, kok," sahut Sisca sambil mengulurkan tangannya.
Wahyu pun menjabat tangan Sisca. "Iya, salam kenal."
Gladys menyajikan pesanan Sisca, juice strawberry dan roti bakas pisang keju. "Wahyu mau minum apa?"
"Hmm ... juice belimbing aja, boleh?"
"Boleh, dong. Duduk aja, Wahyu." Gladys segera membuat juice untuk Wahyu.
Sisca yang merasa tak enak di sana pun segera menghabiskan pesanannya. Setelah itu, dia berpamitan pulang. "Eh, Gladys ... aku pulang dulu, ya. Ini berapa harganya?"
__ADS_1
"Kok, keburu-buru, sih?"
"Ada jadwal ketemu dosen. Baru inget aku, tuh. Besok aku ke sini lagi, deh! Ini berapa? Harga normal, ya. Jangan didiskon."
"Iya, iya ... tujuh belas ribu, Sisca."
Sisca pun mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya, lalu mengulurkan ke Gladys. "Ini uangnya. Kembalian buat kamu aja. Jangan ditolak. Aku pergi dulu, ya."
"Eh, kok, gitu? Tunggu, Sisca."
Sisca langsung pergi meninggalkan warung milik Gladys. Dalam hati Gladys mengucapkan syukur atas rezeki pertama yang diterimanya. Dia pun menyajikan juice belimbing untuk Wahyu. "Ini, Wahyu. Diminum dulu."
"Iya, terima kasih, Gladys. By the way, kamu terlihat cantik meski tidak dandan. Aku suka," ujar Wahyu dengan jujur.
Betapa tersipu malu Gladys mendengar perkataan Wahyu. Dia merasa senang mendapat pujian dari lelaki yang diidamkan.
"Thanks ya. Oh iya, kenapa ke sini? Ini rumahku yang baru. Maaf cuma kontrakan. Sisa uang Papa nggak cukup buat beli rumah." Gladys tertunduk.
"Aku ke sini mau ada perlu he he he ... sabar, Gladys. Jangan sedih. Nanti kita bisa buat usaha ini maju. Besok aku cari konsep yang bagus buat nata warung ini. Siapa tahu langsung hits. Gimana?" tanya Wahyu pada gadis cantik di hadapannya.
"Iya. Terima kasih banget udah mau bantu aku. Sisca tadi itu temanku kampus. Dia juga ke sini karena khawatir ama aku. Aku terlihat menyedihkan, ya? He he he ... dari anak konglomerat jadi miskin begini. Temen lain pada hapus nomorku saat tahu perusahaan Papa bangkrut. Menyedihkan, ya," lirih Gladys yang tak kuasa menahan air mata menetes di pipi.
"Jangan menangis. Jangan bersedih. Allah menyayangimu. DIA tahu yang baik dan buruk bagi umany-Nya. Termasuk bagi kamu. Gladys ... baiklah, aku mau bicara serius. Apakah kamu mau jadi istriku?" tanya Wahyu membuat jantung Gladys serasa hendak berhenti berdetak sangking girangnya.
"A-apa???"
"Hmmm ... beneran ini. Gladys ... apakah kamu mau menjadi istriku? Aku sudah minta pertimbangan yang lainnya. Aku boleh meminangmu setelah seratus hari orang tuamu. Apakah kamu mau?" Pertanyaan dari Wahyu memang serius.
Bagaimana bisa Gladys menahan air matanya. Dia terharu dan tak menyangka hal ini datang padanya. Betapa bahagianya Gladys, bercampur aduk dengan rasa tak percaya.
"Be-benarkah itu, Wahyu? A-aku ... Aku bersedia," jawab Gladys yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Wahyu.
"Jangan menangis dan bersedih. Aku akan berusaha yang terbaik. Sabar dan serahkan semua kepada Allah. Aku akan menjadi imam yang baik untukmu," ucap Wahyu yang tak tega melihat Gladys menangis.
__ADS_1