
...🔥 PERTEMUAN 🔥...
Langit senja mulai berubah menjadi gelap. Sinar matahari pun menghilang bersama dengan munculnya bulan dan bintang. Malam kian pekat dan angin berembus perlahan. Boy sudah membawa Dinda kembali ke rumah tempat dia singgah selama beberapa tahun ini. Rumah yang awalnya Boy sewa dan akhirnya dia beli demi bisa bersama Dinda. Meski Dinda hanya sebatas datang dan pergi begitu saja.
Kali ini, kekhawatiran kembali hinggap di hati Boy. Dinda belum sadar dari pingsan. Mungkin karena terlalu syok. Boy coba menyalurkan energinya ke Dinda untuk menyadarkannya. Meski dia tahu hal itu sangat sulit. Boy selama ini menutupi identitasnya yang sesungguhnya. Dia tak ingin seperti ibunya yang dijauhi banyak orang hanya karena berbeda.
"Dinda ... bangun, please." bisik Boy berkali-kali di telinga Dinda.
Perlahan tetapi pasti, Dinda menggerakkan tangan dan sadar. Dia melihat ke sekitar dan ingat apa yang terjadi. Dinda langsung menepis tangan Boy.
"Jangan pegang aku! Kita ini beda dunia. Tak mungkin bersatu." kata Dinda dengan tegas. Meski kepalanya masih pening karena syok, dia mencoba bangkit berdiri.
"Dinda ... bukankah cinta itu bukan sebuah kejahatan? Aku ini manusia, hanya saja ibuku malaikat pencabut nyawa yang justru menyelamatkan manusia yang harusnya dia jemput untuk berpulang. Lantas, apa salahku? Bukankah anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya? Tetapi cinta bisa memilih ke mana akan berlabuh," jelas Boy sambil memegang tangan Dinda.
Dinda menatap Boy. Tak disangka hal ini membuat Dinda menangis. Dia merasa tak pantas bersama Boy. Bagaimana bisa iblis yang menyesatkan dan mengambil jiwa-jiwa manusia bersanding dengan malaikat yang baik? Meski malaikat pencabut nyawa adalah ibunya Boy, tidak menutup kemungkinan Boy juga malaikat yang baik.
"Iya, tetapi tidak sepantasnya wanita iblis yang hina sepertiku bersanding denganmu. Aku ... aku merasa tak pantas." ucap Dinda bersedih.
Boy menatap wanita yang dia cintai. Meyakinkan semua akan baik-baik saja, Boy pun memeluk erat Dinda. "Aku mencintaimu, Dinda. Jika mencintaiku juga, stay with me."
Dinda pun membalas pelukkan Boy. Dia merasa jika kehidupan pun berputar. Dahulu, dia menentang Bima dan Ningsih. Namun, sekarang dia terjebak dengan sebuah rasa yang rumit. Dinda mengetahui bahwa kesengsaraan akan menyambutnya jika Tuan Chernobog tahu.
"Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya takut. Kakakku, dia dahulu iblis kepercayaan di neraka lapis ketujuh. Namun, karena dia menjalin rasa dengan manusia yang seharusnya menjadi pengikut neraka, dia dibuang atau mungkin saat ini sudah musnah. Aku tidak bisa menemukannya hingga saat ini." lirih Dinda yang membuat Boy paham rasa takutnya.
"Jadi, hal itu yang membuatmu takut mengakui rasa yang kamu miliki? Aku tidak akan memaksa. Namun, pertimbangkan kembali. Andai aku harus musnah, aku ingin seperti Ibuku. Musnah setelah menjalani hari-hari indah bersama Ayahku. Ibuku berkata jika dia tak pernah menyesal. Aku ingin merasakan itu bersamamu. Hari-hari indah selama ini kujalani bersamamu. Meski aku tak tahu kapan kamu berpulang dalam pelukku."
Percakapan panjang itu hanya berujung pada hening. Dua makhluk yang saling mencintai tetapi terhalang perbedaan yang begitu tinggi menjulang. Akankah Dinda mengulangi kesalahan seperti Bima? Atau Dinda memilih tersiksa dengan rasa yang tak sampai? Boy dan Dinda terjebak dalam keheningan dan pemikiran masing-masing.
...****************...
Beberapa hari kemudian ....
Dinda memutuskan untuk nekat mencari keberadaan kakaknya dengan bertanya ke rumah Reno dan Santi. Jika mereka tahu di mana Ningsih, pasti Dinda akan menemukan jawaban di mana Bima berada.
"Aku akan melakukan perjalanan yang jauh. Jangan berharap aku kembali." kata Dinda pada Boy pagi itu.
"Kalau begitu, aku ingin bersamamu. Biarkan aku ikut ke mana pun bersamamu." lirih Boy.
__ADS_1
Dinda tak bisa mencegah Boy untuk ikut. Dia pun hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Boy pun merangkul Dinda. Beberapa hari bersama Boy, Dinda lupa akan tugas-tugasnya. Saat itu, neraka lapis ketujuh belum tahu apa yang Dinda alami. Namun, seiring berjalannya waktu, bukankah segala sesuatu yang ditutupi akhirnya akan terbuka juga?
Boy ikut ke Yogyakarta, oleh sebab itu, mereka hendak menggunakan pesawat. Namun, saat Dinda mengajak Boy memesan tiket pesawat, Boy justru menolak.
"Ayo, beli tiket pesawat dahulu." Dinda mengajak Boy.
"Tak usah. Jika sekali ini, kuajak kau terbang, apakah mau?" tanya Boy membuat Dinda terkejut.
"Terbang?"
Boy pun mengeluarkan sayapnya. Tak ada manusia yang bisa melihat wujudnya seperti itu. Dinda pun mengubah ke wujud aslinya. Boy menggendong tubuh Dinda dengan kedua tangannya. Dinda merangkul leher Boy untuk berpegangan. Pengalaman pertama Dinda terbang. Boy mengajak Dinda melintasi semua yang ada di bawah. Rumah-rumah, pepohonan, sungai, hingga lautan. Boy mengepakkan sayapnya yang besar dan melesat ke Yogyakarta.
Sepanjang jalan, menembus awan-awan putih, dan bersanding kawanan burung yang bermigrasi, Dinda tak sedikit pun berpaling dari wajah Boy. Dinda menatap wajah lelaki yang luar biasa itu.
"Kau suka? Beginilah kehidupan dengan sayap. Berada di atas. Namun, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh dan tak bisa kembali lagi," kata Boy penuh kiasan. Dinda tahu jika banyak perkataan Boy yang sulit dipahami. Hanya satu yang Dinda tahu, Boy mencintainya.
Perjalanan itu terasa sangat cepat. Dinda pun sampai ke tempat tujuan. Dia meminta Boy menunggu terlebih dahulu. Dinda melangkah menuju gerbang rumah Santi dan Reno. Sudah bertahun-tahun dia tak ke sana. Banyak hal berubah.
Dinda menekan bel yang ada di dekat gerbang. Menunggu seseorang membuka pintu. Beberapa saat kemudian, seorang bapak membuka gerbang. "Cari siapa, Dik? Atau mau kost di sebelah?" tanya bapak itu to the point.
"Eh, ini saya mencari yang punya rumah. Reno dan Santi ada, Pak? Saya temannya." jawab Dinda yang berharap mereka di sana.
Dinda pun terkejut. Tahun-tahun ini yang terlewat, ternyata membuat banyak perubahan yang dia tak ketahui. "Oh, baik, Pak. Saya ke sana saja. Terima kasih infonya." ucap Dinda yang kemudian berpamitan pergi.
Dinda menghampiri Boy. "Mereka sudah menikah dan tidak lagi di sini. Padahal ini tempat usaha mereka membuka kost-kostan. Kita coba ke sana, rumah Reno dahulu. Kita naik taksi saja?" kata Dinda pada Boy.
"Iya, naik taksi saja. Kalau terbang takut tersesat." jawab Boy membuat Dinda tertawa.
Boy dan Dinda pun menghentikan taksi dan meminta diantar ke Perumahan Briliany. Mereka berbincang banyak hal sepanjang jalan.
"Tak kusangka, sudah delapan tahun berpisah, mereka sudah memulai kehidupan baru." ucap Dinda menerawang jauh dari kaca mobil.
"Iya, semua punya kehidupan baru kecuali kamu. Ayo kita menikah," kata Boy membuat Dinda terkejut dan menyentil kepala Boy.
"Ngawur aja! Jangan mikir macam-macam!" protes Dinda yang justru bersambut tawa dari Boy.
"Kamu itu lucu. Pada lelaki yang menunggu dan bersamamu hampir sembilan tahun, masih saja malu. Ha ha ha ... apakah iblis tak ingin menikah?" bisik Boy kepada Dinda membuat wanita itu makin malu.
__ADS_1
Untung saja taksi sudah membawa mereka ke tempat tujuan. "Sudah sampai, Mas, Mbak. Ini alamatnya Perumahan Briliany." kata sopir taksi.
"Oh, iya. Ini ongkosnya, Pak." Boy mengulurkan uang seratus ribu rupiah.
"Mas, belum ada kembaliannya." kata sopir yang mengecek ke dompetnya. Terlihat hanya ada uang sepuluh ribu rupiah di sana.
"Ambil saja kembaliannya, Pak. Semoga hari ini ramai pelanggan taksi, ya," ucap Boy kemudian keluar dari mobil bersama Dinda.
"Kamu ini, sedang memberkati sopir tadi, ya?" tanya Dinda jail.
"Iya, kamu tahu? Sopir itu menghidupi anaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Nanti, dia akan mendapatkan banyak rezeki yang cukup untuk biaya berobat anaknya." kata Boy dengan mantab. Lalu berjalan bersama Dinda ke pos satpam perumahan.
"Iya, aku tahu kalau kamu akan melakukan itu. Yuk, kita tanya ke satpam dulu." Dinda mengandeng tangan Boy. "Permisi, Pak. Selamat pagi. Saya mau tanya rumahnya Reno di mana, ya?" tanya Dinda pada petugas di pos satpam.
"Selamat pagi, Mbak. Pak Reno rumahnya itu. Blok A nomor 7." kata satpam.
"Terima kasih, Pak. Kami ke sana, ya." Dinda meminta izin dan segera ke sana dengan Boy.
Rumah megah dan mewah dengan dua lantai. Nuansa rumah berwarna cokelat muda dan putih membuat rumah itu terlihat menyejukkan. Gerbang melingkar di rumah itu, serta taman yang luas di sepan dengan kolam dan air mancur mini.
Dinda menekan bel di gerbang, tak berselang lama, seorang wanita tua sepertinya asisten rumah tangga di sana membukakan gerbang. "Cari siapa, Non?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Renonya ada?" tanya Dinda yang masih tak percaya akan bertemu dengan Reno lagi.
"Ada, Non. Non siapa, ya? Silakan masuk. Bibi panggilkan dahulu."
"Saya ... Dinda."
Dinda pun masuk ketika gerbang dibuka. Boy mengikuti Dinda dan menatap punggung wanita yang berjalan di hadapannya. Boy tahu jika ada sesuatu antara Dinda dan Reno. Entah seperti apa Reno itu, Boy tahu jika Dinda pernah bersamanya. Terlihat jelas dari suara Dinda yang bergetar saat menyebutkan nama Reno.
Setelah Bibi memanggil Tuan Reno, lelaki itu pun berlari ke depan. Tak percaya dengan nama yang disebutkan asisten rumah tangganya itu. Saat itu, Santi dan anaknya sedang ke mall berbelanja dengan dampingan sopir. Sedangkan Reno sedang menyelesaikan perencanaan membuat tempat kost baru di daerah Sleman.
"Din-Dinda ...." lirih Reno tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Sosok wanita yang pernah membuatnya mabuk kepayang. Sentuhan yang pernah dia rasa, tiba-tiba kembali terngiang di pikiran.
"Iya, Reno. Apa kabar?" ucap Dinda dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Reno maju selangkah lebih dekat dengan Dinda. Namun, Boy sangat peka. Boy langsung merangkul pinggang Dinda dan menatap Reno. "Perkenalkan, namaku Boy. Calon suami Dinda," kata Boy yang tak ingin adanya cinta lama belum kelar kembali terulang.
"Calon suami? Oh, iya. Aku Reno. Keponakan dari istri Kakaknya Dinda." Reno menjabat tangan Boy dengan erat. Dinda pun tak menyangka Boy mengatakan hal itu.