
...🔥 Budi dan Rasa Kecewa 🔥...
Budi memutuskan untuk menunggu Ningsih di tempat pengesahan minimarket itu. Sebenarnya, Ningsih merasa tak enak karena Budi menemaninya di sana. Terdengar bisik-bisik pegawai membuat Ningsih cemas.
"Eh, itu cowok 'kan suami ponakannya Bos, ya. Kenapa anter Bos?"
"Tahu, nggak? Suami ama anak Bos itu 'kan lagi pergi. Dah lama nggak kelihatan. Ini suami ponakannya malah anter berduaan doang."
"Ssstt ... jangan keras-keras yang bilang. Bos bisa dengar. Mau dipecat?"
Ningsih menatap ke arah kumpulan pegawainya yang sudah senior. Mereka pun terdiam. Benar saja, Ningsih mendengar gosip yang mereka ucapkan meski berbisik. Merasa tak nyaman, dia segera meminta acara pemngesahan dan pembukaan minimarket dimulai.
MC pun membacakan susunan acara. Mulai dari doa, sambutan-sambutan, hingga acara puncak pengesahan minimarket dan syukuran pembagian sembako serta makan bersama. Saat Ningsih hendak mengesahkan, dia memberi sedikit nasehat bagi para karyawannya.
"Ini adalah minimarket N&B cabang yang kelima. Oleh karena itu, saya harap para pegawai yang sudah lama ikut di perusahaan saya atau yang baru saja diterima bekerja, bisa bekerja dengan semangat dan lebih profesional. Pada dasarnya, jika Minimarket N&B ini berkembang, maka kesejahteraan pegawai pun akan semakin meningkat. Oleh karena itu, mari bekerja sama dengan baik. Dengan ini, saya mengesahkan pembukaan Minimarket N&B cabang Candi Prambanan!" seru Ningsih sambil memotong pita yang diikatkan di pintu utama minimarket.
Sorak sorai serta riuh tepuk tangan terdengar meriah. Mereka pun segera melanjutkan acara dengan pembagian sembako dan makan-makan bersama. Ningsih pun turun dari panggung dan ikut membagikan sembako. Budi mendekatinya dan memberi selamat.
"Selamat, ya. Semoga akan ada cabang tambahan lagi setelah ini. Insyaallah aku akan membantu juga. Jika kamu mau, bisa membuka cabang di dekat pesantren. Masih ada lahan kosong di sana," ucap Budi sambil menjabat tangan Ningsih.
Pegawai yang tadi bergosip tidak berani menatap Ningsih dan Budi karena takut kena sanksi atau dipecat. Para pegawai pun segera pergi makan-makan. Sedangkan Ningsih dan Budi mengikuti wawancara singkat dari wartawan lokal.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan, wawancara itu pun selesai. Ningsih segera menghampiri asistennya. "Ini sudah selesai semua? Saya pergi dulu. Semua saya serahkan padamu," kata Ningsih sambil menandatangani beberapa dokumen penting.
"Baik, Bu. Saya akan pantau semua sampai akhir. Selamat perjalanan pulang, Bu," jawab Sofi-asisten Minimarket N&B yang Ningsih dan Bima bangun bersama.
"Ok. Saya pergi dulu." Ningsih pun pergi bersama Budi. Mereka masuk ke dalam mobil. Tak terasa waktu menunjukkan pukul satu siang hari.
"Ningsih, kita makan siang dulu, yuk. Sudah jam satu siang soalnya," kata Budi saat menyetir mobil.
Ningsih awalnya diam, tetapi bunyi perutnya yang keroncongan membuat dirinya malu untuk mengakui lapar. "Emm ... iya, Bud. Ayo makan dulu. Aku lapar juga," ucap Ningsih sambil mengelus perutnya yang datar.
"Iya, aku tahu kamu lapar. Mau makan di mana?" tanya Budi yang melihat ke kanan dan kiri jalan. Tidak ada rumah makan yang menarik.
"Budi, aku mau makan ramen aja. Mau nggak?" jawab Ningsih memberi ide.
Budi pun mau mengikuti keinginan Ningsih untuk makan ramen. Ningsih menunjukkan arah jalan ke kedai ramen itu. Mereka serasa sepasang muda-mudi yang asyik dengan dunia sendiri. Setelah sampai di kedai ramen, mereka pun memesan makanan dan makan bersama. Berbincang hangat seakan lupa hal lain.
__ADS_1
"Kamu tahu, andai kita bisa dekat seperti ini sejak beberapa tahun yang lalu ... mungkin semua tidak akan serumit ini. Ningsih ... maukah kamu ...." Belum selesai Budi berbicara, Ningsih langsung meletakkan sumpit.
"Budi, aku harap kamu tidak berpikir lebih dari ini. Apalagi memikirkan untuk mendua. Aku menyayangi Santi seperti anakku sendiri karena dia anak dari sahabatku. Jangan sakiti dia dengan rasa yang tak seharusnya ini. Aku tidak ingin ada hati yang terluka. Aku juga sudah mempunyai suami. Kita tak bisa lebih dari ini," tegas Ningsih membuat Budi terdiam sambil mengaduk-aduk ramen di dalam mangkuknya yang besar.
"Hmmm ... baiklah, Ningsih." Budi pun melanjutkan santap siang. Menghabiskan ramen di dalam mangkuknya. Dia ingin menyanggah pernyataan Ningsih, tetapi tak bisa. Lebih baik diam, meski dia tahu Ningsih memiliki rasa lain tak seperti yang dia ucapkan.
"Budi, sebentar lagi kita pulang, ya," lirih Ningsih takut jika Budi marah karena sedari tadi hanya diam.
Seakan ada dua suara yang terdengar di telinga Budi. Sisi jahat dan sisi baik.
"Ayo, Budi. Buat dia mau pergi ke hotel denganmu. Lumayan kan sama-sama kesepian. Istrimu tidak ingin melayani sudah hampir dua minggu dengan alasan ini itu. Sedangkan Ningsih sudah dua bulan lebih tanpa suaminya. Ayolah bujuk dia. Wanita itu pasti mau," bisik sisi jahat yang menyeruak di telinga Budi. Ada benarnya juga, tetapi astagfirullah sangat menyesatkan!
"Budi ... jangan Budi! Ingat keluargamu di rumah. Lagi pula jika kau lakukan, akan banyak kesusahan terjadi setelahnya. Istigfar Budi. Sebut asma Allah," bisik sisi baik yang masih melindungi Budi dari niat buruk.
"Emm ... iya, Ningsih. Ayo pulang. Aku minum dulu, sebentar." Budi menyeruntup boba es yang dia pesan. Setelah itu, dia segera ke kasir untuk membayar dan pergi bersama Ningsih.
Sepanjang perjalanan, perdebatan batin di hati Budi membuatnya gelisah. Antara iya atau tidak. Dia bingung dan galau karena tak bisa dipungkiri hasratnya pun menginginkan Ningsih yang mempesona.Saat hampir sampai di perumahan tempat Ningsih tinggal, mobil itu melewati jalan yang sepi di pinggir pepohonan lebat. Budi menepikan mobil sebentar. Bisikan sisi jahat makin kencang membuat Budi kacau. Bahkan seorang yang paham ilmu agama pun tak bisa mengelak dari godaan nafsu duniawi.
"Ningsih, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Budi sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Ningsih yang di sampingnya.
"Ningsih ... bolehkah aku menyentuhmu? Berikan aku satu kesempatan saja untuk memuaskanmu," lirih Budi yang menahan napas yang hampir memburu.
Ningsih takut akan pandangan Budi yang semakin sayu. Terlihat aura Budi berubah seketika. Dia dikuasa nafsu duniawi. Menatap Ningsih dengan hasrat yang harus disalurkan. Ningsih segera mencoba keluar dari mobil untuk berlari. Namun, Budi memegang tangannya dengan era.
"Jangan pergi. Please. Aku janji akan memuaskanmu. Tolong Ningsih ... kali ini saja," pinta Budi yang terlihat sangat terdesak.
Apa pun alasannya, tidak seharusnya Budi seperti itu, bukan? Apalagi dia lelaki soleh dan menjadi penerus pemilik pesantren, sangat tidak pantas dia berlaku seperti itu. Ningsih pun melihat di samping Budi ada makhluk mengerikan. Iblis yang menyembah hawa nafsu. Salah satu pengikut Tuan Asmodeus ternyata mempengaruhi pikiran Budi agar bernafsu pada Ningsih.
"Budi, jangan seperti itu! Sadarlah!" seru Ningsih sambil menampar Budi. Dia segera melepaskan sabuk pengaman.
Wanita itu ketakutan dan segera membuka pintu mobil dengan paksa. Dia justru berlari secepat mungkin untuk menjauh dari Budi. Sedangkan Budi langsung tersadar karena tamparan Ningsih yang mendarat di pipinya.
"Astagfirullah ... apa yang aku lakukan? Aku membuat Ningsih takut." Budi melajukan mobilnya perlahan sambil membuka kaca jendela mobil untuk menyusul langkah Ningsih.
"Ningsih! Ningsih, maafkan aku! Aku khilaf. Maafkan aku! Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Maafkan aku!" Budi berteriak meminta maaf. Takut Ningsih marah dan membencinya. Dia bingung kenapa bisa seperti itu terjadi.
"Budi, kau menakutkanku!" seru Ningsih yang masih berjalan.
__ADS_1
Budi pun turun dari mobil. Dia meminta maaf pada Ningsih. "Maafkan aku, Ningsih. Aku khilaf. Ampuni aku," ucap Budi yang memohon hingga bersujud di hadapan Ningsih.
Ningsih memang melihat ada iblis di belakang Budi tadi. Wujudnya mengerikan dan menyeringai menakutkan. Dia pun paham, mungkin Budi seperti itu karena teepengaruh makhluk gaib.
"I-iya, Budi. Aku maafkan. Aku hanya takut karena kamu seperti itu. Lain kali, jangan membuatku takut seperti itu, ya," jawab Ningsih yang langsung meminta Budi berdiri. Dia pun kembali masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Ningsih.
Budi menyetir mobil dan terdiam. Tak henti-hentinya dia istigfar dan memohon ampun pada Allah karena kekhilafannya tadi.
"Astagfirullah, ampuni hamba, ya Allah. Ternyata begini godaan iblis. Hampir saja hamba melakukan hal tercela." batin Budi yang tak tenang. Dia pun melantunkan doa di dalam hati. Hingga akhirnya sampai juga ke rumah Ningsih.
Ningsih pun menatap Budi. "Jaga diri baik-baik, Budi. Banyak hal yang kita tak ketahui sedang terjadi. Jangan sampai kamu ikut masuk dalam JERAT IBLIS karena seperti yang dahulu kamu bilang, sekali terjerat akan susah melepaskan diri," kata Ningsih menasehati suami keponakannya itu.
Budi tersenyum menatap Ningsih. Dia bersyukur sudah diingatkan. Meskipun dia juga kecewa karena perasaannya tidak mendapat balasan yang berarti. Budi tahu jika cinta menjadi salah satu senjata iblis menjerat kehidupan manusia dalam kesalahan. Ada orang yang terlalu mencintai hingga berani membunuh orang lain karena cemburu. Ada orang yang terlalu mencintai hingga berani mencuri demi membeli yang kekasihnya inginkan. Ada orang yang terlalu mencintai hingga menduakan pasangannya yang sah. Ada pula orang yang terlalu mencintai hingga lupa akan segalanya.
"Terima kasih, Ningsih. Kalau begitu, aku pamit dahulu. Kamu juga jaga diri baik-baik. Assalamualaikum," ucap Budi yang kemudian pergi meninggalkan rumah Ningsih setelah salamnya terbalas.
"Wa'alaikumsalam, Budi. Hati-hati di jalan," kata Ningsih sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang melaju pergi meninggalkan rumahnya.
...****************...
...PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY PART 2...
...Selamat bagi kamu yang memiliki akun Instagram berikut ini:...
...@r.juliarizky...
...@loveynaopin...
...@shinta_sr01...
...@arieperdana19...
...@febi_arisa...
...Silakan menghubungi Author Rens di DM instagram @rensabeth untuk mendapat hadiah pulsa masing-masing sepuluh ribu atau konfirmasi lewat Grup Chat Author. Terima kasih^^...
...Bagi yang belum beruntung, jangan bersedih, ya. Nantikan giveaway lainnya^^ Terima kasih....
__ADS_1