
π BAHAYA? π
Siang itu Santi dan Reno panik membawa Wahyu ke rumah sakit karena demam tinggi hingga 39,5 derajat. Joko bersiaga, langsung menyetir mobil secepat mungkin ke rumah sakit terdekat mengantarkan mereka. Santi memang cukup dewasa, dia tahu jika menghubungi Ningsih pun percuma jika tantenya sedang pergi dengan alasan bisnis. Santi paham betul, Ningsih menjauh pasti karena suatu alasan yang tak bisa diungkapkan.
Sesampainya di rumah sakit, dokter menangani anak berusia tujuh tahun itu dengan seksama. Santi menemani Wahyu ke dalam ruang pemeriksaan. Sedangkan Jokk dan Reno berada di ruang tunggu.
"Bagaimana, Dokter? Ponakan saya sakit apa?" tanya Santi dengan cemas.
"Hasil pemeriksaan sementara ... radang tenggorokan. Kemungkinan itu memicu demam. Namun untuk hasil pemeriksaan lab darah bisa ditunggu terlebih dahulh," ucap dokter sambil undur diri dari ruangan.
Wahyu menggigil kedinginan padahal tubuhnya demam tinggi. Perawat memberi suntikan sesuai petunjuk dokter.
"Mama... Mama... Mamaku mana, Tante... aku mau Mama," lirih Wahyu mengigau tak karuan.
Santi tak tega melihatnya. Dia mengirimkan pesan kepada Ningsih.
[Tante... Wahyu mengigau mencari Tante. Santi harus bagaimana?]
Sepuluh menit belum ada balasan dari Ningsih. Santi sudah tahu jawabannya. Dia pun merawat keponakannya dengan sabar dan telaten sambil menunggu hasil cek lab keluar.
"Gimana?" tanya Reno saat petugas pergi dari ruang perawatan.
"Radang kok. Ini sudah boleh pulang. Kamu gendong ya. Wahyu tidur itu," jawab Santi sambil membawa beberapa obat yang sudah ditebusnya.
"Syukurlah... Tante Ningsih sudah tahu?" Reno menggendong tubuh ponakannya yang lemas.
"Sudah. Tapi nggak respon. Biarin aja lah... yang penting kita rawat Wahyu," ucap Santi mulai jengah dengan sikap tantenya.
Bukankah anak itu adalah segalanya bagi seorang ibu? Jika anak sampai terabaikan, pantaskah seorang wanita yang pernah melahirkan disebut IBU? Sepertinya tidak.
Mereka pun perjalanan kembali ke rumah. Joko mengerti Santi sedang kesal. Dia mencoba menghibur.
"Non Santi... jangan manyun napa? Itu bibirnya manyun mirip ikan koi di kolam. Malu ih dilihat orang," kata Joko sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Dih, Mas itu bercandanya receh. Bukan bikin ketawa malah makin ngeselin," cicit Santi, menahan tawa.
"Mosok sih? Itu Non Santi mau ketawa kan. Berarti lucu dong..."
"Mana tawa? Nggak ah. Males..."
Reno yang merasa jari obat nyamuk pun menyahut, "Dah udah macam anak kecil aja. Reno laper nih. Makan dulu yuk sebelum balik. Atau paling nggak beli apa gitu bawa pulang. Dah keroncongan nih cacing. Kasihan Wahyu denger suara cacing disco."
"Eh iya, bener juga. Mas Joko, kita ke mana beli makan?" imbuh Santi.
"Saya mah terserah Non Santi sama Den Reno aja..." kata Joko tersenyum.
"Haduh Mas Joko nih kalau ditanyai malah terserah. Pasrah banget sih? Pake manggil Non Den lagi pun," ucap Santi makin manyun.
"He he he... Yaudah maaf. Kalau nasi padang mau? Kebetulan laper banget ini dan searah bentar lagi lewat," jelas Joko.
Mereka pun setuju. Membeli lima box nasi padang. Sedangkan Wahyu tidak dibelikan karena Mak Sri sudah memasak khusus. Permintaan Ningsih adalah masakan untuk anaknya tanpa micin atau penyedap agar anaknya sehat.
Bukannya minta maaf, sopir taksi itu melaju kencang setelah membuat bemper belakang mobil di tumpangi Santi ringsek.
"Duh, bisa kena marah Bu Ningsih nih," lirih Joko ketakutan.
"Hlo kan kamu nggak salah, Mas. Udah bawa masuk dulu aja mobilnya," perintah Santi.
Mereka sama sekali tak sadar, hal itu perbuatan Joshua dan Lily untuk memastikan siapa yang berada di dalam mobil. Saat melihat Santi yang keluar dari mobil itu, sepasang kekasih tanpa ikatan itu terdiam dan kembali mengawasi.
"Bukan Ningsih. Namun aku yakin ini rumahnya, sayang," bisik Lily pada Josh yang menatap tajam ke arah rumah Ningsih.
"Iya... aku tahu. Ningsih tidak ada di sini, sayang. Kita harus cari tempat lain," gumam Joshua sambil memperhatikan Santi.
Aura Santi memang berbeda dengan Reno dan Joko yang sudah banyak tercemar dosa. Joshua tertarik pada jiwa Santi yang masih murni. "Jika aku bisa menjerumuskan jiwa murninya, akan menjadi nilai tersendiri di Neraka." batin Joshua yang masih dalam pengaruh iblis.
***
__ADS_1
Di samping itu....
"Aku mau pulang menemui anakku. Tolong perbolehkan aku, Dinda." pinta Ningsih pada adik Bima yang menyebalkan.
"Tidak. Aku tak bisa. Nyawamu lebih berharga. Anakmu baik-baik saja dan sudah di rumah. Lihat wajahmu yang sembab, kau perlu istirahat," tegur Dinda.
Ada benarnya adik Bima berkata. Ningsih tadi menangis merasakan penderitaan Bima. Rasanya Ningsih menjadi biang masalah tetapi justru tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Bima. Bima menanggung hukuman sendirian. Seminggu itu bagaikan waktu yang sangat panjang.
"Aku wanita yang tak berguna... Anakku sakit, aku tak bisa menemani. Suamiku terluka dan dalam hukuman, aku tak bisa membantu," lirih Ningsih sambil duduk di lantai bersender pada dinding.
Dinda jengah melihat wanita yang sedang frustasi atau malah putus asa itu. Dia pun memarahi Ningsih.
"Kalau sudah tahu kamu nggak berguna, ya buat dirimu berguna! Bukannya malah meratapi nasib begini, dasar aneh! Sudah jangan melow terus. Aku bisa enek kelamaan begini. Huft!"
Ningsih mendongakan wajah menatap Dinda. "Maaf... maaf kalau aku membuatmu enek. Namun itu yang kurasakan sekarang."
"Ah, manusia lebay! Udah kakaku itu baik-baik aja. Kamu tahu kan dia kekar dan kuat. Mana bisa terluka!" kata Dinda mencoba berbohong dengan logika padahal dia tahu persis jika hukuman Neraka sangatlah berat.
"Iya... aku memang lebay. Perasaan inj tak tenang dan memikirkan Bima selalu. Semoga hukumannya lekas berakhir."
Dinda hanya terdiam. Dia tak habis pikir kenapa kakaknya mempertaruhkan dirinya demi wanita lemah sang manusia yang dijeratnya. Bukankah Iblis bertugas hanya menyesatkan? Apa sih kelebihan Ningsih hingga bisa menakhlukan hati seorang Iblis? Dinda memikirkan semua itu.
"Apa sih kelebihanmu? Kamu tahu... Kakakku sudah mengamatimu sebelum kamu tahu soal pesugihan yang Ratih lakukan. Entah mulai kapan, Bima sudah memperhatikanmu dan menaruh simpatik kepadamu. Aku pun heran. Ratusan tahun kami berjelajah. Baru kali ini Bima mendapat masalah serius di Neraka hanya karena manusia sepertimu," gumam Dinda.
"A... apa? Benarkah Bima mengamatiku dahulu?" tanya Ningsih terbata.
"Ya... Jika bukan karena kakakku... kamu sudah berada dalam bahaya beberapa kali. Aku melihatnya dengan jelas. Apakah kamu tak sadar?" Dinda membelai pipi Ningsih yang masih membekas air mata.
"Tidak... Bima ternyata... Aku harus bagaimana untuk menolongnya sekarang?"
Kesempatan Dinda untuk menenangkan Ningsih. "Jika ingin membantu... ikuti perkataanku agar tak ada yang perlu masuk dalam bahaya. Percayalah, aku lebih tahu segalanya dibanding kamu."
Bersambung....
__ADS_1