
Sesampainya Satria di kantor polisi, banyak pertanyaan dijejalkan padanya. Satria mencoba setenang mungkin menjawab semua pertanyaan.
"Nama?"
"Satria."
"Apa yang Anda lakukan tadi malam hingga pagi ini?"
"Meeting lalu istirahat. Pagi ini hendak meeting."
"Apakah Anda mengenal kedua korban ini?" Polisi menyodorkan foto Sugeng dan foto Ningsih.
"I-ya."
"Apa hubungan Anda dengan kedua korban ini?"
"Lelaki itu ayahku. Wanita itu, calon istriku."
"Lantas, apakah Anda tahu siapa yang membuat mereka seperti itu?"
"Tidak."
Polisi sedang mengumpulkan bukti untuk penyelidikan kasus ini. Di samping itu, anak buah Satria telah menemukan wanita bayaran yang melukai Sugeng.
"T-tolong! Jangan mendekat!" wanita itu mengatur napas setelah berlari menghindari tiga lelaki berbadan kekar, anak buah Satria.
"Namamu Lucinta?" tanya salah seorang lelaki itu.
"S-siapa kalian? Kenapa kalian mengejarku?" Lucinta mulai ketakutan. "Jangan sakiti aku. Please, kumohon. Apapun akan kulakukan."
Melihat wanita seksi itu berlutut memohon, mereka mulai berbisik dan sedikit mengubah rencananya.
__ADS_1
"Bawa kami masuk ke apartemenmu!" bentak seorang dari mereka.
"B-baik. Tapi jangan sakiti aku."
"Tak mungkin. Kami hanya ingin bersenang-senang." seringai seorang berkaos hitam itu.
Lucinta terpaksa menuruti perkataan mereka, saat pistol ditodongkan ke arahnya. Ketakutan dan bingung. Wanita malam sepertinya, selalu memiliki penggemar gila. Ini bukan pertama kalinya ada pelanggan yang memaksa tanpa mau membayar. Lucinta berpikir bahwa ini hanya permainan. Tak mengerti apa yang terjadi nanti.
Setelah sampai di dalam apartemen. Ketiga lelaki itu memaksanya menari bugil hingga memuaskan napsu bejat mereka. Setelah selesai dengan permainan itu, timah panas bersarang di kepala Lucinta.
[ Clear Bos. ]
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Satria. Satu hal sudah teratasi. Satria sedikit bernapas lega.
[ Jangan lupa, bawa ponakan dari Kudus ke lokasi kemarin. ]
[ Siap. Bos! ]
Satria tersenyum puas. Satu per satu rencananya berjalan mulus. Kini, tinggal membuat Ningsih bungkam. Bukan hal yang sulit untuk Satria.
"Bagus. Lalu, kapan aku bisa pergi dari kantor polisi ini." Satria berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Sekarang, Tuan. Aku sudah memberi jaminan. Sementara, tidak ada bukti yang mengarah kepada Tuan." lanjut sang pengacara.
"Ok. Urus semua sebaik mungkin. Bagaimana dengan perempuan itu?"
"Dia berada di bangsal namun belum sadarkan diri. Sedangkan Ayah Tuan berada di ICU."
"Baik. Aku akan segera ke rumah sakit. Kerja yang baik!"
Satria bergegas menuju rumah sakit. Sedangkan polisi masih menindak lanjuti kejadian itu serta mengumpulkan bukti demi memperkuat penyelidikan kasus penyekapan yang mengakibatkan dua korban di kamar yang berbeda.
__ADS_1
***
"Ningsih, honey, bangunlah." ucap Satria sambil membelai lembut rambut Ningsih. "Mungkin kamu akan lekas bangun jika mendengar suara ini ...."
Satria memutar suara yang terekam dari applikasi gawainya.
[ Mama? Mama di mana? Wahyu takut. Mak Sri juga tak ada di sini. Huhuhuhu ....]
Suara tangisan Wahyu mengakhiri rekaman itu. Satria tersenyum melihat reaksi tubuh wanita di hadapannya mulai bergerak.
"Kau merindukan suara itu, bukan?" guman Satria.
Ningsih membuka matanya perlahan, "Wahyu, Nak ... di mana kamu?"
Satria berbisik, "anakmu aman di suatu tempat. Miss, baiknya kau menurut semua perkataanku jika ingin melihat anakmu lagi."
Ningsih menatap Satria. Air mata tak terasa menetes ke pipi. Dia hanya bisa menurut perkataan lelaki sadis itu demi keselamatan anaknya.
"Menikahlah denganku. Jika polisi menanyakan apa pun, jawablah, kita akan segera menikah. Kejadian semalam memang dilakukan atas dasar suka sama suka. Paham? Jika kau salah menjawab dan membuat polisi curiga, aku pastikan anakmu tidak bernapas." Satria mengancam Ningsih.
"B-baik. Tapi tolong, berjanjilah, jangan lukai anak-anakku." Ningsih berharap Satria menepati janjinya.
"Tentu. Asal kau lakukan semua keinginanku. Termasuk permainan seperti semalam, aku ingin tanpa ikatan di tangan dan kaki mulusmu." Satria membelai paha Ningsih di balik selimut.
Ningsih merinding dan hanya terdiam. Lelaki yang dia hadapi sungguh tak berperasaan. Entah apa yang terjadi pada Bima.
'Bima, mengapa tak menjawabku? Aku sangat takut.' batin Ningsih bergejolak penuh tanda tanya di mana suami tak kasat matanya.
Bersambung ....
***
__ADS_1
Suka? LIKE donk! Jangan lupa VOTE dan SHARE.
Author akan menemani waktu kalian selama lockdown dengan cerita yang semakin menarik^^