JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 133


__ADS_3

πŸ€ TUGAS YANG TAK MUDAH - PART 2 πŸ€


Bima menyusuri jalan yang terjal. Sudah ratusan tahun dia mengabdi pada kerak Neraka dan belum pernah sedikit pun membangkang. Cinta ... karena rasa cinta yang baru dia rasakan setelah sekian ratus tahun lamanya tak menjadi manusia, membuatnya menjadi terlena.


Tugas Bima sebagai Iblis mulai menurun. Apa pun yang Bima lakukan selalu memikirkan pujaan hatinya. Hal itu membuatnya makin lama kehilangan kemampuannya sedikit demi sedikit, tanpa dia sadari.


Sedangkan di sisi lain, Pak Anwar dan Budi sudah merencanakan sesuatu yang diluar perkiraan Bima. Mereka tak akan menyerah atas Ningsih, meski nyawa taruhannya. Dalam jerat Iblis dan perjanjian gaib, jika makhluk astral tersebut lenyap, maka kemungkinan pengikutnya bebas adalah 50:50 adanya. Bisa jadi pengikutnya ikut meninggal, atau justru terbebas dari segala hal kegelapan.


Santi dan Reno sudah memantapkan hati untuk mengambil resiko itu. Lebih baik mencoba menyelamatkan, dari pada tidak sama sekali. Itu yang menjadi pertimbangan mereka.


Santi sempat menghubungi PakLek Darjo yang berada di Salatiga untuk membantu. Beliau pun bersedia, karena pernah membebaskan Reno dan Santi dari jerat Iblis akibat pesugihan ibunya (Ratih; lihat episode 37) tetapi tak kuasa menyelamatkan Ratih. PakLek Darjo yakin, kali ini bisa menyelamatkan Ningsih dengan bantuan Kyai Anwar, Budi, dan kelima santri andalan di pesantren Wonogiri.


"Bagaimana, PakLek? Santi mohon dengan sangat, PakLek pertimbangkan untuk membantu Tante Ningsih. Saat ini si Wahyu sudah aman di pesantren. Tante Ningsih masih berada di Jakarta," pinta Santi yang sudah menjelaskan semuanya.


"Iya, Nduk. PakLek sudah mempertimbangkan. BuLekmu juga setuju untuk membantu. InsyaAllah, PakLek akan bantu sebisanya." jawab PakLek Darjo dari handphonenya.


Hal itu jelas membuat Santi senang. Dia dan Reno sudah kembali ke rumah karena kondisi Wahyu sudah stabil dan bisa memulai kegiatan di pesantren dengan baik. Santi menelepon PakLek karena Budi mengusulkan hal itu setelah mendengar cerita tentang kepergian ibu mereka.


"Alhamdulilah, PakLek terima kasih!" seru Santi yang senang mendengar jawaban lelaki itu.


PakLek Darjo: "Iya, Nduk. Besok biar PakLek naik bis ke Yogyakarta."


Santi: "Jangan, PakLek. Biar Santi sama Reno saja yang menjemput. PakLek tidak usah naik bis."


PakLek Darjo: "Nanti merepotkan, loh. PakLek bisa kok naik bis. Jemput saja di terminal."


Santi: "Tidak, PakLek. Justru kami yang merepotkan PakLek. Besok subuh kami perjalanan ke Salatiga, ya, PakLek."


PakLek Darjo: "Ya, sudah. Kalau maunya begitu. Terima kasih, ya. Assalamualaikum."


Santi: "Wa'alaikumsalam."


Santi menutup teleponnya dan matanya berbinar penuh harap. Dia tetap memikirkan Tante Ningsih karena tak ingin nasib wanita itu sama dengan Ratih. Santi pun tak henti-hentinya bersyukur karena dirinya dan adik tercinta bisa terbebas dari ikatan gaib itu. Meski pabrik tekstil dan rumah peninggalan alm. Ratih hangus terbakar, mereka bersyukur masih mempunyai tempat kost-kost an yang dikelola dengan baik dan berkembang.


Tanpa diketahui orang lain, Santi dan Reno sudah meruqiyah kost-kostan usaha mereka. Selain itu, penghasilan mereka juga beberapa disumbangkan untuk janda dan anak yatim. Mereka benar-benar memperhatikan orang yang membutuhkan karena pernah dalam posisi susah seperti itu.

__ADS_1


***


Tempat lain ....


Hera dan Della sudah membeli sebuah rumah di perumahan elite dengan harta hasil perjanjian. Ibu mereka jelas bertanya-tanya. Namun, selalu alasan ini itu sebagai jawaban yang tak logis. Tak perlu waktu lama, rumah dan mobil sudah mereka beli cash dan membuat orang-orang terkagum, heran.


"Dell, sepertinya bakal mudah cari lima cewek itu. Cuma cari yang perawan yang susah! Ha ha ha ...." ucap Hera yang memainkan ponsel terbaru. Dia membelinya pagi tadi.


"Iya, Kak. Ini di facebook sama instagram sudah banyak yang komentar soal postinganku rumah dan mobil baru. Merek penasaran, Kak. Ada yang inbox dan DM juga, tapi aku nggak yakin mereka masih suci," jawab Della yang juga sibuk dengan handphonenya.


"Kakak ada ide. Kita balas aja jual keperawanan. Sapa tahu mereka ada yang masih suci dan mau ikutan!" Hera merasa idenya cemerlang.


"Ah, Kakak ngaco! Ntar dikira simpenan Om-Om, tau! Nggak, ah!" Della tak berpikir hal yang sama.


"Terus gimana yang cari lika tumbalnya? Toh saat makhluk itu melakukan, kita nggak lihat wujudnya, 'kan? Cuma ngerasain aja and sakit dikit. Paginya, Ibu sembuh dan dua lemari sesaji penuh uang serta emas. Gampang banget 'kan? Nggak perlu kerja keras atau ngelayani buaya darat," jelas Hera yang agak ketus. Namun, setelah dipikir, perkataan Hera memang benar adanya bagi Della.


Della pun jadi setuju. "Ya, deh. Tapi cuma yang inbox atau DM yang kuberi tahu. Malu soalnya. Moga aja ada yang masih suci," kata Della menyetujui ide kakaknya.


Dua wanita itu tak sadar jika mereka akan semakin terjerat dalam kegelapan. Bima hanyalah perantara, tentunya semua menjadi milik Tuan Asmodeus Sang Penguasa Hawa Napsu.


Bima senang karena tugas yang tak mudah itu bukan hal yang mustahil. Meski waktu yang dia miliki tinggal empat belas hari sebelum purnama. Bima tetap optimis bisa menyelamatkan Ningsih.


Saat Bima hendak pindah ruang dan waktu, dia mulai merasa kesulitan. Bahkan dadanya sesak tak seperti biasanya. Bima menyadari ada sesuatu yang tak beres pada tubuhnya. Namun, dia belum tahu jika itu menjadi konsekuensi jika melanggar ketetapan dari Neraka.


***


Ningsih senang menerima bunga pemberian orang yang tak dikenal. Meskipun fans tanpa nama, tetapi dia senang diperhatikan. Mungkin dari pelanggan yang suka dengan masakkan di restonya, itu yang Ningsih pikirkan.


"Aldo, kerja yang bagus. Thanks ya ide-ide nama menunya. Konsumen pada suka!" ucap Ningsih dengan semangat saat masuk ke dapur restonya.


"Senang jika Bos cantik juga senang. Hari ini, bos cantik mau berjalan-jalan selepas kerja? Saya ingin mengajak Bos cantik melihat beberapa masakan trend yang ada di sekitar sini. Kita bisa mengadakan penelitian dan perbandingan rasa untuk meningkatkan kualitas masakan," kata Aldo dengan senyum manisnya.


Ningsih pun mau karena hal itu untuk kemajuan usahanya, "Boleh. Nanti aku bilang ke Joko untuk jemput kalau kutelepon saja."


"Bos cantik tak usah khawatir soal pulang. Nanti saya antar saja, kebetulan saya membawa mobil," tutur Aldo lembut.

__ADS_1


Ningsih pun mau. Menurut Ningsih, Aldo sudah profesional dan sangat paham dengan bidang kulinernya. Dia pun keluar untuk menemui Joko yang berada di parkiran resto.


"Joko, kamu pulang dulu aja. Nanti aku nyusul karena mau survei perbandingan makanan sama chef Aldo. Sama minta tolong bilang Nindy dan Pak Umar biar tidak khawatir." perintah Ningsih pada sopir pribadinya.


Joko tak bisa berkata apa pun selain mengiyakan perintah itu. Meski dalam benaknya, dia tak suka dengan cara Aldo menatap Ningsih. Apa boleh buat, perintah tetaplah perintah.


"Baik. Sampai jumpa," jawab Joko dengan singkat. Lalu dia masuk ke mobil dan melaju meninggalkan N&B Resto.


Setelah jam kerja Aldo berakhir dan rolling sift dilakukan, Ningsih sudah bersiap menunggu chef andalannya di parkiran. Aldo senang melihat bos cantiknya menunggu dirinya pulang.


"Bos cantik! Maaf nunggu lama. Saya tadi rolling sift sekalian pesan-pesan dulu," kata Aldo sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Iya, nggak apa. Panggil Ningsih, aja. Wah, kamu kalau pakai baju bebas gini kelihatan lebih berkarisma, ya?" sanjung Ningsih pada lelaki itu.


Mereka pun masuk ke mobil dan melakukan perjalanan ke tempat tujuan pertama. Resto ala korea yang hits. Aldo sengaja mengajak Ningsih berjelajah kuliner agar wanita itu punya pembanding dalam bisnisnya. Selain itu, Aldo ingin lebih dekat dengan Ningsih.


"Nah, ini Kekero Resto ala Koreaan. Bos cantik mau pesan apa?" tanya Aldo sambil menyodorkan menu saat mereka duduk di kursi pojok ruangan dengan meja kotak.


"Ehm, apa ya? Coba yang andalan di sini aja, gimana?" usul Ningsih.


"Ide bagus, Bos cantik. Aku tulis dulu, ya. Kalau di sini, kita harus ke nulis pesanan dan membayar pada waiters yang datang. Terus, nggak boleh pindah meja kalau sudah memesan. Beda sama tempat kita yang pemesanan dan pembayaran terpusat di kasir sedangkan waiters hanya mengantar pesanan dan mengambil alat makan kotor. Nanti, kita lihat lebih praktis yang mana," ujar Aldo menerangkan secara detail membuat Ningsih memperhatikan dengan teliti.


"Aku nggak salah pilih chef andalan. Selain pintar, masakannya juga enak, wajahnya tampan pula. Pantas saja gajinya di hotel sudah besar. Dia menjadi andalan yang tepat," batin Ningsih sambil mendengar penjelasan dari Aldo.


"Nah, paham, 'kan, Bos cantik?" tanya Aldo membuat Ningsih kaget.


"Iya, paham. Yaudah ayo pesan lalu makan," kata Ningsih dengan semangat.


Mereka pun memesan menu andalan dengan prosedur sesuai dengan resto itu. Setelah menunggu beberapa saat, makanan sudah tersedia di meja. Mereka pun menikmati makanan itu. Ningsih makan cukup banyak karena merasa masakan itu enak.


"Bos cantik, pelan-pelan saja yang makan. Nanti bisa tersedak. Oiya, masakan di sini memang enak karena ditambah soju dan bumbu asli korea. Oleh karena itu, harganya jauh lebih mahal dari street food lainnya. Tempatnya lumayan asyik, tapi penerangan kurang untuk sekelas resto." kata Aldo mulai menilai.


"Wah, Aldo memang ahli, ya. Aku suka kimchi ini, rasanya pas." Ningsih pun mulai menilai sebisanya. Dia tak ingin terlihat bodoh di hadapan pegawainya.


Aldo pun tersenyum menatap Ningsih. Sudah sejak lama, Aldo mengamati Ningsih. Bahkan melihat Ningsih saat dinner di hotel Sky Lounge tempat Aldo bekerja dahulu. Bisa bersama Ningsih dalam satu waktu dan tempat, membuat Aldo semakin terobsesi dengan bos cantiknya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2