
π JANGAN PERGI π
Melihat Bima datang, Budi dan PakLek Darjo langsung dalam posisi bertahan. Mereka salah menerka, Bima hanya ingin melihat istrinya yang ternyata tak sadarkan diri beberapa hari. Sama sekali tak ada dalam pikiran Bima untuk mengambil Ningsih dan membawanya dalam siksa api neraka.
"Bi-Bima ...." lirih Ningsih saat melihat suami gaibnya datang dengan kondisi luka parah.
"Tante, jangan ke sana. Aku nggak lihat apa-apa, tapi sepertinya dia datang. Jangan ke sana," kata Santi mencegah Tante Ningsih yang hendak berdiri.
Budi dan PakLek Darjo langsung membuat pagar gaib yang lebih kecil, semacam kubah yang melapisi ruang tamu. Bima menatap Ningsih tanpa memasuki ruang tamu.
"NINGSIH, JAGA DIRIMU. KAMU BERHAK BAHAGIA." ucap Bima yang kemudian menghilang.
Ningsih menangis. Tak tahu lagi harus bagaimana, dia pun berteriak. "Bima! Bima! Jangan pergi, Bima ...."
"Istigfar, Tante. Istigfar ...." kata Santi yang mencoba menenangkan Tante Ningsih.
Budi dan PakLek Darjo saling menatap. Seakan bertanya-tanya kenapa Iblis itu pergi? Bukankah dia akan membawa Ningsih setelah tumbal ketujuh telah diambil?
Semua orang salah mengira tentang Bima. Mungkin, jika tak ada rasa cinta di antara dua makhluk beda dunia itu, kemungkinan membawa Ningsih ke neraka bukan hal mustahil. Namun, berbeda dengan saat ini. Bima jatuh cinta, merasakan rasa yang belum pernah dirasakan selama ratusan tahun menjadi iblis. Bima tak akan tega membawa Ningsih. Berbeda jika Tuan Chernobog yang ikut campur dalam hal itu.
Ningsih berdiri, lalu menghampiri Budi dan PakLek Darjo. "Sudah kukatakan, aku mau bertaubat tetapi jangan lukai Bima! Mengapa kalian membuatnya terluka, ha? Mengapa kalian ingkar janji?" seru Ningsih yang mulai kehilangan akal sehatnya.
Melihat suaminya sendirian dan terluka, Ningsih merasakan hatinya tersayat-sayat. Sangat sakit.
"Tenang, Ningsih. Kami berusaha sebaik mungkin. Maaf jika membuatmu marah. Namun, sebentar lagi kamu akan diruqiyah." ucap PakLek Darjo yang tak mengerti dengan semua ini. Orang tua itu tak bisa memahami cinta dua dunia yang Ningsih dan Bima rasakan.
"Pak ... kumohon, jangan musnahkan Bima. Aku sudah berjanji akan bertaubat. Jangan musnahkan dia." lirih Ningsib yang kemudian bersimpuh di hadapan PakLek Darjo dan Budi.
Air mata Ningsih tak bisa dibendung lagi. Dia menangis. Menangisi hidupnya dan cintanya. Santi mencoba mengajak Tante Ningsih berdiri, tetapi dia tak mau.
"Kalian tidak tahu perjuangan cinta kami. Dia ... yang kalian sebut sebagai iblis, pernah rela dihukum cambuk seribu kali oleh Tuannya agar aku tak mati. Dia ... yang kalian sebut sebagai iblis, pernah mengalami seminggu membeku di kutub utara agar aku tak disiksa. Dia ... yang kalian sebut sebagai iblis, menyelamatkan keluargaku saat kecelakaan menimpa, bahkan hidup Joko harusnya berakhir saat mobil kecelakaan tetapi dia mau menyelamatkan orang selain aku. Berapa kali, dia menolongku. Berapa kali, dia mengobati rasa sakitku. Berkali-kali ... Bima, hanya Bima yang mengerti deritaku sejak aku bersama Agus. Kalian tahu apa?"
Mendengar hal itu, semua hanya terdiam dan hening. Tak mampu berkata apa pun karena soal rasa cinta, tak ada salah dan benar. Namun, semua ini sesat. Ningsih mengorbankan orang lain untuk menggapai kesuksesannya. Menyekutukan Tuhan dengan berharap pada makhluk gaib. Bagaimana bisa menyadarkan orang yang jatuh cinta?
Saat mereka terdiam, Reno pun sampai dan memarkirkan mobilnya di garasi. Rombongan itu segera masuk dan melihat Ningsih yang masih berlutut di hadapan PakLek Darjo dan Budi. Keadaan semakin canggung.
Reno segera menghampiri Tante Ningsih yang masih menangis. "Tante, sudah jangan menangis. Tante baru saja sembuh dan sadar dari pingsan. Jangan sampai sakit lagi. Ayo semangat, Tante. Jika cinta menjadi saling menyakitkan, baiknya lepaskanlah. Bahagia tak harus bersama dan memiliki. Tante harus semangat." kata Reno yang berhasil membuat tantenya berdiri dan duduk di sofa.
__ADS_1
Santi langsung mengambil air minum dalam botol yang Budi sediakan untuk ruqiyah. "Ini, minum dulu, Tante."
Ningsih pun menenggak air putih itu hingga habis. Dia pun mulai tenang.
Budi mendekati rombongan ayahnya, lalu berkata, "Biarkan Ningsih tenang dulu, Pak. Dia tadi histeris melihat suami gaibnya ke sini dengan kondisi luka parah. Budi tahu jika Bapak dan kalian semua sudah berusaha sebaik mungkin. Nanti setelah Ningsih tenang, kita mulai ruqiyahnya. Semoga saja Tuan dari makhluk itu tidak ikut campur karena akan semakin susah jika ada pihak lain yang lebih kuat datang."
"Iya, Budi. Bapak juga sedang memulihkan energi. Kelima saudaramu juga luka parah. Kamu bantu Bapak menyembuhkan mereka, ya?" ucap Pak Anwar yang kemudian mengajak duduk bersila.
Santi berinisiatif untuk memesan makanan via online delivery order. Perlawanan makhluk gaib memerlukan energi besar, jika mereka tak makan dari mana energi itu didapat. Reno masih menemani Tante Ningsih yang tertegun, duduk di sofa.
***
Bima pergi ke danau, mencari gadis buta ....
Sesampainya di sana, Bima langsung bertemu dengan gadis buta itu. Seakan memang Laurent juga menunggunya datang.
"GADIS BUTA ... TERIMA KASIH." kata Bima mendekatinya.
"Sama-sama, iblis bucin yang suka galau. Eh, kenapa kamu terluka parah? Habis berkelahi?" tanya Laurent yang seperti biasa, menyebalkan.
"Oh, begitu. Tuanmu sudah mengincarnya sejak lama, bukan? Sepertinya susah untuk membuat Tuanmu tak mengambilnya. Manusia di sana salah sangka denganmu, mereka kira kamu yang berbahaya. Padahal ada yang lebih bahaya. Hehehe ...." ucap Laurent dengan santai seakan dia tahu semuanya dengan tepat dan benar.
"KAU BISA MENOLONG?" tanya Bima yang kemudian menatap gadis itu.
Laurent membuang pandangan ke arah danau yang berair tenang. Dia pun memiliki ide. "Bisa. Aku bisa menolongmu. Namun, ini tak akan mudah." jawab Laurent membuat ada secerca harapan untuk Bima.
"KATAKAN SAJA. ASAL NINGSIH SELAMAT."
Bima pun mendengarkan ide Laurent. Hal gila bagi Bima, tetapi tak pernah dia berpikir seperti itu. Kemungkinan berhasil lebih besar karena saat ini yang mengincar Ningsih adalah Tuan Chernobog. Bima yang sudah terluka parah tak mungkin bisa menjaga Ningsih dari Tuannya sendiri. Lalu ... rombongan yang Santi dan Reno bawa tak cukup kuat melawan Tuan Chernobog yang menjadi salah satu panglima Neraka.
"IDE BAGUS. AKU MENGANDALKANMU, LAURENT. TERIMA KASIH TELAH MEMBANTU KAMI." lirih Bima yang disambut senyuman oleh gadis buta yang periang itu.
***
Kondisi di rumah Ningsih ....
Ningsih sudah tenang dan ruqiyah pun dimulai. Tak hanya Ningsih yang tersiksa, Bima pun merasakannya karena mereka berdua telah menyatu cukup lama. Kyai Anwar dan PakLek Darjo berusaha sebaik mungkin. Ningsih berkali-kali meraung, kejang-kejang, bahkan muntah darah. Kekuatan iblis yang selama ini menyelimuti hidupnya begitu besar.
__ADS_1
Bima yang sudah terluka parah, pasrah akan keadaan. "JIKA AKU AKHIRNYA MUSNAH, KAU HARUS HIDUP BAHAGIA. BERJANJILAH, NINGSIH." kata Bima yang memegang erat tangan istrinya.
"Aku tak ingin kamu pergi. Jangan pergi, Bima." batin Ningsih yang juga merasakan sakit luar biasa.
Semua orang di sana tak sadar jika apa yang dilakukan mengakibatkan Tuan Chernobog turun tangan. Bima sudah terluka parah, hal itu menjadi alasan mengapa tak melawan orang-orang yang sedang mencoba melepaskan Ningsih dari jerat iblis. Tuan Chernobog geram dan menampakkan diri.
Seketika, nuansa di ruangan itu menjadi mencengkam. Angin dingin menusuk tulang, entah dari mana asalnya. Kobaran api pun muncul perlahan dari dalam lantai.
"Wahai manusia yang sombong dan suka ikut campur urusan orang lain, berhentilah! Kalian tidak akan bisa mengambil wanita ini. Dia sudah menjadi penghuni nerakaku." gertak Tuan Chernobog yang keluar dari bara api yang tembus dari dalam lantai itu.
Makhluk mengerikan, tak pernah mereka lihat sebelumnya. Salah satu panglima Neraka yang sering disebutkan pada zaman dahulu, kali ini nampak di hadapan PakLek Darjo, Pak Anwar, Budi, dan kelima santri. Sedangkan Reno dan Santi sudah pingsan sejak melihat makhluk itu muncul. Melihatnya pun tak kuat, apa lagi mendengar suaranya yang mengerikan.
"Allah hu Akbar!" seru Pak Anwar sambil melemparkan tasbih ke arah makhluk itu.
Iblis penghuni Neraka yang sesungguhnya, tak mudah dikalahkan, tak mudah dilukai. Berbeda dengan Bima yang dahulu juga manusia. Tuan Chernobog dengan mudah menghalau dan membalas dengan kekuatannya.
Seketika kedelapan orang itu tersungkur, jatuh. Kelima santri segera berdiri. Mereka membuat lingkaran yang mengelilingi iblis yang besar dan kuat itu. "Allah hu Akbar!" teriak mereka bersamaan melempar tasbih dan berdoa.
"Jangan!" Pak Anwar berteriak mencoba mencegah, tetapi apa daya, semua terjadi begitu cepat. Saat itu, beliau hanya bisa menarik Ridho dari serangan makhluk mengerikan itu.
Tuan Chernobog bukan tandingan mereka. Keempat santri itu hangus dilalap api dan berubah menjadi abu. Ridho yang ditarik Pak Anwar seketika gemetar ketakutan melihat saudara-saudaranya menjadi abu.
"Sudah kubilang, jangan ikut campur! Kubawa wanita ini!" gertak Tuan Chernobog yang lalu melihat ke arah Ningsih.
Namun, tak disangka, roh Ningsih sudah tak ada di raganya. Roh Ningsih menghilang, sedangkan raganya tersungkur lemas di lantai.
"Apa-apaan ini? Siapa yang membawa kabur roh wanita yang akan menjadi budakku? Arrrggghh!" geram Tuan Chernobog yang kemudian menghilang, masuk dalam api yang menyurut kembali ke dalam lantai.
Budi langsung menghampiri bapaknya. "Pak, Bapak tak apa, kan?" tanya Budi cemas.
"Bapak tak apa, Nak. Bagaimana dengan Pak Darjo?" ucap Pak Anwar yang justru mengkhawatirkan Pak Darjo.
"Saya tak apa, Pak Kyai. Bagaimana ini dengan nasib para santri tadi? Innalilahi ...." lirih PakLek yang masih syok melihat keempat santri hangus dan seketika menghilang menjadi abu.
Ridho yang ketakutan masih gemetar dan tak bisa berbicara. "Ridho ... Ridho ... istigfar. Ridho ... jangan sampai lolos pikiranmu," ucap Budi berkali-kali sambil menepuk punggung Ridho tetapi tak ada respon.
PakLek berdiri dan mencoba membangunkan Reno dan Santi yang pingsan. Keadaan menjadi kacau karena Ningsih pun pingsan, entah karena apa.
__ADS_1