
π MAKHLUK MENGERIKAN π
Restauran ala korea, menjadi saksi kebersamaan Aldo dan Ningsih yang sekedar bos dan pegawai. Aldo menatap sendu wanita di hadapannya. Setelah menyelesaikan santapan, mereka pun beranjak pergi untuk mengunjungi tempat lainnya. Lelaki itu memendam perasaan dengan Ningsih. Dia menanti waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan itu.
Aldo pun mengajak Ningsih ke restauran lainnya spesial steak. "Ini adalah restauran terkenal di daerah sini. Steaknya terkenal lembut dan khas. Kita harus mencicipinya," ucap Aldo sambil menggandengan tangan Ningsih tanpa direncanakan.
Ningsib merasa tak enak dan melepaskan genggaman tangan Aldo dengan perlahan, "Maaf, ya. Jangan gandeng begini. Aku nggak nyaman."
"Oh, maaf, bos cantik. Saya tak sengaja," lirih Aldo menyesal.
Ningsih pun tersenyum. Tak ingin membuat canggung keadaan itu. Saat mereka duduk di dalam restauran steak itu, ada seorang wanita yang menatap tajam ke arah Ningsih. Seakan wanita itu tak suka dengan kehadiran Ningsih di sana.
"Aldo, kok tempat ini agak horor, ya?" bisik Ningsih pada chef andalannya.
"Iya, memang agak remang-remang. Kurang cahaya di restauran ini. Namun, pembelinya sangat banyak dan sebagian besar konglomerat. Kita pesan menu andalannya, ya?" ucap Aldo pada bos cantik di hadapannya.
"Iya, Aldo. Cuma hawanya di sini agak beda."
Beberapa kali bulu kudu Ningsih meremang. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan restauran itu. Terlebih saat Ningsig melihat seorang wanita menatapnya tajam dari balik pintu arah ke dapur.
"Bos? Kok gemetaran? Ada apa?" tanya Aldo sambil menggoyangkan tangan Ningsih.
"Al ... kamu lihat wanita itu? Kok dari tadi ngelihatin sini, ya? Tatapannya ngeri." ucap Ningsih seraya memberi aba-aba ke arah wanita aneh itu.
"Oh, dia pemilik restauran ini. Bukannya waktu opening, dia datang dan memberi kotak hadiah untuk Bos?"
Seketika Ningsih langsung ingat kejadian tempo lalu soal kotak isi kecoa. Jangan-jangan wanita itu pelakunya.
"Al ... kita pindah aja, yuk? Tempat ini agak nggak beres. Wanita itu juga ngirim kotak isi kecoa waktu itu." bisik Ningsih yang masih gemetar merasakan hal aneh di sana.
"Itu pesanan kita sudah datang, makan dulu aja, Bos. Terus kita cabut saja."
Dua porsi steak yang terlihat nikmat tersaji di hadapan Aldo dan Ningsih. Bukannya napsu makan, Ningsih malah mual mencium aromanya. Beda dengan Aldo yang segera menyantap makanan itu perlahan. Ningsih melihat ada sesosok makhluk keluar dari pintu dapur dan keliling dari meja ke meja.
Sosok menakutkan dengan lidah panjang menjulur di piring makan para pengunjung. Sontak saja hal itu membuat Ningsih tak kuat di sana dan keluar sebelum menyentuh makananannya.
Aldo yang tak melihat makhluk itu, tidak berpikir hal buruk. Namun, melihat Ningsih pergi, dia langsung membayar dan menyusul wanita itu. Makhluk menjijikan dan mengerikan itu belum sampai ke meja tempat makan Aldo dan Ningsih.
Wanita pemilik restauran itu menyeringai melihat Ningsih berlalu pergi. Tak disangka, wanita itu juga bersekutu dengan makhluk Neraka. Namun, hal yang dia ambil berbeda dengan apa yang ditempuh Ningsih.
__ADS_1
Aldo berlari mengejar Ningsih. Lalu meraih tangan bos cantiknya. "Ada apa, Bos? Ningsih, ada apa?" Aldo khawatir sampai melupakan mobilnya masih di tempat parkiran.
"Aldo, ayo cepat pergi. Nanti aku ceritakan. Please ...." lirih Ningsih
"Iya, kamu tunggu sini, ya. Aku ambil mobil dulu," ucap Aldo sambil menenangkan Ningsih yang mulai terlihat pucat.
Aldo segera berlari ke tempat parkir dan mengambil mobilnya. Dia sangat khawatir dengan kondisi Ningsih. Sesampainya di pinggir jalan, Ningsih masuk ke mobil Aldo. Kemudian perlahan mobil itu pun pergi.
Setelah Ningsih mulai tenang, Aldo pun menghentikan mobilnya di sebuah outlet coffee. Dia mengajak Ningsih minum kopi atau cokelat untuk menenangkan pikirannya. Aldo memesan sesuai yang Ningsih tunjuk, kemudian duduk di samping Ningsih.
"Ningsih, maaf aku memanggil namamu saja. Kamu nggak apa-apa, 'kan? Ada apa tadi di restauran itu?" tanya Aldo sambil mengusap bahu wanita di sampingnya.
Ningsih mengirup napas dalam, lalu menghempaskannya perlahan. "Aldo ... kamu percaya hal gaib, nggak?" Ningsih menatap lelaki itu dengan lekat dan menanti reaksinya.
"Iya, aku percaya dan bisa merasakan, tetapi tak bisa melihatnya."
"Tadi ... di restauran itu ada makhluk mengerikan dengan lidah menjulur panjang. Mendatangi tiap meja pelanggan dan menjilat makanan yang dimakan mereka. Belum sampai ke meja kita, aku sudah ketakutan dan berlari keluar. Mata besar dan merah, tubuh penuh bulu hitam yang lebat, serta tatapan wanita pemilik tempat itu sungguh menakutkan." jelas Ningsih yang masih gemetar.
Aldo segera menenangkan Ningsih, "Tak apa. Maaf, aku mengajak ke sana karena penasaran. Sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya. Kamu tenangkan diri dulu."
"Permisi, pesanananya satu americano coffee dan chocolatte cheese, ya? Silahkan." kata pelayan mengantarkan dua cup minuman hangat. Aldo pun mengangguk dan tersenyum.
Ningsih pun meminum perlahan. Dia pun merasa sedikit lega. "Thanks, Aldo ...."
"Anytime, Bos cantik. Jangan khawatir, aku percaya perkataanmu. Memang pemilik restauran itu agak aneh. Ternyata rumor pesugihan atau penglaris itu nyata, ya?" Aldo menenggak kopi miliknya perlahan sambil meniup agar agak dingin.
"Rumor apa, Aldo? Apa sudah terkenal hal itu di restauran tadi?" Ningsih makin penasaran.
"Gini ... ada rumor buruk tentang wanita pemilik restauran itu. Aku tahu dari koki yang berhenti dari sana. Dahulu pemilik restauran itu hampir bangkrut. Usahanya makin sepi karena tidak enak. Suaminya sakit parah, anak-anaknya berhenti sekolah karena kondisi ekonomi yang hancur. Saat mereka kehabisan daging dan tak bisa membeli lagi, wanita itu memotong anaknya untuk dijadikan steak tanpa sepengetahuan orang lain. Koki yang mengelola masakan jadi curiga karena teksture lembut daging itu dan rasanya berbeda. Bulan berikutnya, wanita itu membawa sesaji dan meletakkan di pojok dapur. Koki itu bertanya, dan jawaban mengerikan dia dapatkan." Aldo menceritakan dengan seksama
"Jawaban apa? Dia juga kanibal? Ngeri ...." Ningsih makin takut mendengar cerita itu. Dia sesaat lupa jika mempunyai suami gaib yang juga menakutkan.
"Pemilik restauran itu datang ke paranormal untuk mengikuti penglaris. Menumbalkan anak dan suaminya demi kesuksesan dan uang. Koki itu yang ketakutan lantas berhenti bekerja. Baru seminggu berhenti, dia cerita padaku, kemudian tak terdengar lagi kabarnya di mana. Aku curiga juga, mungkin kawanku itu juga menjadi tumbal," jelas Aldo yang kemudian bersedih.
"Sabar, ya, Aldo. Mungkin teman kamu masih baik-baik saja hanya butuh waktu menyendiri." Ningsih mencoba menenangkan hati Aldo.
"Sudah tiga tahun ... dia menghilang. Keluarganya mencari juga tak ketemu. Akhirnya mau tak mau harus diikhlaskan."
Ningsih pun terdiam. Dia jadi teringat dengan Rudi yang pernah dijadikan tumbal. Dia juga teringat Bayu sekeluarga. Ningsih merasa sesak di dada. Hal yang tak pernah dia pikirkan. Dia sudah jauh masuk ke dunia Iblis dan terjerat dalam segala tipu daya kemudahan yang dia dapatkan dengan mengorbankan hidup orang lain.
__ADS_1
Ningsih mengingat semua hal yang dia lakukan dan yang dia lalui. Semua berakhir dalam kesendirian. Wahyu sudah jauh dari pelukkannya. Demi keselamatan anaknya, Ningsih rela melepaskan puteranya di pesantren sesuai keputusan Santi dan Reno. Dia pun menatap kosong masa depannya yang tak jelas. Bima pun sering menghilang begitu saja. Hidup normal rasanya hanya impian belaka, karena tak ada jalan untuk kembali. Ningsih seakan berjalan, menyeberang jurang lewat jempatan, lalu jempatan itu putus dan dia tak bisa kembali lagi.
Aldo menyentuh tangan Ningsih. "Ningsih, apa yang kamu pikirkan?" tanya Aldo yang melihat Ningsih melamun.
"Aldo, apakah wanita pemilik restauran itu bisa kembali menjadi orang normal jika melepaskan makhluk gaib yang dia anut?" lirih Ningsih yang masih melamun.
"Setahuku, tidak bisa. Saat dia mengambil jalan itu, secara tak langsung dia menjual hidupnya dan jiwanya pada kegelapan. Meski bertaubat, jika sudah tahunan, kemungkinan selamat dan kembali normal sangat kecil. Nyatanya keluarganya habis menjadi tumbal." kata Aldo dengan serius.
Ningsih sudah tahu, jawaban seperti juga yang akan dia dapatkan jika dia bertanya soal dirinya dan Bima. Ningsih makin sedih. Menyesal pun percuma.
"Iya, tidak ada jalan kembali, ya?"
Mereka pun menghabiskan minuman dan pergi. Kembali mengendarai mobil, Aldo mengantar Ningsih sampai depan rumahnya. Aldo menantap rumah itu. Megah.
Sebelum berlalu pergi, sempat Ningsih mengajaknya mampir, tetapi hari sudah malam. Aldo lebih memilih berpamitan.
Ningsih pun masuk ke rumah setelah satpamnya membuka gerbang. Pak Umar disana menyapa, "Malam, Nyonya. Tumben baru pulang."
"Iya, Pak Umar. Baru aja survei makanan malah ketemu setan. Ha ha ha ...." jawab Ningsih sambil berlalu ke dalam rumah.
"Hati-hati, Nyonya. Ntar setannya jatuh cintrong!" seru Pak Umar bercanda.
Ningsih pun tersenyum. Dia memang sudah membuat dedengkotnya setan jatuh cinta padanya. Ningsih segera ke kamar untuk mandi air hangat dan bersantai.
Beberapa saat kemudian, Nindy membawa teh hangat dan salad ke kamar Ningsih. "Tante ... ini teh hangat dan salad buat Tante." kata Nindy sambil mengetuk pintu kamar Ningsih.
"Iya, sini masuk." jawab Ningsih sambil membuka pintunya.
Nindy meletakkan nampan di meja, lalu Ningsih menyuruhnya duduk dahulu. Nindy duduk di pinggir ranjang Ningsih sambil takjub melihat seisi kamar wanita cantik itu. Tak sengaja Nindy melihat cincin pemberian Reno di meja rias Tante Ningsih.
"Tante, i-itu cincin Nindy yang dari Reno, bukan?" lirih Nindy sambil menunjuk benda berkilau di atas meja rias Ningsih.
"Oh, iya. Itu Tante nemuin. Mau Tante kembalikan ke kamu malah lupa, maaf ya." jawab Ningsih yang bingung karena lupa mengembalikan cincin itu kepada Nindy.
"Kok bisa, Tante? Bukannya semua dicuri perampok yang belum ditemukan itu?" Nindy pun terkejut dan heran.
"Iya, mungkin orangnya kelupaan. Itu ketinggalan di pojokkan kamar Tante. Mungkin jatuh," ucap Ningsih memberi alasan yang sekiranya logis.
Nindy pun menatap heran Tantenya. Rasa curiga masih ada dalam benaknya. Bagaimana bisa cincin itu kembali?
__ADS_1
Bersambung ....