JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 31


__ADS_3

...🔥 PENGAKUAN 🔥...


Setelah Wahyu menjelaskan kemungkinan kenapa Lisa ketakutan, Nindy dan Reno saling menatap. Seakan mereka saling bertanya dalam pandangan. Hal itu membuat Nindy semakin takut jika ketahuan.


Meski Bima, Alex, dan Wahyu tahu siapa pelakunya, mereka bungkam dan tidak mau memojokkan Nindy. Mereka menunggu Nindy untuk mengaku dari pada membuatnya tertuduh.


"Aku mau mengaku," ucap Reno membuat semua yang di ruang tamu kaget dan menatapnya.


"Sebenarnya aku sudah tahu Lisa memiliki kemampuan lebih. Waktu itu aku bertemu dua pemuda yang menceritakan hal itu. Lisa akan sering diganggu makluk gaib karena dia istimewa. Aku memang belum cerita ke siapa pun karena takut Lisa semakin bingung," imbuh Reno membuat Nindy makin kalut.


Nindy tak menyangka jika anaknya memiliki indera keenam atau yang sering disebut indigo. Pantas saja Lisa menghindari Nindy setelah dia pulang dari ritual bulan purnama pertama. Nindy merasa menyesal membuat puterinya ketakutan.


"Reno, tak apa. Tidak ada kata terlambat untuk mengetahui. Terpenting setelah ini harus lebih ekstra mengawasi Lisa," ucap Ningsih menengahi suasana yang serba tak enak itu.


"Oma ... emangnya Lisa kenapa, kok, harus diawasi?" lirih gadis kecil yang masih di dalam pelukkan Ningsih.


"Lisa adalah anak istimewa. Jangan takut lagi, ya. Kami akan menjaga Lisa," kata Bima sambil mengusap rambut gadis kecil itu.


Lisa pun tersenyum. Dia merasa tenang dengan adanya Ningsih sekeluarga. Sedangkan Nindy makin gelisah. Dia takut jika ketahuan. Bagaimana jika Reno marah besar dan justru menceraikannya ketika sadar apa yang terjadi?


"Reno, tadi kamu bilang dua pemuda? Mereka siapa?" tanya Bima kepada Reno yang kemudian menjelaskan pertemuan dengan dua pemuda itu di stasiun kereta api.


"Reno, kenapa kamu ke stasiun kereta, Sayang? Menjemput siapa?" selidik Nindy yang justru curiga.


Reno pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pun mengaku, meski tahu Nindy akan marah. "Aku jemput Dinda. Jangan marah. Lisa ikut, kok. Lalu ketemu dua pemuda itu namanya Gio dan Gilang. Mereka beri pagar gaib untuk Lisa."


Mendengar itu, Nindy pun meradang. "Kamu, ga! Udah ngapain aja ama Dinda! Udah kutebak sejak dia ke sini, kamu jadi aneh. Malah jemput juga. Emangnya kalian pacaran atau apa, sih?" bentak Nindy kepada Reno membuat semua di ruang tamu jadi tak enak hati.


Nindy pun pergi dari ruang tamu dan masuk ke kamar serta membanting pintu saat menutupnya. Nindy yang dihinggapi rasa cemburu pun menangis tersedu-sedu. Dia merasa kecewa dan benar kekhawatirannya terjadi.


Reno pun berdiri dan hendak menyusul. Segera Bima menarik tangan Reno. "Biarkan saja dulu. Dia salah paham. Dinda sudah cerita dan tak ada apa-apa, bukan?" ucap Bima yang tak ingin suasana semakin keruh.


Reno pun mengangguk paham. Wahyu mendekati Reno dan mengajaknya bicara empat mata di ruangan lain. Reno pun setuju.


"Kak, sebelumnya Wahyu minta maaf kalau misal menyinggung perasaan Kak Reno. Tapi, apa Kakak merasa Kak Nindy berubah belakangan ini? Dan apa Kakak merasa sesuatu juga yang berubah?" tanya Wahyu saat duduk di taman belakang rumah.

__ADS_1


"Emm, entah Wahyu. Hanya saja belakangan ini aku tak bisa jauh dari Nindy. Takut sesuatu terjadi atau takut kehilangan," lirih Reno yang mulai bingung dengan perasaannya.


Wahyu pun menepuk pundak Reno tiga kali dan berdoa dalam hati. Setelah itu Reno langsung muntah-muntah. "Allahu akbar!" seru Wahyu yang tahu reaksi iblis itu mulai terlihat.


Reno muntah seperti gumpalan darah warna hitam. Iblis yang bersekutu dengan Nindy sempat membuat pikiran Reno kacau. Wahyu pun menyodorkan sebotol air yang sudah didoakan untuk ruqiyah pribadi. Reno pun meminun air itu. Lalu kepalanya terasa pening. Reno pun sadar jika ada banyak hal aneh beberapa hari ini.


"Wahyu, terima kasih banyak," lirih Reno yang mulai merasa tubuhnya ringan.


"Alhamdulilah kalau Kak Reno sudah membaik. Sekarang tinggal Kak Nindy. Semoga semua baik-baik saja. Kak Reno, bolehkah Wahyu meminta sesuatu?" kata Wahyu memastikan terlebih dahulu.


"Iya Wahyu, ada apa?"


"Jika ada sesuatu yang nanti Kak Nindy katakan, seberapa pahitnya itu, Kak Reno tetap sabar dan tenang ya. Kak Reno jangan membenci Kak Nindy," pinta Wahyu.


"Emangnya ada apa dengan Nindy? Dia memang masih marah, tapi aku hendak membujuknya." Reno pun khawatir karena isterinya di kamar menangis tanpa ada yang menenangkan.


"Kak Reno janji dulu. Agar nanti semua berjalan dengan baik. Kak Reno tenangkan diri dulu," ujar Wahyu sambil menepuk-nepuk pundak Reno.


"Iya, Wahyu. Insyaallah ya." Reno pun tersenyum. Lebih tenang saat ini tidak seperti tadi.


"Nindy, Tante bukannya mau membela siapa-siapa, tetapi ada baiknya bicara baik-baik dulu. Jangan salah paham," lirih Ningsih sambil mengelus punggung Nindy yang masih menangis.


"Ta-tante ... aku sedih banget. Tante tahu, kan, kalau Dinda itu dari dulu suka deketi Reno. Nindy nggak suka Reno dekat lagi sama Dinda. Tante tahu kan apa yang Nindy rasa? Sakit banget," kata Nindy sambil terisak tangis menahan luka hati.


"Iya, Tante tahu. Sudah, sabar. Kita selesaiin bersama, yuk. Ada Tante dan Om Bima juga. Nggak apa, Nindy." Ningsih membujuk Nindy untuk keluar dari kamar. Akhirnya setelah perbincangan panjang, Nindy pun mau keluar kamar.


Nindy dan Ningsih kembali ke ruang tamu. Sedangkan Alex mengajak Lisa bermain di taman belakang rumah agar tidak mendengar percakapan orang dewasa. Tinggallah Bima, Wahyu, Reno, Ningsih, dan Nindy di ruang tamu.


Mereka pun menbahas hal ini. Mulai dari Reno meminta maaf karena menjemput Dinda tanpa memberi tahu Nindy, hingga akhirnya percakapan berlanjut soal sosok yang Lisa takuti. Lisa bercerita tadi saat Nindy menangis di kamar.


"Nindy, apakah ada yang ingin kamu katakan? Kami pasti akan membantu jika kamu kesusahan. Tak usah malu, Nindy. Kalau kamu cerita semuanya, pasti akan ada jalan keluar terbaik." kata Ningsih yang coba membuat Nindy berbicara.


Nindy pun terdiam lalu menunduk. Dia pun meneteskan air mata kembali. "Maaf ... maafin Nindy. Semua salahku, Pa. Aku cemburu padamu. Aku marah ketika Dinda ke sini. Aku ... maafkan aku."


Reno menatap Nindy. Dia tidak marah. Justru dia memeluk isterinya. "Mama sayang, ada apa? Cerita saja. Papa janji tidak akan marah. Papa sayang dengan Mama. Lisa juga sayang Mamanya. Dia nggak mau ada hal buruk pada keluarga kita."

__ADS_1


Perkataan Reno makin membuat Nindy merasa bersalah. Dia pun menangis. Sejenak suasana menjadi haru. Hanya suara tangis Nindy yang terdengar.


Beberapa saat kemudian, Nindy mengatur napas. Dia pun mengusap air mata di wajahnya. Reno mengambil tisu untuk isterinya. Setelah itu, Nindy pun menyatakan pengakuan.


"Maaf ... Nindy mengaku ... Kawan Nindy ada yang mengusulkan ke cenayang. Pergi ke orang pintar agar membuat Reno setia dan peduli kepadaku. Aku salah. Iblis itu ...." lirih Nindy yang kemudian terhenti.


Reno pun terkejut dengan pengakuat Nindy. Namun, dia sudah janji tidak akan marah. Dia pun mencoba menenangkan Nindy.


Nindy menghindar. Tidak ingin disentuh oleh Reno. "Jangan sentuh aku. Aku menjijikkan. Aku sudah membuat perjanjian dan sudah melayani iblis itu kemarin saat purnama. Maafkan aku, Reno Jika kamu mau marah, tak apa. Aku pantas untuk dimarahi," imbuh Nindy yang makin merasa rendah hati. Dia merasa bersalah atas sikapnya yang gegabah.


Wahyu justru tersenyum mendengar pengakuan Nindy. Dia menengahi situasi itu. "Alhamdulilah kalau Kak Nindy mau mengakui itu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jika umatNya mengaku dan bertaubat, pintu pengampunan selalu terbuka. Apalagi kita sebagai manusia. Kak Nindy sabar, ya. Nanti Wahyu bantu ruqiyah sendiri," kata Wahyu membuat Nindy merasa ada sedikit harapan untuk dirinya mengubah nasib.


Nindy menyesal atas perbuatannya yang gegabah dan bersifat semu. Dia sudah membuat keluarga dalam masalah. Saat hendak berbicara, Nindy pun kehilangan kesadaran. Dia kejang dan tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Dasar pengganggu! Kalian ini sunggu menyebalkan. Ha ha ha ...." kata Zatan yang masuk ke tubuh Nindy.


Mereka pun terkejut. "Sayang!" seru Reno yang khawatir melihat Nindy melayang.


"Ada apa Reno sayang? Ha ha ha ... bodohnya kalian! Menyebalkan iblis buangan membela manusia!" Zatan memancing emosi Bima. Namun tidak berhasil.


"Kami sudah tahu kau biang keroknya. Keluar dari tubuhnya. Hadapi kami!" gertak Bima pada Zatan.


"Tidak semudah itu. Ayo bertarung. Hadapi aku. Kita lihat tubuh ini kuat atau tidak menahan kekuatanku yang luar biasa di dalamnya," ucap Zatan sambil menyeringai.


Tentu saja Bima tahu ini bahaya untuk Nindy. Jika tubuhnya tak kuat, Nindy bisa meninggal karena kekuatan Zatan saat merasuk ke tubuhnya sangat besar dan tak bisa ditahan.


"Kita bertempur di tempat lain saja. Lepaskan wanita itu. Apa yang kau mau dan siapa tuanmu?" Bima mencoba negosiasi meski semua percuma tak membuahkan hasil.


"Ha ha ha ... apa kau berpikir aku mau kau bujuk? Iblis tak berguna! Oh, ini isterimu, ya? Wanita yang sangat menggairahkan hingga kau mau membelanya dan mengkhianati neraka? Bagaimana kalau aku menggunakanny?" kata Zatan yang langsung meninggalkan tubuh Nindy dan mencoba masuk ke tubuh Ningsih.


Nindy jatuh dan langsung ditangkap oleh Reno. Tubuhnya lemas dan tak sadarkan diri. Sedangkan saat Zatan hendak masuk tubuh Ningsih, Wahyu langsung membaca doa dan menepuk tubuh ibunya. Zatan teepental. Dia tak bisa masuk ke tubuh Ningsih. Dia menyeringai dan hendak masuk ke tubuh Nindy lagi.


Wahyu langsung berdoa dan menepuk tubuh Nindy yang masih tak sadarkan diri. Zatan terpental lagi dan kali ini dia sangat marah. "Dasar manusia menyebalkan! Sudah bosan hidup ya!" gertak Zatan yang menunjukkan wujud asli yang mengerikan.


Wahyu mengeluarkan tasbihnya. Dia tidak takut dab tidak akan menyerah. Bima membuat pagar gaib untuk Ningsih, Nindy, dan Reno. Dia pun memanggil Alex untuk waspada. "Alex! Bawa Lisa ke pagar gaib!" seru Bima.

__ADS_1


Alex pun segera menggendong Lisa dan menitipkannya ke Ningsih dalam pagar gaib. Alex, Bima, dan Wahyu sudah bersiap menghadapi Zatan. Zatan menyeringai. Rencananya berjalan dengan baik.


__ADS_2