JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 44


__ADS_3

Mobil Santi sampai di halaman rumah PakLek. Terlihat tiga orang menanti kedatangan Ningsih, Santi dan Wahyu.


"Sudah sampai, Tante. Ini rumah PakLek," ucap Santi membuka pintu mobil.


Wahyu terbangun dan mengusap kedua matanya. Dia bingung, "Ma... ini dimana?"


"Tenang sayang... Ini Kak Santi dan Kak Reno ada di sini," bisik Ningsih sambil keluar dari mobil.


"Tante!" Reno bergegas menghampiri. Lalu lelaki ABG itu menggendong Wahyu dan mengajaknya berkenalan dengan PakLek dan BuLek.


"Ini Mbah Uti dan Mbah Kakung. Wahyu di sini ya sama Kak Reno," sambungnya bahagia.


"Perkenalkan namaku Ningsih, teman Ratih," ucapnya sambil mengulurkan tangan bersalaman dengan PakLek dan BuLek Darjo.


"Iya, kami sudah tahu. Ratih dan anak-anak juga bercerita. Mari masuk dulu.... Seperti ini rumah kami," jawab BuLek dengan lembut dan hangat.


Ningsih masuk ke rumah PakLek dan merasa sedikit pusing. Dia sama sekali belum tahu soal Ratih maupun Reno yang hampir direnggut Bima.


Sengaja Reno membawa Wahyu ke halaman belakang untuk bermain. Sebelumnya, PakLek sudah memberi arahan agar bisa berbicara dengan Ningsih.


"Tante, PakLek mau bicara soal Ibu," Santi memulai pembicaraan serius.


"Ada apa? Ratih ketemu?" Ningsih memusatkan konsentrasinya.


"Bukan, begini... Ada beberapa hal yang Nak Ningsih belum ketahui. Saya selaku PakLeknya Santi dan Reno, memohonkan maaf apa bila ada salah kata maupun perbuatan Ratih selama hidup," ucap PakLek memulai penjelasannya.


"Selama hidup? A...apa maksudnya?"


"Ratih tempo lalu ikut ke sini dengan anak-anak. Namun karena sakit keras, dia meninggal dan dimakamkan di daerah sekitar sini. Ceritanya panjang, Nak. Saya mohon ikhlaskan kepergiannya."


"Ratih? Kenapa bisa seperti itu?"


PakLek pun menjelaskan semuanya. Santi sengaja diam dan menahan haru. Ningsih pun menangis sejadi-jadinya.


"Bodohnya aku! Ratih.... Ratih...." dia meraung dengan air mata terurai.


Santi mencoba menenangkan Ningsih dengan memeluknya. Mengusap punggung tantenya.


"Sabar, Tante.... Semua kehendak Allah. Apalah daya kita sebagai makhluk ciptaannya. Istigfar, Tante...."


Butuh waktu berpuluh menit untuk menenangkan Ningsih. Dia pun berhenti menangis. Mengusap air matanya, "Antar Tante ke makan ibumu, Santi."


"Iya, Tante. Tapi nggak sekarang. Malam sebentar lagi datang. Lebih baik besok saja."


"Nak, sebaiknya istirahat saja dulu. Sudah kami siapkan kamar," ucap BuLek menenangkan Ningsih.


Ningsih pun melepas lelah. Beristirahat sejenak dari segala pikiran sedih dan rasa bersalah. Dia tertidur lelap tanpa beban pikiran yang menggelanyut. Seakan lupa semuanya.

__ADS_1


****


"Pokoknya Santi ikut!" rengek Santi pada Ningsih yang hendak bergegas pergi.


"Jangan! Lebih baik kamu di rumah. Tante ada urusan mendesak. Pinjam mobilnya, ya," jelas Ningsih.


Santi membuka tangannya lebar untuk menghalangi Ningsih pergi. Baginya lebih baik bersama Ningsih daripada kehilangan lagi.


"Pokoknya Santi ikut!"


Ningsih tak bisa mengulur waktu lagi. Bima jelas menyuruhnya pagi ini ke kaki Gunung Merapi.


"Oke baiklah.... tapi janji jangan turun dari mobil kalau sudah sampai sana," ujar Ningsih menyerah.


"Baik, Tante! BuLek, PakLek, Reno and Wahyu, kami berangkat yaa," seru Santi sambil berlari ke mobil.


"Hati-hati di jalan, Nduk," jawab PakLek.


Santi duduk di samping Ningsih. Dia mengamati wajah serius tantenya. GPS sudah diatur ke arah kaki Gunung Merapi. Sebuah desa yang jauh dari jalan utama. Sekitar satu jam dari Salatiga. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang.


'Bimaa.... aku sedang dalam perjalanan ke sana. Siapa orang yang harus kutemui?' batin Ningsih berkomunikasi dengan suami gaibnya.


"PERGILAH KE DESA XXXX DI SANA AKAN ADA SEORANG LELAKI TUA BERNAMA BENDOT. DIA SALAH SATU ABDIKU YANG SETIA. KATAKAN KAU ADALAH ISTRIKU. MAKA DIA AKAN BANTU SEMUANYA." jawab Bima.


Ningsih mengangguk paham. Percakapan ini sama sekali tidak didengar oleh Santi.


"Oh, menemui teman Tante. Dia berada di desa. Sudah tua kok."


"Lalu? Tante mau kemana lagi?"


"Entah... Tante mau bicara dengan Bapak Bendot terlebih dahulu. Maafin Tante ya membuat kalian dalam masalah."


"Bukan salah Tante kok. Aku harap kita bisa hidup seperti biasa lagi," jawab Santi tersenyum.


Ningsih pun melanjutkan konsentrasi menyetir dan masuk ke daerah plosok. Terlihat rumah warga mulai jarang, jalanan bergelombang dengan pepohonan rimbun di kanan maupun kiri.


"Tante... kok serem ya tempatnya?"


"Nggak apa.... tenang aja. Ini sudah hampir sampai kok, Santi."


"Tante... sinyal handphoneku menghilang. Tante kenal ama orang ini?"


"Iya," jawab Ningsih mencoba setenang mungkin.


'Bima.... dimana rumah orang yang kamu maksud?'


"RUMAH DI UJUNG JALAN INI. DIA MENUNGGU DI DEPAN. INGAT SATU HAL, TINGGALKAN SANTI DI SINI. JANGAN SAMPAI BERTEMU BENDOT."

__ADS_1


'Baik.'


Ningsih pun memperlambat laju mobilnya, "Sudah mau sampai. Santi di mobil saja ya. Jangan ikuti Tante. Tunggu sampai Tante kembali, ok?"


"Baik, Tante. Pokoknya hati-hati ya Tante. Apalagi sepi begini tempatnya dan dingin," jawab Santi mengiyakan petunjuk Ningsih.


Ningsih berhenti di sebuah halaman di ujung jalan. Ada seorang lelaki dengan badan tegap seperti masih muda, hanya rambutnya yang memutih membuatnya terlihat tua.


Ningsih keluar dari mobil dan menutup pintunya kembali, "Mas Bendot?"


"Ah, iya. Kamu Ningsih?" jawab lelaki itu berjalan mendekat.


"Iya. Ada apa gerangan, Mas? Bima menyuruhku ke sini. Aku istri gaib Bima," ucap Ningsih menjelaskan.


Mereka pun berjalan menuju rumah besar seperti pendopo. Santi mengamati tantenya yang berjalan ke rumah bernuansa kuno itu.


"Bima pintar memilih istri. Kamu cantik, muda dan seksi," kata Bendot sambil melirik ke arah Ningsih.


Lelaki mana yang sanggup menahan gejolak di samping Ningsih. Tubuh Ningsih yang terawat, seksi, bahenol, dan parasnya yang cantik membuat semua pria mabuk kepayang. Bukan hal yang sulit bagi Ningsih untuk mencari tumbal.


"Bisa saja, Mas. Aku jadi malu nih," jawab Ningsih tersipu.


"Loh cewek cantik bisa malu juga ya? Hahaha..."


Mereka pun sampai di pelataran rumah pendopo. Ningsih pun serius bertanya, "Kamu mau membantuku dalam bentuk apa?"


"Hahaha.... wanita yang tak sabaran. Tenang. Bima sudah memberi tahuku semuanya. Kusiapkan rumah di Jakarta untukmu. Lalu ponakanmu biar menetap di Yogyakarta. Aku akan memagari dan melindungi mereka," ujar Bendot sambil duduk di kursi panjang berbahan kayu jati.


"Benarkah? Jangan-jangan.... kamu dukun ya?"


"Duduk sini, Ningsih. Aku bukan dukun. Aku hanyalah orang yang berkawan dengan makhluk seperti Bima. Kita saling membutuhkan dan menguntungkan. Hubungan yang baik, bukan?"


Ningsih pun meletakkan bokongnya di kursi jati. Duduk di samping Bendot. Menerka apa yang Bima katakan pada lelaki ini. Ningsih yakin lelaki ini harusnya sudah tua dan tidak bertubuh kekar seperti ini.


"Kamu.... bukankah harusnya sudah kakek-kakek?"


"Hahahaha.... fisik hanyalah raga, bukan? Tenang.... kekuatanku jauh lebih memuaskan dari manusia muda yang menyentuhmu," jawabnya sambil menatap tajam ke arah Ningsih.


Bersambung.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


GAES DUKUNG AUTHOR SELALU YAA...


JIKA KAMU SUKA, PLEASE BOOMLIKE + KOMENTAR. JIKA KAMU SUKS BANGET, BOLEH BAGI VOTE PUN. OIYA, BACA JUGA KARYA AUTHOR "KUMPULAN KISAH MISTERI"


TERIMA KASIH ❤

__ADS_1


__ADS_2