JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 96


__ADS_3

πŸ€ BIMAKU SELAMANYA πŸ€


Hari itu Ningsih dan Bima sengaja mengaja pergi Wahyu dan Bapak Ibu ke Gembira Loka. Mereka bertamasya tanpa mengajak anak-anak muda yang lagi galau galaunya. Ningsih tertawa saat Bima memutuskan meninggalkan mereka.


"Bener 'kan sayang ... dari pada ngajak Reno yang lagi galau karena kasmaran ke Nindy yang masih belum cukup umur nikah. Terus si Santi yang lagi masa pendekatan sama Joko. Biarlah mereka cari dunia mereka sendiri," ucap Bima dengan bijak saat berjalan ke loket bersama Ningsih.


"Iya juga, ya. Bima ... aku nggak nyangka kamu bisa berpikir sejauh itu," kata Ningsih tertawa melihat wajah Bima yang berubah masam.


"Ya kali aku ini dari zaman dulu tapi sekarang aku juga mengikuti perkembangan zaman."


Ningsih merangkul tangan kiri Bima sedangkan mereka masih mengantri membeli tiket. Cukup ramai di hari Minggu, tetapi mengasyikan.


"Silahkan. Mau tiket berapa? Anak di atas tiga tahun sudah membayar penuh," kata petugas loket.


"Bima, beli tiketnya enam," bisik Ningsih ke telinga suami gaibnya yang terlihat nyata dan tampan.


"Beli enam tiket, Mbak," ucap Bima kepada petugas loket.


"Mau tiket masuk saja atau dengan terusan naik kapal dan atau naik kereta?"


"Komplit saja."


"Baik. Totalnya 300.000 rupiah," kata petugas sambil menyodorkan tiket selembar dan dua buah peta Gembira Loka Zoo.


Bima membayar dengan uang pas. Lalu mengambil tiket dan peta itu. Mereka bergegas masuk ke kebun binatang yang sudah diidam-idamkan oleh Wahyu.


"Wah, tiket kecil gini kalau lupa naruh, ilang, tak bisa naik kereta sama perahu ya?" tanya Ibu yang memegang tiket selembar bertuliskan paket lengkap enam orang.


"Iya, Bu. Itu sih akal-akalannya petugas ya. Kalau hilang ya kita naik bisa bayar lagi," jawab Ningsih menerangkan.


Saat berjalan masuk menuruni tangga, mulai terlihat beberapa Gajah dari kejauhan. Bima menggandeng Wahyu berjalan dengan semangat. Tiba-tiba ada seorang wanita tua, sekitar usia enam puluh tahun mendekati Bima.


"Bima ...." lirih wanita itu.


Bima terkejut melihat wanita di hadapannya. "Ratna?"


Seketika genggaman tangan Bima pada jemari Wahyu terlepas. Wanita tua di hadapannya membuat tubuh Bima yang kekar tak bisa bergerak.


"Kamu masih terlihat tampan seperti dahulu. Siapa keluarga ini? Keluarga pengikut barumu?" tanya Ratna dengan spontan.

__ADS_1


Ningsih mengerutkan dahi dan tak paham siapa wanita tua itu. "Maaf, Bu. Maksudnya apa ya? Ibu salah orang mungkin. Ini suami saya," bela Ningsih agat Bima tak berurusan dengan siapa pun itu orangnya.


"Ha ha ha ... suami? Apa kamu juga berharap mempunyai keluarga bersamanya? Sedikit saran, sadar Nak. Sebelum berakhir tragis sepertiku!" ucap Ratna yang membuat Ningsih geram karena Bima belum angkat suara.


"Dasar nenek gila! Sudah ayo kita pergi," sahut Ningsih kesal sambil menarik tangan Bima dan berjalan menuju Bapak, Ibu, Mak Sri, dan Wahyu yang berada di depan.


"Hati-hati, Nak! Jika kamu sadar cepat sepertiku, masih ada harapan keluar dari Jerat Iblis. Mumpung keluargamu masih utuh!" kata Ratna tua setengah berteriak.


Beberapa orang melihat ke arah Ratna lalu memandang Ningsih dan Bima. Hal itu membuat Ningsih makin dongkol di hati.


"Siapa sih wanita tua itu? Seperti orang gila saja," gumam Ningsih sebal dengan orang yang membuat gaduh itu.


"Ningsih ... nanti saja ku jelaskan. Lebih baik sekarang kita menikmati liburan ini," kata Bima, menggenggam erat jari jemari Ningsih.


***


Setelah bertamasya ke Gembira Loka Zoo, mereka melanjutkan dengan makan siang dan jalan-jalan. Seusai jalan-jalan hingga makan malam, mereka pun pulang. Sepanjang perjalanan, Ningsih menjadi lebih diam sejak kejadin wanita tua misterius itu.


Sesampainya di rumah ....


"Bima, ini sudah di rumah, jawab siapa wanita tua tadi?" selidik Ningsih setelah yang lain masuk ke kamar. Ningsih menelangkupkan kedua tangannya di dada, memandang Bima yang duduk di sofa.


"Dia ... dahulu dia memuja agar mendapat kekayaan," lirih Bima.


Bima menjadi serba salah. Dia pun menghilang.


"AKAN AKU JELASKAN NANTI DI KAMARMU. KALAU BERDEBAT BEGINI TAK ADA GUNANYA, JUSTRU KELUARGAMU AKAN TAHU SIAPA AKU." Bima pergi.


Ningsih kesal dengan Bima yang menjawab berbelit-belit. Marah atau cemburu? Perasaan di hati Ningsih berkecamuk. Lalu terngiang perkataan wanita tua itu.


"Soal keluarga masih utuh, maksud wanita itu apa?" batin Ningsih sambil berjalan ke kamarnya.


Ningsih masuk ke kamar, lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. "Harusnya menyenangkan berjalan-jalan bersama. Namun kenapa harus bertemu orang aneh seperti itu?" gumam Ningsih pada diri sendiri.


Bima pun muncul di samping Ningsih dengan wujud aslinya. Ningsih langsung memunggungi Bima.


"AKU TAHU KAMU PASTI MARAH. NAMUN BICARALAH SECARA BATIN DENGANKU AGAR TAK BANYAK ORANG MENDENGAR PERDEBATAN KITA." kata Bima dengan suara khasnya yang menggelegar.


"Kenapa? Sana pergi saja. Siapa tahu mau menemui Ratnamu yang sudah tua."

__ADS_1


"AKU TAK INGIN BERDEBAT. OK AKAN KUJELASKAN TAPI JANGAN MARAH LAGI."


"Hmm ...."


Ningsih membalikan badan melihat Bima. Bima dalam wujud menakutkan, tetapi Ningsih tak sedikit pun takut padanya.


"DULU RATNA SEORANG PEMUJA YANG MEMINTA KEKAYAAN. BUKAN SEPERTIMU. DIA JUSTRU MENGORBANKAN KELUARGANYA UNTUK UANG."


"Lalu kamu juga bercin*a dengannya?" Hal yang membuat Ningsih sebal.


"TIDAK. DIA PERNAH MENGGODAKU, TAPI AKU HANYA MENGAMBIL NYAWA KELUARGANYA SAJA. SATU PER SATU HINGGA HABIS. DIA DIBEBASKAN OLEH SEORANG KYAI TERNAMA DI DEMAK. AKU TIDAK BISA MENGAMBIL NYAWANYA. SETELAH ITU, DIA MENIKAH DENGAN ANAK KYAI ITU DAN MEMULAI KELUARGA BARU. AKU TAK BISA MENGAMBIL NYAWANYA DAN MENDAPAT HUKUMAN DARI TUANKU. SUDAH PAHAM? AKU TAK INGIN KAMU MARAH," jelas Bima berharap istrinya tidak merajuk.


Ternyata ningsih salah paham. Dia mengira wanita tua tadi juga sepertinya. Dapat menyentuh Bima setiap saat.


"Yaudah kalau begitu ... sana istirahat di kamarmu. Aku mau tidur."


"TIDAK, AKU INGIN DI SINI BERSAMAMU."


Bima menyentuh lengan Ningsih lalu turun membelai punggungnya. Ningsih hanya terdiam. Malam pun berlanjut dengan bergumulan mereka.


***


Pagi harinya, Ningsih meraba ranjang dan tak menemuka Bima di sana. Secarik kertas berasa di atas bantal samping Ningsih.


[Aku harus pergi sebentar. Tuanku memanggil. Jangan marah lagi sayang. Salam untuk keluargamu, pamitkan jika aku pergi alasan bisnis. Dua hari lagi aku kembali. Aku padamu.


Ttd


Bima Prawisnu]


"Bima kenapa menyebalkan hih. Kenapa pergi tiba-tiba? Padahal hari ini mau antar Bapak Ibu kembali ke Wonosari," gerutu Ningsih.


Ningsih pun beranjak mandi. Membuka pakaiannya dan mengguyurkan shower ke kepala, wajah, tubuh, hingga kakinya. Merasa segar dengan air hangat itu, Ningsih segera menyelesaikan mandi dan mengenakan pakaiannya.


"Beregegas siap-siap ya ...." teriak Ningsih di depan pintu kamar Reno dan Santi.


"Ya, Tante," jawab Reno dan Santi bersamaan tanpa janjian.


"Pergi ke Wonosari tanpa Bima atau Dinda, tidak akan membahayakan bukan?" batin Ningsih menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sedangkan di balik gerbang rumah, sebuah mobil berwarna hitam menunggu di seberang jalan seakan mengawasi kediaman Santi di mana Ningsih sekeluarga berada di sana.


Bersambung....


__ADS_2