JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 88


__ADS_3

πŸ€ MERAJARELA πŸ€


Lee dan Lily sangat menikmati semua kegiatan yang menyesatkan manusia. Bahkan satu per satu jiwa-jiwa berdosa pun terperangkap dalam goda lelaki tampan dan wanita cantik yang ternyata pengikut Iblis. Kasus bunuh diri pun terjadi pelonjakan. Jakarta, Depok, Banten, Bandung, lalu mulai merambat ke kota Jawa Barat lainnya. Perlahan tapi pasti, kota-kota di Jawa Tengah pun ikut kena dampak perbuatan dua sejoli itu.


"Sayang, apakah kamu bahagia denganku?" tanya Lee pada wanita di hadapannya.


Lily tersenyum menatap kekasihnya, pujaan hati yang selama ini ingin dimiliki. "Tentu. Aku sangat bahagia."


Tangan Lee menggenggam erat jari jemari Lily sambil berkata, "Meski kebahagiaan ini mengorbankan banyak jiwa manusia?"


Lily menatap mata bulat Lee. Terlihat pantulan wajah Lily di mata Lee. Dia pun menjawab dengan mantab, "Jiwa manusia berdosa memang seharusnya dimusnahkan ke Neraka, bukan? Mereka tak sadar merugikan banyak orang. Sudah sepantasnya pengurangan penduduk."


"Lalu ... umat manusia yang tersisa banyak yang baik. Tidak seimbang, bukan?" Pertanyaan Lee sungguh menggelitik. Lily mempunyai ide yang lebih cemerlang.


"Jika manusia yang tersisa tinggal yang baik saja, kita bisa mempengaruhi mereka untuk berbuat jahat. Bukannya manusia mudah goyah? Apalagi jika dalan kesusahan."


Jawaban yang di luar prediksi Lee. Lee pun mengelus pipi kekasihnya, "Pintar ... jenius ... ide bagus. Kamu memang wanita terlicik yang pantas bersamaku."


Perjalanan selanjutnya dua sejoli penghuni Neraka ini mencari keberadaan Ningsih sambil menjerat jiwa orang-orang berdosa. Seperti info yang mereka dapatkan dari seorang pekerja di perusahaan Ningsih, janda anak satu itu dalam liburan bersama orang tuanya di Wonosari. Berbekal info itu, Lee dan Lily melakukan perjalanan dengan mobil Alphard hitam hasil membeli dengan uang yang Lee kumpulkan di tempat rahasianya. Uang itu sengaja Lee masukkan dalam tabungan Lily untuk mengurangi kecurigaan karena namanya sudah buruk di Singapura.


"Sayang, maukah menentap sejenak di Yogyakarta? Aku dengar kota itu banyak hiburan malam. Pasti menyenangkan," lirih Lee, melanjutkan perjalanan dengan menyetir mobilnya.


"Ide bagus, sayang. Aku juga ingin ke sana sebelum kita ke arah Wonosari. Tapi ... malam ini istirahat dulu. Cari hotel terdekat. Kita juga butuh tidur untuk mengisi tenaga," jawab Lily.


"Baiklah Tuan Putriku tercinta. Terima kasih sudah membangkitkanku dari dalam kegelapan. Setidaknya, aku bisa merasakan bernapas bersamamu," ucap Lee dengan lembut.


Mobil Alphard hitam itu berhenti pada sebuah hotel bintang lima di tengah kota Semarang. Mereka beristirahat sebelum esok menuju ke Yogyakarta. Lee dan Lily menyatu dalam satu ikatan yang mendalam tanpa Lily sadari lelaki di pelukannya sesungguhnya adalah Iblis.


****


Yogyakarta ....


"Tadi pagi Tante kerasa ada gempa, nggak?" tanya Reno pada Tante Ningsih yang duduk di teras menikmati secangkir kopi.


"Emangnya ada gempa? Tante kecapean kali ya. Nggak kerasa sama sekali," jawab Ningsih santai.


Sebenarnya subuh tadi saat Ningsih bangun, Bima menceritakan kejadian semalam. "HA HA HA ... BEGITULAH, DINDA MARAH LALU PERGI KARENA NANGGUNG. RENO LEBIH TAKUT DENGAN GEMPA. KATANYA MASIH TRAUMA GEMPA BESAR TAHUN 2006 LALU. KALAU RENO TANYA, JAWAB SAJA TIDAK TAHU SOAL GEMPA."


Ningsih pun ikut tertawa mendengar cerita Bima. Bima yang wujud nyata pasti ditakut banyak orang. Namun, di balik semua itu, Bima mempunyai hati yang lembut. Dia bahkan tak terima saat Ningsih dan keluarganya bersedih karena perkataan orang yang salah. Ningsih memandang suami gaibnya.

__ADS_1


"Bima ... andai aku mati kelak, pastikan kita akan bersama selamanya di akhirat. Aku tak peduli soal Surga atau Neraka. Aku hanya ingin bersamamu selamanya," bisik Ningsih yang bersandar di dada Bima.


"NINGSIH ... APAKAH KAMU SERIUS? SELAMANYA-BUKAN HITUNGAN SEBENTAR. TIDAK ADA KEPASTIAN SEPULUH TAHUN, ATAU SERATUS TAHUN, BAHKAN SERIBU TAHUN PUN TAK BISA MELUKISKAN SELAMANYA. APA KAU YAKIN DENGAN KEINGINANMU?" Bima ingin memastikan keinginan Ningsih. Tangan kekarnya mengelus dahi lalu membelai rambut Ningsih dengan lembut.


Ningsih memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Bima. "Aku yakin. Bima, aku ingin bersamamu selamanya. Tak terbatas ruang dan waktu."


Sesuatu yang sudah lama tak berfungsi, kini terasa nyeri. Apakah Iblis bisa mempunyai hati dan perasaan seperti Bima? Bima memeluk erat Ningsih. Tak ingin kehilangan miliknya yang berarti, Bima pun berjanji. "BAIKLAH NINGSIH. KITA AKAN SELALU BERSAMA. SELAMANYA. TAK TERBATAS RUANG MAUPUN WAKTU. BIARLAH RASA INI AKAN TERUS BERTUMBUH."


Kalimat terakhir yang Bima ucapkan sebelum berpamit dan pergi. Ningsih senyam senyum sendiri mengingat itu.


"Tante baik-baik aja? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Reno memastikan.


"Iya, Tante baik-baik aja. Hla kamu itu napa tumben banyak tanya ke Tante. Sana ngobrol sama Nindy atau Dinda," ucap Ningsih mengusir Reno yang mulai bawel.


"Lah ini ... mau tanya kok Dinda nggak kelihatan?"


"Oalah ... ternyata nyariin Dinda toh? Udah pulang semalam Om Bima njemput ada hal penting," sahut Ningsih sebisanya.


"Mana mungkin, Tante. Dinda semalam di kamar ...." Hampir saja Reno kelepasan bicara. Dia mengerem percakapannya dengan Tante Ningsih.


"Kalian ngapain hayo? Dinda aja pulang kok dijemput Om Bima tengah malam. Kamu beneran sama Dinda? Jangan-jangan sama kuntilanak jadi-jadian. He he he," kata Ningsih menggoda Reno.


"Iya udah sana masuk ngobrol sama Nindy," ejek Tante Ningsih yang tertawa melihat ekspresi Reno sebal.


Ningsih tahu kalau Reno terpikat dengan Dinda tetapi masih selalu menggoda Nindy yang menyukai Reno. "Memang cinta anak muda itu menggelikan. Katanya suka katanya cinta tapi hitungan waktu bisa hilang, bisa berubah. Mereka tak sadar jika sedang membuat orang lain berharap dan tak sadar jika saling mematahkan hati. Lalu dengan mudah menyalahkan keadaan. Selalu seperti itu masa remaja. Bahkan bagi orang yang belum dewasa, mengobral janji pun dilakukan demi kepuasan semata. Sangat berbeda dengan cinta yang sejatinya suci." batin Ningsih menilai percintaan para remaja yang rumit.


Ningsih memang pernah merasakan cinta monyet masa SMA dengan seorang anak kyai. Namun hal itu kandas secara tiba-tiba. Lelaki itu menghilang entah ke mana. Tak ada kabar. Lalu hadirlah Mas Agus yang menghibur Ningsih saat luka. Jika teringat masa itu, Mas Agus terlihat pemuda yang baik dan taat ibadah. Jauh berbeda dengan sikap setelah menikah.


"NINGSIH JANGAN BERSEDIH. CINTA MANUSIA MEMANG TERBATAS. MUNGKIN ADA SATU ATAU DUA YANG MERUPAKAN CINTA SEJATI TETAPI BERBANDING SATU JUTA CINTA SEMU LAINNYA. KAMU TAK PERLU BERSEDIH. AKU TAK AKAN SEPERTI ITU. TENANG SAJA ...." bisik Bima tak memperlihatkan wujudnya. Seakan sejak tadi memang berada di samping Ningsih.


"Bima ... kapan kamu mau bertemu orang tuaku?" Ningsih berkomunikasi lewat batin dengan Bima.


"BELUM SAAT INI, MAAF. OIYA, DINDA MARAH PADAKU KARENA JAIL PADANYA. HA HA HA ... DIA TAK MAU KE SINI DULU." kata Bima membuat Ningsih tertawa.


"Tante ... kok ketawa sendiri? Ada apa?" tanya Santi membuyarkan rasa humor yang Bima ucapkan.


"Eh, nggak. Tadi liat tulisan di facebook tuh lucu banget," jawab Ningsih kebingungan.


"AKU PERGI DULU. KAMU SARAPANLAH." Bima pun pergi.

__ADS_1


"Oh, kirain kenapa senyam senyum sendiri. Tante ayo sarapan dulu. Sudah siap," ajak Santi pada Ningsih.


Ningsih lekas berdiri dan masuk ke rumah. Mereka memikmati sarapan bersama. Bapak dan Ibu menanyakan tentang Dinda. Ningsih pun menjelaskan, "Dinda ada kepentingan mendadak dan pergi sebentar. Mungkin besok atau lusa ke sini lagi Pak, Bu. Maklum ya ... Dinda pengusaha muda juga."


"Oh, usaha apa? Ibu suka lihat anak itu. Punya daya tarik tersendiri," ucap Ibu sambil meminum segelas jus tomat.


"Di bidang transportasi, Bu."


"Dinda itu adiknya Om Bima ya, Tante?" tanya Santi.


"Ehm ... iya." Ningsih takut jika orang tuanya bertanya soal Bima.


"Bima siapa Ningsih? Calon suamimu?" tanya Bapak, menatap Ningsih tajam. Belum terjawab, Reno sudah angkat suara.


"Hlo Uti Kakung nggak tahu ya? Om Bima itu suamnya Tante Ningsih," celetuk Reno membuat Ningsih makin bingung dan serba salah.


"Apa? Kapan Ningsih nikah lagi kok Bapak Ibu tidak diberi tahu?" Ibu langsung protes.


"Duh, gini Pak Bu, bukan begitu. Bima sibuk soalnya. Kalau menikah pasti kasih tahu Bapak Ibu. Ini masih ...." Ningsih terbata dan tak bisa melanjutakan perkataannya.


"Ya sudah. Kalau memang serius mau jadi ayahnya Wahyu, suruh menghadap Bapak," tegas Bapak mengakhiri pembicaraan sehabis sarapan itu.


Ningsih menjadi serba tak enak. Sedangkan Bima belum siap menemui orang tuanya. Ternyata tak hanya kaum manusia yang galau bertemu mertua. Iblis pun begitu.


Hari ini, mereka bersiap ke pantai Parang Tritis dan Depok untuk menikmati pemandangan laut dan bersantap siang dengan aneka seafood. Seperti biasa, mereka menggunakan dua mobil untuk bepergian. Ningsih sengaja ingin berlibur ke mana saja bersama orang tua dan keluarganya. Bagi Ningsih, Mak Sri; Reno; Santi; Nindy dan Joko adalah keluarga yang baik untuk dirinya dan anaknya. Adik Ningsih saat ini masih di Bali mengurus beberapa proyek pekerjaannya. Jadi setiap hari Bapak Ibu hanya di rumah, bercocok tanam di kebun belakang rumah, memelihara ayam dan beberapa ikan di kolam yang bisa digunakan untuk makan sehari-hari. Mereka sama sekali jarang bepergian meski kondisi keuangan yang melimpah.


Bagi kedua orang tua Ningsih, hidup sederhana adalah pilihan terbaik. Daripada berfoya-foya dan menghabiskan uang pemberian anaknya, lebih baik berhemat dan menabung. Siapa tahu kelak ada kebutuhan mendadak dan bisa menggunakan uang itu.


Mereka pun memulai perjalanan ke pantai. Semua merasa senang bisa merasakan berlibur bersama keluarga. Nindy pun merasa menjadi bagian keluarga Reno dan mulai berandai jika menikah dengan lelaki yang menyematkan cincin di jari manisnya.


Sesampainya di Pantai Parangtritis, Ningsih terkejut melihat seorang yang sangat mirip dengan Lee sedang dikerubuti banyak wanita lokal untuk berfoto.


"Boleh minta fotonya?"


"Boleh foto bareng? Yaampun mirip dengan Lee Min Ho."


"May i take a picture with you Mister?"


Wanita-wanita itu berdesakan mengajak bicara lelaki berparas khas Korea itu. Ningsih mengajak keluarganya pindah pantai karena firasat tak enak. Keluarganya pun menurut dan pindah ke Pantai Depok.

__ADS_1


"Mirip banget sama Lee. Apa itu Lee?"


__ADS_2