JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 37


__ADS_3

...🔥 MINGGU PERTAMA 🔥...


Setelah kejadian merebut kembali Alex, Gio dan Gilang jadi sering berkunjung ke rumah Lisa. Tentunya untuk mengajak Lisa bermain dan mengajarinya banyak hal yang ringan dalam dunia indera keenam. Reno memaafkan Nindy atas segala kesalahannya. Dia tak ingin Nindy bersedih dan terlarut dalam rasa bersalah. Reno ingin memulai segalanya dengan hal baik.


Wahyu masih tinggal di rumah ibunya untuk menghabiskan waktu bersama yang pernah terlewat. Bima dan Alex pun menemani di ruamah mewah itu. Terlebih adanya tamu Lauren dan Daniel menambah ramai suasana serta Dinda dan Boy masih di sana. Keluarga itu terlihat bahagia.


Hari demi hari berlalu. Minggu pertama terlewati dengan keceriaan. Seakan tiada yang tahu apa yang Bima putuskan. Bima merasa lebih baik seperti ini dari pada mengukir luka sebelum perpisahan, tetapi bukankah lebih menyakitkan jika tak tahu akan berpisah?


Hari ini, Ningsih mengajak keluarga kecilnya untuk pergi bertamasya. Hanya dia, Bima, Alex, dan Wahyu. Ningsih ingin membahagiakan Wahyu yang telah lama tidak pulang ke rumah. "Sudah siap semua? Ayo berangkat!" seru Ningsih yang kemudian mengajak anak-anaknya masuk ke mobil.


Bima sudah standby di dalam mobil. Dia di depan untuk menyetir mobil. Melihat Ningsih sangat bersemangat, melihat senyumannya yang membuat hati Bima seakan hendak retak dan hancur. Bima tak bisa membayangkan betapa sedihnya istri tercinta jika dia harus kembali dalam neraka, menjadi abdi Tuan Lucifer tentu berbeda dengan abdi neraka lapis ketujuh. Bima tak sanggup melihat kesedihan di wajah cantik Ningsih.


"Pa, Papa kenapa?" tanya Alex yang mengamati Bima.


"Oh, Papa tak apa. Sudah siap semua? Kita berangkat ya." jawab Bima menutupi rasa sedih.


"Sudah, sayang. Ayo berangkat," sahut Ningsih sambil menatap ke belakang, tempat duduk kedua putranya.


"Ini mau ke mana Ma, Pa?" lirih Wahyu yang masih sedikit canggung.


"Mau bertamasya ke gembira loka. Meski lihat isi kebun binatang, tapi di sana tempat yang bagus," ucap Ningsih sambil tersenyum.


"Tempat yang bagus atau tempat kenangan Papa Mama?" selidik Wahyu yang waktu kecil pernah menemukan tiket Gembira Loka di tas mamanya.


"Eh, Wahyu tahu, ya?" tanya Bima yang terkejut.


"Ha ha ha ha ... Kak Wahyu macam cenayang aja. Tebak sekali langsung benar!" seru Alex sambil menggelitik Wahyu.


"Stop, Lex. Stop. Aduh, geli banget. Awas ya!" Wahyu gantian membalas Alex. Mereka tertawa bersama. Alex memang sering jail karena tahu Wahyu tak tahan gelitikan.


Bima tetap menyetir mobil dan berusaha sesantai mungkin. Padahal jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa sedih dan sakit mendera. Dia sangat takut menyakiti hati keluarganya jika harus jujur. Ini minggu pertama kebersamaan mereka. Bima masih bungkam dan tak berani bercerita. Hanya bisa melakukan yang terbaik untuk membahagiakan keluarganya.

__ADS_1


Sesampainya di Gembira Loka, keluarga Bima langsung keluar dari mobil yang berada di tempat parkir. Mereka berjalan menuju loket. Lalu, membeli empat tiket untuk sekeluarga. Mereka masuk ke Gembira Loka seperti keluarga yang bertamasya pada umumnya. Seakan mereka manusia normal, keluarga bahagia yang utuh.


"Sayang, terima kasih untuk segalanya," lirih Ningsih sambil bergelanyut manja di tangan Bima.


"Sama-sama, Sayang. Aku juga terima kasih untuk segalanya. Apa pun yang terjadi, aku tetap mencintaimu." kata Bima sambil mengecup dahi Ningsih.


"Ciee ... Papa Mama ...." seru Wahyu dan Alex bersamaan.


Hal itu membuat Ningsih dan Bima tertawa. Anak-anak mereka sudah besar. Meski dalam usia beda jauh dengan Wahyu, Alex memiliki postur tubuh seperti sebaya dengan Wahyu. Mereka pun meminta izin untuk berjalan-jalan ke area reptil. Sedangkan Bima dan Ningsih masih menatap singa yang berada di kandangnya.


"Bima ... tak terasa sudah belasan tahun kita bersama. Apakah kamu tidak jenuh denganku?" tanya Ningsih sambil menatap singa yang berlari mendatangi makanan yang diberikan oleh petugas kebun binatang.


"Iya, Ningsih, tak terasa sudah belasan tahun bersama. Tidak. Aku tidak pernah jenuh karena kamu mampu membuatku jatuh cinta selalu. Dari semangatmu, tutur katamu, semua yang kau lakukan membuatku makin mencintaimu," lirih Bima menahan air mata yang mulai berusaha mengalir. Matanya serasa panas menahan perasaan yang hampir menetes dari sudut mata.


"Bima ... apakah ada yang kamu sembunyikan dariku? Aku merasa ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan. Jika ada, tolong beri tahu aku. Jangan memendam sendirian," kata Ningsih yang kemudian memeluk suaminya.


Bima pun tak kuasa menahan air mata. Mulailah dia menangis. Memeluk Ningsih dengan erat dan mengecup kepala istrinya berkali-kali. Hati Bima terasa sangat sakit. Bagaimanapun, mereka adalah satu kesatuan. Mereka sudah saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain.


"Sayang? Aku bisa merasakan sakitnya hatimu. Aku bisa merasakan kegundahan yang melanda. Tapi hal itu membuatku sedih karena aku tak tahu apa penyebab hatimu sedih. Katakan padaku, Sayang. Aku akan menemanimu selalu," ucap Ningsih yang kemudian membuat Bima tak sanggup untuk memendamnya.


Bima pun memeluk Ningsih kembali. "Ningsih, maafkan aku. Maatkan aku. Demi mengambil Alex, aku memimta bantuan Tuan Lucifer. Sebagai imbalannya, aku harus mengabdi di neraka kembali. Tuan Lucifer hanya memberi waktu sebulan untuk aku berpamit. Ini minggu pertama yang sudah kita lalui," bisik Bima di sela isak tangis.


Mendengar itu pun Ningsih syok. Dia hanya bisa memeluk Bima dan kemudian air mata membasahi pipi. Ningsih masih terdiam dan mencerna setiap kata yang Bima ucapkan tadi. Mengabdi di neraka kembali? Bima menjadi anak buat penguasa neraka? Waktu hanya sebulan untuk berpamit? Ini minggu pertama yang dilewati? Pertanyaan itu memenuhi kepala Ningsih. Membuatnya ingin berteriak. Untung saja Ningsih masih bisa menahan. Dia hanya menangis.


Situasi Gembira Loka waktu itu tidak terlalu ramai, sehingga Bima dan Ningsih tidak menjadi tontonan saat menangis dan berpelukkan. Dari kejauhan, Alex dan Wahyu menatap kedua orang tuanya.


"Tuh, kan, Kakak bilang apa. Papa Mama pasti lagi ada masalah pribadi. Kalau tadi kita nggak pisah, pasti mereka tak bisa bicara satu dengan yang lain," kata Wahyu sambil merangkul adiknya.


"Kak, sebenarnya aku tahu masalah Papa. Tapi aku nggak yakin ini benar atau tidak," lirih Alex yang bersedih melihat Bima dan Ningsih menangis.


"Masalah apa yang Papa pikirkan sendiri?" selidik Wahyu.

__ADS_1


"Waktu Papa jemput aku di neraka lapis keenam, Papa minta bantuan Tuan Lucifer. Setelah selesai dan hendak pulang, Tuan Lucifer meminta Papa di sana sedangkan aku, Tante Dinda, Tante Lauren, dan Om Boy disuruh pulang dahulu. Aku sempat dengar soap perjanjian. Papa pasti menyepakati sesuatu dan itu membuatnya sedih. Aku minta maaf kalau membuat Papa Mama sedih." jelas Alex yang menunduk sedih.


Wahyu langsung menatap Alex. Dia tak ingin adiknya merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. "Alex, kamu tak salah. Semua sudah tertulis dalam takdir Allah. Kamu jangan merasa sedih. Kita biarkan dulu Papa Mama dengan waktu berdua. Nanti kalau sudah terlihat membaik, kita bisa ke sana. Papa Mama pastinakan cerita sekiranya kita perlu tahu." Wahyu pun mencoba menenangkan adiknya.


Ningsih pun menarik napas dalam lalu mengeluarkan perlahan untuk membuat dirinya tenang. Ningsih pun menatap Bima. "Jangan sedih, Sayang. Aku paham mengapa kamu memutuskan mengambil perjanjian itu. Kamu begitu mencintai Alex. Kamu begitu mencintai keluargamu dan ingin keluargamu bahagia. Aku bisa memahami hal yang sulit harus kamu pilih demi keselamatanku dan anak-anak. Sayang, meski rasanya berat dan sangat sedih, aku tahu kamu memilih yang terbaik yang kamu bisa. Jangan bersedih lagi. Mari kita jalani tiga minggu yang tersisa sebaik mungkin. Aku mencintaimu, Bima. Aku akan menunggu kamu kembali," lirih Ningsih yang menahan sakit hati.


Bima pun memeluknya lagi. Mereka terlarut dalam hening beberapa saat dan kemudian mereka mengusap air mata. Takut jika anak-anak melihat kesedihan mereka. Mereka pun kembali berjalan. Menutupi kesedihan seakan tidak ada apa-apa. Berjaga jika Alex dan Wahyu datang. Mereka sepakat akan memberi tahu anak-anak jika sudah pulang dari tamasya.


Setelah melihat orang tuanya sudah tenang, Wahyu dan Alex pun menghampiri mereka. Seakan tidak terjadi apa-apa, seakan tidak melihat kesedihan orang tuanya.


Ningsih menahan kesedihan. Begitu pun Bima. Keputusan itu adalah yang terbaik yang Bima bisa pilih. Dia pun akan menceritakan ke Dinda, Boy, Lauren, dan Daniel saat pulang nanti. Agar mereka bisa menjaga Ningsih dan anak-anak saat Bima sudah pergi. Bima hanya memikirkan kebahagiaan keluarganya melebihi apa pun.


"Pa, Ma!" seru Wahyu dan Alex menghampiri kedua orang tuanya.


"Hei! Kalian keliling ke mana saja?" tanya Bima sambil mengusap kepala kedua anaknya.


"Keliling ke reptil, Pa. Bagus-bagus. Alex mau pelihara ular katanya. Hi hi hi ," jawab Wahyu sambil mengejek Alex.


"Enak aja! Kakak itu juga takut, 'kan?" seru Alex yang tak mau diejek kakaknya.


"Anak-anak Mama Papa ini gemesin, ya? Ayo kita jalan lagi. Nanti kita makan yang enak-enak, ya. Mama capek ini jalan terus," ucap Ningsih yang menepuk-nepuk lututnya.


Tanpa disangka, Bima langsung menggendong istrinya. Menggendong di depan dengan tangan di punggung dan bepakang lutut. Ningsih yang kaget pun langsung memeluk leher Bima.


"Kalau capek, digendong saja, ya," lirih Bima sangat romantis. Ningsih pun menatap Bima dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ciiee ... Papa Mama, nih, romantis banget. Kasihan Kak Wahyu ini jomblo ngenes!" seru Alex yang kemudian berlari. Dia tahu jika Wahyu akan marah dan mengejarnya.


"Apa kamu bilang? Awas ya! Sini kutangkap kau!" Wahyu berlari mengejar Alex. Mereka semua tertawa.


Bima pun menggendong Ningsih sampai hampir pintu keluar, Ningsih pun minta turun karena malu. Jalan keluar adalah naik tangga yang tinggi. Mereka berempat mengabadikan kebersamaan dalam foto dahulu sebelum akhirnya pulang.

__ADS_1


Sebelum sampai di tempat parkir, mereka membeli souvenir. Membeli baju kembar berempat dengan gambar para binatang Gembira Loka. Membeli boneka dan beberapa gantungan kunci. Mereka tertawa bersama dengan menutupi rasa sedih yang ada. Meski Wahyu dan Alex belum tahu apa yang terjadi, tetapi mereka bisa membaca kesedihan di orang tuanya.


__ADS_2