
...🔥Mimpi atau Nyata🔥...
Setelah pingsan cukup lama, Ningsih membuka matanya perlahan. Dia merasa pening dan sedikit sakit di bagian kepala belakang. Saat dia menatap sekitarnya, Ningsih terkejut. Lelaki yang sangat dia rindukan, saat ini berada di hadapannya?
"Bi-Bima? Benarkah ini kamu? Bima ... suamiku?" lirih Ningsih yang menatap kekasihnya. Saat ini, Ningsih berada di IGD sebuah rumah sakit swasta dekat dari tempat makan siang. Terpaksa Ningsih dibawa ke sana karena pingsan dan belum bangun padahal sudah dua puluh menit pingsan. Keluarga besar Ningsih sangat khawatir.
Mendengar perkataan Ningsih, Reno, Santi, Budi, dan Wahyu sangat terkejut dan menatap Bima. Suaminya? Sejak kapan? Mereka hanya tahu Bima adalah kenalan dari Ningsih beberapa saat yang lalu. Mereka pun menatap Ningsih dengan bingung.
"Ningsih? Iya, ini aku, Bima. Syukurlah kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir," jawab Bima yang berada di samping Ningsih. Dia pun bingung. Berarti Ningsih sudah mulai mengingatnya? Apakah Ningsih juga mengingat Alex?
"Ini mimpi atau nyata?" tanya Ningsih pada Bima sambil menatap seluruh keluarganya yang berada di sekelilingnya. Karena dia takut hal itu adalah mimpi seperti sebelum-sebelumnya.
"Nyata. Ini kenyataan. Ada apa, Ningsih?" Bima langsung membantu Ningsih untuk duduk bersandar di bed tempatnya berbaring.
"Mama, ada apa, Mama? Syukurlah Mama sudah bangun," kata Wahyu yang juga khawatir. Dia segera mendekat ke ibunya.
Ternyata benar, ingatan Ningsih mulai kembali. Dia mengenali Bima sebagai suaminya. Namun, dia belum ingat soal Alex. Dia tak ingat soal iblis dan neraka, wanita itu hanya mengingat soal perasaannya terhadap Bima Prawisnu.
"Wahyu ... Mama tidak apa-apa. Hanya masih sedikit lemas," jawab Ningsih sambil memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pening.
Santi langsung memanggil dokter untuk memeriksa Tante Ningsih terlebih dahulu. Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Ningsih dengan seksama. Setelah pemeriksaan, dokter pun menjelaskan. "Nyonya Ningsih hanya kelelahan. Setelah habis infusnya, dia boleh pulang. Hanya saja, jangan terlalu kelelahan, ya. Ini resep obatnya bisa ditebus terlebih dahulu. Terima kasih," jelas dokter kepada mereka.
Saat Wahyu hendak ke apotek, Bima langsung meminta resep obat tersebut dan mengajak Alex untuk ke apotek. "Biar kami saja yang menebus obat. Wahyu jaga Mamamu saja dahulu," ujar Bima pada Wahyu dan langsung mendapat persetujuan anggukan kepala putra sulung yang belum ingat memori bersamanya dahulu.
Saat Bima dan Alex di perjalanan menuju apotek, lelaki itu langsung menjelaskan ke anaknya. "Alex, sepertinya Mamamu sudah ingat soal Papa. Jika memang sudah, pelan-pelan saja dan bersabar. Jangan membuat Mamamu kaget, takut, atau juga membuat berpikir keras. Biar saja perlahan, nanti Mamamu bisa mengingat kita," terang Bima pada putranya.
Alex paham hal itu karena hilang ingatan yang bukan disebabkan dirinya atau keinginan mereka, melainkan ketetapan dari Tuan Abaddon yang tak bisa diubah. "Baik, Papa. Aku akan bersabar menanti Mama ingat soal kita semua, Pa," jawab Alex sambil tersenyum, menatap Bima. Bagi Alex, semua akan segera membaik jika dia mau mendengarkan kata ayahnya. Mungkin jika ayahnya tidsk memperingati, bisa saja Alex langsung berhampur memeluk mamanya.
Bima pun menebus obat di apotek, lalu kembali ke IGD tempat Ningsih dirawat one day care. Dia dan Alex sudah sepakat akan mengikuti semua alurnya. Jika Ningsih mulai mengingat mereka, hal itu akan terasa lebih mudah. Jika belum, mereka akan bersabar tanpa memaksanya.
__ADS_1
"Wahyu, ini obatnya, Om sudah tebus dan membayar administrasi untuk perawatan di sini. Setelah infus habis, kamu boleh pulang, Ningsih. Begitu perkataan dari administrasi saat Om tanya." Bima memberikan bungkusan obat ke Wahyu. Saat itu, semua keluarga Ningsih menatap Bima dengan tatapan aneh dan misterius.
Bukannya menjawab perkataan Bima, justru Wahyu menayakan hal lain. "Om ... kenapa Mamaku bilang kalau Om itu Papaku?" tanya Wahyu membuat Bima dan Alex tercengang.
"Iya, Om Bima. Kenapa, ya, Tanteku bilang kamu itu suaminya?" tanya Santi yang khawatir dengan apa yang Tante Ningsih katakan.
"Iya, Om. Hubungan Om dan Tante sudah lama, ya?" Reno juga memberi pertanyaan karena bingung. Sedangkan Lisa dan Budi hanya terdiam. Lisa sebenarnya sudah mulai ingat hal itu. Namun, percuma jika dia cerita ke papanya karena pasti rak dipercaya.
"Reno, Santi, Wahyu ... jangan seperti itu ke Bima. Aku mau pulang saja. Bima, tolong bilang ke perawat kalau aku hendak pulang, ya," ujar Ningsih pada Bima seakan dia memang sudah mengingat semua, tetapi tidak bagi keluarganya.
Bima merasa bingung dengan keadaan itu. Dia hanya tersenyum, lalu pergi ke perawat agar melepaskan infus di tangan Ningsih. "Pa, Mama ingat tidak semua, ya? Keluarganya juga belum ingat." Alex bertanya pada ayahnya.
"Iya. Itu yang Papa maksud. Akan sulit jika mereka belum mengingat kita. Jika hanya Mamamu yang ingat, kita bisa-bisa dikira membuat magic antara Mamamu dan Papa." Bima mengelus keningnya yang mulai pening karena bingung harus berkata apa.
"Papa, sudah kalau begini, kita bilang apa adanya saja. Daripada Papa kena masalah?"
"Jangan, Alex. Belum waktunya. Mereka belum ingat soal kita. Kalau begitu lebih baik diam dulu."
Di sisi lain, Alex menahan sedih. Dia sangat merindukan ibunya. Ingin rasanya memeluk Ningsih erat karena lama tak bersama. Namun, Alex harus sabar dan menunggu seperti yang ayahnya katakan.
"Maaf jika Tante merepotkan kalian. Kita pulang dulu, ya? Kalian mau ikut ke rumah?" tanya Ningsih setelah infus terlepas. Dia ingin segera pulang dengan Bima dan Wahyu. Ningsih belum mengingat Alex.
"Tante, benar baik-baik saja? Kalau begitu, kami ikut ke rumah Tante dulu, ya?" Reno pun memutuskan untuk ke rumah tantenya terlebih dahulu setelah berbincang dengan Santi dan Budi.
Ningsih pun mengizinkan mereka ikut ke rumah. Bima dan Alex masuk ke mobil bersama Ningsih dan Wahyu. Sedangkan Reno dan Lisa mengikuti dengan mobil di belakang serta Santi dan Budi dengan mobil juga mengikuti mereka.
"Pa, aneh banget, nggak, sih? Tante jadi merasa punya suami orang itu?" tanya Santi sepanjang jalan.
"Entah, Ma. Mungkin Ningsih baru terganggu ... hmm, halusinasi misalnya," jawab Budi sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Emm, emang bisa begitu, Pa?"
"Kita berdoa saja, semoga Allah memberi kesehatan untuk Ningsih. Mungkin dia sedang lelah atau rindu pada almarhum suaminya dahulu," kata Budi yang sebenarnya merasa aneh. Dia merasakan seperti pernah mengenal Bima dan Alex. Namun, di mana? Setelah mencoba mengingat, dia pun menemukan jawaban dalam mimpi-mimpinya. Apakah memang mereka keluarga Ningsih? Budi tidak membahas itu karena takut Santi makin panik.
Sedangkan Reno yang menyetir mobil bersama putri kecilnya pun bingung dengan Tante Ningsih yang menganggap orang yang baru dikenal sebagai suaminya. Namun, dalam benak Reno juga betanya-tanya karena sepertinya pernah melihat Bima dan Alex. Lantas saat menuju ke rumah Ningsih, Reno menyadari suatu hal. "Mimpi! Dua lelaki itu adalah yang kulihat dalam mimpi beberapa waktu ini. Apakah mereka itu nyata? Kenapa bisa aku bermimpi hal-hal aneh itu?" batin Reno yang mulai gusar.
Ningsih duduk di samping Bima yang sedang menyetir. Wahyu duduk di belakang dengan Alex. Keadaan menjadi canggung karena Ningsih ingat hanya beberapa ingatan saja. "Bima ... jangan pergi lagi, ya. Aku merindukanmu," lirih Ningsih sambil bergelanyut manja ke bahu kiri Bima.
"Ningsih, sepertinya jangan seperti ini. Hmm ... kamu lagi sakit. Perlu banyak istirahat agar tenang," kata Bima agar Wahyu tidak marah padanya. Bina betul-betul berusaha menjaga hati semuanya karena ingatan itu belum kembali pada semuanya.
"Emang kenapa, Bima? Wahyu juga tak keberatan. Xia sudah besar dan ... Alex? Hmm ... dia keponakanmu?" Ningsih masih belum mengingat Alex.
"Dia anakku, Ningsih." -anak kita- "Kamu jangan terlalu lelah berpikir. Istirahatlah," imbuh Bima tak ingin membuat makin bingung Ningsih atau Wahyu.
"Semuanya ini seperti mimpi, ya? Atau mimpi yang yang seperti kenyataan? Ah, entahlah, Bima. Terpenting aku bahgia bersamamu."
Saat Ningsih berkata seperti itu, Wahyu menyadari suatu hal. Mimpi! Mimpi aneh yang dia alami tentang dua orang lelaki yang sekarang ada bersamanya. Apakah ibunya juga mengalami mimpi yang sama?
...****************...
Di tempat lain ....
Snowice bergegas menghadap Tuan Abaddon di kerajaan bawah Samudra Pasifik. "Tuan Abaddon, hamba mau menyampaikan sesuatu. Manusia-manusia itu mulai mengingat soal Bima dan Alex. Apakah ini bahaya, Tuan?" tanya Snowice pada Tuan Abaddon.
"HA HA HA HA ... BIARKAN SAJA. ANDAI INGATAN MEREKA KEMBALI PUN TAK AKAN MENGUBAH APA-APA. MEREKA TAK AKAN INGAT SOAL IBLIS DAN NERAKA. MUNGKIN HANYA INGATAN SOAL HUBUNGAN SAJA. DAN ITU AKAN MEMBUAT BIMA DAN ALEX BIMBANG. AKU SUDAH MEMPERHITUNGKAN SEMUANYA. JIKA MEREKA BERDUA TAK MAU JADI PENGABDIKU, AKU BISA MEMBERI TAWARAN AGAR MEREKA MENJADI MANUSIA SELAMANYA AGAR AKU MENDAPATKAN ENERGI MEREKA. HA HA HA HA ...." Tuan Abaddon tertawa hingga suara menggelegar di penjuru kerajaan.
Snowice tersenyum. Lagi-lagi dia kagum dengan pemikiran Tuan Abaddon. "Hamba sangat kagum dengan siasat Tuan Abaddon yang selalu lebih maju daripada lainnya. Hamba tak akan meragukan apa yang Tuan Abaddon putuskan," ujar Snowice sambil menunduk.
"IYA. SEKARANG, KAU TAK USAH MERAGU LAGI. SILAKAN LANJUTKAN PEKERJAANMU," tegas Tuan Abaddon yang tahu Bima dan Alex sangat mencintai Ningsih dan Wahyu. Dia tahu segala perhitungan yang ada sebelum hal itu terjadi.
__ADS_1
Tanpa disadari, Tuan Abaddon selalu memperhatikan Bima dan Alex. Dia tetap memantau apa yang terjadi dari kejauhan, dari tempat yang gelap dan menakutkan. Iblis tetaplah iblis. Tuan Abaddon tak akan dengan mudah memberi apa yang iblis lain inginkan. Ada hal tersirat di dalamnya.