
🍀SELAMAT TINGGAL MASA LALU 🍀
Malam berganti dengan sinar mentari yang terbit perlahan. Keadaan di pesantren sudah terlihat ramai. Para santri sudah salat Subuh, lalu melanjutkan kegiatan berikutnya.
Wahyu membuka mata perlahan, di sampingnya ada Om Budi yang duduk di lantai sambil bersandar ke ranjang Wahyu. Om Budi memegang tangan Wahyu dan terlihat khawatir.
"Om ... Om Budi ...." lirih Wahyu.
Budi langsung senang melihat anak kecil itu sudah bangun dari mimpinya semalam. Semua sepakat untuk tak menceritakan ruqiyah itu dan menganggap semuanya hanya mimpi.
"Wahyu sudah bangun? Om panggilkan Kak Reno, Kak Santi, dan Mak Sri, ya?" kata Budi sambil bangkit dari duduk.
"Om, Wahyu mau ikut keluar saja. Ini benar di pesantren, 'kan, Om?" tanya Wahyu dengan sangat lugu.
"Iya, Wahyu. Ini di pesantren Bapaknya Om Budi. Wahyu bisa panggil Kakung Anwar saja." Budi tersenyum dan mengajak anak kecil itu untuk ambil wudhu dan salat Subuh terlebih dahulu. Wahyu mengikuti petunjuk Budi dengan senyum di wajahnya.
Setelah selesai salat dan berganti pakaian, Wahyu dan Budi pun keluar kamar menuju ruang tengah. Terlihat Reno dan Santi sudah di sana bersama Pak Anwar. Sedangkan Mak Sri menyediakan kopi dan sarapan sederhaba untuk mereka. Mak Sri sangat bangga terhadap adiknya (Pak Anwar) yang bisa membantu Wahyu lepas dari jerat Iblis perbuatan ibunya.
Sebenarnya, bagi pelaku pesugihan akan mendapatkan kesusahan tujuh turunan. Bukan rahasia lagi, harta yang mereka peroleh adalah harta yang seharusnya menjadi milik keturunan atau milik orang-orang yang ditumbalkan. Tak heran, harta itu akan cepat habis dan saat semua mulai memburuk, si pelaku pesugihan - apa pun bentuk pesugihannya - akan mengalami kesulitan saat meninggal, bahkan tersiksa sampai alam kubur. Mengerikan.
Pak Anwar sudah berusaha memutus mata rantai ikatan jerat Iblis pesugihan dari ibunya Wahyu. Hal itu pasti akan berdampak pada Ningsih, cepat atau lambat. Mereka masih mencoba membujuk Ningsih untuk bertaubat melalui Santi. Namun, kenyataannya Ningsih lebih memilih bersama Bima.
"Assalamualaikum ... selamat pagi Kakung Anwar, Kak Reno, Kak Santi, dan Mak Sri!" seru Wahyu sambil berlari ke arah mereka.
"Wa'alaikumsalam ...." jawab empat orang itu serentak.
Wahyu senang sekali bertemu keluarganya. Meski sang ibu tak di sisinya, Wahyu tahu jika ibunya akan selalu mendoakan dari jauh sana.
"Wah, sudah bangun, ya. Sini, duduk sama kakak," kata Santi dengan membuka kedua tangan, menyambut Wahyu.
"Iya, Kak!" jawab Wahyu dengan ceria. Dia juga menceritakan sudah salat Subuh bersama Budi. Wahyu sangat antusias seakan tak ingat kejadian semalam.
Saat ruqiyah semalam, sembat Bima marah dan masuk ke tubuh Wahyu. Berhubung kelima santri dan Pak Anwar sudah duduk melingkari tubuh Wahyu, Bima tak bisa berbuat banyak. Jelas saja kekuatan Bima yang belum maksimal membuatnya terhantam oleh serangan Pak Anwar. Bima pergi dan melepaskan Wahyu dengan mengorbankan anak dari Wati dan Bagas, sebagai gantinya kepada Tuan Chernobog.
Tanpa disadari, Wati kehilangan nyawa bayinya. Baru pagi harinya, mereka heboh dan membuat Wati menangis tersedu-sedu. Sedangkan Tuan Chernobog tertawa di Neraka karena mendapat sajian bayi yang sudah lama tak dinikmatinya.
"Bima ... kau sangat tahu cara menyenangkanku!" ucap Tuan Chernobog saat menerima bayi kecil itu. Malang sekali bayi yang menggantikan nyawa Wahyu. Namun, semua itu Bima lakukan untuk membebaskan Wahyu dari pengaruh Neraka.
__ADS_1
***
Waktu yang sama di rumah Bagas dan Wati ....
"Pak, Pak! Rifai kenapa ini, Pak? Bayi kita, Pak!" teriak Wati dengan panik saat melihat bayinya di dalam ranjang bayi, tak bergerak.
"Lah, kenapa? Semalam nangis terus, mungkin kecapekan," jawab Bagas dengan santai sambil mengenakan dasi, bersiap berangkat ke kantor.
"Pak! Kejam, kamu! Bayi kita pucat dan nggak bergerak ini. Pak, panggil dokter!" imbuh Wati dengan suara keras. Kali ini, Bagas pun jadi panik.
"I-iya! Sebentar ...." Bagas langsung berlari menerintah satpam di rumahnya untuk memanggil dokter terdekat untuk menolong bayinya. Sedangkan pembantu di rumah itu mencoba menenangkan Wati yang menjerit histeris saat memegang hidung bayinya tak ada napas.
"Sabar, Bu. Sabar ... istigfar, Bu." ucap pembantu Wati sambil menepuk-nepuk bahu Wati.
"Bayiku! Bayiku!" raung Wati yang menangisi bayinya. Belum ada dua bulan bersama, bayi mungil itu meninggal dengan tak wajar. Tubuh bayinya sangat pucat.
Bagas kembali menghampiri Wati dan coba menenangkannya juga. "Bu, tunggu dokter, ya. Sabar, Bu." Bagas memeluk istrinya.
Tak dipungkiri, mengikut Bima membuat Bagas dan Wati jauh lebih kaya dari sebelumnya. Jabatan yang diinginkan Bagas pun terwujud dengan mudah. Menjadi direktur, dapat meniduri banyak wanita tanpa menjadi masalah, membuat Bagas terlena dan melupakan keinginan terpentingnya yaitu memiliki anak. Bagas sibuk dengan berbagai kegiatan dan jarang menimang bayinya.
"Sabar ya, Pak."
"Semoga diberi kekuatan, Pak, Bu."
"Innalilahi ... semoga tenang di sisiNya"
Banyak orang berdatangan dan mengatakan turut berbelasungkawa pada keluarga yang berduka. Namun, dalam hati Bagas merasa tertipu oleh Bima. Dia menjadi marah dalam hati. Apalah arti kekayaan tanpa kebahagiaan. Bagas baru tersadar jika dirinya menjadi budak napsu dan budak keserakahan.
Pemakaman siang hari telah usai dilaksanakan. Bagas kembali ke rumah untuk melihat kondisi istrinya yang sempat pingsan saat hendak memberangkatkan jenazah ke makam.
"Pak, Bapak, dari tadi Ibu mengunci diri di kamar. Saya jadi khawatir." ucap pembantu di rumah Bagas, saat melihat Bagas pulang dari makam.
Meski banyak pelayat di luar rumahnya, dalam rumah hanya ada keluarga Wati dan keluarga Bagas yang ikut melayat sampai ke makam. Bagas bergegas ke kamar dan mengetuk pintu berkali-kali tanpa jawaban. Takut jika sesuatu yang buruk terjadi, Bagas segera mendobrak pintu kamar.
Betapa terkejutnya Bagas, menemukan istrinya menggantung dengan selendang yang biasa untuk menggendong Rifai. Wati tewas bunuh diri karena tak kuasa menahan sedih kehilangan anaknya.
"Watiii!" teriak Bagas yang langsung jatuh pingsan. Hal itu membuat gencar para pelayat terutama warga sekitar.
__ADS_1
Hari itu sangat memukul hati dan pikiran Bagas. Satu hari, dua duka, dua luka, dua penyesalan yang tak berujung. Sorenya, Wati dimakamkan tepat di samping makam bayinya. Bagas di rumah masih terdiam dan tak merespon apa pun saat diajak bicara.
Malam harinya, Bagas mengamuk. Memberantakkan semua barang. Bahkan membakar almari sesaji yang digunakan untuk menerima uang dan emas gaib dari Bima. Bagas sudah kehilangan kewarasannya dan berteriak serta mengamuk. Membuat pembantu dan satpam di rumahnya ketakutan.
"Gara-gara duit ini! Duit setan! Gara-gara ini, istri dan anakku mati!" teriak Bagas sambil membuang semua barang-barang di rumah.
Keluarga Wati dan Bagas mencoba menenangkan lelaki itu, tetapi sangat susah karena amarahnya tak terkendali. Para pelayat yang masih berdatangan pun ikut takut dibuatnya.
Dari kejauhan, Bima memperhatikan hal itu. Dia sudah menebak semua ini akan terjadi. Bima pun melayang ke atas rumah Bagas. Jika perjanjian tak bisa dilanjutkan, Bima harus menghanguskan semuanya. Seperti perintah Tuan Chernobog sejak ratusan tahun yang lalu.
Bima mengeluarkan gumpalan api dari tangannya. Lalu melemparkan ke rumah Bagas. Seketika rumah itu kebakaran. Para pelayat dan keluarga pun berhamburan keluar rumah. Sedangkan Bagas masih di dalam rumah. Kewarasannta sudah hilang.
Dalam kobaran api, Bagas melihat Bima. "Iblis licik! Setan terkutuk! Kau menjebakku dan istriku, ya!" teriak Bagas dalam rumah yang siap rubuh kapan saja.
Bima pun tertawa. "HA HA HA HA ... MENJEBAK, KATAMU? BUKANKAH KAU DAN ISTRIMU YANG DATANG SENDIRI MENEMUI AKU? BUKANKAH AKU SUDAH MEMBERI PERMINTAAN KALIAN? LALU, LIHAT TERIMA KASIH PUN TAK TERUCAP DARI MULUT BUSUKMU!" gertam Bima pada Bagas yang sudah gila.
Bagas mencoba menyerang Bima. Tentunya tak berhasil, justru hal itu mencelakakan nyawanya sendiri. "AYO, KE NERAKA BERSAMAKU!" ucap Bima dengan seringai sangat menakutkan.
Bima menarik tangan Bagas. Bagas pun menghilang, bersamaan rumah mewahnya ambruk karena kobaran api yang tak kunjung padam padahal tiga mobil pemadam kebakaran sudah dikerahkan.
Bagas dan Wati menjadi contoh pelaku pesugihan yang mendapatkan dampak langsung dan cepat. Tidak ada yang baik dari jerat Iblis. Sekali terjerat, akan membuat kesengsaraan kapan saja bisa memporak-poranda kehidupan bagi pelakunya.
Bima pun pergi meninggalkan rumah itu setelah menyelesaikan tugasnya. Dia kembali ke Neraka untuk menghadap Tuan Chernobog.
"Tuan, hamba menghadap tanpa bermaksud perang. Hamba tempo lalu membela diri dari Kerberos dan memberinya pelajaran bukan untuk menantang Tuan." ucap Bima tertunduk di hadapan Chernobog yang tertawa.
"Ha ha ha ha ... baiklah, aku paham. Selesaikan tugasmu seperti biasa. Lagi pula Kerberos yang kau tebas ekornya, sudhs kulenyapkan. Jadilah pengikut yang setia jika tak ingin berakhir seperti itu!" gertak Tuan Chernobog yang hanya bisa dijawab dengan anggukan kepala Bima.
Tuan Chernobog yang marah, sedikit terhibur karena bayi yang Bima kirim. Serta jiwa Wati yang bunuh diri serta Bagas yang banyak menyimpan dosa. Sajian yang sangat nikmat bagi Tuan Chernobog. Bagas itu terikat dosa napsu, serakah, gila kedudukan, perselingkuhan, serta menerlantarkan keluarganya. Dosa yang sangat harum bagi penghuni neraka. Tentu saja, Bagas disiksa dalam Neraka Lapis Ketujuh sesuai dengan hukuman yang berlaku.
Mungkin, bagi sebagian orang jalan pintas itu enak dan mudah. Namun, apakah manusia memikirkan dampaknya? Tujuh turunan mendapat dampak. Bahkan dunia setelag kematian adalah keabadian yang tak akan pernah usai. Baik dalam kebahagiaan di Surga, atau kesengsaraan di Neraka. Semua abadi. Selamanya. Tak berujung.
Bersambung ....
***
Kira-kira, mampukah Bima menyelamatkan Ningsih dari garis takdir yang sudah ia pilih? Yuk bantu Vote untuk update berikutnya yang tentu makin seru dalam JERAT IBLIS^^
__ADS_1