
...🔥TAK TENANG HINGGA MATI 🔥...
Setelah mendengar penjelasan dari Dinda membuat Via bergidik ngeri. Dia merasa takut karena waktunya tinggal tiga bulan untuk menikmani segala uang dan kekayaan yang dia punya bersama keluarga.
"Kalau begitu, aku harus bilang Bapak dan Ibu untuk menabung juga. Agar saat aku tiada, mereka masih punya tabungan," gumam Via mengatur siasat.
Via mencoba menjalani tiga bulan dengan sebaik mungkin. Tidak ada waktu untuk dia menyia-nyiakan hidupnya yang tinggal sedikit lagi.
Saat Via berangkat ke sekolah pagi harinya, berita heboh Rama meninggal tersengat listrik menjadi trending topik di SMA Tanjung Badai. Via merasa tak enak hati karena dia saat itu juga tidak masuk sekolah. Namun, dengan berkilah, dia mampu membuat orang lain percaya begitu saja. Tentu saja itu karena pesona dari Dinda. Via mudah membuat orang simpati padanya.
Setelah membereskan soal alibi, Via pun bebas tidak memikirkan apa pun lagi tentang Rama. Meski dia sesungguhnya masih sedih kehilangan Rama. Sampai lamunannya terhenti saat melihat sosok bayangan hitam di depan pintu kelas.
"A-apa itu?" gumam Via yang terkejut.
"Viaa ...."
Tiba-tiba Via merinding mendengar suara bisikkan yang sepertinya berasal dari sampingnya. Ya, bangku kosong yang kemarin digunakan Rama untuk duduk. Via menoleh ke samping. Namun, tak ada apa-apa.
Via pun bingung karena merasa ada sesuatu yang mengamatinya. Bayangan hitam tadi pun tiba-tiba menghilang dan membuat via semakin bertanya-tanya.
"Jangan-jangan ... yang tadi itu adalah ha-hantu ...." lirih Via yang gemetar ketakutan. Belum selesai dia bingung, tiba-tiba bahunya pun ditepuk oleh seseorang. Membuatnya terkejut dan berteriak, "Aaaaaa!"
"Vi ... Via ... kenapa teriak? Ini aku, Yaya," kata gadis yang menepuk pundak Via.
"Ya ampun ... Yaya! Bikin kaget aja!" gerutu Via sambil mengusap dadanya yang tidak rata.
"Kamu kenapa, sih? Siang-siang macam lihat hantu aja! Dari tadi aku panggil diam terus. Padahal aku mau ajak ke kantin," kata Yaya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nggak apa-apa, kok. Ya udah, ayo ke kantin aja," sahut Via untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa takut.
Yaya teman sekelas Via yang mulai dekat dengannya beberapa hari ini. Tentunya setelah Via menjadi cantik dan kaya raya. Via memilih berteman dengan Yaya karena hanya dia yang kaya tetapi tidak sombong, justru termasuk siswi pendiam.
"Vi, beneran nggak apa? Kamu pucat banget, loh," tanya Yaya pada Via.
"Yaya ... Setya ... aku nggak apa. Beneran. Cuma tadi kaget aja. Ama badanku rasanya nggak enak. Pegel-pegel di pundak," jawab Via yang takut kawannya curiga.
__ADS_1
"Sabar ya, Via. Moga lekas sembuh. Eh, iya ... soal Rama meninggal, kemarin kamu ikut melayat nggak?" Pertanyaan dari Yaya membuat Via merinding seketika.
"Emm ... aku nggak tahu. Jadinya aku nggak melayat," ucap Via berbohong jika tak tahu hal itu.
"Aku kemarin ikut melayat bersama guru dan murid lainnya. Ngeri banget. Rama gosong sampai tubuhnya hitan legam gara-gara sengatan arus listrik tinggi. mulutnya menganga dan matanya melotot hanpir keluar gitu. Kemarin, aku hampir mual melihat jenazahnya meski udah di kafan, sama aja menakutkan," jelas Yaya membuat Via mual seketika.
Via hampir muntah. Tangannya langsung memegang mulutnya. Dia teringat apa yang dilakukan sebelum Rama meninggal dan membayangkan mayat Rama membuatnya takut dan mual.
"Ngeri banget. Jangan cerita, aku jadi mual, nih," lirih Via yang menahan rasa aneh di benaknya.
"Oh, iya, iya. Sorry. Kukira kamu masih simpatik ama dia. Dulu kamu, 'kan, suka ama dia. Ya udah, aku nggak bahas lagi," kata Yaya menyesal.
"Nggak apa, kok. Aku cuma nggak mau ngerasa sedih lagi kalau bahas dia. Yuk, balik ke kelas," ajak Via setelah menyelesaikan makan bakso di kantin.
Saat Via dan Yaya berjalan ke kelas, beberapa kali Via melihat sekelebat bayangan hitam. Membuat Via terkejut dan ketakutan. "Ya ... Yaya ... ka-kamu lihat barusan?" tanya Via terbata-bata pada kawannya.
"I-iya, Vi. Barusan apa, ya? Siang-siang, kok, serem, sih ...." jawab Yaya yang juga takut.
Seketika, dari arah kelas terdengar teriakan beserta suara kursi atau meja yang jatuh ke lantai. Jelas saja Via dan Yaya langsung berlari ke arah kelas. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Sesampainya di depan kelas. Banyak murid berlarian keluar ruangan.
"Setan! Setan!"
"Keluar kelas! Ayo pergi!"
Teriak para murid yang berhamburan keluar. Via dan Yaya saling menatap karena bingung. Mereka pun melihat ke dalam kelas lewat jendela. Betapa terkejutnya dua siswi itu saat melihat makhluk hitam legam di sudut ruangan tersenyum hanya terlihat barisan gigi putih dan bola mata yang hampir copot.
"Setan!" teriak Yaya yang kemudian pingsan, jatuh ke lantai. Sedangkan Via yang ketakutan langsung berlari meninggalkan Yaya.
Sekolah menjadi gempar dengan penampakan sosok hitam legam yang diperkirakan adalah hantu Rama. Saat guru datang ke kelas, penampakan itu sudah hilang. Namun, para murid masih ketakutan. Terutama Yaya yang tadi pingsan, langsung minta dijemput untuk pulang lebih awal.
Via yang gemetar takut pun ikut-ikutan minta dijemput untuk pulang lebih awal. Guru yang menenangkan akhirnya memulangkan awal kelas 12-C itu agar tidak ada kegaduhan di kelas lain.
...****************...
Beberapa hari kemudian, sudah tujuh hari setelah kematian Rama. Namun, Via terus menerus merasa tak tenang. Saat tidur pun menjadi tak nyenyak. Dia bermimpi buruk saat tidur. Rama datang dengan kondisi hitam legam dan meminta Via menemaninya.
__ADS_1
"Via ... temani aku ... di sini panas ... temani aku, Via ...."
Suara hantu Rama membuat Via terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu. Dia sangat ketakutan hingga keringat membasahi dahinya.
"Kalau begini terus, lama-lama aku bisa gila!" gumam Via yang mencoba mengatur napasnya.
Dinda tiba-tiba muncul di kamar gadis SMA itu. "Ha ha ha ... nikmati dulu! Bukankah dia lelaki yang kau inginkan untuk bersama selamanya? Dia menghantuimu karena pelet dan pesonamu masih membayang di sukmanya. Maka dari itu dia ingin kamu juga ikut ke neraka," jelas Dinda yang tidak membantu sama sekali.
"Din-dinda ... tolong aku. Aku ketakutan sekali. Sudah tujuh hari tapi masih sama saja seperti itu."
"Nikmati saja pilihanmu! Waktu terus berjalan, Via ...." bisik Dinda yang kemudian menghilang.
Via pun ketakutan dengan perkataan Dinda. Hidupnya justru menjadi tak tenang. Meski bapak sudah memiliki mobil dan menjadi sopir taksi online, tidak mengubah keadaan Via terus was-was. Meski usaha laundry yang ibu rintis di perumahan sudah berjalan ramai, tidak mengubah apa pun karena Via tetap saja ketakutan setiap harinya.
Harusnya, Via bisa menikmati hidup yang kaya raya dan terkenal, tetapi nyatanya tak bisa. Dia justru menghitung hari. Takut kematian segera menghampirinya karena bayangan hantu Rama terus saja datang setiap harinya.
Dua bulan kemudian ....
Usaha laundy ibu Via sudah berkembang. Ada dua pegawai yang ikut bekerja. Sedangkan, bapak Via sudah membeli sebuah mobil baru untuk anak buahnya yang ikut bekerja. Keluarga Via merasakan kekayaan yang melimpah.
Theo dan Fafa pun senang. Mereka memiliki sifat yang berbeda dengan Via. Theo, Fafa, dan ibunya selalu bersedekah kepada kaum yang membutuhkan. Terutama untuk anak yatim dan janda miskin. Mereka pun tak pernah putus salat lima waktu dan juga mendekatkan diri pada Allah agar mendapat perlindungan.
Sangat berbeda dengan Via dan bapaknya. Via menjadi sombong dan angkuh, meski dia pun ketakutan akan kematian yang bisa kapan saja menjemput. Bapak Via pun sering pergi entah ke mana. Ternyata bapak Via suka berjudi. Kekayaan membuat mereka silau dan lupa bersyukur.
Selama dua bulan ini, Via sudah mempersembahkan tumbal ke dua puluh untuk Dinda. Tentunya Dinda yang merasuki tubuh Via agar bisa mencari tumbal jiwa berdosa yang mau diperbudak harta. Lelaki hidung belang yang suka korupsi demi mendapatkan wanita cantik, sudah menjadi incaran Dinda.
"Heran sekali, manusia-manusia sampah seperti itu harusnya mati daripada membuat bumi penuh! Neraka jadi ramai, menyenangkan sekali. Via, kau memang berbakat mengambil jiwa lelaki sampah seperti itu. Ha ha ha ha ...." kata Dinda yang baru saja melancarkan aksinya yang kedua puluh.
Via pun tak sadarkan diri saat Dinda sudah keluar dari tubuhnya. Apartemen yang disewa itu menjadi saksi bisu kekejaman Dinda. Semua korban mati mengenaskan setelah pulang dari menjamah Via. Itulah cara kerja iblis yang tidak disadari manusia. Menyesatkan dan membunuh tanpa bisa diprediksi. Kecelakaan, kebakaran, dan musibah yang mendadak, menjadi maut mematikan bagi manusia yang belum bertaubat.
Via pun terbangun. Tubuhnya terasa sakit dan kepalanya pening. Terlihat kembali dia mimisan. Rongga hidungnya mengeluarkan darah segar. Via ketakutan. Dia pun segera ke dokter untuk periksa meski tahu usianya sudah tinggal beberapa minggu lagi. Via mulai takut. Meninggal diusia muda bukanlah hal yang baik. Dia masih ingin bersenang-senang dan juga menikmati kelulusan SMA bersama teman-temannya.
"Ya, Allah ... aku ini manusia berdosa. Ketika kematian mulai mendekat. Aku baru sadar semua yang kulakuan dan kujalani ini adalah musrik. Keluar dari jalan yang Engkau tetapkan," gumam Via sepanjang jalan menuju rumah sakit.
Via mulai ketakutan karena jalan sesat yang dia pilih tidak hanya membuat dirinya dalam kekacauan dan malapetaka, tetapi juga keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya ikut merasakan kesusahan pada waktunya perjanjian itu berakhir. Ternyata uang tidak bisa menggantikan usia dan kesehatan. Ternyata uang tidak bisa memberikan kebahagiaan abadi. Ternyata uang tidak bisa membuat Via menjadi superstar yang terlihat sangat hebat seperti di media sosial. Via takut akan maut yang akan menjemputnya. Via takut jika masuk dalam tempat kesengsaraan dan gertak gigi. Ya, di dalam neraka tak akan ada tawa dan kebahagiaan. Via baru menyadari dia akan segera mati dan masuk dalam neraka dengan segala siksaan.
__ADS_1