
π TERJEBAK π
Ningsih merasa malam itu sangat berbeda. Tak seperti biasa, dia meminum kopi tetepi merasa kantuk menyerbu. Matanya serasa ingin lekas terpejam. Ningsih pun segera masuk ke kamarnya. Entah sejak kapan ada asap tipis menyeruak di rumahnya.
"Mungkin efek dari malam berkabut," pikir Ningsih waktu itu.
Tanpa memikirkan suatu hal apa pun, Ningsih mulai terlelap dengan selimut tebal menutupi tubunnya. Tak disangka keempat pemuda yang berniat jahat sudah menunggu reaksi Ningsih terhadap obat tidur asap yang mereka lempar ke dalam rumah melalu ventilasi.
"Gurih nih, bro! Dah semaput kali tuh cewek," ucap Endro, pemuda berbadan tinggi besar dengan kepala tanpa rambut alias botak plontos.
"Hush! Dah nafsu aja lu, Ndro! Lotre dulu lah siapa yang duluan. Harus ada yang jaga juga. Berabe kalo ketangkep warga," bisik Tyo yang terlihat paling tampan dari keempat pemuda itu.
"Gue setuju nih sama Tyo. Dah kita hom-pim-pa dulu lah. Menang pertama, kalah terakhir," ucap Dion setuju pada kawannya.
"Ok. Gue juga setuju," sahut Jalu sambil mematikan puntung rokoknya.
Malam itu sangat dingin dan sedikit berkabut membuat warga berpikir seribu kali untuk keluar rumah. Semua pintu sudah tertutup rapat. Kesempatan yang baik untuk keempat pemuda ini menjalankan aksinya.
Mereka pun hom-pim-pa untuk mengundi siapa yang terlebih dahulu menikmati Ningsih. Urutan sudah didapat. Tyo bergegas menyongkel jendela rumah yang disewa Ningsih. Dia menjadi orang pertama yang melakukan hal nista itu.
Tyo melangkahkan kaki ke dalam rumah. Masuk lewat jendela samping. Melihat Ningsih sudah tidur pulas di kamar, sedangkan asap obat tidur sudah menghilang terbawa angin. Tyo semakin semangat menghampiri mangsanya.
Seringai tawa Tyo sangat menakutkan. Bagaikan serigala kelaparan melihat domba tertidur tak berdaya. Dirabanya kaki Ningsih yang masih terbalut selimut. Tyo paham betul memanfaatkan kesempatan pertama. Dia lekas melucuti semua kain yang menempel di tubuhnya. Lalu masuk ke dalam selimut Ningsih. Ningsih yang terbius obat, tak sadarkan diri.
Daster Ningsih pun terlepas dari tubuhnya. Tyo memainkan gelora yang memuncak tanpa pemanasan. Tubuh sintal nan menggiurkan tetapi hanya diam tak merespon bagaikan boneka membuat Tyo cepat mengakhiri permainannya dalam kepuasan duniawi.
Setelah memakai pakaian, Tyo ke jendela mengisyaratkan Dion untuk masuk sesuai urutan.
"Dion, buruan! Keburu obatnya habis. Bangun bisa nyahok nanti!" lirih Tyo.
Dion pun masuk dari jendela. Tyo bergegas keluar. Endro dan Jalu sudah tak sabar mencicipi wanita yang membakar hasrat keempat pemuda itu.
"Enak, Tyo?"
"Wah gurih banget, Ndro! Sabar ya. Dion mainnya moga cepet. Ha ha ha ha...." ledek Tyo pada Endro yang penasaran.
"Sialan Lu! Gue terakhir!" umpat Jalu yang sudah tak sabar, terlihat celananya mulai mengetat.
"Hush diem aja, sabar. Bos kan belakangan. Ha ha ha..."
Mereka menunggu Dion menyelesaikan keinginannya.
__ADS_1
Nafsu birahi yang membawa keempat pemuda itu dalam dosa. Dion masuk ke kamar. Kondisi Ningsih sudah tanpa busana. Tak menunggu waktu lama, Dion segera melaksanakan keinginannya.
"Astaga... wanita ini sungguh luar biasa. Andai dia bangun dan membalas juga...." desis Dion membayangkan Ningsih ikut bergerak sesuai iramanya.
Selesai dengan hasratnya, Dion bergegas bergantian dengan Endro. Lelaki tinggi besar ini sudah tak tahan menunggu giliran. Ningsih tak tahu dirinya dinodai. Selama hampir tiga jam Ningsih terlelap dan digilir keempat le
pemuda itu. Endro paling lama di sana.
Setelah keluar dari jendela, Jalu memukul kepala botak Endro. "Sialan Lu, Ndro! Lama banget!"
"Lu cobain aja, Jalu. Pasti nambah! Gue udahan," Endro terkekeh melihat Jalu yang naik pitam.
Jalu masuk ke rumah. Dia memang mempunyai penyimpangan, suka melihat korbannya tak berdaya dan terluka. Jalu menampar wajah Ningsih beberapa kali lalu tangan mulus Ningsih beberapa kali digigitnya. Jalu menuntaskan hasratnya. Tanpa sengaja, kekerasan itu membuat Ningsih mulai tersadar dari pingsannya. Merasa ada yang aneh di bagian bawah tubuhnya dan dingin yang menerpa tubuh membuat Ningsih terbelalak.
Jalu masih menikmati bawah pusar Ningsih saat wanita itu terbangun. Seketika Ningsih berteriak. Jalu dengan sigab bangkit dan membekap mulut Ningsih. Ningsih meronta, ketakutan.
Ketiga teman Jalu yang mendengar sekilas teriakan Ningsih lekas masuk ke rumah. Benar adanya Ningsih tersadar dan melihat keempat wajah pemuda itu. Wanita tanpa busana itu terlihat ketakutan dalam bekapan tangan Jalu.
"Sial! Malah bangun nih cewek. Gimana nih, Bro?" Jalu ketakutan.
"****** nih. Gue takut dirajam warga," sahut Tyo yang seketika ikut panik.
"Apalagi gue. Bulan depan gue nikah, Ndro," ucap Dion yang bingung.
Endro mempunyai ayah yang kejam. Dia jelas ketakutan jika ayahnya tahu perbuatan bejatnya. Ningsih mencoba meronta. Dia bisa membaca sat per satu pikiran pemuda di hadapannya. Andai diberi kesempatan bicara, Ningsih memilih untuk bungkam dan pergi daripada terjadi hal buruk lainnya.
Jalu menekan mulut dan hidung Ningsih terlalu kuat. Ningsih meronta kesulitan mendapat oksigen untuk mengisi paru-parunya. Rasa sesak seakan mencekik kerongkongan Ningsih.
"Lepasin cewek itu, Lu mau bunuh dia?" Tyo melepaskan tangan Jalu dari wajah Ningsih.
Ningsih menghela nafas tak beraturan. Mencari oksigen yang beberapa detik lalu tak bisa dihirupnya.
"Iket aja tu cewek. Sumpal mulutnya biar nggak teriak," usul Endro langsung disepakati teman-temannya.
Ningsih mencoba bernegosiasi dengan keempat pemuda itu.
"Jangan... aku akan bungkam... nggak akan laporkan kalian. Tapi please jangan lukai aku...." pinta Ningsih dengan nafas tersengal-sengal.
"Bohong! Pasti wanita itu akan laporkan kita jika dibebaskan," kata Endri ketakutan.
"Please... aku nggak akan ingkar... jangan lukai aku," lirih Ningsih.
__ADS_1
"Lu janji nggak akan lapor?" tanya Jalu sambil menarik rambut Ningsih.
Ningsih meringis kesakitan. "I... iya... aku nggak akan cerita ke siapa pun. Please pergi. Lepasin aku...."
Tyo dan Dion saling pandang. Entah percaya atau tidak apa yang Ningsih ucapkan.
"Kalau gitu... lu layanin kita berempat. Baru gue percaya!" celetuk Tyo, menyeringai.
"Hebat bener idemu bro! Ayo mau nggak?" imbuh Dion.
Keempat pemuda itu menatap tajam ke arah Ningsih. Tak berdaya, Ningsih mengangguk perlahan. Lebih baik melayani pemerkosa daripada mati konyol dibunuh empat pemuda yang kesetanan nafsu birahi.
"Bimaa... kamu di mana? Tolong aku!" jerit batin Ningsih yang mau tak mau harus melayani empat pemuda itu bersamaan.
Malam itu, malam paling mengerikan sepanjang hidup Ningsih. Tak disangka dia diperkosa lelaki haus birahi. Rasa sakit dan malu, harga diri yang hilang direnggut pemuda sialan itu membuat Ningsih mendendam.
"Kalau lu nggak puasin kita berempat, gue mampusin lu!" Ancam Endro sambil menampar Ningsih.
Ningsih terdiam tak berkata apa-apa. Namun batinnya terus menjerit.
"Aku tak rela kalian memperlakukanku seperti binatang! Dasar biadab!"
Seketika kesadaran Ningsih pun surut. Dia kembali pingsan. Sesuatu terjadi di luar nalar. Keempat pemuda itu terpental dari menjamah tubub Ningsih. Mereka kesakitan karena ada sesutu yang membuat mereka serasa tersengat aliran listrik.
Tubuh Ningsih melayang, membuat empat pemuda itu ketakutan setengah mati. Mereka bergegas memakai pakaian yang sudah tercecer di lantai. Ketakutan dan hendak segera kabur.
Ningsih yang tak sadarkan diri menunjuk pemuda itu satu persatu. Pemuda itu pun tak sadarkan diri.
Keesokan harinya....
[ Sekilas info....
Diketemukan empat mayat terbawa ombak di pelabuhan. Mayat yang penuh luka dan tanpa pakaian itu diperkirakan sudah terombang ambing sebelum akhirnya ditemukan nelayan. Keempat jasad itu penuh luka sayat. Penyelidukan dan autopsi akan dilakukan lebih lanjut pada pihak yang berwenang. ]
Siaran di berita Televisi dan radio pun heboh seperti keadaan pelabuhan yang gencar karena empat sosok mayat. Nelayan menemukan mayat itu terbawa arus laut.
Ningsih tak sadar apa yang dia lakukan semalam. Sesuatu kekuatan merasukinya.
Bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Guys suka tidak? Yuk VOTE, berbalas komentar dan bagi like + tips koin (jika punya) pada karya author JERAT IBLIS agar author semakin semangat bekarya. Thanks all π