
...🔥 Makhluk Hitam Meninggalkan DUKA 🔥...
Ustad Rizaldi berusaha meruqyah Nindy. Selang beberapa puluh menit kemudian, suara mobil terhenti di depan rumah Reno terdengar. Ternyata Ningsih dan Wahyu datang tepat pada waktunya.
"Assalamualaikum ...." Setelah mengucap salam, Ningsih dan putranya langsung masuk ke dalam rumah Reno. Terlihat asisten rumah tangga dan Pak Sopir terlihat ketakutan. Sedangkan Reno dan Gio terlihat sedang berdoa tanpa henti, serta di arah kamar ada kegaduhan.
"Mama, Wahyu akan membantu. Sepertinya sudah ada Pak Ustad di dalam sana. Kak Nindy harus segera diselamatkan," ucap Wahyu yang kemudian memegang tasbih yang dia bawa di dalam saku bajunya. Dengan mengucap Asma Allah, Wahyu meminta perlindungan Allah dan segera melawan makhluk itu.
Saat masuk ke dalam kamar, Nindy terlihat acak-acakkan. Tangannya berdarah, terluka karena menghantam cermin. Terlihat pecahan cermin berserakan di dekat meja rias. Wajah Nindy pucat dan gurat-gurat ototnya terlihat. Bibirnya mengeluarkan darah karena tergigit saat berteriak-teriak. Rambut Nindy juga terlihat kusut berantakkan.
"Allah hu akbar!" teriak Ustad Rizaldi kemudian menyiram Nindy dengan air bidara.
"Aaarrrggg!!" Nindy jatuh terpental. Terlihat tangannya seperti patah, tetapi karena kerasukan, dia bisa menggunakan tangannya tanpa kesakitan.
Wahyu langsung mendekati Nindy dan membisikkan kalimat doa yang almarhum Kyai Anwar ajarkan. Dia segera mengalungkan tasbihnya ke leher Nindy. Nindy pun menggeliat dan berteriak kesakitan. Saat yang sama, makhluk itu melihat Ningsih dari celah pintu kamar. "Kalau aku harus musnah, akan kubawa pendosa itu bersamaku!" teriak Nindy dengan suara berat.
Makhluk itu dengan sisa energi yang dimilikinya menerobos Wahyu dan Ustad Rizaldi. Meraih pecahan cermin yang tajam dan berlari ke arah Ningsih. Semua terasa sangat cepat. Wahyu yang hendak mencegah pun tak bisa meraih tubuh Nindy yang masih kerasukkan. Padahal makhluk hitam itu sebentar lagi musnah karena tasbih di leher Nindy yang Wahyu letakkan bereaksi.
Kadang takdir sangat menyedihkan. Ketika Ningsih berusaha berubah menjadi orang baik, banyak sekali kendala yang dia rasakan. Kali ini, makhluk hitam itu berhasil membuat onar dengan tubuh Nindy menikam Ningsih. Kejadian sangat cepat ... seketika darah menetes. "Nin-Nindy ...." lirih Ningsih saat melihat adik dari almarhum Joko itu menyeringai.
"Kalau aku tidak bisa mendapat apa yang aku inginkan, maka menderitalah kalian!" gertak Nindy, lalu terjatuh karena makhluk hitam yang merasukinya sudah musnah.
"Mama! TIDAK!" teriak Wahyu yang langsung berlari.
__ADS_1
Reno dan Gio pun langsung berlari ke arah Ningsih dan Nindy. Keadaan menjadi kacau. Nindy menindih tubuh Ningsih. "Bibi, cepat panggil ambulans!" seru Reno memerintah dengan panik.
Gio dan Reno langsung membawa tubuh Nindy ke sofa. Sedangkan Ningsih yang mengalami luka pendarahan hebat di bagian sekitar perut, berada dalam pelukan anaknya. "Mama! Mama bertahanlah. Kumohon bertahanlah!" Wahyu panik dan berteriak.
Ningsih menatap anaknya. Matanya berkaca-kaca. Rasanya tubuh Ningsih mulai kedinginan. "Nak, Mama mencintaimu. Mama ingin kamu menjadi anak baik dan membantu banyak orang. Nak, bantu Mama mengucap kalimat itu ...." lirih Ningsih yang berusaha keras tetap terjaga.
"Mama! Kumohon jangan seperti ini ...." Wahyu mengusap wajah ibunya. Dia pun terpaksa membimbing ibunya mengucapkan dua kalimat syahadat. Meski rasanya sesak karena takut hal buruk terjadi pada ibunya. "Ayshadu Alla ilaha illallah wa ayshadu Anna Muhammadarrasulullah" Setelah Wahyu mengucapkan, Ningsih pun mengulanginya dengan terbata-bata. Setelah menyelesaikan kalimat syahadat, Ningsih tak sadarkan diri. Dia pingsan karena darah yang keluar terlalu banyak.
"Tidak! Mama ... bangun, Mama!" Wahyu menjadi panik.
Ustad Rizaldi memeriksa Ningsih. "Ibumu masih hidup, Nak. Dia pingsan karena banyak darah keluar. Kita harus segera bawa ke rumah sakit." Tepat saat Ustad Rizaldi berbicara, suara raungan sirine ambulans terdengar nyaring mendekat ke arah rumah Reno.
Ternyata, tidak hanya ambulans yang datang. Namun ada pihak kepolisian pun datang karena ada korban luka tusukan. Hal ini menjadi rumit karena polisi tidak akan percaya soal kerasukan makhluk gaib, bukan?
Meski Reno dan Wahyu khawatir dengan Nindy dan Ningsih, apa boleh buat mereka harus ikut ke kantor polisi terlebih dahulu atau akan mendapat hukuman yang serius. "Wahyu, maafkan Kakak. Kamu sabar, ya. Mamamu pasti sembuh," kata Reno sangat menyesal dengan segala kekacauan ini. Wahyu tertunduk sedih. Membayangkan ibunya, terasa hati sesak karena takut ada hal buruk terjadi.
Makhluk hitam itu tahu jika amarah dan dendam Nindy kepada Ningsih begitu besar. Dia memanfaatkan detik-detik terakhir untuk menyerang Ningsih agar memicu permasalahan. Dia melihat jika Ningsih memiliki masa lalu yang kelam. Makhluk itu sengaja meninggalkan pertikaian agar mereka saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.
...****************...
Setelah interograsi ketat selama beberapa jam, akhirnya polisi membebaskan Reno, Gio, Wahyu, dan Ustad Rizaldi. Justru Nindy yang saat ini menjadi tersangka meski sekarang berada di ICU. Sidik jari di pecahan cermin yang menusuk tubuh Ningsih adalah milik Nindy. Namun, polisi masih bingung karena tangan kiri Nindy patah, sedangkan tangan kanannya terluka parah karena terkena pecahan cermin. Semua luka itu polisi simpulkan dengan dugaan melukai diri sendiri. Lantas bagaimana Nindy bisa menusuk Ningsih? Menyerang Ningsih dengan pecahan cermin itu padahal kaki dan tangannya terluka parah. Polisi masih mencari bukti kuat atas segala hal yang kurang logis ini.
"Kalian kami bebaskan dan menjadi saksi atas kejadian melukai diri sendiri dan penyerangan yang dilakukan Bu Nindy ke Bu Ningsih." Polisi dengan tegas menyimpulkan hal itu. Reno hendak protes, tetapi Wahyu menahan tangan lelaki itu.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit, Kak. Kalau Kakak protes akan lebih panjang lagi prosesnya," bisik Wahyu dengan masuk akal. Reno pun mengurungkan niatnya untuk protes. Meski hatinya tak terima kalau istrinya dijadikan tersangka. Hal itu di luar perkiraan dan kendali karena Nindy sedang kerasukan.
"Pak Ustad, maaf jika jadi seperti ini. Biar sopir saya antar ke rumah, ya," ucap Reno sangat menyesal dengan semua kekacauan ini.
"Tidak apa, Nak Reno. Sabar, ya. Allah pasti membantu untuk keluar dari masalah ini. Istigfar dan banyak bersujud doa agar Nak Nindy dan Ningsih bisa sembuh. Saya akan ikut ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat kondisi mereka. Maaf jika semua ini terjadi di luar kendali." Pak Ustad juga merasa bersalah. Mereka berempat segera pergi ke rumah sakit.
Perjalanan beberapa puluh menit akhirnya sampai di rumah sakit. Reno dan Wahyu segera berlari menanyakan kondis orang yang mereka sayangi masing-masing. Gio dan Pak Ustad berjalan di belakang mereka. Ruangan Nindy dan Ningsih terpisah. Sedangkan rumah sakit itu adalah tempat yang sama untuk merawat Gilang. Setelah Gio menjelaskan kepada Pak Ustad soal Gilang sakit, Pak Ustad memilih berkunjung ke tempat Gilang terlebih dahulu.
"Terima kasih, Pak Ustad. Tolong bantu sahabat saya agar lekas sembuh, ya," ucap Gio penuh harapan karena Gilang sakit tanpa diketahui sebabnya apa. Sudah dilakukan pengecekkan, tetapi hasilnya baik-baik saja. Entah mengapa bekas memar itu di dada masih terlihat dan Gilang belum sadar.
Saat Gio membawa Pak Ustad ke ruangan Gilang, Pak Ustad pun tahu kalau ini perbuatan makhluk hitam itu. "Nak Gio, mari kita berdoa bersama mohon bantuan Allah mencabut ikatan makhluk hitam itu dalam tubuh Nak Gilang agar lekas sembuh." Setelah aba-aba itu, mereka berdua berdoa bersama dan terlihat aura hitam yang menyelimuti Gilang mulai memudar lalu menghilang. Bersamaaan dengan itu, Gilang pun mulai membuka mata dan sadarkan diri. Perawat dan dokter segera mengecek Gilang setelah Gio melaporkan kondisi Gilang sudah sadarkan diri.
Di sisi lain, Reno menangis melihat kondisi Nindy yang memperihatinkan. Di ICU tubuh wanita itu terbujur lemas tak berdaya dengan balutan perban hampir di sekujur tubuhnya. Reno sedih mengapa istrinya mengalami semua ini. Seakan Sang Pencipta membiarkan semua terjadi. Makhluk hitam itu berhasil membuat iman Reno terguncang dan mulai meragukan Sang Pencipta.
"Nindy ... sabar ya, Sayang. Kamu pasti lekas sembuh," ucap Reno dari balik kaca ruangan ICU karena tidak boleh masuk sebelum pasien sadarkan diri atau atas izin dokter yang menangani.
Sedangkan Wahyu menangis tersedu-sedu mendengar kabar ibunya sedang operasi untuk menghentikan pendarahan dan menjahit bekas luka tusukan yang dalam itu. "Ya Allah, angkatlah rasa sakit di tubuh Mama. Berilah kemudahan dalam operasi dan berilah kesembuhan. Mama sudah berusaha yang terbaik untuk kembali ke jalan-Mu. Bantulah kami melewati semua kesulitan ini, ya Allah. Ampuni segala dosa, kesalahan, dan keangkuhan kami yang merasa bisa melalui semua ini sendirian. Maafkan kami, ya Allah," batin Wahyu yang duduk di depan ruangan operasi menunggu kabar baik dari hasil pengobatan ibunya. Andai Bima dan Alex masih berada di sana, pasti tidak akan terjadi hal seburuk ini. Wahyu pun menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia sangat tertekan karena kejadian ini begitu cepat dan membuat syok.
Gio dan Pak Ustad segera menghampiri ke Wahyu yang bersedih. Posisi mereka lebih dekat dari pada ke ICU tempat Reno menangisi Nindy. "Nak Wahyu, sabar ya. Allah pasti membantu dan menyembuhkan Ibumu," kata Pak Ustad sambil mengusap pundak Wahyu agar dia merasa sedikit tenang.
"Pak Ustad, mengapa hidup sesulit ini? Mamaku baru saja bertaubat dan mengubah hidupnya. Jika Mamaku meninggal, apakah semua ini adil?" tanya Wahyu yang mulai putus asa.
"Istigfar, Nak. Allah menyayangi kalian. Tidak akan ada pencobaan melebihi dari kekuatan umat-Nya. Sabar, Nak. Mari kita berdoa bersama untuk kelancaran operasi dan kesembuhan Ibumu," ajak Pak Ustad sambil menatap Gio dan Wahyu. Mereka pun berdoa bersama. Membuat sedikit rasa tenang muncul di benak Wahyu. Setidaknya masih ada orang yang peduli dengan kondisi Wahyu dan ibunya.
__ADS_1