
...🔥 PANDANGAN DINDA 🔥...
Sesungguhnya, Dinda tak suka dengan Ningsih. Dia tak ingin kakaknya dalam masalah yang rumit. Namun apa boleh buat, semua sudah terjadi. Hubungan Bima dengan Ningsih sudah bertahun-tahun. Selama itu juga, korban Dinda bertambah banyak. Setelah kasus Lukas, banyak jumlah korban yang hanyut dalam pesona Dinda. Hingga saat ini, dia akhirnya mengambil Vira dan orang disekelilingnya.
Tumbal suci jiwa Samy membuat kekuatan Dinda meningkat drastis. Samy ikut masuk dalam cengkraman Dinda karena malam itu, setelah menonton film, Samy dan Vira sudah melakukan hubungan badan. Otomatis Samy menjadi tumbal selanjutnya. Dinda panen empat jiwa dalam semalam. Sungguh hal yang menyenangkan bagi Dinda dan penguasa neraka lapis ketujuh.
Dalam pandangan Dinda, Ningsih hanyalah beban bagi Bima. Dinda merasa tak suka karena sejak melihat Ningsih, kakaknya menjadi berubah. Awalnya Bima adalah Iblis kepercayaan di neraka lapis ketujuh. Dia selalu berhasil membuat Tuan Chernobog merasa puas dengan kinerja Bima. Namun, setelah mengenal Ningsih, Bima berubah.
Bima menjadi lalai akan tugasnya. Bersaing kuota mengambil jiwa-jiwa berdosa, mulai Bima lupakan. Hingga akhirnya Tuan Chernobog tahu Bima menaruh rasa pada manusia. Hal itu membuat penguasa neraka lapis ketujuh itu murka. Dia terpaksa menghukum Bima agar menjadi pelajaran bagi Iblis lainnya agar tidak membangkang.
Tuan Chernobog menghukum Bima dengan seribu cambuk dan meletakkan Bima di kutub yang amat dingin. Hal menyiksa bagi Iblis untuk tinggak di kutub berhari-hari. Tepatnya seminggu, hukuman untuk Bima. Selama itu juga, Dinda mendapat tugas untuk melindungi Ningsih.
Hari itu, di mana Ningsih diperkosa empat lelaki brengsek. Dinda pun mengambil alih tubuh Ningsih untuk membalas keempat lelaki itu. Mencabik dan menyatat tubuh lelaki itu satu per satu. Lalu membuang para lelaki sampah itu ke laut. Tentu saja saat Ningsih terbangun, dia terkejut dengan kondisinya. Dia belum menayadari soal pembunuhan itu.
Ningsih terbangun dari tidurnya. Serasa pemerkosaan semalam hanyalah mimpi belaka. Namun, mata Ningsih menatap ke kamar yang berantakan. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Kepalanya terasa nyeri dan sakit seperti tertusuk-tusuk jarum.
"Semalam itu ... bukan mimpi?" gumam Ningsih.
Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi karena ada noda darah di beberapa sudut kamarnya, suara keramaian di depan rumah membuat Ningsih bertanya-tanya. Dia menutup rapat kamar itu dan berganti pakaian untuk segera pergi keluar rumah.
"Kenapa banyak darah di sini? Aku harus mengganti pakaianku."
Belum sempat keluar rumah, terlihat dari jendela ada polisi lewat. DEG!
Ningsih mengurungkan niat keluar rumah. Dia bergegas menata kamarnya. Menghapus bekas darah dengan cairan pembersih lantai. Bau amis itu menyeruak, Ningsih menyemprotkan pengharum ruangan begitu banyak.
Setelah beres, Ningsih menghela nafas. Dia pun keluar rumah. Berusaha sebiasa mungkin, seakan tidak terjadi apa pun, karena memang dia tak ingat apa yang terjadi setelah dirinya dibekap.
Dinda mengamati Ningsih. Dia masih diam dan belum menampakkan wujud. Sebenarnya Dinda sangat tidak menyukai Ningsih, tetapi apa boleh buat, demi kakaknya. Wanita Iblis itu tahu jika kakaknya terlalu larut dalam perasaan tak semestinya.
__ADS_1
Dinda mengikuti Ningsih yang bertanya soal penemuan mayat empat lelaki. Dinda melihat jika Ningsih pun tak ingin melihat hal itu lebih lama. Ningsih yakin ada hal aneh terjadi. Namun, apa?
"Bima... apakah semalam kamu menolongku?" batin Ningsih mencari jawaban atas kebingungannya.
Bima belum menjawab, tetapi justru ada seorang wanita mendekat. "Ningsih ... ikut sebentar ... ada yang ingin kusampaikan."
Seakan terhipnotis, Ningsih mengikuti wanita itu ke tempat yang sepi. Padahal belum pernah dia melihat wanita itu sebelumnya. Ya, wanita itu adalah Dinda. Wanita Iblis yang mempesona dan menawan. Meski kemampuannya masih di bawah Bima, tetapi kengeriannya tak bisa dipungkiri. Banyak manusia yang jatuh dalam JERAT IBLIS genggaman Dinda.
"Namaku Dinda Pratiwi. Secara manusia, aku ini adik kembarannya Bima. Jangan takutb... aku tidak akan melukaimu," lirih wanita cantik dengan sorot mata tajam.
"Din ... Dinda? Bima itu Iblis ... mana mungkin punya adik?" ucap Ningsih terbata, bingung.
"Ha ha ha ha ... kamu kira aku ini manusia? Ini memang bentuk manusiaku. Aku pun sudah menjadi pengikut Iblis sejak ratusan tahun yang lalu. Belum saatnya aku bercerita hal itu, aku hanya ingin menyampaikan... Bima menyuruhku menemanimu sementara." Dinda merasa jika wanita pilihan kakaknya itu tidak sesuai dengan segala kelebihan Bima. Bima menadapat hukuman hanya demi wanita seperti itu. Hal yang tak bisa Dinda pahami.
"Bima? Ada apa dengan Bima?" tanya Ningsih pada Dinda.
"Iblis yang mencintai manusia adalah kesalahan fatal. Saat ini Bima sedang menjalani hukuman. Tenang saja... dia kuat. Semua akan baik-baik saja." jelas Dinda dengan santai. Dia bukan tipe Iblis yang suka menutupi sesuatu.
"Ningsih ... tak perlu khawatir. Tetap di sini sampai hari Minggu. Setelah itu, kita bisa kembali ke rumahmu. Namun, penjaga rumahmu orang yang berilmu, aku tak bisa menembus rumahmu dengan mudah. Kekuatanku masih jauh di bawah Bima." ucap Dinda yang sudah menyelidiki rumah Ningsih.
"Orang yang menjaga rumahku? Siapa? Joko dan Budi tidak berilmu apa-apa. Hanya saja, Budi taat ibadah. Dia tak pernah lewat sholat maupun dzikir," kata Ningsih, dia tak menyangka iman Budi yang kuat bisa menghalau makhluk astral.
"Budi ... dia anak pemilik pesantren terbesar di Wonosari. Kamu tak tahu? Dia berbahaya untuk kaum kami," bisik Dinda membuat Ningsih merinding.
"Tak mungkin! Budi hanya keponakan Mak Sri. Dia orang biasa. Tidak memiliki ilmu apa pun, setahuku. Selama ini Bima sering bersamaku di rumah. Tak ada apa-apa," elak Ningsih yang tak percaya.
"Baiklah jika kamu tak percaya ... tetapi aku tak bisa ke rumahmu," kata Dinda, agak kesal.
Bahkan sesama wanita, beda dunia, tetap bisa berdebat. Dinda lebih baik mengalah dan tak mau banyak bicara. Melihat Ningsih tak paham apa yang terjadi, Budi mengamati Ningsih empat tahun ini.
__ADS_1
Ningsih pun kembali ke rumah yang dikontrak dekat pelabuhan. Dia mengajak Dinda bersamanya. Semua sorot mata warga tertuju pada Dinda. Tak bisa dipungkiri pesona Dinda sangat menggiurkan semua orang. Jangankan lelaki, wanita pun melihat Dinda pasti merasa iri dan takjub.
Sesampainya di dalam rumah, Ningsih ingat sesuatu. "Nyai Pelet? Kamu itu Nyai Pelet, ya?"
"Ha ha ha ha ... baru sadar?" jawab Dinda dengan bangga.
"Astaga! Pantas saja semua orang terkagum-kagum. Kukira itu hanya legenda saja. Oh iya, soal semalam...."
"Ya. Aku bunuh mereka berempat dengan merasuki tubuhmu. Kemarin nafasmu sudah hampir habis dibekap. Kalau aku tidak masuk, bisa dead kamu. Lain kali jangan bodoh, harus waspada," jelas Dinda sambil duduk di sofa. Dinda selalu bersikap santai seakan tak ada masalah apa-apa.
Ningsih terkejut. Jika dia membunuh empat orang itu ... bisa jadi sidik jarinya ada dan terkena urusan hukum.
"Hih! Siapa yang bodoh? Aku tertidur karena ngantuk. Lalu, sidik jariku? Aku bisa kena kasus hukum kalau membunuh orang."
"Ngantuk? Kamu itu dibius pakai asap. Itu kalengnya ... dan soal sidik jari, tak mungkin ada. Aku yang membunuh mereka," cicit Dinda sambil menunjuk kaleng kecil yang tergeletak di bawah kolong meja.
Lagi-lagi, tingkah Dinda membuat Ningsih sebal. "Untunglah itu adik Bima. Menyebalkan sekali." batin Ningsih.
"Eh ... aku bisa dengar batinmu, ya. Jangan menggerutu! Kamu nggak ada pilihan lain, harus bersamaku. Bima bilang kalau ada orang kepercayaan Lee yang hendak mencarimu. Maka dari itu aku harus menemanimu. Mau tak mau ... aku tetap menemanimu," gumam Dinda.
Dinda terpaksa menemani kekasih kakaknya yang sangat menyebakkan. Dia memang sejak awal tak suka Ningsih, maka dari itu tetap saja sulit bersikap pura-pura baik pada wanita itu. Dinda ingin kakaknya kembali seperti dahulu. Tidak menjadi budak cinta dari wanita yang menyebalkan.
"Andai Kak Bima menurut perkataanku. Dia tak akan terjebak dalam perasaan yang salah. Kak Bima tak akan mendapat masalah karena melanggar apa yang Tuan Chernobog. Dasar Kak Bima itu kuat dan tangguh, tapi bodoh!" gumam Dinda yang masih tak habis pikir kenapa Bima memilih Ningsih sebagai istrinya. Bukan untuk mencari tujuh tumbal dalam pesugihan seperti biasa, tetapi untuk melindungi dan menaruh rasa.
Rasa cinta di dunia Iblis adalah hal yang terlarang. Tak seharusnya mereka seperti itu. Jika melanggar, tentu saja sangsi yang diterima cukup berat. Penguasa Neraka tak menerima toleransi dari sebuah pelanggaran. Tuan Chernobog termasuk Iblis yang tak kenal ampun. Dia dengan hebat mengambil jiwa manusia berdosa untuk memenuhi kuota neraka lapis ketujuh. Mengerikan.
Dinda juga salah satu iblis andalan di neraka lapis ketujuh karena mampu mengambil jiwa manusia berdosa sangat banyak tiap tahunnya. Prestasi dalam dunia kegelapan. Meski tak banyak manusia yang tahu hal itu, tidak bisa dipungkiri jika banyak manusia yang terjerumus dalam JERAT IBLIS.
Dosa kecil yang berkembang menjadi besar. Tanpa disadari, semakin menjerat. Tak bisa terbebas dari ikatan dosa. Lalu, mengakibatkan orang lain jatuh dalam dosa secara tak sengaja atau pun sengaja. Mengerikan. Hal yang sangat nyata tetapi tak terlihat. Dosa itu selalu ditutupi agar terlihat bahagia dan normal, padahal setiap manusia memilih dosannya tersendiri. Seperti Ketujuh Lapis Neraka, dosa manusia bermacam-macam golongan.
__ADS_1
Dinda berharap hal ini akan berakhir. Dia tak mau Bima terus bersama Ningsih dan menderita. Dinda tahu semua kisah ini akan berakhir dalam penderitaan tak berujung. "Kak, kuatkan dirimu menjalani hukuman. Aku akan menunggumu kembali dan memulihkanmu." kata Dinda pada diri sendiri. Dia peduli dengan kakaknya. Meski Bima sendiri yang mengajak Dinda menjadi Iblis penghuni neraka. Dinda tak pernah menyesali hal itu. Tak pernah bersedih akan hal itu. Dia justru kagum karena Bima selalu mendapatkan perhatian lebih di Neraka. Bima mendapatkan kepercayaan dari para penguasa Neraka. Alasan itu yang membuat Dinda tak suka Ningsih. Jika dilanjutkan, akan berdampak buruk bagi Bima di Neraka.