
π PENYELIDIKAN - PART 2 π
Dua hari kemudian ....
Setelah percakapan Santi dan Budi dua hari yang lalu, hati Santi makin kalut. Sedangkan Mak Sri semakin yakin ada yang tak beres. Selama ini Mak Sri hanya menebak saja jika Ningsih mendapatkan harta secara instan tetapi belum bisa membuktikannya. Setelah mendengar pernyataan Budi, Mak Sri menjadi takut.
"Mak, ada apa kok pucat?" tanya Ningsih mengagetkan lamunan Mak Sri.
"Eh, tidak Bu Ningsih. Maaf cuma agak tak enak badan saja."
"Mak Sri istirahat aja dulu. Nanti aku juga mau pergi sama anak-anak diantar Joko. Mak Sri nggak usah buat makan siang dan malam buat kita-kita. Mak Sri siapkan buat diri sendiri sama Budi aja," jelas Ningsih sambil berlalu.
Santi, Reno, Wahyu, dan Joko sudah menunggu di mobil. Ningsih melangkah ke mobil meninggalkan Mak Sri dan Budi di rumah. Mereka hendak pergi berbelanja.
Setelah memastikan mobil Ningsih menjauh, Mak Sri bergegas ke depan rumah. Mencari Budi yang sudah menutup gerbang.
"Budi ...." panggil Mak Sri dengan suara agak parau. Melambaikan tangan ke Budi yang segera menuju ke arah Mak Sri.
"Iya, Budhe. Tumben memanggilku? Ada apa Budhe?" Budi mendekati Mak Sri.
"Budi, Budhe mau tanya. Maukah jawab jujur?"
"Pasti, Budhe. Ada apa? Serius sekali."
Mereka duduk di teras depan rumah sambil berjaga kalau-kalau Ningsih pulang. Percakapan serius pun terjadi.
"Budi, apakah selama ini tahu apa yang terjadi di sini? Bapakmu mengirim kamu ikut kerja di sini pasti ada alasannya, bukan?" selidik Mak Sri pada keponakannya yang tampan.
"Budhe, bukannya sudah tahu kalau Budi ingin belajar mandiri dan lebih rajin lagi. Sekalian jaga Budhe," jawab Budi menutupi dengan senyumnya.
"Budhe sudah dengar apa yang kamu dan Non Santi bicarakan. Apakah itu benar? Budhe sudah menduga sejak pertama ikut Bu Ningsih. Suami pertama meninggal, Budhe mulai mengasuh Wahyu sejak usia satu tahun," kata Mak Sri menerawang jauh.
"Bu-Budhe dengar? Maaf, Budhe. Bukannya Budi mau berbohong. Tapi Bapak bilang untuk rahasiakan ini dari Budhe. Tugas Budi melindungi Budhe saja."
Mak Sri menghela napas panjang. "Lalu apa yang akan terjadi pada Bu Ningsih dan puteranya kalau tidak diselamatkan? Apa kamu sama Bapakmu tega biarkan orang tersesat?"
__ADS_1
"Budhe, kalau Bu Ningsih memang mau bertaubat pasti ada jalannya, tapi ini beda. Bu Ningsih suka, bahkan cinta sama makhluk itu. Kalau sudah seperti itu, Bapak dan Budi susah membantunya. Apalagi kalau menyerahkan jiwa secara suka rela. Budhe tahu kan banyak kejadian aneh dan bencana terjadi? Ini sudah hampir waktu penjemputan Bu Ningsih," jelas Budi sambil mengusap tangan Mak Sri agar tenang dan tabah.
"Bud, bilang Bapakmu ... selamatkan puteranya Bu Ningsih jika memang tak bisa menyelamatkan keduanya. Budhe mohon dengan sangat. Biar Budhe yang besarkan anak itu. Budhe sudah sayang sama si Wahyu seperti cucu sendiri. Tolonglah ...." Mak Sri memohon dengan sangat. Tangannya menggenggam tangan Budi erat.
"Kalau itu ... Budi usahakan ya, Budhe. Nanti Budi akan minta petunjuk Allah dan juga menyampaikan ke Bapak. Budhe jangan sedih ya. Untuk saat ini di rumah aman. Budi dan Bapak pasang pagar gaib yang kuat. Jadi efek negatif di rumah ini sudah hilang."
"Terima kasih ya, Bud. Budhe benar berharap Wahyu bisa selamat."
Mak Sri sangat sedih saat mendengar kenyataan Ningsih bersekutu dengan Iblis. Bahkan dalam penerawangan Budi, sudah enam lelaki yang menikah dengan Ningsih dan meninggal dijadikan tumbal. Meski Mak Sri hanya mengetahui Tuan Agus dan Tuan Tomi saja.
Ningsih sudah menikah diam-diam dengan Rudi, Bayu, Satria, dan Lee. Saat ini dalam penerawangan Budi, Ningsih berada di ujung tanduk.
" ... begitu ceritanya, Budhe. Saat ini Bu Ningsih kurang menikah sekali lagi untum menyempurnakan tujuh tumbal kegelapan dan akhirnya Bu Ningsih juga akan diambil oleh Iblis itu. Kemungkinan selamat sangat kecil karena mereka juga berhubungan badan. Selain itu, mereka punya ikatan lebih dari sekedar perjanjian kegelapan. Mereka saling mencinta. Jika Bapak musnahkan Iblisnya, kemungkinan Bu Ningsih bisa selamat 50:50 saja. Bisa jadi malah ikut meninggal," kata Budi menjelaskan semuanya.
"Iya, Budi. Budhe percaya kamu dan Bapakmu akan berusaha yang terbaik."
Setelah percakapan itu, Mak Sri masuk ke rumah. Hatinya sedikit lega karena Budi akan mengupayakan yang terbaik. Terlebih Mak Sri tahu adiknya Kyai yang memiliki ilmu tinggi, tentunya akan membantu membebaskan Ningsih dan puteranya.
***
"Kamu beli apa lagi, San? Kira-kira mau masak apa besok di rumah?" tanya Ningsih sambil memilih bahan makanan.
"Emm ... mungkin masak seafood aja, Tante. Si Reno kan suka seafood, Wahyu juga." Santi memilih beberapa sterofoam aneka seafood segar lalu memasukan ke trolly.
"Wah, seneng kalau selalu ada temannya begini."
"Hla, emang biasanya sama siapa kalau belanja Tante?"
"Sama Mak Sri, Wahyu, dan Joko. Kalau sekiranya barang bawaan banyak ya sekalian Budi ikut," ucap Tante Ningsih sambil memilih-milih sayuran di rak.
"Hlo emangnya Om Bima jarang gitu nemenin?"
Ningsih meletakkan sayuran yang di tangannya. "Om Bima sibuk. Sekarang makin sibuk soalnya ada klien baru. Maklumlah banyak urusan. Sekarang aja lupa sama ...." Ningsih terhenti saat suara yang dia kenal bergaung.
"Sayang!" teriak lelaki yang kemudian menghampiri Ningsih.
__ADS_1
"Bim-Bima?" Ningsih tergagap melihat suami gaibnya sudah rapi dengan kemeja hitam kotak-kotak.
"Iya, kok kaget? Ada apa nih? Pasti lagi ngomongin aku ya? Eh Santi sudah di Jakarta lagi. Di mana Reno?" ucap Bima membuat Santi pun gugup.
"Iya, Om. Udah dua hari yang lalu ke sini. Itu si Reno sama Bang Joko dan Wahyu lagi mainan. Om kok nyusul ke sini? Emangnya Tante bilang ya?" tanya Santi dengan curiga.
"Iya, Om sudah selesai pekerjaan pentingnya. Terus nyusul Ningsih ke sini. Tadi dia shareloc." jawab Bima dengan senyum yang membuat hati Ningsih meleleh.
Mereka pun menyelesaikan belanja lalu menyusul ke playkids. Bima menggandeng tangan Ningsih sambil membawa trolly berisi belanjaan mereka.
"Aku kira kamu sibuk sama klien baru," sindir Ningsih pada Bima.
"Oh, nggak kok. Aku masih belum bisa ke rumahmu sayang. Jangan marah," bujuk Bima pada Ningsih yang sepertinya lupa dengan pagar gaib itu.
"Oh iya, aku lupa. Nanti coba aku bujuk Budi bukakan saja."
"Tak usah, kita bisa bertemu di luar."
Santi sesekali takut menatap Om Bima yang terlihat agar menyala merah. Entah karena lelah atau pertanda sesuatu, Santi jadi ngeri melihatnya.
"Santi ... sebaiknya jangan terlalu ikut campur. Om tidak mau melukai siapa pun," lirih Bima di dekat Santi yang membuat wanita itu gemetar.
"Duh, gimana nih. Jangan-jangan beneran Om Bima itu suami gaibnya Tante Ningsih. Gimana nih aku ketahuan kalau nyelidiki mereka," batin Santi bergejolak. Ketakutan.
"Ada apa, Bima sayang?" tanya Ningsih melihat Santi pucat di samping Bima.
"Nggak ada, kok. Tenang saja."
Santi makin yakin atas dugaannya. Kali ini penyelidikan harus dituntaskan. Tekat sudah bulat tak ingin mengulangi kesalahan masa lalu saat Ratih meninggal. Santi pun mengirim pesan ke Reno agar waspada
Santi: [Reno, waspada ya. Om Bima sepertinya sesuai dugaan kita. Tadi dia memperingati Kakak. Kita harus bertindak cepat.]
pesan terkirim
Bima pun menatap Santi dan membuatnya semakin ketakutan. Santi harap Reno membuka handphonenya dan bisa mencari solusi bersama.
__ADS_1
Bersambung....