JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 156


__ADS_3

πŸ€ MENYERAH πŸ€


Satu tahun kemudian ....


Waktu berjalan begitu cepat. Banyak hal yang terjadi tanpa sepengetahuan Ningsih. Kini, Wahyu menjadi anak yang mandiri. Usia yang hampir sembilan tahun membuatnya tumbuh menjadi santri cilik yang berbakat. Pak Anwar sangat menyayangi anak itu.


Sedangkan Reno dan Santi, selama ini mereka sudah kembali di Kota Yogyakarta. Seminggu sekali, tepatnya saat weekend, mereka berkunjung ke pesantren untuk menjenguk Wahyu dan tentunya melihat keadaan Tante Ningsih.


Ningsih masih belum sadarkan diri. Petugas kesehatan sudah menyerah. Bahkan, Budi beberapa kali mengganti petugas kesehatan yang memantau kondisi Ningsih dan memasang infus serta selang oksigen. Budi masih berharap, wanita yang menjadi bosnya itu akan segera sadar.


PakLek Darjo setelah pulang ke Salatiga, tak kembali ke pesantren karena istrinya beberapa kali sakit. Kedua anak beliau pun jadi sering pulang karena khawatir dengan kondisi ibunya. Santi dan Reno juga beberapa kali mengunjungi ke rumah PakLek Darjo.


Sedangkan kehidupan keluarga Joko, perlahan makin hancur. Sejak kepergian Joko yang menjadi tulang punggung keluarga, perekonomian keluarga Joko turun drastis. Terlebih, Ningsih menghilang begitu saja. Nindy yang masih muda dan baru lulus SMA, bekerja serabutan untuk membantu ekonomi keluarga.


Hingga akhirnya, Nindy menyerah untuk bekerja keras. Dia sudah jenuh dengan segala kesusahan yang ada.


"Gimana, Nin? Jadi nggak yang kemarin? Gue udah siapin yang super kaya buat lu!" kata teman Nindy yang menawarkan 'Om Senang' padanya.


Kemiskinan membuat Nindy mengambil jalan pintas yang salah. "Ya, gue mau. Asal harganya tinggi!" sahut Nindy yang sedang bersolek di depan cermin, setelah jam kerja berakhir.


"Tenang aja, gue udah carikan yang super rich buat lu. Dia nawar dua ratus juta asal lu masih perawan," bisik Mince sambil menengok kanan-kiri memastikan tak ada yang mendengar.


Nindy terdiam sejenak. Sebenarnya, dia tak menginginkan hal ini terjadi. Namun, Abah sakit-sakitan semenjak Bang Joko pergi. Ibu juga sama. Rumah mereka sampai terjual demi untuk biaya pengobatan.


Nindy sudah berusaha menghubungi Tante Ningsih tetapi nihil. Awalnya, Nindy masih berkomunikasi dengan Santi dan Reno. Namun, mereka menutupi kenyataan soal Tante Ningsih. Lama-kelamaan, mereka sibuk dan melupakan Nindy. Gadis itu patah hati ketika Reno melupakan janjinya untuk menikahi. Hal ini yang membuat Nindy terbujuk oleh penawaran Mince yang bisa menjual perawan dengan harga ratusan juta.


"Hei, Nindy ... kok, malah bengong? Jadi, 'kan? Gue udah janjian di Hotel Sky Lounge." kata Mince membuyarkan lamunan Nindy.


"Ya, jadi! Gue siap-siap dulu," ucap Nindy yang memantabkan hati.


Nindy tak tahu jika hari itu menjadi awal dari kisah yang sangat panjang. Nindy menjual keperawanan untuk membantu perekonomian keluarga. Tinggal di rumah kontrakan dan harus pindah jika belum bisa membayar, membuat Nindy yang selama ini bekerja jadi pelayan restoran pun menyerah pada keadaan.


***


Hari itu, Santi dan Reno hendak ke pesantren. Seperti biasa ketika Sabtu, mereka ke pesantren menengok Wahyu dan Tante Ningsih. Lalu kembali ke kota ketika Senin pagi. Hal ini menjadi rutinitas bagi mereka.


"Reno, udah siap belum?" tanya Santi pada adiknya.


"Udah, Kak. Ayo berangkat!" seru Reno yang sekarang tambah dewasa dan tampan.


Semenjak tragedi itu, Santi mulai membuka diri dan sering ikut kegiatan agama seperti pengajian dan bazar amal. Dia pun sering membantu Budi ketika pesantren ada acara. Namun, hati Santi masih kosong. Belum ada lelaki yang membuatnya jatuh cinta seperti saat melihat Joko.


Sedangkan Reno, dia memutuskan untuk tak melanjutkan hubungan dengan Nindy karena banyak hal yang dipertimbangkan. Jika dia tetap bersama Nindy, pasti akan makin sulit untuk Kak Santi melupakan Joko. Terlebih, Tante Ningsih masih belum sadar dari mati suri. Reno mengesampingkan perasaannya demi keluarga. Meski Reno tak tahu jika hal itu membuat Nindy patah hati teramat sangat.


Dalam perjalanan menuju Wonogiri, Santi mengajak bicara Reno dan berujung pada pertanyaan hubungannya dengan Nindy.

__ADS_1


"Reno, gimana kabar Nindy? Kamu masih sering komunikasi, nggak?" tanya Kak Santi membuat Reno terkejut.


"Ehm, nggak, Kak. Sudah hampir tujuh bulan lost contact. Aku udah mutusin dia. Tiba-tiba, dia ganti nomor handphone," jawab Reno apa adanya.


"Astagfirullah, kenapa kamu putusin? Kakak kira hubunganmu baik-baik aja. Pantesan dia nggak pernah chat Kakak lagi. Ada apa, Reno?" Terlihat Santi sedih melihat keputusan Adiknya tanpa membicarakan terlebih dahulu padanya.


"Nggak apa-apa, kok. Reno sudah besar, bisa milih jalan hidup sendiri. Lagi pula, Nindy berhak dapat yang lebih dari Reno," ucap Reno menutupi alasan sesungguhnya.


Meski jauh di lubuk hati, rasa bersalah hinggap dan tak mau pergi. Apa daya, Nindy sudah ganti nomor handphone bahkan saat Reno mencuri waktu untuk terbang ke Jakarta, rumah Nindy sudah dijual dan tak ada yang tahu pindah ke mana. Sejujurnya, Reno merasa kehilangan, tetapi dia bisa apa?


Perjalanan itu terasa hening karena Reno dan Santi terhanyut dalam pemikiran masing-masing. Tak terasa, mereka sampai di pesantren setelah perjalanan tiga jam.


"Assalamualaikum, Pak Anwar," seru Reno bersemangat.


"Wa'alaikumsalam ... wah, Nak Reno dan Nak Santi. Silahkan masuk!" jawab Pak Anwar yang sedang di kantor depan pesantren.


Reno dan Santi pun masuk. Sesaat kemudian, Mak Sri berlari ke arah Pak Anwar. "Anwar! Anwar!" kata Mak Sri yang terburu-buru.


"Ada apa, Mbakyu? Jangan lari-lari, ingat umur." jawab Pak Anwar yang menghampiri Mak Sri.


"Loh, ada Den Reno dan Non Santi, ya? Ayo ke kamar Nyonya Ningsih. Di-dia ... bergerak." ucap Mak Sri sambil mengatur napas yang tersengal karena berlarian.


"Apa?" Ayo kita ke sana," jawab Reno, Santi, dan Pak Anwar bersamaan.


Secerca harapan timbul di benak Santi dan Reno. Budi sudah berada di ruangan Ningsih saat Mak Sri berlari mengabari Pak Anwar.


***


Ningsih menghabiskan waktu dengan berbicara pada anaknya yang masih berupa cahaya merah. "Kapan kita bisa keluar dari sini? Nak, kamu bisa mendengar Ibu selama ini, 'kan?" ucap Ningsih memandangi cahaya yang semakin hari semakin membesar.


Kegelapan di ruang itu mulai memudar. Ningsih merasakan kehangatan, seakan Bima juga ada di sana. Tiba-tiba ... cahaya itu makin besar dan seakan meledak. Ningsih terkejut dan menutup matanya dengan kedua tangan.


"I-ibu ...." lirih sesuatu yang berasal dari cahaya merah itu.


"N-Nak? Kamu anakku?" tanya Ningsih yang masih menerka dengan bingung.


"Iya ... ayo kita keluar dari sini. Ibu tak usah takut," ucap anak lelaki yang berusia sekitar enam tahun.


Ningsih meraih tangan anaknya. Anak Ningsih dengan Bima, sangat tampan. Senyumnya membuat Ningsih mengingat Bima.


Kemudian, mereka menghilang dari ruang gelap. Anak Ningsih membawa ke kastil tempat Laurent tinggal.



Laurent menyambut kedatangan Ningsih dan anaknya. Saat itu, Laurent sudah menikah dengan Daniel. Pada saat kembalinya Laurent dari ruang gelap, dia menerima ajakan Daniel untuk menikah.

__ADS_1


"Ningsih, akhirnya kamu bisa segera kembali ke ragamu. Hari ini akhirnya datang. Hai, bocah! Jaga Ibumu baik-baik, ya," kata Laurent yang entah bagaimana bisa melihat wajah Ningsih dan anaknya.


"Terima kasih, Laurent. Aku berhutang budi padamu," jawab Ningsih sambil memeluk gadis buta itu.


"Tidak apa. Cepatlah pulang. Kembalilah ke ragamu. Semoga keajaiban segera datang," ucap Laurent yang tersenyum dan terharu hari yang Ningsih tunggu sudah tiba.


"Terima kasih, wanita pintar dan baik. Aku akan bawa Ibu kembali." tegas anak Ningsih dengan senyumnya yang sangat menggemaskan.


Ningsih pun menggenggam tangan anaknya. Mereka menghilang. Melintasi ruang dan waktu. Hingga akhirnya, Ningsih bisa masuk ke tubuhnya.


***


Ningsib bergerak perlahan. Mak Sri yang melihat itu segera berlari mencari bantuan. Sedangkan Budi yang melihat Mak Sri berlari, langsung masuk ke ruangan Ningsih.


Saat Ningsih menggerakkan tangannya, membuka matanya perlahan, betapa terkejutnya ada Budi di sana. "Ningsih? Ningsih, kau kembali!" seru Budi yang sangat bahagia melihat Ningsih membuka mata.


"Ugh ... kenapa rasanya berat sekali," lirih Ningsih yang belum bisa menggerakkan badannya.


Setelah setahun lebih Ningsih tak bersatu dengan raga, tentunya membuat tubuhnya kaku. Sulit bergerak untuk sementara, adalah efek yang wajar jika terlalu lama roh meninggalkan raga.


Di sana, dalam sudut kamar, ada anak Ningsih yang tersenyum menatap Ibunya. Kekuatan yang dia miliki jauh lebih besar dari Bima. Entah karena menyedot energi di ruang gelap, ataukah memang suratan takdir. Kehadiran anak Ningsih yang menembus pagar gaib pun tak bisa dirasakan atau diketahui Budi muapun Pak Anwar.


Seketika, Santi, Reno, Mak Sri, dan Pak Anwar masuk ke ruangan Ningsih. Betapa bahagianya mereka melihat Ningsih sudah sadar, meski belum bisa menggerakkan tubuhnya.


"Alhamdulilah, ya, Allah." kata mereka bersamaan.


Santi pun menghampiri Tante Ningsih yang terbaring lemas."Santi yakin, Tante pasti bangun. Kami tak pernah menyerah untuk Tante. Wahyu juga," kata Santi yang terharu melihat keajaiban ini.


Ningsih hendak berbicara, tetapi rasa kelu di lidahnya membuat perkataan terdengar tak jelas. "Te-terima kasih ...." bisik Ningsih susah payah berbicara.


Saat itu juga, Pak Anwar mengajak mereka berdoa dan sembah sujud pada Allah. Setelah itu, Pak Anwar mengajak petugas dapur untuk membuat tumpeng sebagai tanda syukur.


Tak lupa, mereka segera mengabari Wahyu yang masih berada di kelas. Reno berlari menghampiri Wahyu untuk memberi tahu kabar gembira.


"Wahyu, ayo ke ruangan Mamamu. Ada hal penting." kata Reno bersemangat.


"Iya, Kak Reno. Ada apa dengan Mama?" tanya Wahyu yang penasaran.


"Mamamu sudah sadar! Keajaiban terjadi!" seru Reno dengan mata berbinar.


"Alhamdulilah, ya, Allah. Doa kamu semua sudah dikabulkan," lirih Wahyu yang bersyukur dengan keajaiban ini.


Reno dan Wahyu berjalan dengan cepat menuju ke ruangan tempat Ningsih berbaring. Saat masuk ke ruangan. Wahyu melihat seorang anak di sudut ruangan. "Loh, itu siapa?" tanya Wahyu sambil menunjuk ke arah anak Ningsih.


Orang dalam ruangan memperhatikan sudut yang Wahyu tunjuk. Namun, mereka tidak melihat apa-apa. Bahkan Pak Anwar dan Budi tidak bisa melihat atau merasakan kehadiran anak itu.

__ADS_1


Ningsih terkejut karena Wahyu bisa melihat adiknya. Adik gaib, hasil cinta Ningsih dan Bima. Anak Ningsih pun tersenyum.


__ADS_2