JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Penyesuaian Diri


__ADS_3

Menjalani kehidupan baru menjadi sepasang suami istri pasti terasa indah dan menyenangkan. Ya, karena baru saja bersama. Belum terlihat banyak permasalahan. Masih terasa indah dan manis. Begitulah kehidupan.


Alex membuka mata perlahan. Rasa kantuk masih menyergap sehingga untuk bangun dari ranjang pun malas.


"Morning, Sayang ...." lirih Lisa yang ternyata sudah bangun dan menatap wajah suaminya.


"Pagi, Sayang. Uhm ... kamu sudah bangun, ya?" tanya Alex yang langsung mengusap kedua matanya.


"Sudah ...." Lisa langsung mengecup bibir suaminya. Alex kaget dan terdiam. Hanya bibir mereka saling menempel dan kemudian terlepas.


"Lisa ... Maaf, ya ... aku belum bisa ... belum berani ...." Malam pertama mereka hanya dilakukan tidur berdampingan. Lisa yang masih darah muda bergejolak karena chating dari teman-teman sebayanya dan membahas soal malam pertama. Raut wajah Lisa menjadi kecewa karena dari tadi malam Alex tidak menyentuhnya. Bahkan ciuman pagi ini adalah ciuman pertama mereka.


"Iya, Kak. Nggak apa, kok. Eh ... kita sarapan, yuk. Aku udah mandi, Kak," jawab Lisa mengalihkan perhatian. Dia sebenarnya kesal dengan sikap dingin Alex.


"Iya, Sayang. Aku mandi dulu, ya," kata Alex yang segera bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Masuk di kamar mandi, Alex melepas pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dari kucuran shower. "Ah, harusnya aku tidak selalu itu dengan Lisa. Dia berhak mendapatkan yang terbaik dariku. Apa aku bertanya ke Papa Reno bagaimana cara memulainya?" Alex merasa bingung soal malam pertama. Dia tidak berani bertanya atau mencoba. Dia takut mengecewakan Lisa, tetapi justru menunda membuat Lisa kesal.


Lisa keluar dari kamar dan ke ruang makan. Mereka masih tinggal di rumah Reno selama rumah pemberian dari Wahyu di poles sesuai keinginan Alex dan Lisa. Melihat pagi hari putrinya manyun, Reno pun menggodanya.


"Eh, anak Papa udah bangun. Mau bikin breakfast buat suaminya, ya? Papa aja jarang dibuatin. Xixixixi ... gimana tadi malam?" ujar Reno pada putrinya.


Nasib tak baik, Lisa lagi kesal. Reno pun jadi sasaran amukan. "Papa itu kenapa, sih, kepo aja! Malam pertama malam pertama, apaan?! Huh! Sebel lama-lama. Nggak temen ... nggak Papa ... sama aja!" Lisa menghentakkan kakinya dan berjalan dengan amat kesal.


"Loh? Salah Papa apa? Kenapa marah, Lisa?" tanya Reno masih mengikuti putrinya.

__ADS_1


"Udah, ah! Nanti aku mau pindah aja ke rumah yang dibeliin Kak Wahyu. Kesel lama-lama di sini!" gertak Lisa membuat sakit hati ayahnya.


Reno terdiam. Dia tak tahu apa yang terjadi antara Lisa dan Reno. Tapi kenapa putrinya begitu marah?


Lisa masuk ke dapur dan melihat bahan apa yang tersedia untuk sarapan. Bibi tidak membuat sarapan karena Reno ingin melihat anaknya memasak.


"Huh! Nggak ada yang bisa dimasak. Udah, ah, sarapan di luar aja!" gerutu Lisa yang membalikkan tubuhnya dan menabrak Reno.


"Kok, tidak jadi masak, Lisa?" tanya Reno mencoba lebih sabar lagi.


"Papa, tuh, gimana? Mau masak apa? Dalam kulkas ga ada apa-apa. Nanti beli makan diluar aja," jawab Lisa sambil lalu.


Reno menghela napas dan mengusap dadanya. Ada apa dengan Lisa?


Setelah mandi, Alex pun segera keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian di almari. Handuk putih dililitkan ke pinggangnya. Dia berjalan ke almari dan tak menyadari Lisa membuka pintu dan masuk kamar.


"Loh, kenapa keluar? Nggak apa di sini. Kan, kita suami istri. Lisa ... apa kamu mau itu?" tanya Alex yang masih mengenakan handuk di pinggangnya. Lelaki gagah dan tampan itu berjalan mendekati Lisa yang terdiam mematung di dekat pintu.


"Kenapa diam saja? Kamu tak mau? Kalau tak mau ... kita cari waktu yang tepat saja, gimana?" Alex tersenyum sambil mengusap wajah istrinya.


"Iya, Kak. Nggak apa. Tapi ... Kakak pakai baju dulu. Takut masuk angin. Habis ini kita ajak Papa sarapan di luar, ya?" Lisa mencoba tidak melihat tubuh kekar suaminya. Dia mencoba tetap menatap wajah Alex.


"Iya, Sayang. Terima kasih perhatiannya," ucap Alex yang wajahnya semakin mendekat ke istrinya.


Alex mengecup bibir Lisa. Perlahan tapi pasti, Lisa membalas kecupan itu hingga mereka saling *******. Alex pun melepaskan karena rasa bergejolak di hatinya. "Aku pakai baju dulu, ya?"

__ADS_1


Lisa mengangguk. Dia merasa bingung dengan tingkah laku Alex. Setelah Alex mengenakan pakaian, mereka segera keluar untuk sarapan bersama Reno. Alex menyetir mobil dan Lisa duduk di belakang, sedangkan Reno di samping Alex.


"Maaf, Lisa. Aku masih takut melakukannya. Sabar, yaa ...." batin Alex saat menyetir mobil.


...****************...


Di rumah sakit ... ICU ....


"Dokter ... bagaimana keadaan Gladys?" tanya ibu Gladys yang sangat khawatir.


"Begini, Bu. Kondisi putri Ibu kritis. Pertolongan pertama kami lakukan semaksimal mungkin. Namun kondisinya makin memburuk jadi kami bawa ke ICU. Bagaimana bisa putri Ibu mengalami dehidrasi dan kurang gizi? Apakah selama ini tidak diperiksakan terlebih dahulu?" Dokter yang bertugas tak tahu jika Gladys menjadi kurus kering dalam waktu semalam saja.


"Dokter ... kami selalu menyayangi dan merawat Gladys. Meski sudah dewasa, dia tetap dalam pengawasan kami. Dia ... dia seperti itu dalam waktu semalam saja. Kemarin masih segar bugar tak seperti itu," jelas ibu Gladys.


"A-apa? Sepertinya tak mungkin hal seperti itu terjadi, Bu." Dokter jelas saja tak percaya karena sudah disumpah mempercayai hal medis.


Ayah Gladys pun menambahkan, "Dokter bisa saja tak percaya, tetapi hal ini benar terjadi. Jika rumah sakit tidak bisa menangani, kami akan mencari alternatif lain."


Dokter pun tak bisa mengatakan lebih selain hal ini. "Pihak rumah sakit akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan putri Bapak dan Ibu. Saya permisi dulu."


Ayah Gladys pun menatap istrinya. "Sudah Papa bilang, dibawa ke rumah sakit pun percuma. Anak kita kena hal gaib. Nanti Papa telepon kawan yang paham soal ini, ya. Mama tenang saja," kata lelaki berkumis tebal itu menenangkan istrinya.


"Iya, Pa. Terpenting Gladys ... putri kita satu-satunya bisa selamat dan sehat. Mama sedih lihat Gladys seperti itu. Kenapa ada orang yang tega berbuat seperti itu pada putri kita? Hiks hiks hiks ...." Wanita itu langsung menangis karena memiliki seorang putri pun butuh waktu cukup lama. Mengingat perjuangan mereka untuk mendapatkan keturunan sangatlah sukar.


"Sabar, Ma. Sabar, Ma. Nanti Papa langsung hubungi teman Papa. Gladys pasti sembuh," kata lelaki itu menenangkan istrinya. Orang tua Gladys dahulu menunggu sepuluh tahun hingga akhirnya bisa memiliki anak. Mereka tak akan menyerahkan Gladys pada pengaruh gaib yang akan merenggut nyawa gadis itu.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan istri dan anaknya, kekayaan yang diperoleh Pak Gunawan itu ternyata dari hasil bersekutu dengan makhluk gaib. Dia pun tahu dan merasakan jika putrinya dibuat seperti itu karena makhluk gaib. Pak Gunawan bersumpah akan membalas siapa pun itu yang menggangu putrinya.


...****************...


__ADS_2