JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 36


__ADS_3

...πŸ”₯ API MELAWAN API πŸ”₯...


Ketika api melawan api, bukankah hanya arang yang akan tersisa? Membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak akan membawa kebahagiaan. Lantas, apakah harus menyerah? Bima kembali ke rumah setelah selesai mencari bantuan di neraka. Dia memilih hal yang sulit untuk ditempuh demi keselamatan keluarganya.


Saat Bima datang, semua yang berada di rumah Ningsih sudah bersiap. Sekitar pukul delapan malam di sana. Dinda, Boy, dan Lauren sudah bersiap merebut Alex kembali. Sedangkan Wahyu, Daniel, Gio, dan Gilang menemani lainnya di rumah dan membantu dengan doa. Terlalu berisiko jika manusia melepas raga dan ikut ke neraka. Meski mereka pun siap melakukan, tetapi Ningsih tidak mengizinkan.


Bima pun paham. "Dinda, Boy, dan Lauren, ayo kita gempur neraka. Ambil Alex kembali. Kalian di rumah buatlah perlindungan," tegas Bima. "Ningsih, tetaplah di sini bersama Wahyu dan lainnya. Aku menyayangi kalian," imbuh Bima. Mereka pun mengangguk tanda paham perkataan Bima.


Mereka berempat pun pergi ke neraka. Sedangkan yang lain menunggu di rumah Ningsih. Menunggu kabar baik atau kabar buruk yang akan terjadi.


Ningsih hanya bisa berharap semua akan membaik. Dia menyayangi kedua anaknya, pun juga menyayangi suaminya. Meski cinta mereka berbeda dunia, Ningsih sungguh menyayangi suaminya. Bima membuat Ningsih mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Meski awalnya adalah cinta salah, tetapi perlahan tapi pasti, mereka mengubah hidup sejak hadirnya Alex. Tidak ada lagi tumbal karena Bima terbebas dari pengabdian di neraka lapis ketujuh.


Namun, saat ini Bima mengambil keputusan besar menghadap penguasa neraka demi bisa menyelamatkan Alex. Tanpa memberi tahu Ningsih terlebih dahulu.


Sesampainya di neraka, Bima sengaja mengajak mereka menghadap penguasa neraka. Sosok makhluk yang menjadi legenda dan ditakuti dalam dunia gaib. Tuan Lucifer Yang Mulia, duduk di singgah sana yang megah sambil meminum darah dalam cawan berwarna emas.


"KAU SUDAH DATANG, BIMA. AKU AKAN SEGERA KE TEMPAT ASMODEUS. PERCAYA SAJA, TAK AKAN ADA YANG BERANI MENGGANGGUMU." kata Tuan Lucifer dengan lantang. Dia meletakkan cawan itu dan kemudian berdiri. Tuan Lucifer memiliki tubuh seperti manusia, sayapnya besar dan lebar berwarna hitam, tanduknya dua di dahi begitu panjang dan terlihat mengerikan, serta pedang yang selalu dia bawa, memperlihatkan kekuasaan yang tiada bisa ditandingi oleh tujuh panglima neraka.


Bima pun menunduk dan memberi hormat, diikuti Boy, Dinda, dan Lauren. "Terima kasih Yang Mulia sudah mau campur tangan." Mereka pun berdiri dan mengikuti Tuan Lucifer.


"KAU? KAU KETURUNAN MALAIKAT PENCABUT NYAWA? LALU KAU ... KAU MANUSIA KETURUNAN PENYIHIR? MENARIK SEKALI HAL INI. KALIAN BERKUMPUL UNTUK MENYELAMATKAN ANAK DARI IBLIS DAN MANUSIA? HA HA HA HA ... DUNIA MEMANG BERUBAH DENGAN CEPAT." Tuan Lucifer tertawa menatap Bima dan kawanannya.


"Mohon maaf jika hamba membawa kawan. Hamba hanya ingin anak hamba bebas dari neraka lapis keenam," ucap Bima kembali menundukkan kepala. Hal itu karena Tuan Lucifer tidak suka jika ada yang menatap wajahnya.


"TAK APA. INI AKAN MENARIK. KITA LIHAT, PERLAWANAN APA YANG AKAN TERJADI NANTI."


Mereka pun pergi ke neraka lapis keenam. Saat melihat Tuan Lucifer datang, penjaga neraka lapis keenam langsung sujud dan menunduk. Membiarkan Bima dan yang lain ikut masuk bersama Tuan Lucifer yang memasuki neraka lapis keenam. Tepat sekali saat Tuan Asmodeus menyiapkan ritual untuk mengambil energi Alex. Mereka sampai tepat waktu.


"APA YANG KAU LAKUKAN, HEI, ASMODEUS?" tanya Tuan Lucifer membuat Tuan Asmodeus kaget dan merasa terciduk saat hendak menambah energi dengan memakan iblis lain.


"Ti-tidak ada, Tuan. Ini tidak seperti apa yang Tuan Lucifer lihat." Tuan Amodeus mencoba mengelak karena ketakutan. Menambah kekuatan dengan menghabisi iblis lainnya adalah hal yang dilarang oleh Tuan Lucifer sebagai penguasa neraka. Jika hal itu dilakukan, akan dianggap pemberontak danndapat dihukum berat.


"Pa-Papa!" seru Alex yang merasakan keberadaan Bima.

__ADS_1


"Alex! Apa yang mereka lakukan padamu?" Bima langsung berlari menghampiri anaknya. Alex dibuat buta karena perbuatan Red.


"KEMBALIKAN PENGLIHATAN ANAK ITU!" gertak Tuan Lucifer membuat Red langsung mendekat ke Alex dan mengembalikan penglihatannya.


Tepat sekali waktu itu dengan rencana Red. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Ini semua ide Zatan. Dia yang mengajak untuk menculik iblis ini dan memberikan ke Tuan Asmodeus. Bukankah begitu, Tuan?" kata Red kepada Tuan Lucifer dan meminta dukungan Tuan Asmodeus.


Karena takut dihukum, Tuan Asmodeus pun segera membuat Zatan menjadi pelaku yang patut dihukum. "Benar, Tuan Lucifer! Ini semua perbuatan Zatan. Ide Zatan!" Jelas saja hal itu membuat Zatan tersudut.


"Dasar kalian penjilat!" gumam Zatan sambil mengepalkan tangan. Red menahan tawa karena dia yakin Zatan akan dihukum.


"ZATAN! MENGGANGGU KETENANGAN NERAKA DENGAN MEMANIPULASI ENERGI IBLIS LAIN, KAU AKAN MENERIMA AKIBATNYA! ASMODEUS! KAU SUDAH LALAI DAN HENDAK MENGUMPULKAN ENERGI UNTUK KEPERLUAN PRIBADIMU, KAU AKAN KUHUKUM! DAN KAU RED! SUDAH MEMBANTU MEREKA, KAU JUGA KUHUKUM! MULAI SAAT INI JANGAN ADA YANG MENGGANGGU KELUARGA BIMA KALAU TIDAK, AKAN KUMUSNAHKAN." gertak Tuan Lucifer yang langsung memusnahkan Zatan dalam kobaran api.


Bima hanya terdiam dan memeluk Alex. Dia merasa tenang karena semua akan berakhir. Dinda, Boy, dan Lauren pun mengusap bahu Bima untuk menguatkannya.


Tuan Asmodeus tidak berani mengelak atas kesalahan daripada mendapat hukuman lebih berat. Sedangkan Red pasrah dihukum karena saat ini Zatan sudah musnah, dia akan menjadi iblis kepercayaan di neraka lapis keenam.


"JANGAN ADA YANG MENBANGKANG JIKA TIDAK INGIN BERAKHIR SEPERTI ZATAN!" seru Lucifer yang membuat semua pengikutnya menunduk dan bersujud.


"Puja Yang Mulia Lucifer! Puja Yang Mulia Lucifer!" ucap mereka serentak. Bima pun ikut mengajak yang launnya bersujud agar bisa selamat dari neraka.


Tuan Lucifer pun pergi setelah memberi hukuman pada Tuan Asmodeus dan Red. Dia meminta Bima untuk menghadap secara pribadi. Sedangkan Alex langsung dibawa pulang oleh Dinda, Boy, dan Lauren yang masih belum percaya mengambil Alex tanpa bertarung sama sekali. Mereka justru curiga apa yang Bima sepakati dengan Tuan Lucifer.


Setelah mereka pergi, Bima pun berbincang banyak hal dengan Tuan Lucifer. Dia pun meminta waktu sejenak untuk bersama keluarganya sebelum mengabdi kembali di neraka. Tuan Lucifer memahami itu.


"KUBERI KAU WAKTU SEBULAN. HANYA SEBULAN BERSAMA KELUARGAMU. SETELAH ITU, JADILAH PENGABDIKU." tegas Tuan Lucifer. Bima mengucapkan terima kasih karena diberi kesempatan kumpul bersama istri dan kedua anaknya.


Bima tahu konsekuensinya, saat kembali menjadi pengabdi neraka, dia harus melepaskan Ningsih. Melepaskan keluarganya dan kembali menjadi iblis yang profesional. Meski itu sulit bagi Bima dan dia tak yakin Ningsih bisa menerimanya.


"Baik, Tuan Yang Mulia. Hamba akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Hamba akan kembali sebulan lagi," kata Bima yang kemudian berpamit pergi.


...****************...


Ningsih sangat bahagia ketika Alex kembali. Begitu pun dengan Wahyu. Dia bahagia melihat adiknya kembali meski beda dunia, mereka terlihat bahagia bersama.

__ADS_1


"Alex, syukurlah kamu baik-baik saja. Mama sudsh khawatir. Di mana Bima?" tanya Ningsih yang kemudian sadar suaminya belum kembali.


"Tenang, Ningsih. Bima sedang ada perlu sebentar," ucap Lauren menenangkan Ningsih.


"Mama ... maaf sudah membuat khawatir," lirih Alex saat memeluk Ningsih.


Wahyu pun ikut memeluk adik dan ibunya. Bagaimana pun, Wahyu merasa harus melindungi mereka. Karena keluarga adalah sebaik itu, bukan?


Mereka pun membahas banyak hal sampai hari hampir subuh. Sedangkan yang lain sudah tertidur, Ningsih masih menunggu Bima dengan Dinda dan Boy. Ningsih memang sudah merasa lega akhirnya semua berakhir. Namun, dia masih menanti Bima kembali.


Beberapa saat kemudian, Bima kembali. "Bima! Akhirnya kamu pulang," seru Ningsih yang langsung berlari memeluk suaminya.


"Iya, Ningsih. Aku kembali. Jangan menangis. Aku di sini," jawab Bima sambil membelai lembut rambut istrinya.


"Kak, apakah semua baik-baik saja?" tanya Dinda memberanikan diri. Dia merasa jika Bima tidak dalam kondisi yang baik. Ada awan mendung menyelimuti wajahnya. Dinda bisa melihat itu dengan jelas.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu. Maaf sudah merepotkan kalian. Hal ini tidak akan terjadi lagi," lirih Bima sambil menatap Dinda dan Boy.


Bima belum bisa menceritakan perjanjiannya dengan Tuan Lucifer. Akan sangat menyakitkan jika dia mengatakan hal itu saat ini. Namun, juga sangat menyakitkan jika mengatakannya esok. Hal yang menjadi serba sulit diungkapkan karena Bima tahu akan melukai hati Ningsih. Bima bingung bagaimana menjelaskan hal itu.


"Bima, jangan pergi lagi. Tetap di sini bersamaku dan anak-anak kita," bisik Ningsih lembut di telinga Bima.


"Ningsih, aku akan berusaha yang terbaik untuk keluarga kita. Yakinlah satu hal, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita bisa bersama. Semoga hal itu terwujud." Bima semakin erat memeluk istrinya.


🎡 Kupilih hatimu dan tak kan kuragu mencintamu adalah hal yang terindah dalam hidupku oh sayang ... kau segalanya bagiku. Janganlah jangan ... kau sakiti hati ini sampai nanti disaat ragaku sudah tidak bernyawa lagi karena cinta ini cinta sampai mati .... 🎡


Lantunan lagu itu terngiang dipikiran Bima. Saat menjalani hari-hari bahagia bersama Ningsih. Hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ningsih pun merasakan hal yang sama. Dia memang sudah tujuh kali menikah dan semua suaminya menjadi tumbal, tetapi hanya Bima yang mampu membuatnya merasakan berarti, benar-benar merasa dicintai dan diperjuangkan.


Bima membiarkan semua rasa itu ada. Meski cepat atau lambat, Ningsih harus tahu jika Bima harus pergi. Meninggalkan keluarganya demi melindungi keluarganya. Dilema bagi Bima, tetapi sudah menjadi perjanjian yang harus ditepati. Mereka pun beristirahat. Sama seperti yang lain tidur di kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.


Rumah Ningsih yang luas, tidak kesulitan menampung banyak orang karena banyak kamar kosong di sana. Ningsih dan Bima pun juga istirahat di kamar.


Ningsih pun berbisik, "Bima, apakah kita akan bersama selamanya?"

__ADS_1


"Mungkin."


"Kenapa tak yakin?"


__ADS_2