JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 57


__ADS_3

Kehidupan Joko menjadi tak karuan. Ambisi membalas sakit hati pada Tante Silvi menggiringnya menjadi lelaki breng*ek. Beberapa kali dia meniduri Sita dan sengaja ingin menghamilinya.


Joko memanfaatkan Tina sebagai tempat tinggalnya dan tetap mempertahankan Sita yang masih muda serta kaya. Uang Sita dengan mudah berpindah tangan ke Joko. Serta rencananya terwujud saat usia Joko tepat 26 tahun.


"Joko! Siapa cewek itu! Gila kamu ya berani bawa cewek ke rumahku!" teriak Tina yang memergoki Joko memeluk Sita di ruang tamu.


Joko terkejut, kaget. Dia bergegas melepaskan pelukan di tubuh Sita.


"Ti ... Tina, kok kamu sudah pulang?" tanya Joko dengan gugup.


"Keluar kalian dari rumahku! Keluar!!" bentak Tina.


"Tina ... biar aku jelasin dulu," ucap Joko yang ketakutan menjadi gelandangan.


"Nggak ada jelas-jelasan lagi. KELUAR!"


Joko pun pergi dari rumah Tina, memboncengkan Sita yang diam seribu bahasa. Joko jadi serba salah.


"Sayang, kok diam aja?" tanya Joko pada gadis yang selama ini membantu keuangannya. Bagi Sita bukan hal yang sulit untuk menberi uang ke Joko karena orang tua Sita hanya memberi harta, bukan kasih sayang.


"Sayang?" Joko pun menghentikan motornya dan menengok ke belakang. Sita ternyata menangis dalam diam.


"Aku turun di sini saja," lirih Sita menahan isak tangis.


"Nggak. Aku anter ke rumah. Jangan gitu sayang, oke aku ngaku salah. Aku memang numpang dengan Tina. Tapi aku nggak ngapa-ngapain dengan dia. Jangan salah paham dulu," jelas Joko berusaha meyakinkan.


"Aku jalan aja. Kamu jahat!" Sita berlari menjauhi Joko.

__ADS_1


Pikir Joko, mengejar pun percuma. Apes nian si Joko kehilangan Tina sebagai tempat tinggal dan Sita sebagai hiburannya sekaligus. Dia pun terpikir kembali ke rumah. Tapi setelah sekian lama pergi, dia malu. Bahkan selama ini dia hanya bisa mengirim uang ratusan ribu saja setiap bulannya untuk orang tuanya, itu pun hasil meminta Sita.


Joko menjadi gelandangan dan mulai jadi pemabuk. Saat uangnya habis, dia menjual motor Ninja pemberian Tante Silvi bertahun-tahun yang lalu itu. Dia mendapat penawaran dua puluh lima juta karena tanpa surat-surat kendaraan. Apa boleh buat, Joko lepas motornya. Dia membeli motor matic bekas lalu pulang rumah.


"MasyaAllah.... Bang!" ucap adik Joko berlari melihat lelaki kurus itu pulang.


Ibu lekas keluar rumah dan menghampiri Joko, lalu memeluknya.


"Alhamdulilah ya Allah, Bang akhirnya pulang. Kenapa Bang kurus sekali? Ayo masuk, makan dulu," kata Ibu penuh khawatir.


Mereka merengkuh Joko untuk masuk rumah. Joko tak menceritakan apa pun hanya saja dia meminta rumah itu dijual dan pindah ke pinggiran Kota Jakarta yang lebih murah biaya hidupnya.


"Abah, Ibu, Adik, begini... Joko sudah jual motor, ganti yang lebih murah biar ada lebihan uang. Joko mau kasih saran, jual tanah ini karena bangunan sudah hampir rubuh. Gimana kalau kita beli rumah di pinggiran kota yang sesuai uang hasil jual tanah ini? Kita mulai hidup baru dan usaha dari uang sisanya. Joko ada 15 juta rupiah ini untuk modal buka warung sama buat sementara nunggu tanah ini dijual. Abah sama Ibu setuju nggak? Adik mau nggak pindah?" bujuk Joko yang mulai berpikir, takut jika Sita hamil betulan dan Tante Silvi mencarinya.


Dendam bergulir menjadi dosa yang tak berkesudahan. Saat Joko sadar itu, semua sudah terlalu jauh dan membuat dirinya tak tenang.


"Ibu setuju saja. Sejak Joko pergi nggak ada kabar, Ibu jadi buruh cuci sana sini. Tetapi ya begitu, kalah sama laundry. Makin susah hidup di sini," jawab Ibu, termenung sedih.


"Adik ikut aja, terpenting Bang jangan pergi lagi ya."


Mereka pun mengemasi barang-barang sambil menawarkan rumahnya yang hampir rubuh itu kepada Pak Haji Musaid. Menunggu sehari, Pak Haji langsung setuju.


"Saya beraninya 150 juta saja. Itu harga tanah sesuai pasaran sudah saya tambah sepuluh juta karena bangunan hanya seperti ini. Bagaimana? Kalau setuju, saya bayar besok pagi dan langsung ke notaris," kata Pak Haji sambil melihat luas tanah mereka.


"Gimana Joko?" tanya Abah kepada anak sulungnya.


"Iya saja, Bah. Sudah bagus kok harganya."

__ADS_1


"Iya, Pak Haji, kami setuju."


Terjualah tanah mereka. Joko pun mencari rumah dibawah harga itu dan dapat di pinggiran kota. Rumah sederhana, tiga kamar, satu ruang tamu, satu kamar mandi dan satu dapur. Berada di perkampungan, desa. Ada halaman di depan bisa untuk memelihara ayam. Joko sudah ada pandangan seperti apa hidup di sana.


Seminggu kemudian mereka pindahan ....


Memulai hidup baru di sana. Joko membuka bengkel kecil-kecilan di depan rumah. Membangun ruang tambahan untuk dia bekerja. Bengkel motor dan tambal ban, mulai ramai sejak sebulan berjalan. Sedangkan Ibu berjualan warung kopi di teras rumah. Aneka makanan menjadi pilihan warga membeli jika kerepotan memasak. Semua berjalan dengan mulus selama setahun.


****


Hidup kadang berjalan tak sesuai impian, bukan? Ternyata Joko menjadi buronan orang tua Sita. Brams geram putri semata wayangnya dihamili lelaki breng*ek yang ternyata pernah menjadi simpanan istrinya. Brams menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari Joko dan menghabisinya.


Saat Joko meninggalkan Sita dna ganti handphone, ternyata Sita hamil dua bulan. Stress mencari dimana Joko berada dan berujung frustasi, Sita akhirnya bunuh diri. Dia menenggak racun tikur dan mati seketika bersama calon bayi di dalam kandungannya.


Saat Silvi memeriksa buku harian anaknya, betapa kagetnya dia. Lelaki yang menghamili dan membuat anaknya bunuh diri adalah berondong yang tiga tahun bersamanya lalu dibuang olehnya. Sakit hati masa lalu membuat anaknya terbawa dalam masalah dan menderita hingga bunuh diri. Silvi menyesal tetapi semua sudah terlambat.


Saat itu, Joko sedang ke kota membeli beberapa sparepart bengkelnya. Tiba-tiba empat lelaki kekar menghadangnya. Lalu memasukan Joko ke mobil. Saat itu Joko memang naik angkotan umum karena motor dipakai adiknya bersekolah. Apes nian, dia tertangkap orang suruhan Brams.


Sesampainya di jalan sepi, Joko dipaksa keluar dan dipukuli. Dia tak mampu melawan empat orang itu. Dia pun pingsan setelah wajahnya babak belur berdarah-darah. Keempat orang itu sepakat membuang tubuh Joko di jurang dekat hutan yang jarang sekali orang lewat.


Itulah, awal mula Joko kenal Ningsih dan akhirnya bekerja dengan Ningsih. Saat perjalanan mencari pabrik pakaian, navigasi mobil Ningsih keliru memberi petunjuk hingga dia masuk ke jalan membelah hutan. Untung saja waktu masih siang. Saat di tengah perjalanan, ada seseorang yang merangkak di pinggir jalan. Awalnya Ningsih kira itu mayat, tetapi melihat bergerak, Ningsih langsung menghentikan mobilnya. Menolong lelaki yang penuh luka dan berdarah-darah itu. Membawa ke rumah sakit terdekat. Menyelamatkan nyawanya.


Setelah di rumah sakit, Joko harus masuk ICU. Dia butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh dan semua biaya ditanggung Ningsih. Setelah sadar, Joko ikut Ningsih dan memilih bekerja dengan Ningsih. Keluarga Joko bersyukur Ningsih menyelamatkan anak sulung mereka.


Joko tidak pernah menginap di rumah Ningsih karena takut cinta lokasi. Dia mencoba menahan hati dan menghindari permasalahan. Takut akan kisah dulu terulang.


Namun kini, bisakah Joko menahannya setelah melihat Ningsih menggeliat di kamar?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2