JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 80


__ADS_3

...🔥 Waktu Sudah Habis🔥...


Kondisi Gilang sudah membaik dan bisa rawat jalan atau pulang dari rumah sakit. Gio fokus merawat kawannya dan bekerja. Dia menjadi sibuk dan tak bisa mengunjungi Ningsih dan Nindy. Gio pun sudah meminta maaf atas kesibukannya belum bisa menjenguk mereka. Wahyu dan Reno pun memaklumi hal itu.


Beberapa hari kemudian setelah Gilang pulang, Ningsih pun diperbolehkan pulang. Kondisi Ningsih sudah membaik dan boleh rawat jalan. Wahyu pun bahagia membawa ibunya pulang ke rumah. Tinggal Nindy yang masih di ruang isolasi. Tangan dan kakinya sudah membaik pasca operasi patah tulang.


Hari-hari di ruang isolasi membuat Nindy menjadi pendiam. Reno dengan sabar menunggu Nindy dan merawatnya agar lekas sembuh. Setiap hari, Reno dan Bibi menjaga dan melatih Nindy untuk bisa berdiri tegak dan berjalan dengan lancar. Hari pertama hingga hari keenam di ruang isolasi semua berjalan dengan baik. Sampai hari ketujuh, Nindy mulai merasa jenuh dan meminta pulang.


"Reno, aku mau pulang. Aku sudah tak betah di sini," kata Nindy saat berbaring di ranjangnya.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita pulang. Menunggu izin dari dokter. Aku tetap menemanimu di sini," jawab Reno mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi aku sudah tak tahan di sini. Kumohon ... ayo pulang saja," rengek Nindy yang terus meminta pulang.


"Sayang, kenapa kau buru-buru ingin pulang? Kamu kangen Lisa? Besok Lisa aku ajak ke sini, ya?" Reno mencoba membujuk istrinya.


"Mereka menggangguku. Mereka memintaku untuk pergi dari sini atau sesuatu akan terjadi. Reno kumohon ...." Nindy terus meminta membuat Reno iba meski tak tahu apa yang dimaksud istrinya.


"Baik, Sayang. Besok aku akan konsultasi pada dokter agar bisa pulang secepatnya. Sabar, ya. Sekarang minum obat ini dulu dan istirahat." Reno menenangkan istrinya. Dia yakin jika dokter belum mengizinkan, terlebih psikiater yang mendampingi Nindy masih memberi pengobatan.


"Iya. Jangan tinggalkan aku, Pa. Tetap di sini, ya." Nindy meminum obat yang suaminya sodorkan. Kemudian beberapa saat kemudian dia terlelap.


Nindy selama di rumah sakit, dia sering mengalami gangguan dari makhluk gaib. Hal itu karena Nindy pernah kerasukan dan membuat dirinya jadi diminati makhluk gaib. Namun, tim medis mendefinisikan semua itu sebagai halusinasi dan gangguan kejiwaan. Meski Budi sudah membantu dengan pagar gaib do tubuh Nindy, ternyata aura gelap di rumah sakit bisa menembus pagar itu. Banyak makhluk putus asa yang membawa kesedihan dan rasa sakit mendekati Nindy setiap harinya. Terlebih di ruang isolasi yang kurang cahaya matahari.


Malam itu, Nindy bermimpi buruk. Dalam mimpinya, banyak makhluk gaib berkumpul hendak menangkapnya. Mereka menginginkan jiwa Nindy untuk bergabung dalam kesedihan tak berujung. Nindy ketakutan dan mencoba menghindar. Hingga akhirnya dia melihat ada pintu keluar dengan sinar putih yang menyilaukan


Nindy pun terbangun dengan napas memburu. "Huh ... huh ... huh ... untung aku terbangun. Reno? Papa kamu di mana?" ucap Nindy saat menyadari Reno tidak berada di samping ranjangnya. Biasanya Reno tidur di sofa tepat di sebelah tempat tidur Nindy. Namun, kali ini tidak ada suaminya di sana.


Nindy pun mencoba memanggil dengan ponselnya. Reno pun mengangkat panggilan telepon dari Nindy.


Nindy: "Papa, kamu di mana? Mengapa pergi tidak bilang?"


Reno: "Pagi, Ma. Maaf, Papa beli sarapan di depan rumah sakit. Ini sudah kembali ke rumah sakit. Sedang berjalan ke sana. Maaf, tadi mau pamit Mama masih tidur nyenyak. Bibi ada di sana menemani, kan, Ma?"


Nindy: "Tidak ada siapa-siapa di sini. Tolong cepat ke sini, Pa. Mama takut."

__ADS_1


Reno: "Iya, Sayang. Ini bentar lagi sampai. Sabar, ya."


Nindy terlihat cemas sendirian di dalam ruangan tertutup. Bibi sedang mandi karena melihat Nindy masih tertidur nyenyak. Ternyata saat Bibi mandi, Nindy terbangun dan bingung karena sendirian.


Beberapa saat kemudian, Reno datang. Dia sudah menghubungi dokter serta psikiater untuk mengajak Nindy pulang. Mereka mengizinkan dengan pengobatan pribadi. Dokter dan psikiater akan mengunjungi ke rumah setiap dua hari sekali.


"Mama, maaf agak lama. Mama lagi apa?" ucap Reno sambil membuka pintu kamar bangsal isolasi istrinya. Terlihat Nindy menutup wajahnya dengan bantal seperti orang ketakutan. Sedangkan Bibi baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menenangkan nyonyanya.


"Tuan, Nyonya meminta pulang sekaran. Nyonya ketakutan," ucap Bibi yang kemudian memberi ruang untuk Reno menenangkan istrinya.


"Iya, ayo kita pulang. Sudah, Sayang. Kita beres-beres pulang Dokter sudah mengizinkan. Tenang, ya," lirih Reno sambil membelai rambut Nindy.


Wanita itu segera membuka bantal yang menutupi wajahnya. Ada secerca ketenangan dan harapan di hatinya mendengar pernyataan Reno. "Benarkah? Ayo kita pulang."


Hari ketujuh setelah isolasi, Nindy pulang ke rumah. Dia mengira semua teror itu akan berakhir. Namun, ternyata tidak sampai di situ.


...****************...


Sore harinya saat Nindy dan Reno sampai di rumah, terlihat ramai di ruang tamu karena semua berkumpul menyabut kedatangan Nindy. Ada Ningsih, Budi, Santi, Wahyu, Gio, dan Gilang, serta Lisa. Saat melihat Nindy masuk, Lisa langsung menjerit.


"Aaaaaaa! Mama jangan masuk! Nanti mereka ikut masuk!" teriak Lisa ketakutan dan reflek langsung memeluk Ningsih.


Gio dan Gilang menelan ludah melihat makhluk gaib sebanyak itu berkumpul di belakang Nindy. Pantas saja wanita itu merasa sering diganggu dan lama sembuh dari sakitnya. Budi langsung berjalan mendekati Nindy dan memberikan tasbih yang sudah didoakan oleh Budi untuk dibawa atau dipakai oleh Nindy. "Pakai ini. Insyaallah mereka berhenti mengganggu."


Benar saja, saat Nindy mengenakan tasbih itu di lilitkan pada tangannya, semua makhluk yang menghantui di belakangnya langsung menghilang ketakutan. Nindy merasa tengkuknya tidak berat lagi.


"Terima kasih, Mas Budi," ucap Nindy dengan senyumnya.


Reno pun mengucapkan terima kasih. Budi juga menasehati jangan melepas tasbih itu agar Nindy tidak diganggu. Paling tidak harus di bawa ke mana pun dia pergi.


Sore itu, semua memberi hadiah selamat datang kembali di rumah untuk Nindy. Mereka berharap Nindy akan segera pulih kembali dan tidak lagi cemas akan banyak hal seperti saat di rumah sakit.


Setelah berbincang banyak hal, satu per satu dari mereka pun berpamit pulang. Pukul delapan malam, semua tamu sudah pulang. Para bibi pun membereskan rumah, sedangkan Nindy pun beristirahat di kamar. Reno merasa lega istrinya sudah membaik.


Keesokan harinya, Nindy bangun dengan wajah berseri-seri. Dia merasa jauh lebih baik saat ini. Meski kenyataannya teror makhluk gaib masih ada di sekitar Nindy. Mereka menginginkan Nindy untuk bergabung dalam kegelapan dan gertak gigi. Tempat di mana tidak akan ada kebahagiaan. Nindy sudah ditandai oleh makhluk hitam yang sudah musnah waktu itu. Banyak makhluk lainnya yang langsung mengikuti Nindy.

__ADS_1


Saat Nindy berjalan ke ruang makan dengan perlahan, dia melihat bangku di dekat meja makan bergerak sendiri. Nindy langsung mengusap matanya karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ternyata kursi itu bergerak lagi tanpa ada orang di sana. Nindy ketakutan melihat itu. "Bibi! Papa! Lisa! Kalian di mana?" seru Nindy yang panik.


Bibi yang sedang di dapur langsung berlari ke arah ruang makan. "Ada apa, Nyonya?" tanya Bibi yang khawatir.


"Bi ... Bibi, i-itu ... kursinya bisa gerak sendiri," kata Nindy sambil gemetar menunjuk ke arah kursi yang tadi bergerak sendiri.


"Mana, Nyonya? Tidak ada. Nyonya baru bangun, ya? Sini duduk dulu. Saya akan buatkan susu dan roti bakar. Maaf kalau telat ke sini, tadi Bibi tengok Nyonya masih tidur nyenyak," ucap Bibi sambil mengambil susu dan menuang di gelas.


"Reno dan Lisa di mana, Bi?" tanya Nindy.


"Tuan Reno sedang mengantar Non Lisa berangkat sekolah. Ini sudah pukul delapan, Nyonya. Sebentar saya buat roti bakar dulu. Nyonya minum susu saja dahulu " Bibi pun bergegas membuat roti bakar. Dia tak menyadari jika pergerakan kursi tadi memang nyata.


Sebenarnya ketiga bibi asisten rumah tangga di rumah Nindy juga mengalami gangguan. Seperti liring bergerak sendiri, barang atau bahan makanan pindah tempat, serta saat tidur ada yang menarik selimut padahal tidak ada siapa pun. Gangguan itu berlangsung dan menebar ketakutan penghuni rumah. Semakin mereka takut, makhluk itu semakin senang dan merajarela.


Hanya Reno dan Lisa yang tidak merasa diganggu. Meski Lisa bisa melihat makhluk gaib, semua yang mengganggu Nindy dan penghuni rumah lainnya bisa bersembunyi saat ada Lisa agar tidak ketahuan. Jadi, Reno dan Lisa tak percaya dengan yang dikatakan Nindy.


...****************...


Tiga hari kemudian ....


Nindy semakin stress dengan gangguan yang semakin nyata. Nindy tak tahu jika waktunya sudah habis. Makhluk-makhluk itu sudah tak sabar ingin mengambil Nindy.


"Waktunya sudah habis. Ayo ambil wanita itu."


"Iya, aku sudah tak sabar menerima jiwanya dalam kegelapan."


Bisik-bisik itu terdengar seakan nyata. Nindy terbangun tengah malam. Dia menengok ke segala arah dalam kamarnya, tetapi tak ada siapa pun kecuali suaminya yang tertidur nyenyak. Nindy pun mencoba kembali tidur. Namun, suara bisik-bisik itu kembali terdengar.


Nindy bangun lagi dan mencoba membuat Reno terbangun. Dia mengguncangkan tubuh suaminya, tetapi tak berhasil. Nindy semakin takut.


"Sudah, ayo ikut bersama kami. Jalan pintas sangat banyak."


"Daripada menjadi beban, ayo bunuh diri saja. Kami tak akan berhenti mengganggu sebelum kamu ikut bersama kami."


"Ayo, Nindy. Ada banyak cara untuk ke jalan pintas. Waktumu sudah habis."

__ADS_1


Nindy semakin tertekan mendengar suara itu. Dia masih membawa tasbihnya, tetapi mengapa suara bisik-bisik itu masih terdengar? Apakah benar yang mereka katakan untuk mengakhiri hidup adalah jalan terbaik? Nindy makin stress.


"Ya Allah, ampuni hamba. Hamba penuh dosa, penuh rasa iri, penuh rasa benci, bahkan hamba menyimpan dendam. Ampuni hamba, ya Allah. Bebaskan hamba dari gangguan ini!" teriak Nindy dalam hati dengan berdoa kepada Sang Pencipta. Ini kali pertama Nindy dengan sungguh-sungguh memohon ampun atas segalanya. Allah Maha Pendengar dan Maha Baik, gangguan makhluk itu langsung sirna. Nindy pun pingsan seketika. Dia terbawa ke alam lain sambil membawa tasbih yang Budi beri. Tempat yang seharusnya tidak dilihat oleh Nindy.


__ADS_2