
π Kehidupan Normal π
Setelah beberapa hari memulihkan kondisi Ningsih di pesantren, akhirnya Ningsih berpamit pulang. Meski sudah tak ada arah tujuan, Santi dan Reno bersedia menerima Tante Ningsih di rumahnya. Ningsih merasa tak enak dan memilih kontrak rumah saja.
Setelah Ningsih berpamitan pada Pak Anwar, Budi, serta Mak Sri, tak lupa dia juga menitipkan Wahyu untuk tetap belajar agama di pesantren dengan baik. Ningsih pun pulang bersama Santi dan Reno. Kembali ke kota Yogyakarta karena di Jakarta sudah tak ada lagi yang tersisa untuknya.
"Santi ... Reno ... terima kasih banyak, ya. Tante berhutang budi pada kalian," lirih Ningsih saat diperjalanan.
"Ah, nggak apa-apa Tante. Kita 'kan keluarga." jawab Santi sambil tersenyum.
"Tante, gimana jadinya? Tinggal bareng kami saja," kata Reno sambil menyetir mobil.
"Ah, nggak usah, Reno. Santi dan Reno sudah terlalu banyak berbaik hati dengan Tante. Biar Tante mengontrak rumah saja. Nanti kalau misal mengunjungi Wahyu, Tante ikut, ya." jelas Ningsih yang tak enak hati telah merepotkan.
"Tante benar, nih, nggak mau tinggal sama kami?" Santi memastikan lagi.
Tante Ningsih pun menatap Santi yang ada di sampingnya, "Iya, Santi. Tante sudah banyak membawa kesusahan pada kalian. Biar Tante memulai segala sesuatunya dari awal. Terima kasih sudah membawaka handphone, ATM, dan dompet Tante, ya. Hanya kalian yang Tante punya."
Santi pun memeluk erat Tante Ningsih. Sedangkan Reno tersenyum, melihat dari pantulan spion tengah.
Sesampainya Reno dan Santi di rumah, Ningsih berpamit mencari kontrakan. Santi pun meminta untuk menemani Ningsih. Namun, Ningsih menolaknya. Ningsih tak ingin keponakannya tahu kontrakan yang akan Ningsih tempati karena benar-benar Ningsih ingin mereka memiliki kehidupan normal.
"Tante pamit dulu, ya." ucap Ningsih yang kemudian pergi dengan taksi.
Diam-diam Ningsih sudah mencari rumah kontakan lewat media sosial. Dia mendapatkan sebuah hunian dalam perumahan sederhana. Hanya ada dua kamar, sebuah ruang tamu, sebuah dapur, dan sebuah kamar mandi. Cukup untuk Ningsih yang saat ini terpisah dengan Wahyu. Dia sadar jika hidup di pesantren Pak Anwar jauh lebih dari pada Wahyu ikut dengannya.
"Gimana, Mbak? Jadi kontrak rumah ini?" tanya Bu Sabar-pemilik kontrakan itu.
"Jadi, Bu. Harganya apakah bisa kurang?" tanya Ningsih kembali.
"Kalau ambil dua tahun langsung, boleh kurang. Nanti dua puluh juta saja untuk dua tahun." ucap Bu Sabar.
Ningsih menimbang kembali keputusannya karena uang yang tersisa di ATMnya hanya tinggal lima puluh juta saja. Harta lainnya berada di almari sesaji yang ikut terbakar saat rumahnya hangus dilalap api. Peranjian dengan Bima dan Tuan Chernobog dianggap berakhir saat Ningsih dan Bima menghilang.
Ningsih pun mengambil keputusan, "Baik, Bu. Saya mau. Oya, apakah saya bisa berjualan di sini? Misal buka kelontong."
__ADS_1
"Boleh, Mbak. Santai saja di perumahan ini boleh jualan asal lapor ke RT dulu. Kalau jadi, saya minta uangnya di muka, ya. Sekalian tanda tangan kwitansi." kata Bu Sabar yang tak sabar mendapatkan uang.
"Iya, Bu. Saya ke ATM depan dulu, ya." Ningsih pun berjalan ke depan perumahan yang sudah menyediakan AMT centre.
Setelah mengambil sejumlah uang, Ningsih pun kembali ke rumah blok A nomor 3 itu. Bu Sabar segera menyambut Ningsih dengan sumringah. Dia pun menerima uang dua puluh juta dan menyodorkan kwitansi serta kunci rumah. Setelah itu, Bu Sabar meninggalkan Ningsih yang membawa dua tas jinjing dalam rumah itu.
"Wah, lumayan banget. Rumah kontrakan plus perabot. Tak begitu merepotkan dan lumayan jauh dari kota, jadi nggak begitu banyak pengeluaran. Nanti aku mulai cari suplaiyer aja, ah, buat buka kelontong di sini." gumam Ningsih sambil masuk dan menata pakaiannya di dalam almari kamar.
Dia pun menyapu, mengepel, dan menata ulang agar rumah nyaman ditempati. Ningsih tersenyum senang. Dia pun berharap dalam hati. "Andai Bima ada di sini. Semoga anakku menemukannya."
***
Kastil milik Laurent ....
Bima mengucapkan terima kasih kepada Laurent dan Daniel. Serta bersiap untuk pergi dengan Alex kecil. "TERIMA KASIH BANYAK GADIS BUTA DAN BODYGUARDNYA. KAMI BERHUTANG BUDI KEPADA KALIAN."
"Jangan bilang begitu, Iblis galau nan bucin. Kita sudah seharusnya saling tolong menolong. Sana kembali ke kekasihmu. Pasti kamu sangat merindukannya." jawab Laurent sambil tertawa.
"Galau dan bucin itu apa, Yah? Alex tak paham," ucap Alex kecil yang mengernyitkan dahi.
"LEBIH BAIK TAK PAHAM ARTINYA. AYO, SAYANG, KITA KE IBU." ucap Bima menggendong anaknya.
Setelah berpamitan pun mereka menghilang. Menjelajahi ruang dan waktu untuk menembus dunia manusia dan ke tempat Ningsih berada. Bima tak sabar melihat istrinya yang sudah lama tak dilihatnya.
***
Kontrakan Ningsih ....
Siang berganti senja dan kemudian cahaya matahari meredup perlahan. Malam menyambut hari dengan gelap dan dinginnya embusan angin. Ningsih masih termangu di ruang tamu dan menatap keluar. Bintang bertaburan menghiasi langit, menambah indahnya malam nan sepi itu.
Ningsih berandai-andai jika ada Bima di sini, pasti harinya tak akan sepi. Jika ada Wahyu dan anaknya dalam pelukan, pasti mereka akan menjadi keluarga bahagia. Normalkah Ningsih merasakan itu? Padahal dia masih dalam lingkup kegelapan karena tak bisa melupakan Iblis yang telah menemani hidupnya selama ini.
"Ibu ... tak usah berandai-andai. Kami datang," lirih seorang anak lelaki yang Ningsih sayangi.
"Nak, kamu da-" suara Ningsih terhenti seketika saat melihat Bima ada di hadapannya.
__ADS_1
Bima tersenyum, lalu meletakkan anaknya yang sedari tadi dalam gendongan. Bima sudah mengubah wujud menjadi manusia. "Ningsih ... apa kabar?" ucap Bima membuat semua perasaan Ningsih berkecamuk.
Antara rindu, sedih, senang, rasa syukur, hingga terkejut bercampur aduk membuatnya terperenga menatap suami tercinta. "Bi-Bima?" kata Ningsih yang masih tak berkedip melihat sosok yang ia khawatirkan.
"Iya, sayang. Ini aku, Bima." lirih Bima sambil membentangkan kedua tangannya untuk memeluk wanita yang menjadi kekasih hati selama ini.
"Bima ... akhirnya kamu datang. Kamu baik-baik saja? Aku khawatir. Aku takut. Aku memikirkanmu setiap harinya," ucap Ningsih bersamaan dengan air mata yang turun dengan deras. Tak kuasa menahan gejolak rasa di dada.
Bima memeluk erat wanita pujaannya. Dia tak menyangka jika masih bisa bertemu bahkan memeluk Ningsih lagi. Setelah apa yang Bima lalui dengan berat di Neraka Lapis Keenam, saat menjadi tahanan dan budak untuk diambil energinya, dia akhirnya bisa bersama Ningsih lagi. Sungguh tak terbayangkan, Bima pun meneteskan air mata saat memeluk tubuh Ningsih dengan erat.
Alex tersenyum menatap ayah dan ibunya yang berpelukan dengan perasaan haru. Alex bersyukur jika bisa membuat orang tuanya bertemu lagi. Namun, ada satu hal yang mengusik hatinya. "Ibu ... di mana Kak Wahyu?" tanya Alex membuat Ningsih segera mengusap air matanya.
Bima melepaskan pelukannya terhadap Ningsih. Lalu, Ningsih menjawab pertanyaan Alex kecil. "Sayang, Kak Wahyu sedang menimba ilmu di tempat pertama kalian bertemu. Mungkin kita bisa mengunjunginya akhir pekan. Namun, akan susah jika Ayahmu ikut. Di sana, entah mengapa hanya kamu yang tak bisa dirasa oleh Pak Anwar dan orang lainnya." jelas Ningsih yang membuat Alex bingung.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan sama dengan Kak Wahyu. Aku ini adiknya. Kenapa Kak Wahyu tidak di sini saja? Oh, iya, Ayah sudah memberi nama padaku, Bu." ucap Alex.
"Suatu hari nanti pasti kamu akan tahu. Cukup patuhi kata Ibu dan Ayah, ya? Wah, Ayah memberi nama siapa?" tanya Ningsih penasaran.
"Alexander namanya. Panggil saja Alex. Bagus, tidak?" tanya Bima pada Ningsih.
"Bagus, sayang. Sini, Alex peluk Ibu," kata Ningsih yang langsung menyambut tubuh anaknya.
Bima pun memeluk Ningsih dan Alex. Mereka senang bisa berkumpul, meski Wahyu masih di pesantren. Ningsih yakin, suatu hari nanti mereka bisa bersama dan menjadi keluarga harmonis serta keluarga normal seperti lainnya. Walaupun cinta mereka beda dunia, tetap saja menghalau segala halangan dan rintangan agar tetap bersama.
"Bima, terima kasih sudah kembali. Alex, terima kasih sudah ada dan mau mencari Ayahmu. Aku beruntung mempunyai kalian. Aku mengayangi kalian." gumam Ningsih dalam pelukan hangat kedua jagoan itu.
Hari ini menjadi awal yang baru dalam kehidupan Ningsih. Tak perlu mencari tumbal, tak perlu menikah dengan manusia lagi, tetapi tanpa Ningsih sadari JERAT IBLIS masih dan akan selalu menggerogoti hidupnya.
Entah kapan Ningsih akan menyadari bahwa jalan yang dia tempuhnya berliku dan membuat banyak orang sengsara. Entah kapan Ningsih akan mengerti jika tak seharusnya perasaannya dan Bima ada. Berapapun siksaan yang mereka hadapi, selalu ada jalan yang ditempuh untuk kembali bersama. Terlebih saat ini ada buah cinta mereka, Alex. Anak Iblis yang lahir dari rahim roh manusia, sungguh membuatnya memiliki kekuatan dahsyat yang belum disadari oleh orang tuanya.
***
Di sisi lain ... Neraka Lapis Keenam
Tuan Asmodeus geram dan marah melihat sel tahanan Bima kosong. "Kurang ajar! Di mana Bima berada? Kenapa bisa lolos! Aaarrggg!" geram Tuan Asmodeus yang kemudian marah dan membuat para penjaga Neraka Lapis Keenam mendapatkan ganjarannya.
__ADS_1
Tuan Asmodeus pun curiga akan energi besar yang beberapa waktu lalu sempat dirasakannya. Energi dari Iblis yang tak bisa dianggap remeh karena bisa jadi salah satu saingannya sedang menghimpun kekuatan. Tuan Asmodeus merasa was-was dan khawatir jika salah satu penguasa Neraka sedang menghimpun kekuatan untuk saling gempur. Dia pun segera bersemedi di kursi kejayaannya untuk mencari petunjuk serta meningkatkan energinya. Berjaga-jaga jika suatu saat hal buruk terjadi di Neraka.
Bukan rahasia lagi jika para penguasa lapisan Neraka bekerja keras untuk saling memperebutkan tahta. Bukan hanya manusia yang memiliki ambisi sebagai penguasa, Iblis pun juga. Oleh karena itu, Lucifer senang melihat para panglima neraka berebut kekuasaan. Selain berlomba menyesatkan manusia, menjerat manusia dalam kubangan dosa, dan membuat manusia menjauh dari cahaya Illahi, Iblis pun sangat senang bersaing menjadi yang terkuat di Neraka. Ambisi yang tak akan pernah padam. Ambisi yang tak akan pernah pudar oleh waktu.