
...🔥 NINGSIH BERTAUBAT 🔥...
Subuh itu, Ningsih memulai pertaubatan yang sepertinya mustahil dilakukan. Bertemu Alex dalam mimpi membuat Ningsih semakin yakin apa yang menjadi jalan-Nya. Seperti yang Wahyu katakan padanya, jika Allah itu Maha Baik dan Maha Pengampun. Saat hamba-Nya bertaubat, pasti akan ada pintu pengampunan yang terbuka lebar.
Ningsih pun mencari pasmina di almarinya. Dia pun mencari pakaian lengan panjang dan tertutup. Setelah menyiapkan pakaiannya, wanita itu pun bergegas mandi. Masih sangat pagi, Ningsih sengaja membasuh tubuhnya segera setelah menunaikan salat Subuh.
Wahyu di pesantren pun merasakan sesuatu. Setelah salat Subuh, dia merasa ada hal yang terjadi pada ibunya. Perubahan luar biasa pada ibunya terasa di hati Wahyu. Sebelum memulai aktivitas pesantren, dia segera mengirim pesan terlebih dahulu pada ibunya.
Wahyu: [Assalamualaikum, Mama. Selamat pagi. Wahyu sayang Mama. Terima kasih untuk segalanya. Wahyu mulai pembelajaran hari ini ya, Ma. Nanti Wahyu hubungi jika sudah selesai pembelajaran di pesantren.]
Pesan terkirim. Wahyu segera meletakkan handphonenya di laci dan kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Seusai mandi, Ningsih langsung mengenakan pakaian yang sudah dia siapkan. Celana panjang dan blouse lengan panjang, serta mengenakan pasmina untuk menutupi rambut dan kepalanya. Dia segera keluar kamar dan menuju ke dapur untuk membuat omellete. Saat masuk ke dapur, betapa terkejutnya bibi asisten rumah tangga Ningsih.
"MasyaAllah ... Nyonya cantik sekali, mau ke mana?" ucap bibi pada Ningsih. Takjub melihat nyonyanya mengubah penampilan menjadi berpakaian tertutup.
"Pagi. Bi. Ini mau buat omellete. Nanti pergi ke cabang Prambanan mau mengecek openingnya. Ini cuma iseng aja pakai begini," jawab Ningsih yang sesungguhnya malu.
"Nyonya sungguh cantik pakai itu. Kelihatan adem. Coba Nyonya pakai hijab dan tunik atau gamis pasti makin cantik," kata bibi yang memuji dan membesarkan hati Ningsih.
"Insyaallah, Bi. Mohon doanya saja."
Ningsih pun segera membuat omellete untuk sarapan dan menyeduh kopi. Dia tersenyum membayangkan kedua anaknya yang pasti akan senang melihat hal ini. Bagi Ningsih, kebahagiaan kedua anaknya menjadi hal utama. Meski dia masih merasa tak layak untuk mendapatkan pertaubatan dari Sang Maha Kuasa. Namun, semua di dunia tak ada yang mustahil, bukan?
Setelah selesai sarapan, jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Pak Samsul sudah datang. Sopir pribadi di rumah Ningsih memang tidak menginap di sana. Ningsih langsung bergegas berangkat kerja. Dia tidak menbuka handphonenya dan belum tahu jika Wahyu mengirim pesan.
__ADS_1
"Pak, ayo berangkat ke cabang Prambanan," ajak Ningsih pada sopirnya yang terkejut melihat penampilan Ningsih yang tertutup pasmina dan blouse panjang.
"Pa-pagi, Nyonya. Siap. Mari masuk mobil," sahut Pak Samsul.
Sepanjang perjalanan, Ningsih hanya menatap kaca mobil di sisi kirinya. Dia mengamati pinggiran jalan, tetapi pikirannya justru tertuju pada keluarganya. Bima, Alex, dan Wahyu yang sangat dia sayangi. Apakah mereka akan senang dan bahagia melihat dirinya mulai salat dan mengubah dirinya?
Saat perjalanan terlihat mulai macet di daerah ringroad. Perjalanan itu pun memakan waktu sekitar empat puluh menit. Setelah sampai di sana, Ningsih melihat semua pegawainya sudah bekerja sesuai S.O.P yang dibuat.
"Se-selamat pagi, Bu!" seru salah seorang pegawai yang takjub melihat perubahan fashion Ningsih.
"Selamat pagi, semua. Semangat bekerja, ya!" Ningsih pun memberi semangat pada semua pegawainya. Hari itu, lembaran baru kehidupan Ningsih dimulai. Pertaubatan itu seakan disambut baik oleh semesta. Ningsih pun berencana akan mencari beberapa pakaian tertutup di butik nanti siang. Dia sudah merencanakan semuanya.
Jam berjalan dengan cepat. Hingga semua hal yang Ningsih cek selesai, dia pun hendak membuat minum di pantry. Tanpa sengaja, dia mendengar percakapan anak buahnya.
"Sudah lihat penampialn baru Bu Ningsih belum?"
"Iya. Ini pelan-pelan, kok. Sudah lihat, kan? Pantes nggak? Menurutku nggak pantes pakai banget. Biasanya pakai dress di atas lutut atau pakaian ketat, sekarang kok pakai pasmina. Aneh banget."
"Eh, nggak boleh gitu. Kasihan bos kita kalau dengar, kan?"
"Ciee ... bela bos. Emang kamu lupa tempo lalu kamu sendiri yang bilang curiga bos bawa suami ponakannya ke sini, kan?"
"Hmm ... iya. Tapi nggak ada kaitannya sama penampilan bos ini."
"Bodoh kamu. Ya, ada, lah kaitannya. Bos begitu biar kelihatan kalem. Biar suami ponakannya suka, mungkin."
__ADS_1
Mendengar perbincangan itu membuat Ningsih langsung terdiam. Ternyata, pertaubatan tak semudah itu. Selalu ada orang yang berpikir negatif dan menggosip di belakangnya. Memang dia tak bisa mengubah atau menghenti perkataan jahat orang lain terhadapnya. Namun, mengapa harus mereka mengatakan hal yang bisa menjadi batu sandungan?
Ningsih melangkah mundur. Dia tak jadi membuat minum di pantry. Dia merasa sedih dan merasa tak layak dalam waktu bersamaan. Dia memilih segera pergi dari sana daripada sakit hati. Ningsih melepas pasminanya dan meminta Pak Samsul segera membawanya pergi setelah masuk ke mobil.
"Ayo, Pak. Kita pergi sekarang."
"Baik, Nyonya."
Ningsih pun menatap kaca hingga air mata menetes membasahi pipi. Dia merasa pertaubatan memang tak mudah karena belum pasti semua orang bisa menerima. Saat dia menangis, Pak Samsul pun mulai berkata.
"Nyonya, terkadang perbedaan dan perubahan itu menjadi sesuatu yang aneh pada awalnya. Namun, dalam ridho Allah, semua akan baik-baik saja. Jangan pedulikan yang mencibir atau melukai hati, tetapi fokuslah pada orang-orang yang mencintai dengan tulus dan memberi semangat dan dukungan. Yakinlah, Nyonya, semua akan baik-baik saja," lirih Pak Samsul mencoba menenangkan Ningsih yang menangis.
Wanita itu pun menatap Pak Samsul yang masih dengan santai menyetir mobil. "Pak, apakah saya memang tak pantas mengubah diri? Mengapa selalu saja oranh berpikir buruk pada saya?"
"Nyonya, mereka begitu karena tidak mengenal Nyonya seutuhnya. Sabar dan doakan. Mereka pasti akan tersentuh hatinya oleh kuasa Allah. Apa yang Nyonya lakukan sudah tepat. Langkah besar dalam perubahan hidup. Saya dan Bibi pasti dukung. Terlebih Tuan Bima, Den Wahyu, dan Den Alex pasti sangat senang jika melihta perubahan Nyonya. Jangan patah semangat, Nyonya." Pak Samsul berhasil menyemangati Ningsih.
Wanita itu segera mengusap air matanya dan meminta untuk diantar ke butik busana muslim. Ningsih bertekad akan mengubah penampilannya bersamaan dengan pertaubatannya.
Sesampainya di butik yang dimaksud, Ningsih gugup melangkah masuk. Sebuah pergolakkan batin terasa. Dia pun memantabkan diri untuk mengubah penampilan. Dia masuk ke butik, memilih beberapa tunik, hijab, gamis, dan aksesorisnya. Ningsih sudah bertekad akan mengubah penampilan seiring pertaubatannya.
Andai semua manusia menertawakannya, Ningsih tak ingin berhenti karena demi keluarganya, dia bertaubat. Ningsih ingin menunjukkan bahwa dirinya pun bisa berubah dan Allah menerima pertaubatannya.
Setelah selesai berbelanja banyak barang, Ningsih pun mengajak Pak Samsul untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang hangat membahas banyak hal. Ningsih pun menyadari, tidak semua orang membenci atau mencibirnya, dan tidak semua orang mendukungnya. Semua adalah bagian dari perjalanan hidup yang berliku tajam.
...****************...
__ADS_1
...PENGUMUMAN...
...Bagi para pembaca JERAT IBLIS yang ingin masuk ke GRUP CHAT, baiknya memberi password saat masuk agar diterima. Sebutkan 3 pemain di Novel JERAT IBLIS. Lalu tulis itu saat hendak masuk grup. Hal ini diadakan karena mengikuti usul para admin demi kenyamanan sesama penghuni Grup Chat, mohon diperhatikan ya guys. Thanks^^...