JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 81


__ADS_3

...🔥 Dunia Lain dan Kunci Kebaikan 🔥...


Saat Nindy membuka mata, dia terkejut karena berada di tempat yang jauh berbeda dengan kamarnya. Tempat yang tak seharusnya dia datangi. Nindy masih membawa tasbih itu di tangannya. Dia ketakutan setengah mati karena saat ini dia berada di dunia lain.


Terlihat banyak jiwa orang tak berbentuk yang disiksa oleh makhluk-makhluk mengerikan. Nindy ketakutan melihat itu. Tubuhnya seakan melayang melintasi semua pemandangan mengerikan itu. Banyak jiwa yang tersiksa di sana. Salah satunya adalah almarhum kakaknya. Nindy terkejut saat melihat Joko disiksa dalam kobaran api yang besar dengan makhluk bertanduk dua menyiksanya tanpa henti.


"Sakit ... sakit ...." lirih Joko dengan gertak giginya yang menahan rasa sakit amat dalam.


Nindy sampai merinding mendengar itu. Dia kasihan, tetapi tak bisa menolong kakaknya karena tubuh Nindy terus melayang hingga menembus tempat lain. Di tempat selanjutnya, dia melihat Bima dan Alex sedang bersemedi menghimpun energi. Terlihat tempat itu masih di dalam neraka, tetapi tidak ada penyiksaan. Seperti tempat pusat atau istana dari neraka tersebut. Ada singgah sana mewah di sana, tetapi Nindy silau, tak bisa melihat makhluk yang duduk di singgah sana mewah berlapis emas. Meski indah, tetap saja membuat bulu kudu Nindy meremang karena itu bagian dari neraka.


Tubuh Nindy melayang kembali melewati tempat roh-roh melayang tak tentu arah. Di sana terdapat roh yang penasaran, mati bunuh diri, dan kecelakaan. Tempat di mana makhluk-makhluk yang berbisik dan mengganggu Nindy selama dia di rumah sakit hingga tadi malam. Makhluk roh itulah yang mengusik Nindy agar mau menuruti bunuh diri. Untungnya iman Nindy kuat dan tidak mengikuti makhluk-makhluk itu.


Nindy pun terbawa kembali ke tempat yang berbeda. Tubuh Nindy melayang hingga sampai ke tempat yang sangat terang. Cahaya putih itu menyilaukan mata. Nindy sepertinya masuk ke tempat yang orang-orang menyebutnya dengan Surga. Tempat yang sejuh, banyak tumbuhan yang indah dan rindang. Ada air terjun dan sungai yang jernih mengalir. Lalu terlihat tempat seperti istana yang megah. Di sana banyak orang berkumpul dengan senyum menghiasi wajah mereka. Nindy merasakan ketenangan di sana hingga mendengar suara lantang yang terdengar.


"Waktumu sudah habis di sini. Kembalilah, Nak. Jangan berbuat dosa lagi. Kau akan tinggal di sini jika melakukan segala perintahKu dan menjauhi laranganKu."


Nindy pun seperti terpental jauh dan tiba-tiba bangun dari perjalanan gaibnya dengan satu tarikan napas. "Hah ... hah ... hah ...." Nindy mencoba mengatur napas setelah membuka mata.


"Alhamdulilah, Nindy. Akhirnya kamu bangun. Aku khawatir sekali," ucap Reno yang langsung memeluk erat tubuh istrinya.


Nindy pun menatap sekeliling. Dia bingung karena banyak orang berkumpul di kamarnya. Wahyu menyodorkan sebuah botol berisi air mineral yang sudah dibacakan doa. "Ini minum dulu, Kak," kata Wahyu yang sedari tiga hari yang lalu berjaga dan mendoakan Nindy.


Setelah sadar dan mencoba memahami apa yang terjadi, Nindy terkejut karena pengalamannya tadi bukanlah sekedar bunga tidur. Namun, dia berjelajah ke dunia lain. Dia merasa hanya beberapa puluh menit di sana. Tidak ada satu jam, tetapi nyatanya di dunia manusia, Nindy sudah tak sadarkan diri selama tiga hari. Sempat Reno panik dan hendak menelepon ambulans. Namun, Wahyu mencegah dan memanggil Om Budi untuk datang membantu. Seperti yang Wahyu dan Lisa lihat, Nindy sedang tertidur dan mengunjungi dunia lain.

__ADS_1


Lisa juga tahu hal itu karena terlihat aura tubuh ibunya berubah. Dia hanya bisa menyampaikan dengan kata-kata sederhana seperti, "Mama sedang jalan-jalan dalam mimpi. Jangan panggil ambulans, Pa. Mama tak suka di rumah sakit lagi."


Untung saja Reno mendengarkan kata Wahyu dan Lisa hingga dirinya sabar menanti istrinya tersadar dari tidur panjangnya. Ningsih dan Santi pun ikut menunggu di rumah Reno. Mereka khawatir dengan keadaan Nindy. Selama tiga hari itu, mereka berdoa demi keselamatan Nindy tanpa henti dan Allah mengabulkan doa mereka.


"... jadi begitu, Nindy. Tiga hari ini kamu berada di dunia lain. Alhamdulilah jika akhirnya kamu kembali lagi. Kami sempat khawatir di hari kedua," jelas Budi dengan singkat.


Nindy pun gantian menceritakan apa yang dia alami di sana. Termasuk saat melihat almarhum Joko membuat Nindy tak bisa menahan tetesan air mata. Ningsih ikut merasa bersalah akan hal itu dan Wahyu mencoba menenangkan. Reno juga menenangkan istrinya yang bersedih saat menceritakan hal itu.


Menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Nindy. Perjalanan di dunia lain yang singkat itu membuatnya sadar bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini adalah atas izin Allah.


"Tante Ningsih, aku minta maaf dengan sangat sudah menaruh benci dan dendam padamu. Aku sadar sekarang, semua yang terjadi adalah berdasarkan izin Allah. Aku tak bisa menentang apa yang Allah tetapkan. Semoga dengan doa-doa yang kita panjatkan bisa menjadi pengurang siksaan mereka yang sudah terlebih dahulu berpulang," lirih Nindy yang malu karena membenci Tante Ningsih yang dari dulu sudah baik kepada dirinya dan keluarganya.


Meski Joko menjadi tumbal ketujuh, bukan berarti Nindy bisa menghakimi sesuka hati, bukan? Terlebih jika Ningsih sudah bertaubat, Nindy tak berhak mengatakan hal buruk padanya lagi. Karena Allah saja Maha Pengampun, mengapa sebagai hamba terlalu sombong dan angkuh untuk membuka pintu maaf?


...****************...


Tiga bulan kemudian ....


Keadaan sudah berjalan normal. Kondisi Nindy sudah sehat dan pulih. Dirinya menjadi donatur tetap di beberapa forum amal untuk anak yatim dan janda miskin yang tertindas. Dia juga meminta izin pada suaminya untuk membuka panti asuhan. Tentunya setelah pertimbangan yang panjang, Reno menyetujui. Nindy akan menyiapkan semuanya beserta beberapa forum amal yang dia ikuti.


Nindy berubah jauh lebih baik. Menjadi seorang ibu dan seorang istri soleha dan menjadi pribadi yang peduli akan nasib orang lain. Dia menjadi pelopor kebaikan bagi ibu-ibu muda yang sering beralasan ini itu untuk menghindari amal. Sekarang, banyak ibu-ibu muda yang masuk dalam forum amal Nindy. Dlaam waktu tiga bulan, Nindy membuat perubahan drastis dalam hidupnya dan keluarganya


Ningsih dan anaknya pun sangat bahagia melihat perubahan yang luar biasa pada Nindy. Mereka berharap hal baik itu akan terus berlangsung dan berlanjut agar orang lain juga bisa mengikuti jejaknya. Sedangkan Budi dan Santi sudah jarang ke Yogyakarta karena kesibukan mereka hendak membuka cabang pesantren di Solo.

__ADS_1


Semua berjalan baik karena Allah membukakan penglihatan salah satu umat-Nya. Sesungguhnya kunci kebaikan bukan dari orang lain atau pemuka agama. Namun justru dari hati nurani kita masing-masing. Sekuat apa pun orang lain mengajak kita berbuat baik, jika dalam hati dan pikiran kita masih ada hal buruk dan prasangka buruk, maka tak akan ada kebaikan yang terjadi.


Kunci kebaikan itu hanya bisa dibuka dengan hati dan pikiran yang jernih. Tanpa menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi. Tanpa menyudutkan sesorang atas kegagalan yang dihadapi. Kunci kebaikan itu berasal dari hati yang tulus dan mau berkorban.


Nindy saat ini sadar mengapa dia selalu merasa tak bahagia. Saat wanita itu duduk bersantai bersama suaminya di teras, dia pun mengungkapkan perasaannya. "Papa ... maafkan Mama selama ini, ya? Maafkan Mama kalau sering cemburu dan berperisangka buruk terhadap Papa. Maafkan Mama kalau selalu menyalahkan masa lalu. Mama sadar mengapa selama ini Mama merasa tersiksa dan kurang bahagia ...."


"Alasannya apa, Ma?" tanya Reno yang menyimak pernyataan istrinya dengan serius.


"Itu semua karena Mama tak pernah bersyukur dengan apa yang ada. Mama selalu melihat ukuran kebahagiaan orang lain dan akhirnya jatuh iri hati. Mama terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang terlalu jauh hingga tak bisa menikati kebahagiaan yang ada saat ini. Maaf ya, Papa. Mama sayang Papa dan Lisa. Mama ingin kita selalu bersama," jelas Nindy yang kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang milik suaminya. Rasa tenang dan nyaman membuat Nindy senang bercengkrama dengan suaminya tercinta.


"Sudah, jangan minta maaf terus, ya. Papa sayang Mama dan sangat bersyukur Allah mau membuka semua dengan jelas. Tabir yang dahulu Mama tak menyadarinya, sekarang terlihat begitu nyata. Papa senang jika Mama menyadari hal itu. Papa sayang Mama," kata Reno sambil membelai perlahan rambut istrinya.


Reno mencintai istrinya melebihi apa pun. Karena dia sudah berjanji tidak akan menduakan Nindy dengan apa pun termasuk dengan uang dan waktu. Bagi Reno, kebahagiaan keluarga akan membukakan jalan rezeki lebih lebar. Jadi, dia tak pernah memaksakan diri untuk bekerja keras dan melupakan keluarganya. Dia bekerja dengan waktu yang sudah ditentukan dan mengutamakan keluarga. Hidup Reno sudah cukup bahagia seperti sekarang.


"Papa ... terima kasih untuk segalanya. Tolong amanah Mama untuk membangun panti asuhan diselesaikan, ya? Mama sayang Papa dan Lisa," lirih Nindy yang akhirnya menutup mata.


"Iya, Ma. Kita selesaikan bersama, ya. Membangun panti asuhan untuk anak-anak terlantar." Seketika menjadi hening. Nindy yang menyenderkan kepalanya di dada Reno pun terdiam.


Reno yang tidak merasakan hembusan napas istrinya pun mulai panik. Dia memegang tubuh istrinya, lalu melihat wajah istrinya yang sudah memejamkan mata dengan senyum melekat di bibirnya. "Nindy? Nindy? Nindy ... bangun. Nindy, jangan membuatku takut. Ayo bangun!" Reno mulai panik karena istrinya tidak bernapas.


Reno pun berteriak meminta tolong. Para Bibi dan sopir pun bergegas datang bersamaan Lisa. Betapa terkejutnya gadis kecil itu melihat sesuatu yang ada di samping orang tuanya. "Papa ... Mama sudah mau pulang. Mama memakai gaun indah dan tersenyum beserta malaikat di sampingnya menatap kita," celoteh Lisa membuat Reno makin panik.


"Nin-Nindy? Jangan. Please, ya Allah. Jangan ambil dirinya dariku sekarang," pinta Reno yang tanpa mendapat jawaban dari Sang Pencipta.

__ADS_1


Mungkin benar yang orang katakan, ketika manusia dibukakan hikmat dari Sang Pencipta tentang dunia lain setelah kehidupan, mungkin usianya sudah akan habis. Dia diberi kesempatan untuk mengubah hal buruk di hidupnya dan berhenti berbuat dosa.


__ADS_2