JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 51


__ADS_3

...🔥PERUBAHAN DRASTIS VIA 🔥...


Setelah mengajak keluarganya pindah ke rumah yang Dinda siapkan, Via pun merasa lebih percaya diri. Dia pun berencana akan membalas semua orang yang dahulu menghina dirinya dan keluarganya. Terlebih pada kawan-kawan di sekolah. Via menjadi dendam mengingat perlakuan mereka yang sungguh keterlaluan.


Pagi hari yang ditunggu Via pun datang. Kedua adiknya pun sudah memakai seragam sekolah yang baru dibeli kemarin. Via pun tampil modis dengan seragam SMA, sepatu, dan tas baru yang semuanya dibeli kemarin dengan harga yang mahal.


"Bapak, nanti Bapak akan diajak ke showroom mobil sama Tante Dinda. Bapak pilih mobil yang bisa buat kerja taksi online, ya. Ibu, nanti Ibu juga mulai buka laundry saja di sini. Nanti ada petugas yang datang," kata Via sambil menyelesaikan sarapannya.


"Ya, Nak. Bilang ke Nyonya Dinda terima kasih banyak atas bantuannya ke keluarga kita. Meski semua ini sangat mewah buat kita," ucap bapak Via.


"Kak, apakah ini semua tidak berlebihan? Ibu sama Bapak sampai bingung. Berasa ini semua mimpi," jawab Ibu yang masih bingung.


"Halah, Bapak dan Ibu ini munafik. Senang 'kan jadi kaya raya begini? Nggak perlu susah-susah mengemis bantuan sana sini. Udah, nikmati saja," ucap Via dengan santai. Dia segera menyelesaikan sarapan, meminum segelas air putih, dan mengambil tasnya untuk berangkat sekolah.


"Sudah, Bu. Kita harusnya bersyukur pada Allah memberikan rezeki yang tak terduga seperti ini hingga anak-anak kita bisa senang hidup layak," ujar bapak yang lebih realistis. Lelaki itu pun sudah lelah hidup susah. Meski sudah banting tulang dan berjuang mencari rezeki, sampai anaknya beranjak besar pun mereka masih miskin. Kadang, bapak merasa gagal menjadi kepala rumah tangga karena tak bisa membahagiakan keluarganya.


"Nah, benar kata Bapak. Kalau gitu, Via berangkat dulu, Pak, Bu. Adik-adik ikut Via saja yang berangkat naik mobil. Nanti pulangnya Bapak jemput, ya. Kalau Via nanti pulang sendiri!" seru Via yang dengan riang menggandeng tangan kedua adiknya.


"Hati-hati di jalan, anak-anak!" jawab ibu yang tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Bukan hanya mengucap syukur, ibu juga memohon perlindungan pada Sang Pencipta karena firasat ibu mengatakan ada hal buruk di balik semua kemudahan yang tiba-tiba diterima keluarganya itu.


Via pun masuk ke mobilnya. Mengajak kedua adiknya ikut masuk ke mobil untuk bersiap berangkat sekolah. Dia sudah mencari dan menyewa seseorang untuk menjadi sopir dan membantunya belajar menyetir dengan cepat setelah pulang sekolah. Pagi ini, hari pertama perubahan hidup Via. Dia segera meminta sopir melaju.


"Pak, jalan sekarang, ya. Antar adik-adik dulu, baru antar aku sekolah. Nanti siang jemput aku sekalian mengajari setir mobil, ya," pinta Via pada asisten baru.


"Siap, Non."


Sopir itu mengantar ke sekolah Theo dan Fafa, nama kedua adik Via. Setelah selesai mengantar adiknya yang bahagia dengan perubahan hidup mereka. Via pun tersenyum senang. Lalu, dia bersiap menghadapi kawan-kawannya di sekolahan. Gadis itu memandang wajahnya di kaca bedak yang dibawanya. Cantik! Sangat sempurna. Tanpa polesan pun wajah Via terlihat sangat cantik. Dia semakin percaya diri saat mobilnya sampai di depan sekolah, banyak mata memandang ke arahnya. Via turun dari dalam mobil dengan mantab. Semua murid tak menyangka Via jadi cantik dan mempesona.


Terdengar para siswa-siswi ribut tentang penampilan Via yang baru. Wajah Via terlihat glowing dan cantik tanpa polesan bedak atau lipstick. Mereka terpesona. Tak hanya murid lelaki, murid wanita pun takjub melihat pesona Via. Dinda memang sangat hebat. Nyi Pelet yang pintar menebar pesona pada tubuh pengikutnya yang membuat banyak korban berjatuhan.


"Eh, itu Via, bukan?"


"Astaga ... si udik, kok, bisa jadi bergaya begitu?"

__ADS_1


"Via? Kok, jadi cantik begitu? Naik mobil pula!"


"Eh, eh, itu Via. Tiga hari bolos sekolah, jadi tajir gitu? Pasti jadi simpenan om-om, deh!"


Bisik-bisik percakapan siswa-siswi di gerbang sekolah sama sekali tidak ditanggapi oleh Via. Gadis itu melangkah dengan pesona dari Nyi Pelet ke arah koridor kelasnya. Mata Via mencari seorang lelaki yang empat hari yang lalu mempermalukan dirinya di depan para siswa saat pulang sekolah.


"Nah, waktu pembalasan tiba ...." gumam Via yang melihat Rama di depan kelasnya.


Rama yang sedang bersama ketiga temannya tiba-tiba berhenti bicara karena melihat Via lewat. Pesona Nyi Pelet yang melekat pada Via membuat siapa saja takjub. Terlebih pada orang yang disukai, pasti akan bertekuk lutut seketika.


"Guys, tunggu dulu. Aku mau ke sana," lirih Rama yang langsung berjalan menghampiri Via.


Via sudah tahu jika Rama menghampirinya, pura-pura tak tahu. "Pagi, Via ...." sapa Rama yang langsung berdiri di samping gadis itu.


Via tidak menanggapi perkataan Rama. Dia menganggap Rama tak ada. Gadis itu langsung duduk di kursi tempatnya belajar seperti biasa. Tanpa teman di sampingnya, seperti itu Via biasanya. Namun, kali ini tidak. Beberapa siswi langsung menghampiri Via.


"Via, bolehkah aku duduk di sampingmu?"


"Via, kamu keren banget. Tasmu itu produk baru yang masih jarang ada yang punya."


Rama pun menyela para siswi itu untuk bisa berbicara dengan Via. "Gadis-gadis ... tunggu dulu! Aku mau bicara sama Via," seru Rama yang membuat para siswi menatap Rama dengan tajam.


"Kamu kenapa, sih? Bukannya empat hari yang lalu kamu bilang nggak sudi kenal Via?" tegur salah satu siswi pada Rama.


"Eh, iya, benar! Rama ngapain sekarang mau ngobrol sama Via? Aneh!" tegas salah seorang siswi.


"A-aku menyesal soal itu. Tiga hari Via tak masuk sekolah membuatku menyesal," ucap Rama mencari alasan.


Via hanya tersenyum. Rama akhirnya dipermalukan juga. Gadis itu sengaja tidak menjawab perkataan Rama agar lelaki itu semakin malu.


"Tuh, kan, Via aja males sama kamu. Sudah, jangan ganggu Via dulu. Rama please pergi," kata seorang siswi dengan lantang.


Rama yang malu pun langsung pergi dari kerumunan di dalam kelas itu. Via tersenyum merasa menang. Permainan baru saja dimulai. Dinda sudah bilang jika orang yang Via sukai akan jadi tergila-gila pada Via.

__ADS_1


Bel sekolah pun berbunyi. Tanda pelajaran dimulai. Para murid duduk di kursi masing-masing. Namun, belum ada yang duduk di samping Via karena tidak dizinkan oleh gadis yang mendadak populer itu. Tanpa disangka, Rama langsung pindah ke samping Via. Meski Via sudah berkata tidak boleh, Rama tetap di sana.


Sampai guru datang, Via pun tak bisa mengelak atau mengusir Rama. Lelaki itu tersenyum senang duduk di samping Via. Hari itu, menjadi permulaan semuanya. Hal yang sepertinya tak mungkin, menjadi sangat mungkin bagi Via.


Dinda menatap Via dari kejauhan. Akan banyak tumbal lainnya yang Dinda panen dengan tubuh Via yang sempurna. Masih muda dan energik, penuh rasa sakit dan dendam, serta sudah memberikan hidupnya ke genggaman Iblis demi pesona, harta, dan kekayaan.


...****************...


Malam hari tiba ... entah mengapa perasaan Dinda gundah. Dia memikirkan Boy. Apakah lelaki setengah malaikat itu baik-baik saja? Dinda berada di tanah lapang tanpa siapapun di sana. Menyendiri dalam dinginnya malam, memikirkan seseorang yang mengisi harinya beberapa tahun ini.


Dinda menatap ke atas, memandang langit hitam saat malam yang sepi tanpa bintang. "Tumben tidak ada bintang? Boy, kamu di mana? Kamu sungguh pulang ke Korea Selatan? Apakah kamu sedih? Aku merindukanmu ...." lirih Dinda yang mulai galau.


Benar kata pepatah, sesuatu akan sangat berharga jika kita sudah merasakan kehilangan. Itu yang kini Dinda rasakan. Rasa sedih menyeruak di dadanya. Belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Kakak, mungkin ini yang Kakak dan Ningsih rasakan juga. Perasaan ini sungguh menyiksa batin. Rasanya aku ingin menangis tetapi tak bisa. Aku harus bagaimana? Apakah aku pergi ke Korea Selatan menyusul Boy? Tapi aku malu. Aku yang memutuskan hal ini. Kakak, andai ada kamu untuk diajak berbicara tentang hal ini. Aku tak tenang memikirkan Boy," gumam Dinda tanpa mendapatkan jawaban. Dia hanya sendirian ditemani hamparan langit malam tanpa bintang.


Bersamaan itu, suara desir angin berembus perlahan membuat Dinda merasakan sesuatu yang lebih nyata. Dia mendengar suara Boy. Terdengar lirih, tetapi sangat nyata.


"Dinda ... tolong. Kumohon tolong aku, Dinda ...."


Dinda langsung berdiri. Dia mencari ke arah suara dari arah angin berembus. Namun, dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tidak ada Boy di sana.


"Boy? Ada apa denganmu? Kamu di mana?" ucap Dinda yang langsung bersemedi. Wanita iblis itu mencoba memusatkan perhatiannya pada suara Boy yang terdengar dari embusan angin.


Apakah ikatan batin dua makhluk beda dunia sekuat itu? Dinda memusatkan pikirannya untuk mencari di mana Boy berada. Dinda yakin ada sesuatu hal terjadi pada Boy. Tidak mungkin perasaannya menipu.


Malam itu, Dinda bersemedi dan melupakan sejenak tentang Via yang menjadi pengikutnya sekarang. Wanita iblis itu lebih mementingkan mencari Boy untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Boy, aku akan segera menemukanmu. Semoga kau baik-baik saja," batin Dinda yang mulai memejamkan matanya.


Saat itu di tempat lain, Via tertidur lelap di rumahnya yang mewah dan baru. Dia sudah mempunyai rencana licik untuk mempermainkan Rama demi membalas rasa sakit hatinya. Semua kemudahan yang Via dapatkan dari Dinda membuatnya lupa akan rasa syukur. Via lupa jika semua hal di dunia ini ada timbal baliknya. Hal baik akan mendatangkan kebaikan dan hal buruk akan mendatangkan sesuatu yang buruk nantinya.


Via lupa jika menyekutukan Tuhan sama dengan dosa yang tak terampuni. Demi harta dan pesona yang hanya sesaat, dia melupakan hal yang penting dalam hidup. Bersyukur dan menjalani semua dengan ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan. Berusaha keras dan berserah pada Tuhan adalah jalan keluar terbaik daripada mengeluh.

__ADS_1


__ADS_2