
...🔥 MENJEMPUT WAHYU 🔥...
Pagi hari tiba, bersamaan matahari yang terbit perlahan membuat suasana semakin terlihat cerah. Tentu saja Alex dan Bima tak sabar mengatakan kepada Ningsih tentang menjemput Wahyu. Mereka sudah memberi tahu Nindy dan Boy tentang hal itu, tetapi Ningsih belum tahu.
"Pagi, Ma!" seru Alex saat Ningsih keluar dari kamar.
"Pagi, Sayang. Kok, tumben jam segini di dapur?" tanya Ningsih yang merasa aneh puteranya sudah di dapur sepagi ini.
"Iya, Ma. Alex dan Papa ada kejutan untuk Mama. Mama sekarang mandi dan ganti baju, ya." kata Alex yang membuat Ningsih semakin bertanya-tanya.
"Kejutan apa, Alex? Mama nggak ulang tahun, loh."
"Mama ... udah sana mandi dulu dan ganti baju. Nanti Papa sama Alex ajak Mama pergi." Alex mendorong mamanya agar segera bersiap. Sedangkan Bima yang melihat itu justru tertawa.
Ningsih pun mengikuti perkataan anaknya. Daripada menerka dan bingung, lebih baik segera bersiap agar bisa mengetahui apa yang menjadi kejutan Bima dan Alex.
Alex dan Bima juga sudah bersiap. Sebagai Iblis, tentunya mereka tak perlu mandi. Cukup menjentikkan jari dan pakaian sudah berubah. Praktis dan tidak merepotkan. Mungkin banyak hal yang menjadi pertimbangan Bima yang akhirnya tak ingin menjadi manusia meski Alex dan Laura sudah membujuknya. Bima juga memikirkan tentang Alex. Jika dia menjadi manusia, siapa yang akan melindungi Alex kala anak buah para tuan di neraka datang membuat onar lagi?
Setelah selesai bersiap, Ningsih pun keluar rumah. Di sana sudah bersiap Alex, Bima, Dinda, dan Boy. Jelas saja Ningsih makin bingung.
"Ini masih jam setengah enam, kenapa kalian berkumpul di luar? Kejutan apa sebenarnya?" tanya Ningsih makin curiga.
"Ningsih, kita akan ke Wonogiri menjemput Wahyu. Dia minta dijemput dan hendak pulang selama beberapa hari atau beberapa minggu." Bima mendekati istrinya dan tersenyum lebar.
"Be-benarkah yang aku dengar ini? Wahyu mau pulang? Wahyu anakku?" ucap isteri Bima terbata. Tak disangka, air mata pun menetes perlahan.
"Iya, Ma! Kakak Wahyu sudah bilang ke Alex akan izin pulang pagi ini dan minta dijemput," seru Alex membuat orang tuanya makin yakin jika Wahyu menghendaki pulang.
"Ayo, ayo jemput Wahyu. Terima kasih, Alex. Mama senang sekali Kakakmu akhirnya mau pulang ke rumah. Mama merasa bersalah karena rumah baru ini pun Kakakmu belum mengunjungi. Sampai hampir sembilan tahun dia tak ingin pulang. Mama sangat terharu. Terima kasih, ya," ucap Ningsih sambil memeluk anaknya.
Melihat hal itu, Boy pun terharu dan menggenggam erat tangan Dinda. Sedangkan Dinda merasa biasa saja seakan hatinya sudah membeku. Bima pun mengajak mereka segera masuk ke mobil untuk melakukan perjalanan ke pesantren menjemput Wahyu untuk pulang.
Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai di tempat parkir pesantren. Terlihat Wahyu berada di depan, dekat rumah Santi dan Budi. Kemungkinan Wahyu sudah meminta izin untuk pulang ke rumah sejenak dan mendapatkan izin dari Budi selaku pemilik pesantren menggantikan alm. ayahnya.
__ADS_1
"Pagi, Santi, Budi, dan anak Mama," seru Ningsih saat keluar dari mobil dengan semangat.
Wahyu yang malu dengan perlakuan ibunya pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Santi memahami itu. Wahyu sudah tumbuh menjadi remaja bahkan pemuda yang jauh lebih dewasa dalam bertindak maupun iman. Pastinya Wahyu akan malu jika Ningsih memperlakukan Wahyu seperti anak kecil.
"Tante, apa kabar?" sapa Santi mengalihkan perhatian Wahyu yang terlihat malu.
"Baik, Santi. Kamu apa kabar? Khanza dan Budi juga apa kabar?" tanya Ningsih sambil mencium pipi Santi kanan dan kiri.
"Alhamdulilah, kabar kami baik, Tante. Itu Budi baru ambil bahan pembelajaran Wahyu selama di rumah."
Mereka pun berbincang hangat. Sedangkan Boy dan Dinda masih di dalam mobil. Santi tak tahu jika Dinda sudah kembali bersama Ningsih dan Bima.
"Kenapa tidak keluar?" tanya Boy kepada Dinda.
"Kamu mau perang? Orang di sana suci-suci. Apalagi yang pakai gamis pink itu. Dia nggak suka sama aku," jawab Dinda sambil memajukan bibirnya lima senti.
"Ha ha ha ... pasti kamu melakukan sesuatu yang membuatnya benci kamu. Sudah, jangan begitu. Masa lalu tak bisa diubah, tetapi masa depan bisa diubah," kata Boy sambil mengusap pipi lembut Dinda.
Lelaki setengah malaikat itu selalu tahu celah hati Dinda. Mereka pun menunggu sampai akhirnya Wahyu sudah berpamitan pada Budi dan Santi serta si kecil Khanza. Mereka pun masuk ke mobil dan bergegas pergi.
"Iya, Tantemu sudah di rumah sekitar dua minggu. Wahyu nggak apa, kan?" tanya Ningsih yang takut anaknya marah.
"Alhamdulilah. Tante Dinda punya suami soleh." Wahyu pun duduk di samping Alex. Perkataannya membuat Bima dan Ningsih saling tatap karena bingung.
Sedangkan Dinda menatap Boy dan mencubitnya karena tertawa mengejek Dinda. Sedangkan Alex pun mengajak bicara Wahyu.
"Kakak hebat, ya. Bisa lihat lelaki bersayap itu?" bisik Alex membuat Wahyu menatapnya.
"Ya, bisa. Cuma kalian aja yang iblis. Coba jadi malaikat aja, sana," ucap Wahyu seperti biasa agak cuek. Namun, Alex tahu jika kakaknya sesungguhnya menyayangi dia dan Bima.
"Kalau bisa memilih lebih asyik ya, Kak. Sayangnya hidup itu tak adil. Kalau adil itu timbangan digital," cibir Alex yang selalu berusaha membuat kakaknya tertawa.
"Receh ... receh ... tapi nggak apa, makin ke sini, auramu bagus juga. Nggak usah main ke neraka lagi, nanti bisa diculik, loh!" bisik Wahyu kepada adiknya.
__ADS_1
Mereka berbincang sepanjang perjalanan membuat Ningsih dan Bima merasa bahagia. Kedua putera mereka akur, pintar, dan sehat. Meski dalam dua dunia berbeda, keluarga itu tetap bahagia.
Menjemput Wahyu adalah satu hal yang membahagiakan bagi Ningsih. Akhirnya anaknya yang berharga mau kembali dalam kehidupannya. Setelah hampir sembilan tahun berpisah, hal yang sungguh membahagiakan untuk Ningsih bisa memeluk puteranya.
Alex dan Bima tahu jika hal ini membuat Ningsih senang. Sedangkan Dinda pun senang melihat anak Ningsih tumbuh jauh lebih baik dari ibunya. Setidaknya ada perubahan yang lebih baik.
...****************...
Reno bersiap pergi meeting dengan investor dan team pembangunan kost. Nindy sudah menyiapkan segala keperluan Reno dan Lisa. Namun, pagi ini terasa Lisa tak ingin dekat dengan Nindy bahkan terlihat ketakutan. Sedangkan Reno justru tak ingin jauh dari Nindy. Semalaman dia memeluk isterinya setelah lewat tengah malam Nindy pulang.
"Sayang, tunggu aku, ya. Aku cuma kerja sebentar," bisik Reno di telinga Nindy membuatnya malu.
"Iya, udah sana berangkat. Malu dilihat Lisa, kan?" Nindy pun mengecup pipi suaminya dan segera mendorong lelaki itu untuk berangkat kerja.
"Dah, Lisa sayang ... Papa berangkat dulu, ya. Dah, Sayang, aku berangkat."
Setelah berpamitan, Reno pun pergi dengan mobilnya untuk bertemu investor dan team pembangunan kost yang dia rencanakan akan menjadi kost terbesar di daerah Sleman.
Nindy tersenyum menang atas sikap Reno yang menjadi lembut dan takhluk padanya. Saat tadi malam dia pulang pun Reno tidak marah sama sekali. "Ini pasti karena Zatan sudah beraksi. Kalau begitu, aku akan mendapat uang juga, bukan?" batin Nindy penasaran.
Sedangkan Lisa menjauhi mamanya karena takut. Dia justru minta diantara bibi dan sopir. Tidak ingin bersama Nindy. Nindy pun mengizinkan karena dia lelah.
"Hati-hati di jalan, ya, sayang. Mama mau istirahat dulu di rumah. Jangan nakal, ya," ucap Nindy sambil mengecup kening Lisa sebelum gadis kecil itu berangkat sekolah.
Lisa melihat dengan jelas tubuh mamanya seperti dikelilingi sesuatu berwarna hitam tebal dan di belakang mamanya ada makhluk mengerikan dengan kobaran api menakutkan. Lisa menjadi takut melihat mamanya tetapi tak bisa mengatakan pada siapapun. Dia tahu jika papanya juga kurang percaya hal seperti itu. Lisa jadi teringat dengan Kak Gio dan Kak Gilang.
Nindy pun kembali ke kamar ketika Lisa sudah berangkat sekolah. Dia memanggil Zatan untuk menagih janji. "Za ... di mana kamu? Mana janjimu akan memberiku uang?" ucap Nindy sambil menatap sekeliling kamarnya.
Tiba-tiba Zatan muncul di hadapan Nindy. "Ha ha ha ... aku suka semangatmu. Muda dan tidak sabaran. Ambisi itu menyenangkan, bukan? Lihat di dalam tasmu. Uang yang cukup banyak di sana sesuai dengan jumlah dosa lelaki yang kuambil." kata Zatan membuat Nindy segera mengambil tasnya yang cukup besar di bawah meja seperti yang Zatan tunjuk.
Nindy pun terperanga saat melihat isi dalam tas itu. Tumpukkan uang seratus ribuan dalam tas begitu banyak. Nindy pun bersorak kegirangan. Dia akan segera membuka tabungan pribadi untuk orang tuanya juga. Setelah bersekutu dengan iblis, Nindy semakin berambisi dengan hal duniawi. Dia mulai terkontaminasi dengan pengaruh Iblis dan semakin lama semakin terjerat. Hawa nafsu yang tak ada habisnya serta kekayaan yang ingin dicapai dengan mudah. Ambisi itu menguasai Nindy dan mulai mengubahnya menjadi orang yang berkepribadian berbeda dari sebelumnya.
Zatan hanya tertawa melihat Nindy yang takhluk begitu saja. Manusia serakah dan terlalu posesif akhirnya jatuh juga dalam JERAT IBLIS. Zatan senang melihat hal itu karena dia memiliki tubuh untuk bisa digunakan mencari tumbal dan mangsa untuk menuai jiwa berdosa dalam hawa nafsu. Tentunya Tuan Asmodeus akan semakin menyukai Zatan sebagai tangan kanan kepercayaannya di neraka lapis keenam.
__ADS_1
Nindy pun segera memesan taksi online dan pergi membawa tas berisikan uang yang sekitar ratusan juta untuk ditabung. Dia berpikir jika hal itu baik untuk masa depannya. Dia lupa jika Reno berjuang sebaik mungkin untuk dirinya, Lisa, Abah, dan Ibu. Nindy lupa jika Reno sangat setia padanya. Tak pernah Reno berpaling meski kehidupan keluarga mereka terkadang dalam permasalahan.
Manusia terkadang lupa akan segala nikmat yang Sang Kuasa berikan. Manusia selalu merasa kurang puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Ketika masalah yang kecil menghadang, manusia lebih senang mencari jalan pintas dari permasalah yang ada dan menyalahkan orang lain. Manusia yang tak pernah sadar akan ambisi yang salah akan membawa kesengsaraan. Manusia yang tak paham jika Sang Pencipta memberi permasalahan dan solusi dalan satu paket yang nyata. Jika manusia menyerah, di sana iblis tertawa dengan tangan terbuka.