JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 84


__ADS_3

πŸ€ SALAH SIAPA? πŸ€


Saat perjalanan ke Yogya, di mobil yang dikendarak Joko... Santi duduk di samping kursi sopir. Sedangkan Reno dan Santi di tengah dan Mak Sri di belakang beristirahat dalam perjalanan.


Santi dan Joko diam seribu bahasa. Santi merasa cemburu karena terlihat jelas Joko ingin bersama Tante Ningsih. Apa daya Santi tak mempunyai ikatan apa pun dengan Joko. Sedangkan Reno dan Nindy masih berbincang seperti biasa.


"Mas Reno sayang banget ya sama Tante Ningsih?" pertanyaan dari Nindy membuat Reno hampir tersedak saat minum sebotol soda.


"Kok Nindy bilang begitu? Ya sebagai ponakan, iya... Nindy cemburu, ya?" Reno mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menggoda Nindy. Dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya.


"Dih... Mas Reno percaya diri banget. Nggak lah! Nindy itu cuma tanya. Soalnya Nindy nggak ngerasain punya tante om atau bahkan pakde bude yang perhatian...." jelas Nindy membuat Reno tersenyum melihat pipi Nindy merah merona menandakan dia malu.


"Kalau misal cemburu sih nggak apa... berati aku harus jaga hati. He he he..." Reno bercanda tetapi hal itu membuat Nindy bawa perasaan.


"Mas Reno apaan sih? Udah bilang nggak kok. Cuma tanya aja," lirih Nindy yang merasa tak enak hati.


Reno memandang gadis cantik di hadapannya. Nindy memang terlihat lugu dan menarik. Kepolosannya membuat daya tarik tersendiri. Namun tetap saja bayangan Tante Ningsih selalu menyita pikiran Reno.



"Mas Reno... andai kamu tahu kalau sejak awal bertatap mata, hatiku sudah memilih dirimu menjadi raja di hatiku. Kukira kamu juga begitu, Mas... tapi kali ini aku melihat cinta di matamu meski bukan untuk diriku. Cinta yang salah atau aku yang salah menerka? Lalu bagaimana dengan perasaan ini? Semua rasa ini salah siapa? Saat di rumah sakit pun kamu terlihat begitu perhatian dan tulus padaku. Kuterlalu senang menyimpulkan hal itu cinta. Namun kembali kulihat pagi ini cinta itu bukan untukku...." batin Nindy yang terdiam sejenak memandang jalanan dari kaca mobil di sampingnya.


Reno menyentuh tangan Nindy, lalu mengusapnya dan melihat jari manis Nindy seraya berkata gombal, "Jari manis ini kira-kira ukuran berapa ya?"


Pertanyaan Reno membuat Nindy terkejut lantas langsung menatap Reno yang tersenyum memandang jari jemari Nindy.


"Ciee Reno... Baru pendekatan atau ngegombal?" ledek Kak Santi ke Reno saat mendengar perkataannya.


Joko pun tersenyum. "Ciee... Cie... Tuh ukuran cincinnya nomor berapa? Sapa tahu lulus SMA mau diajak menikah. Ha ha ha," imbuh Joko meledek.


"Hla... Reno ini tanya beneran. Kok malah dikira gombal? Nindy... nomor berapa cincin di jari manismu?" tanya Reno kembali sambil menatap Nindy.

__ADS_1


"Nindy nggak tahu. Tanya toko cincin aja," kata Nindy sambil menarik tangan yang digenggam Reno.


Sontak hal itu membuat Santi dan Joko tertawa keras. "Syukurin! Mau ngegombal tapi Nindy nya nggak mau digombalin," kata Kak Santi sambil tertawa.


"Tapi bener juga kata Nindy. Sana Reno ajak Nindy ke toko perhiasan. Belikan cincin sekalian lamaran. Ha ha ha...." celetuk Joko.


Kepalang tanggung malu, Reno lebih nekat. "Ok... nanti sampai Yogya, kalau yang lain mau wisata, Reno aja Nindy pergi aja ya. Ke toko perhiasan atau cincin berlian. Di rumah masih ada satu mobil kok. Civicnya Kak Santi nanti Reno pinjam, ya."


Nindy menatap Reno dengan mata bulatnya. Bertanya-tanya dalam hati apakah Reno sungguhan atau hanya sekedar bercanda. Nindy takut hatinya terluka jika Reno tak sungguhan.


"Kok diem, Nindy? Reno serius nih. Boleh kan Kak Santi... Reno pinjam mobilnya?" tanya Reno kembali menunggu respon Nindy.


"Ya... boleh... Nindy nya itu mau nggak diajak kamu," sahut Kak Santi terkikik.


"Nindy... Kok diem? Reno salah, ya?" bisik Reno memastikan wanita di sampingnya tidak marah.


"Hmm... Nindy nggak marah, Mas Reno. Cuma bingung aja mau jawab apa. Lagi pula kita kan nggak punya ikatan apa-apa," jawab Nindy setengah berbisik.


Reno menatap Nindy, dia melihat rasa ragu dan takut di mata Nindy. Entah apa yang dipikirkan Reno waktu itu, dia pun berkata, "Apa perlu Mas Reno izin ke Abah dan Ibu mau belikan cincin buat Nindy jika Mas Joko yang jadi saksi pun kurang? Nindy kenapa jawabnya gitu?"


"Mas... Mas Reno kok bilang gitu?" Nindy terbata.


"Ya biar Nindy tahu kalau Reno beneran mau belikan cincin bukan hanya pura-pura saja. Pokoknya nanti sampai di kota, kita pergi ke Jewellery Shop di pusat kota. Harus mau," tegas Reno.


Reno terlalu ego. Dia malu jika dikira hanya berpura-pura hendak membelikan. "Berapa sih harga cincin? Sepuluh juta pasti juga dapat. Malu lah dikir ngegombal," batin Reno menatap Nindy.


"Ya... Mas.... Nindy ikut aja, asal Bang Joko izinkan."


"Bang kasih izin kok. Jaga baik-baik Nindy ya Den Reno," sahut Joko dengan tegas.


"Nah, gitu donk. Sudah jangan sedih lagi ya Nindy. Mas Reno nanti ajak kamu ke toko pilih sesukamu," celetuk Reno membuat hati Nindy meleleh.

__ADS_1


Nindy memalingkan wajahnya ke kaca mobil karena malu. Gadis SMA ini terlalu lugu dan membawa perasaan setiap berbicara dengan Reno. Padahal Reno hanya intermezo dan mengalihkan pembicaraan agar tak kena marah Kak Santi. Reno sudah janji tidak menaruh hati lagi kepada Tante Ningsih. Namun semakin mencoba melupakan bayangan Tante Ningsih, Reno semakin tak kuasa di dekatnya. Semacam ada magnet tersendiri. Hal itu yang coba Reno tutupi.


Perihal hati memang rumit. Lalu perasaan Nindy ke Reno menjadi suatu kerumitan di tengah tak menentunya hati Reno. Lantas semua ini salah siapa? Bukan tak mampu mengendalikan rasa, tetapi sunggu Nindy baru pertama kali merasa tak menentu yang orang sebut dengan jatuh cinta. Gadis remaja ini belum paham jika dia jatuh cinta harus siap patah hati dan kecewa. Jika dia mau melayang tinggi dalam rasa yang indah, harus siap terjatuh dalam rasa sakit yang dalam. Jika dia memutuskan untuk menyerahkan hatinya, dia pun harus siap jika hatinya terluka pada orang yang tak tepat. Cinta bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Mungkin akan mudah jika hanya untaian kata, tetapi mampukah kata itu bertahan diterpa waktu?


Sesampainya di kawasan Yogya, Ningsih melaju dengan kecepatan sedang dan bergegas ke rumah Santi terlebih dahulu. Mereka memang berencana ke waterboom, tetapi sebelumnya ke rumah Santi untuk meletakan barang bawaan dan membawa ganti baju secukupnya saja.


Saat sudah memarkir mobil di depan rumah Santi, Reno bergegas menemui Tantenya. "Tante Ningsih.... Reno nanti nyusul aja ya yang ke waterboom. Mau pergi sebentar sama Nindy," kata Reno meminta izin.


"Hlo mau ke mana berduaan?" selidik Ningsih.


"Itu Reno mau beliin cincin buat Nindy, Tan. Biar aja pergi berdua. Pakai mobilku yang satunya kok," sahut Santi sambil berkedip memberi kode.


"Oh... bagus donk kalau Reno mau serius sama Nindy. Ya sana Tante izinin. Nanti nyusul aja ke JogjaBay," ucap Ningsih berlalu pergi menyiapkan pakaiannya dan apa yg harus dibawa anaknya yang sudah antusias pergi bermain air.


Reno pun merasa kesal dengan jawaban Tante Ningsih yang cuek. Dia bergegas pergi dengan Nindy. "Ayo, kita naik ini saja. Silahkan masuk Tuan Puteri," ucap Reno membuat Nindy melambung tinggi ke awan.


***


"Mas Reno... kamu sungguh-sungguh padaku?" tanya Nindy saat Reno memilihkan sebuah cincin emas dengan batu giok di atasnya.


"Tentu... Nindy tak suka?"


"Bukan begitu... aku hanya takut Mas Reno nggak sungguh-sungguh. Aku takut kalau Abah dan Ibu tahu, lalu Mas Reno berubah pikiran, maka yang terluka tak hanya aku," ucap Nindy tertunduk.


Reno lantas memeluk Nindy merasa iba dengan gadis di hadapannya. "Renonakan berusaha yang terbaik untukmu, Nindy. Jangan khawatir."


Nindy pun terharu. Reno menyematkan cincin itu di jari manis tangan Nindy di dalam mobil. Mereka hendak menyusul rombongan ke JogjaBay. Mata Nindy tak lepas dari tatapan Reno yang menawan. Reno mencondongkan wajahnya ke hadapan Nindy lalu mengecup bibir merah menawan milik gadis cantik di hadapannya. Mereka berpagut beberapa menit hingga terkaget karena klakson mobil yang merasa terhalangi oleh mobil Reno.


Suasana menjadi canggung. Nindy malu dan terdiam. Reno juga jadi salah tingkah. Mereka segera menyusul ke Jogja Bay dengan membawa baju ganti yang sudah disiapkan tadi.


Bersambung....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suka Novel JERAT IBLIS? Yuk bagi VOTE dan beri TIP untuk Author agar semakin semangat bekarya. Ditunggu like, koment dan juga share di media sosial kalian. Ajak teman, sahabat, gebetan, saudara, atau pasangan baca Novel JERAT IBLIS^^ terima kasih 😊


__ADS_2