
π BOY π
πΆ You are my sunrise
You are the daylight
Hiding the shadows of my mind
You are my sundown
You're giving the moon life
Not even stars can shine so bright
So why does it rain?
It feels just the same
As if I'd be on my own without you
So I'm thinkin
About the memories
Through this song
It helps me forget
'Bout everything that went wrong
And although I know
That we're not through for sure
Deep down in my heart the pain
I can't ignore, oh-oh-oh
And so I sing my song, mmh
You are the future
And even the flowers
Are turning your way
To reach higher
But when I stand
In this pooring rain
__ADS_1
It feels just the same
As if I'd be on my own without you
So I'm thinkin
About the memories
Through this song
It helps me forget
'Bout everything that went wrong
And although I know
That we're not through for sure
Deep down in my heart the pain
I can't ignore, oh-oh-oh
And so I sing my song
Need, oh how I need
How I feel that I need to be
Need to be strong how I
How I feel that I need to be
Need to be stronger
How I feel that I need to be
Need to be stronger
How I feel that I need to be
Need to be stronger πΆ
Boy menatap wanita yang membuat hatinya terpana beberapa bulan ini. Padahal banyak wanita cantik di Korea, tetapi Dinda membuat hati ya terpenjara. Ingatan Boy mengalun pada memori pertama dia ke Indonesia.
"Aku tidak tertarik ke Indonesia. Apakah bisa diwakilkan?" tanya Boy kepada asisten kepercayaannya, Park Kim.
"Maaf, Tuan Boy harus ke Bali menghadiri acara itu. Selain itu, bukankah baik Tuan berlibur ke Indonesia untuk menaikan popularitas Tuan Boy?" kata Park Kim sambil menata beberapa berkas penting.
Boy menatap Park Kim dan menghela napas. Sepertinya debat pun percuma. Park Kim sudah menyetujui pertemuan dengan beberapa pemegang saham. "Baiklah. Aku tak bisa menolak perkataanmu, Park Kim."
Park Kim dan Boy merupakan team hebat. Layaknya manajer, sahabat, dan keluarga, itulah yang Park Kim lakukan. Semua kegiatan dan keputusan Boy bergantung juga pada pengamatan Park Kim. Usia mereka terpaut hanya tujuh tahun. Park Kim lebih tua dari Boy dan tentunya lebih berpengalaman di bidang pekerjaan.
__ADS_1
Setelah menata isi kopernya, Boy bersama Park Kim berangkat ke bandara diantar oleh sopir pribadi. Mereka berdua menuju ke Bali, Indonesia dengan menyewa sebuah villa kecil dari pada hotel. Mereka ingin merasakan sensasi tinggal berdampingan dengan penduduk lokal.
Sesampainya di Bandara Bali, ada seorang sopir suruhan dari acara pertemuan untuk menjemput Boy dan Park Kim. Mereka pun mengutarakan jika tak ingin tinggal di hotel serta menunjukan alamat villa yang sudah disewanya. Sopir itu pun mengantar ke Villa yang dimaksud.
Setiap siang sampai sore selama tiga hari acara dengan pemegang saham berlangsung melelahkan. Hari terakhir, malam hari diadakan pesta dansa dan makan malam. Saat itu Boy merasa jenuh dan bosan, lalu berjalan-jalan ke sekitar hotel. Itulah pertama kali Boy melihat Dinda bersama beberapa lelaki di depan Cafe.
Boy mengamati Dinda yang terlihat menawan. Saat itu banyak lelaki yang mengejar cinta Dinda. Namun dengan angkuh, Dinda menolak mereka satu per satu. Hal itu membuat Boy semakin tertarik.
"Nona, bolehkah aku berkenalan denganmu?" tanya Boy dengan sopan.
Dinda membalikan badan dan menengok ke arah Boy. Paras Dinda seakan semakin membuat Boy terpana. Meski di Korea banyak wanita cantik, tetapi sudah dua tahun ini Boy tidak tertarik dengan satu orang pun kecuali Dinda.
"Uhm, siapa kamu? Bukan orang sini?" tanya Dinda, mengamati Boy dari atas sampai bawah.
"Ya, namaku Boy. Asli Korea Selatan. Namun aku fasih bahasa Indonesia. Nona siapa punya nama?" ucap Boy menyodorkan tangannya ke Dinda.
"Dinda," katanya dengan singkat, mengabaikan tangan Boy.
Keadaan menjadi canggung. Terlihat Dinda tidak tertarik pada Boy. Namun beberapa lelaki yang sedari tadi mengerumuni Dinda terus mendesak ingin bersama Dinda. Hal itu membuat gadis cantik di hadapan Boy jadi risih.
"Apa sih dempel-dempel? Jangan ikuti aku lagi!" bentak Dinda pada beberapa lelaki yang mengejarnya.
"Dinda, please ... aku mau denganmu."
"Dinda, mau ya jadi pacarku?"
"Dinda cantik, ayo jalan-jalan, kubelikan apa pun yang kamu mau."
Bujuk rayu ketiga lelaki itu diabaikan oleh Dinda. Namun, salah satunya menjadi nekat dengan menarik tangan Dinda. Melihat itu Boy tak bisa tinggal diam. Dia menolong Dinda, "Hei Bro jangan kasar sama perempuan."
"Ngapain ikut campur? Lu siapa? Nggak usah ikut urusan deh!" gertak lelaki kasar itu.
Tak banyak bicara, perkelahian pun tak terelakan. Boy melawan tiga lelaki itu. Tentunya nasib baik tak berpihak. Boy babak belur dan hampir pingsan. Untungnya ada polisi patroli sehingga ketiga lelaki itu lari.
Dinda jatuh iba pada Boy. Dia pun membantu Boy berdiri dan mengantarkan Boy pulang ke villa.
"Boleh aku masuk? Aku obati lukamu ya?" lirih Dinda.
"Ya, kalau kamu mau. Terima kasih mengantarku ke villa," ucap Boy tersenyum manis meski wajahnya penuh lebam pukulan.
Dinda menanyakan di mana kotak obat dan dia mulai mengobati Boy di ruang tamu. Malam itu, awal hati Boy terpaut pada seorang yang bukan manusia. Dia tak tahu apa konsekuensi dari rasa cintanya.
Perasaan itu pun tumbuh, saat Park Kim mengajak Boy pulang dan Boy memilih di Bali sementara demi tetap menemui pujaan hatinya.
Tanpa janji mereka bersatu dalam rasa yang bertepuk sebelah tangan. Tanpa kata-kata gombalan, Dinda menemui Boy meski hanya seminggu sekali. Tanpa curiga, Boy selalu menanti kedatangan gadis itu.
Cinta? Apalah rasa itu serumit ini? Park Kim kembali ke Korea Selatan demi mengurus perusahaan bisnis yang dibangun Boy. Sedangkan Boy terjebak dalam kegalauan hatinya, entah sampai kapan menunggu Dinda di Villa tanpa bisa memeluk hatinya.
***
"Aku datang ke sini bukan karena merindukanmu, jangan ge er dulu." bisik Dinda di telinga Boy yang sedang memeluknya.
__ADS_1
"Meski mulutmu mengatakan tidak ... tetapi langkah kakimu selalu kembali padaku. Setiap ucapanmu menyangkal rasaku ... tetapi pelukan hangatmu begitu nyata bagiku. Dinda, sampai kapan kamu akan memungkiri perasaan kita sama?" tanya Boy di malam Dinda patah hati karena Reno acuh padanya.
Dinda tertegun mendengar kalimat yang Boy katakan dan sepertinya benar adanya, Dinda selalu kembali pada Boy ketika ada masalah. Bukan hanya untuk melepas penat, Boy adalah tempatnya berpulang sejak pertemuan pertama mereka.