
...š„Mimpi yang Indah (?) dan Sebuah Pilihanš„...
Waktu menunjukkan sekitar pukul tiga lebih lima belas menit dini hari. Ningsih terbangun dari tidurnya karena mimpi yang dia alami. Sudah beberapa kali dia bermimpi sangat aneh. Dia bermimpi memiliki satu lagi putra dan memiliki suami. Dalam mimpi yang samar-samar itu, Ningsih merasakan hal itu seperti nyata. Namun saat dia membuka matanya, dia melihat tak ada siapa pun di dalam kamarnya. Dia merasa hal itu hanya mimpi.
Apakah mungkin mimpi seperti dunia nyata terjadi? Bahkan tak hanya satu atau dua kali. Seperti rasa rindu itu, dia tak tahu harus bermuara ke mana.
"Sebenarnya ... ini mimpi atau bukan? Mengapa seakan nyata, tetapi seperti mimpi? Ahh ... mungkin aku mulai gila karena terlalu lama sendiri? Ha ha ha ha ...." Ningsih memegang kepalanya. Meski dia bingung kenyataan atau mimpi, tetap saja dia menyukai mimpi yang indah itu.
Seorang lelaki di dalam mimpinya sangat tampan dan romantis. Sedangkan anak lelaki yang selalu hadir di dalam mimpi Ningsih, seakan orang nyata yang dia pernah kenal. Namun tiap mengingat, Ningsih langsung sakit kepala. Dia tak bisa mengingat apa pun. Hal itu sangat aneh baginya. Dia hanya menyimpan dalam hati karena takut Wahyu akan khawatir pada kesehatan psikisnya.
Setiap melihat mimpi itu, Ningsih selalu bangun di jam yang sama. Pukul tiga lebih lima belas menit dini hari. Selalu saja hal itu terjadi dan membuat Ningsih resah. Namun jika dia tak bermimpi, selalu ada rasa rindu di dada. Rasa rindu yang menyiksa, tetapi tidak tahu ke mana arah dan tujuan rindu itu.
Ningsih kembali memejamkan mata. Dia berharap mimpi itu akan datang lagi, tetapi kenyataannya mimpi itu tidak datang kembali. Mimpi itu bagaikan hal yang datang tak dijemput, pulang tak diantar.
Ternyata bukan hanya Ningsih yang merasakan itu. Semua yang dalam pengaruh Tuan Abaddon, mengalami hal yang sama. Mimpi yang seakan nyata dan kehidupan nyata yang seperti mimpi. Mereka merasakan ada hal yang aneh, tetapi tak bisa mengungkapkannya. Mereka setahun ini merasakan hidup seperti dalam bayang-bayang sesuatu.
...****************...
Sembilan bulan kemudian ....
Hari demi hari berganti begitu cepat. Bulan berganti bulan dengan pasti. Bima sudah tak sabar menanti hari di mana dia, Alex, Evan, dan Lily akan dibebaskan dari semedinya oleh Tuan Abaddon. Mungkin beberapa hari lagi, mereka akan bebas. Setelah menjalani semedi yang sangat menyiksa, mereka akan segera menjadi manusia.
Bagaimana tidak? Iblis yang semedi di tempat dingin pucak Gunung Everest, tentu akan sangat tersiksa. Tak hanya soal roh mereka, tetapi dingin itu menyiksa dan membuat mereka hampir musnah. Mereka bertahan demi keinginan menjadi manusia lagi. Tanpa keinginan yang kuat, mereka tak akan bisa bertahan.
"HA HA HA HA ... KALIAN SUDAH MENGHITUNG HARI, YA? BESOK ADALAH WAKTU SEMEDI KALIAN BERAKHIR. OLEH SEBAB ITU, AKU AKAN MENGUTUS IBLIS UNTUK MEMBAWA KALIAN BERKELILING TERLEBIH DAHULU. SEPERTI APA MENJADI MANUSIA SESUNGGUHNYA DI ZAMAN INI. DAN PERMINTAAN KALIAN APAKAH INGIN DISELESAIKAN ATAU TIDAK. SEMUA KEPUTUSAN DI TANGAN KALIAN." Suara Tuan Abaddon terdengar nyaring, tetapu mereka tak bisa menemukan asal suara itu saat hampir selesai semedi.
Tuan Abaddon pun mengirim iblis yang akan membawa mereka berempat berkeliling sebelum memutuskan menjadi manusia sungguhan. Benar adanya, makhluk sedingin es, dengan rambut putih panjang dan mata merah datang menghampiri mereka berempat. "Aku adalah utusan dari Tuan Abaddon. Aku akan membawa kalian menjelajahi dunia manusia sebelum memastikan pilihan kalian," ujar makhluk bernama Snowice penguasa Gunung Everest membawa Bima, Alex, Evan, dan Lily pergi.
...****************...
__ADS_1
Penglihatan Evan tentang dunia manusia ....
"Lihatlah dunia manusia ini. Mereka terlalu egois dsn tamak. Mereka hanya memikirkan rupa. Jika kamu tak bisa cukup tampan di dunia manusia, tidak ada satu pun yang akan peduli padamu. Jika kamu tak cukup kaya di dunia manusia, tidak akan ada perempuan yang mau hidup denganmu ... termasuk Lily. Karena saat dia menjadi manusia, kemungkinan kalian tidak akan bersama atau saling mengingat. Pikirkanlah terlebih dahulu," ujar Snowice pada Evan.
Evan melihat semua yang ada pada pandangannya. Dia teringat masa lalu, sudah sangat lama sekali. Saat dia lumpuh dan tak bisa apa-apa. Saat dia tidak dicintai dan tak memiliki teman. Semua hal mengerikan bagi Evan. Menjadi iblis adalah pilihan Evan waktu itu ... tetapi setelah mengenal Lily, keadaan Evan sebagai iblis menjadi berbeda. Seakan cinta mengubah segalanya. Meski dia tahu, Lily hanya mencintai Lee. Namu. tak bisa dipungkiri, kebersamaan mereka cukup lama.
"Apakah aku bisa meminta ingatan ini tetap ada, Snowice?" tanya Evan mencoba bernegosiasi.
"Ada hal baik dan buruk jika kamu tetap mengingat memorimu selana ratusan tahun ini. Dunia manusia berbeda dengan dunia kita. Mereka lebih suka melupakan. Mereka mengingat hanya untuk menyimpan dendam. Kenangan baik pun kadang terlupa dengan adanya satu kesalahan. Manusia berbeda jauh dengan kita," terang Snowice membuat Evan menimbang-nimbang kembali pilihannya.
"Jika aku melupakan, apakah ada kemungkinan aku hidup dengan Lily?"
"Entah ... aku pun tak tahu. Perasaanmu terhadapnya tidak seharusnya ada di dunia iblis." Snowice menerawang jauh apa yang dia lihat. Kerumunan manusia yang saling mendendam, saling bersaing. Meski bibir mereka mengatakan hal mendukung, tetapi iblis tahu apa yang ada di hati mereka yang menyimpan rasa iri. Manusia macam itu yang menjadi incaran para iblis.
"Beri aku waktu untuk berpikir," ucap Evan.
"Baik. Aku akan menunjukkan dunia manusia pada ketiga temanmu. Berpikirlah dahulu." Snowice pun pergi meninggalkan Evan yang masih terdiam.
...****************...
"Inilah dunia manusia. Penuh intrik dan skandal. Tidak ada cinta sejati yang suci tak bernoda. Semua manusia pasti pernah mendua, entah dalam hati atau pikiran, atau dari mata yang mengingkan bukan miliknya. Sesungguhnya, manusia itu makhluk yang lemah. Mengapa kamu ingin menjadi makhluk seperti itu?" Snowice mulai menjabarkan tentang manusia.
Lily tak bergeming menatap kerumunan manusia itu. Tidak ada hal baik selama hidupnya, kecuali saat bersama Lee--Tuannya. Namun bagaimana lagi karena Lee pun menghilang entah ke mana. Manusia yang ada di hadapan Lily, hidup penuh kepura-puraan. Mereka bertahan demi status pernikahan saja, padahal di hati mereka mencintai orang lain. Ada juga manusia yang menikah demi uang, menikah demi jabatan, menikah karena terpaksa atau perjodohan, dan beberapa juga memilih tak menikah karena terlalu takut akan sakit hati.
"Bagaimana jika aku meminta hidup dengan seseorang saja?" tanya Lily berharap bisa terwujud.
"Tidak bisa. Apalagi orang yang kau inginkan sudah tak di dunia manusia. Apa yang kau inginkan? Hidup dalam mimpi atau bayang-bayang?" Snowice bisa membaca pikiran Lily yang menginginkan bersama Lee kembali.
"Tidak. Aku hanya ingin hidup bersama ...."
__ADS_1
"Lelaki iblis yang bersamamu mengingkan hidup denganmu. Jika kau menolak, tak apa. Aku bisa menghilangkan ingatan kalian dan kalian bisa hidup menjadi manusia biasa." Snowice memutus pembicaraan Lily. Wanita itu pun terdiam untuk berpikir.
"Beri aku waktu memikirkan ini," gumam Lily dan Snowice pun segera pergi meninggalkan Lily dan membawa Alex dan Bima secara bergantian.
...****************...
Penglihatan Alex terhadap dunia manusia ....
"Alex ... kamu yang termuda di sini. Banyak hal di dunia manusia yang belum kamu ketahui. Lihatlah terlebih dahulu ...." Snowice membuka penglihatan Alex tentang dunia manusia.
Banyak anak muda yang saling menghina, pembullyan, **** bebas, budak cinta, dan gak segan-segan saling memukul jika ada perselisihan. Manusia yang merasa benar. Para muda-mudi yang tak ada habisnya menyalahkan satu dengan lainnya. Alex belum pernah melihat itu selama bersama orang tuanya. Alex pun menatap Snowice yang banyak bercerita.
"Soal orang tuamu ... hubungan mereka tak seharusnya ada. Jika kau menjadi manusia, adakah yang menjamin bisa melindungi Ibumu? Karena aku tahu, Ayahmu pasti ingin menjadi manusia agar bisa hidup dengan Ibumu, benar? Pikirkan dahulu sebelum kamu memilih keputusan besar ini. Karena sekali kamu memilih, tidak akan ada kesempatan kedua. Apakah kamu akan melepaskan kekuatanmu?" Snowice memperingatkan dan menanyakan kembali keputusan yang sulit itu.
Alex terdiam menatap manusia yang ada di hadapannya. Dia akan memikirkannya terlebih dahulu sebelum memilih. Alex menjadi ragu, terlebih semedinya selama satu tahun membuat energinya meningkat.
"Baik. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu," ucap Alex yang kemudian menunggu keputusannya. Snowice langsung membawa Bima pergi dan memperlihatkan dunia manusia padanya.
...****************...
Penglihatan Bima terhadap dunia manusia ....
"Bima ... kau yang lebih mengenal dunia manusia dibanding ketiga iblis lainnya. Kau juga yang sudah terjebak dalam cinta yang tak semestinya. Kau mau lihat hal yang ada di dunia manusia? Belum tentu cinta berakhir dengan bahagia. Bagaimana jika wanitamu tak mengenali kau lagi? Bagaimana jika dia melupakanmu?" Snowice mencoba membuat hati Bima gentar.
Manusia di hadapan Bima terlihat saling mencintai, tetapi ada juga yang saling menyakiti. Melontarkan kata indah, kemudian saling mencaci maki. Pengkhianatan dan perpisahan, semua ada dalam cinta manusia. Bima kembali ingat masa lalu saat menemukan Ningsih yang tersiksa dengan kehidupan bersama suaminya. Jika Bima bukan makhluk gaib, bagaimana dia bisa menolong Ningsih?
"Beri aku waktu, Snowice. Aku tahu ini pilihan yang sulit," ujar Bima.
Snowice tersenyum melihat Bima yang juga tak bisa memilih dengan cepat. Misi yang dia lakukan sepertinya berhasil. Dia pun membawa Bima kembali ke tempat keempat iblis itu harus bersemedi. Dia menatap keempat iblis itu dan berkata, "Aku akan memberi waktu kalian sampai esok hari. Pikirkan baik-baik apa keputusan yang akan kalian ambil. Tuan Abaddon akan datang esok untuk mendengarkan dan mengabulkan permintaan kalian." Snowice pun menghilang bersama datangnya hujan salju yang lebat.
__ADS_1
Evan dan Lily terdiam dalam pemikirannya masing-masing. Mereka menginginkan jadi manusia, tetapi banyak risiko yang akan terjadi. Bahkan, menjadi manusia belum tentu menjamin kebahagiaan mereka.
Sedangkan Alex dan Bima saling menatap satu dengan yang lain. Terlihat mereka bimbang karena takut salah memilih. Apakah yang terbaik menjadi pilihan mereka?