JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 5


__ADS_3

...🔥 GIO DAN MATA BATIN 🔥...


Setelah kejadian tadi pagi di tempat parkir, Gio menjadi tak tenang. Pelajaran pun merasa diawasi. Dia betul-betul melihat sosok yang mirip Angel tadi pagi.


Saat kelas usai, Gio bergegas menghampiri Lukas. Awalnya Lukas menghindar, tetapi Gio menahannya.


"Bro, ayo bicara sebentar. Penting." kata Gio yang memegang lengan Lukas.


"Apaan, sih? Mau nakut-nakuti lagi? Gara-gara tadi pagi kamu bertindak aneh, jadi nggak semangat kuliah, nih!" gerutu Lukas pada kawannya.


Gio menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada siapa-siapa mendengar pembicaraannya. "Ssst ... aku cuma mau tanya. Apa beberapa hari ini kamu ngerasa tengkukmu berat, sakit, atau panas? Kamu ngerasa seperti ada yang mengawasi padahal sendirian? Atau kamu ngerasa Angel masih di sekitarmu?" tanya Gio pada Lukas.


Sebenarnya Lukas malas membahas hal itu. Dia sudah cukup ketakutan melihat wujud Angel waktu itu. "Gio, ngapain, sih, bahas beginian? Males banget! Masih siang juga, kita masih ada dua kelas, kan?" Lukas mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Fokus jawab pertanyaan kenapa, sih? Ini penting, soalnya si Angel nungguin kamu di lapangan sekarang. Sebenernya aku nggak mau ikut campur urusan beginian. Tapi berhubung kelas dimulai, Angel nempel kamu terus, aku terganggu jadi nggak fokus belajar." jelas Gio membuat Lukas bingung.


"Nempel gimana? Halusinasi kali! Udah, ah." Lukas kembali menghindar.


"Kalau aku bilang, aku tahu kamu pakai pengasihan, masih mau menghindar?" tegas Gio yang berhasil menarik perhatian Lukas.


Lukas seketika marah dan memegang kerah kemeja Gio dan menyudutkannya di dinding. "Maksudmu apa, hah? Iri bilang, bos! Nggak usah buat onar di kampus. Tahu sendiri, sekarang aku ini selebgram dan sebentar lagi launching youtube channel. Jangan macam-macam, bro!"


Bukannya menjawab baik, Lukas sudah tersulut emosi. Gio pun melepaskan diri dari tangan Lukas. "Jangan salah paham, aku bilang karena aku peduli. Nggak biasanya orang meninggal ikuti orang yang masih hidup. Kamu ada salah atau sesuatu yabg belum diselesaiin, ya? Mau kubantu? Kasihan Angel nggak isa ke mana-mana kalau begini caranya," kata Gio sambil merapikan kembali kemejanya.


"Janji mau bantu atau cuma kepo?" selidik Lukas yang belum percaya seratus persen dengan Gio.


"Kalau aku nggak mau bantu, ngapain susah-susah jelasin ke kamu? Bro, jangan negatif thinking dulu. Rahasiamu aman."


Gio dan Lukas pun berbincang banyak hal mengenai gangguan gaib yang Lukas alami setelah Angel meninggal. Meski awalnya Lukas tak mau mengaku jika menggunakan pengasihan dan mengirim pelet ke Angel, akhirnya terpaksa semua itu diakui karena Gio menebak semua dengan benar.


Lukas tak menyangka jika Gio sungguh-sungguh memiliki kelebihan atau mata batin yang kuat. Lukas merasa malu, sesama lelaki, Lukas justru terpedaya tipu muslihat Iblis. Lukas menceritakan semua kepada Gio. Berharap ada jalan keluar dari permasalahannya saat ini.


" ... begitu ceritanya. Gimana, bro? Bisa bantu, 'kan?" kata Lukas setelah menceritakan awal dia memilih jalan kegelapan itu.


"Wanita yang memberi pengasihan itu bukan wanita biasa. Dia anak buah Iblis. Mengapa kamu bodoh sekali melakukan seperti itu? Pantas saja Angel tak mau pergi darimu. Sampai meninggal pun, efek pelet itu tetap melekat. Kekuatan gaib yang mengerikan." Gio mulai menceramahi Lukas.


"Lantas gimana? Bisa bantu nggak?" Lukas menatap tajam Gio.

__ADS_1


"Semoga bisa."


...****************...


Kedua orang tua Angel sudah meminta preman untuk menghajar Lukas. Mereka memberi uang bayaran cukup banyak. Curiga, amarah, dan dendam menguasai hati orang tua Angel yang tak bisa mengikhlaskan kepergian anak semata wayangnya.


Sore hari setelah usai kuliah, Lukas melaju dengan motornya menuju ke rumah Bella. Seperti janjinya tadi pagi, dia akan menemui Bella. Lukas tidak tahu jika ada beberapa preman mengikutinya dengan dua motor berboncengan.


Saat sampai di daerah yang lumayan sepi, preman itu menghentikan motor Lukas dengan mendesak ke kiri agar Lukas berhenti. Lukas terpaksa menghentikan laju motornya karena takut terjatuh.


Belum sempat Lukas bertanya, keempat preman itu langsung menyeret Lukas dan memukuli Lukas berkali-kali. Meski kepala Lukas masih menggunakan helm fullface, tetapi pukulan dan hantaman bertubi dengan balok kayu membuatnya kelimpungan dan tak sadarkan diri. Lukas pingsan.


Keempat preman itu langsung pergi setelah membuang tubuh Lukas ke pinggir jalan yang menurun. Tubuh Lukas jatuh dan terperosok tanpa ada yang tahu. Sedangkan motor Lukas, mereka bawa untuk menghilangkan barang bukti. Preman itu puas dsn pergi. Mereka merasa sudah mrmbunuh Lukas.


Malam harinya, Mama Fani sangat cemas karena sedari tadi Lukas belum menberi kabar dan juga ponselnya belum bisa dihubungi. Dilain tempat, Bella pun cemas menunggu Lukas yang tak kunjung datang. Mereka tidak tahu jika Lukas sedang beradu dengan nasib dan maut.


Gio merasakan ada yang tak beres, dia pun mencoba menelepon Lukas. Karena handphonenya tidak aktif, Gio pun telepon ke rumah Lukas. Gio menelepon dan langsung diangkat Mama Fani.


Mama Fani: "Selamat malam, siapa, ya?"


Gio: "Malam, Tante. Saya Gio. Lukasnya, ada?"


Gio: "Loh, Gio kira Lukas sudah sampai rumah. Kalau begitu, Gio akan coba bantu mencari Lukas, Tante."


Mama Fani: "Terima kasih, Gio."


Gio semakin merasakan firasat buruk. Dia pun segera pergi dengan mobil untuk mengikuti kata hati dan mata batinnya. Menunjukkan ke mana kira-kira Lukas berada.


Gio menyetir mobil sendirian. Dia sudah izin ke orang tua dan memasang gps agar bisa dipantau oleh orang tuanya jika terjadi sesuatu. Gio yakin, ada hal buruk terjadi pada Lukas.


Gio melintasi tempat sepi arah ke rumah Bella yang dia rasa ada hal menimpa Lukas di sana. Gio pun menepikan mobil dan menyalakan senter untuk mencari petunjuk lagi. Saat berjalan di tepi, Gio tak sengaja menginjak sebuah jam tangan. Gio memungutnya dan melihat dengan nyala senter.


"Ini 'kan, jamnya Lukas! Udah rusak begini. Pasti ada apa-apa dengan Lukas. Lukas! Lukas!" teriak Gio coba mencari kawannya yang menghilang.


Gio pun mengarakan senternya ke tepi jalan yang menurun seperti jurang tetapi tidak ada bebatuan, hanya jalan menurun yang banyak pohon dan tanaman. Betapa terkejutnya Gio melihat dari kejauhan ada seseorang terkapar di bawah sana.


"Lukas? Aku harus telepon Papa, Mama, dan polisi!" ucap Gio yang khawatir.

__ADS_1


Malam itu, nyawa Lukas nyaris meninggal. Gio yang gerak cepat membuat pertolongan datang tepat waktu. Lukas dievakuasi dan dibawa ambulance untuk dirawat dalam rumah sakit.


Mama Fani menangis tersedu-sedu melihat kondisi Lukas yang seperti itu. Lukas langsung masuk ruang ICU setelah dicek tak sadarkan diri atau koma.


"Sabar, Bu. Anak Ibu mengalami benturan benda tumpul yang mengakibatkan luka serius di kepala dan bagian perut serta punggung. Untuk tangan dan kaki sudah kami obati dan diperban. Besok kami akan lakukan pemeriksaan menyeluruh dan kemungkinan akan ada operasi jika luka pada kepalanya menyisakan darah di otak," jelas dokter membuat Mama Fani pingsan.


Gio dan orang tuanya yang ikut ke rumah sakit pun menolong Mama Fani. Mereka sengaja menemani karena tahu papa Lukas sudah tiada. Akan sangat menyesakkan jika mama Lukas mengalami semua ini sendirian.


Kejadian itu pun menggemparkan Kota Surabaya dan membuat banyak media meliput hingga masuk koran dan televisi. Polisi pun melakukan penyelidikan dan berjanji akan segera menemukan pelakunya. Modus kejahatan yang diperkirakan adalah perampokan karena motor Lukas yang berharga puluhan juta itu raib, entah di mana.


Mendengar kabar itu, orang tua Angel pura-pura bersedih dan datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lukas. Sebenarnya mereka ke sana untuk memastikan mayat Lukas. Namun, kekecewaan melanda ketika tahu Lukas dirawat dalam ICU.


Saat papa Angel berjalan ke koridor yang sepi dan menghampiri Gio untuk berbasa-basi, Gio justru menjawab dengan ketus.


"Gio, sudah dari tadi di sini?" tanya papa Angel yang sudah kenal dengan Gio. Jadi, Gio, Angel, dan Lukas adalah teman semasa kecil. Mereka satu sekolahan dari SD hingga kuliah.


"Sudah. Aku yang menemukan Lukas di sana. Om, kumohon, jangan lakukan itu lagi. Biarkan Angel tenang di alamnya tanpa terbebani dengan prisangka buruk dan rencana balas dendam kalian," ucap Gio memperingatkan.


Seketika papa Angel berubah menjadi garang. "Bocah tengik! Apa maksudmu? Tahu apa kau soal Angel dan soal dendam!" gertak papa Angel pada Gio.


Gio hanya tersenyum kecut menatap papa Angel yang dahulu sangat baik kepadanya. "Jadi, begini, ya yang dinamakan ambisi balas dendam?"


Papa Angel menatap tajam ke Gio. Dia tak ingin berdebat dengan anak itu. Dia segera mengajak istrinya untuk berpamit pulang dengan alasan tak enak badan. Mama Fani pun memahami dan mengizinkan mereka pulang.


"Lukas ... bangun, Nak. Jangan tinggalkan Mama seorang diri. Setelah Papamu tak ada, mampukah Mama hidup sendiri tanpamu?" lirih Mama Fani dari balik jendela ruangan ICU.


Malam itu, Gio berjanji dalam hati akan membantu dan membebaskan Lukas sebisa mungkin. Gio tahu jika roh Lukas tidak ada di sana, sehingga tubuhnya tak kuat dan koma.


Mereka tidak pulang rumah karena tak tega meninggalkan Mama Fani sendirian di sana menjaga Lukas yang masih koma. Mereka pun beristirahat di tikar yang Gio belikan di toko saat membeli kebutuhan penting lainnya untuk orang tuanya dan Mama Fani.


"Ini, minum dulu Tante. Papa Mama juga minum hangat dulu," ucap Gio menyodorkan minuman hangat dalam cup.


"Terima kasih, Gio. Kamu baik sekali, padahal Lukas sering nakal sama kamu waktu SD," jawab Mama Fani sambil meraih minuman dalam cup tersebut.


"Sama-sama, Tante. Masa lalu biarlah masa lalu, bukankah kita hidup untuk hari ini dan esok," kata Gio yang kemudian mendapat pujian dari Mama Fani.


"Kamu ini dewasa banget berpikirnya. Beda dengan Lukas." kata Mama Fani.

__ADS_1


Gio pun menatap ke kaca ICU. Dia terkejut melihat sesuatu di dalam ruang ICU Lukas. Gio yakin itu bukan manusia.


__ADS_2