
π RENO SAKIT π
NB: Mana nih fansnya Reno? Jangan bersedih yaa Bab 93 ini bakal buat kamu ikutan sedih and sakit. But, jangan lupa klik jempol untuk like, bagi vote agar Author tetap eksis di Noveltoon and bisa bagi Coin juga dalam bentuk Tip jika kamu suka^^ Happy reading all π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Joko mengusap tubuh Reno yang penuh luka lebam. Dia pun bingung kenapa Reno menjadi seperti itu. Asumsinya soal tidur dengan makhluk gaib jelas dibantah oleh Reno. Bahkan Reno tak berani bercerita jika dia pernah bercin*a dengan Dinda.
"Bang, terus ini gimana? Lebam gini bisa ilang nggak ya?" tanya Reno pada Joko yangbsedang mengerok tubuhnya dengan minyak dan uang koin.
"Tergantung nih. Tapi dikerok begini nggak sakit, ya? Lebih baik habis ini kamu tidur aja. Besok pagi Bang ke sini lagi cek keadaanmu," jawab Joko mencoba menenangkan Reno yang ketakutan.
"Ya, Bang. Terima kasih banyak ya. Tapi Bang janji nggak bilang siapa-siapa ya?" Reno meyakinkan rahasianya aman.
"Ya. Bang janji. Kamu nggak mau Kakak dan Tantemu khawatir, kan? Yaudah sekarang tidur aja. Bang pamit dulu," kata Joko sambil meninggalkan kamar.
Reno merasakan panas dan sakit di sekujur tubuh. Dia berbaring dan menatap langit-langit. "Apa benar si Dinda nekat pakai pelet ya? Tapi dia kan memang cantik. Aku memang tertarik sih. Aku ini lelaki normal. Tapi aneh juga dia bisa ada dimimpiku waktu itu. Ah, jadi makin pusing." gumam Reno yang menerka-nerka tanpa menemukan jawaban.
Perlahan Reno pun mengantuk dan tertidur lelap. Dia tak sadar jika reaksi air itu membuatnya sakit parah.
Keesokan harinya, Reno tak bisa bergerak. Tangannya kaku sedangkan kakinya terasa sangat berat. Badan Reno terasa perih dan sangat sakit. Saat Reno membuka mata, dia sangat takut melihat tangannya berwarna biru lebam juga.
Reno hendak mengambil handphone menghubungi Joko tetapi tak bisa bahkan untuk bergerak sedikit saja sangat susah. Reno coba bersuara meski kerongkongannya terasa sakit.
"Tolong ... tolong!"
Seseorang membuka pintu dan masuk ke kamar. Ternyata itu Tante Ningsih. "Reno? Apa yang terjadi?" Tante Ningsih jadi panik dan bingung.
Tercium aroma tak sedap berasal dari tubuh Reno yang semalam lebam mulai membusuk dan keluar cairan. Ningsih tahu hal ini tak beres. Dia segera memanggil Bima sebelum seisi rumah mengetahui kondisi Reno.
"Bima, Bima sayang. Kumohon bantu Reno. Tolong Reno," pinta Ningsih pada suami gaibnya.
"Reno meminum air dari Santi. Santi mendapatkannya dari Kyai. Kalau aku tolong Reno, Kyai itu akan terluka parah karena usianya sudah tua," jelas Bima sambil berjalan di samping Ningsih menuju kamar Reno.
"Tolonglah Reno. Kondisinya mengenaskan. Kalau tidak dipulihkan bisa-bisa dia mati!" Ningsih mulai panik.
"Baik. Namun, aku sembuhkan Reno dan seakan yang dia derita hanya mimpi agar dia tak ingat jika aku yang menyembuhkannya. Bagaimana Ningsihku?" Bima mengajukan penawaran.
"Ok. Terpenting Reno selamat. Cepat Bima."
Bima pun masuk ke kamar Reno. Bau busuk sudah memenuhi ruangan. Tubuh Reno mulai mengeluarkan nanah. Bima pun mengambil napas panjang, lalu mengembuskan ke muka Reno hingga telapak kaki. Reno pun pingsan. Lukanya mulai pulih, lebam di tubuhnya menghilang disusul nanah yang juga menghilang.
Reno terlelap dan tak tahu jika hal itu bukan mimpi. Bima mengajak Ningsih beranjak dari kamar Reno agar tidak menimbulkan curiga. Bima pun menerangkan soal itu, "Reno sudah bercin*a dengan Dinda, otomatis di dalam dirinya ada pengaruh ilmu hitam Dinda. Nah, air dari Kyai itu hendak menetralkan pengaruh Dinda yang mulai menjalar ke seluruh tubuh hingga ke pembuluh darah. Jika tidak diselamatkan atau dihentikan, sama saja penyembuhan itu akan membuat Reno mati lebih cepat."
Ningsih pun terkejut. "Kalau begitu, berarti ... Reno sudah masuk menjadi pengikut Iblis?"
"Bukan. Reno tidak secara langsung menjadi pengikut Iblis. Dia hanya menjadi orang yang terkena dampak langsung dari kekuatan Dinda. Ilmu pelet melekat di tubuh Reno. Reno tidak tahu soal Dinda itu Iblis. Tenang saja," jelas Bima.
Ningsih pun bisa bernapas lega. Tak khawatir soal Reno lagi. Untungnya Bima bisa menyembuhkannya. Meski Kyai yang memberi air itu terluka parah di tempatnya.
Joko pun membawa sarapan dan minum hangat ke kamar Reno. Saat Joko membuka pintu, Reno sudah mandi dan memakai pakaian santai.
"Eh, Bang Joko. Aku baru mau turun kok. Tumben ke sini?" tanya Reno seperti tak ingat apa yang terjadi semalam.
"Loh udah enakan badannya?" tanya Joko sambil meletakan nampan berisi bubur ayam dan teh hangat.
"Emang kapan aku sakit? Sehat gini kok. Bang kenapa bawa sarapanku ke sini?" jawaban Reno justru membuat Joko makin bingung.
"Semalam kamu kan sakit. Coba Bang liat lukanya," kata Joko sambil menyibakan kaos Reno. Luka lebam itu sudah menghilang. Reno pun bingung yang dimaksud Joko.
"Aku nggak kenapa-kenapa Bang. Bang kenapa sih kok tumben aneh?" Reno malah jadi takut pada Joko.
__ADS_1
"Gini aja, lihat chat di handphonemu. Semalam Bang ke sini dan kamu sakit. Sekarang kamu sembuh dan nggak ingat. Bukankah aneh?"
Reno pun mengecek ponselnya seperti kata Joko dia menemukan percakapan Joko dna dirinya semalam. Tapi sunggu diingat pun Rebo tetap lupa. Tak bisa mengingat kejadian semalam. Joko pun pamit keluar kamar dengan tanda tanya besar.
Bima menghapus sakit Reno beserta ingatannya tentang sakit. Namun dia tak bisa menghapus chat di dalam handphone Reno dan menyisakan tanda tanya besar di antara Reno dan Joko.
Setelah menghabiskan sarapan, Reno pun menemui Nindy dengan ceria. "Hei, Nindy! Nanti mau ikut nonton film nggak?" sapa Reno dengan santai.
"Nonton film apa? Ama siapa, Kak?" tanya Nindy memastikan.
"Ya berdua lah, mosok rame-rame kan nggak romantis gitu. Ha ha ha ha ...." jawab Reno sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ya, deh. Nindy pamit Uti Kakung sama Tante Ningsih dulu ya."
Mereka pun bersiap ke bioskop setelah berpamitan pada keluarga di rumah. Sesampainya di bioskop, Reno membeli tiket dan satu popcorn besar dan dua soda.
Merak masuk ke ruang Theater 3. Ternyata Reno mengajak Nindy menonton film Fifty Shades of Grey yang banyak adegan plus plusnya. Nindy awalnya tak tahu jika menonton film seperti itu. Setelah film dimulai, Nindy pun merasa tak nyaman. Reno malah justru menggenggam erat jemari Nindy.
***
Malam harinya ....
πΆ You're the light, you're the night
You're the color of my blood
You're the cure, you're the pain
You're the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much
You're the fear, I don't care
Follow me through the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life
So love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?
Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I've gotta find
Only you can set my heart on fire, on fire
Yeah, I'll let you set the pace
'Cause I'm not thinking straight
My head spinning around, I can't see clear no more
__ADS_1
What are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (like you do)
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (yeah)
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?
I'll let you set the pace
'Cause I'm not thinking straight
My head spinning around, I can't see clear no more
What are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (like you do)
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (yeah)
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (like you do)
Love me like you do, lo-lo-love me like you do (yeah)
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for? πΆ
Lagu itu mengalun di pikiran Nindy sambil tak bisa memejamkan mata mengingat setiap adegan yang berlangsung tadi saat di bioskop. Jantung Nindy terasa berdetak lebih kencang dan ingatannya tak luntur dari wajah Reno. Nindy pun takut jika melakukan ciu*an seperti tempo hari, oleh karena itu seusai menonton bioskop Nindy menghindar sejenak dari Reno dan membuat pemuda itu galau.
Reno: [Nindy, kamu marahkah karena aku ajak nonton film itu? Maaf ya. Tapi jangan cuekin aku begini dong.]
Nindy: [Aku nggak marah, Kak. Aku cuma nggak tahu kok malu banget ketemu Kak Reno. Nindy juga takut kalau ....]
Reno: [Takut apa? Reno nggak gigit loh! π]
Nindy: [Hla itu yang Nindy takut. Kak Reno gombalan mautnya berbahaya. Nindy takut kalau lupa diri. Kita jaga jarak dulu ya, Kak ππ]
Reno: [Reno nggak gombal loh π Serius nih. Yaudah Reno kalau kembali ke Jakarta lamar Nindy sekalian gimana ke Abah Ibu? Nikahnya nunggu ijazah sekolah Nindy keluar langsung ijabsah π]
Nindy pun tertawa menbacanya. Namun dia enggan membalas. "Tidur aja ah, dari pada bingung. Met galau Kak Reno," gumam Nindy sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Reno: [Hallo ... kok nggak balas Nindy?]
[Sudah tidur kah?]
[Marah ya?]
__ADS_1
[Yaudah Reno tidur aja. Met ketemu besok pagi.]