
π PEMAKAMAN π
πΆπΆ Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun kubayangkan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri
Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit kurasakan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri
Di bawah batu nisan kini
Kau telah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh 'ku tak sanggup ini terjadi
Karena 'ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan, kasih
Satu jam saja 'ku telah bisa
Cintai kamu, kamu, kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja 'ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Di nantiku
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
__ADS_1
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan, kasih
Satu jam saja 'ku telah bisa
Cintai kamu, kamu, kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja 'ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup πΆπΆ
Lagu Saat Terakhir terngiang di pikiran Santi saat menghantarkan jenazah Joko ke tempat peristirahatan terakhir. Makam yang sudah digali dan terlihat gelap serta kosong, menjadi rumah Joko selamanya. Santi masih menangis. Duka itu menyelimuti hatinya. Nindy menemani Santi karena takut kalau saja pingsan seperti subuh tadi saat melihat kondisi jenazah Joko.
Pemakaman berjalan lancar. Sesudah mendoakan, para pelayat pun pergi satu per satu meninggalkan pemakaman. Hingga siang menjelang, tinggallah Santi yang ditemani Nindy di samping nisan Joko.
"Kak, ayo pulang. Sudah mau tengah hari. Kalau Kakak begini terus, bisa sakit." lirih Nindy kesekian kalinya membujuk Santi untuk pulang. Santi pun berdiri, dia melangkah gontai ke arah rumah Nindy. Nindy bergegas menggandeng tangan Santi.
Kadang, cinta bisa membutakan mata, hati, bahkan pikiran. Seberapa keras orang lain menasehati, seorang yang dibuai cinta seolah menutup mata, telinga, dan mulutnya dari segala nasehat baik. Cinta ... rasa yang salah diwaktu yang belum tepat, hanya akan menjerat hati semakin luka.
"Kyai, apa sebaiknya kita tunda dulu hal ini?" tanya Ridho setengah berbisik agar tak didengar orang lain.
"Setelah tujuh hari, kita laksanakan. Tidak boleh lebih dari empat puluh hari karena ini yang terakhir. Tuan yang jahat pasti menanti wanita itu," kata Pak Anwar dengan beberapa kode yang dimengerti Ridho.
Ridho memang terlihat lebih dekat dengan Pak Anwar karena Budi mempunyai banyak kesibukan di luar Pesantren. Hal itu yang membuat banyak orang salah terka. Banyak yang mengira Ridho justru anak kandung Lak Anwar. Namun, Budi tak pernah mempermasalahkan itu. Hati Budi terlalu baik, dan tidak berburuk sangka kepada orang lain.
"PakLek, gimana Kak Santi? Reno khawatir kalau Kak Santi jadi gila ...." bisik Reno saat makan di samping PakLek Darjo.
"Hust! Ngawur saja kalau bicara! Dasar bocah penyung! Harusnya kamu hibur Kakakmu itu dan buat dia semangat atau setidaknya mau makan. PakLek tak tega mau mengatakan yang sesungguhnya ke Kakakmu," kata PakLek sambil menatap Reno dengan tajam.
"Busyet, tumben PakLek marah. Iya, iya. Reno ini juga mau ke Kak Santi. Tapi tunggu perut terisi soalnya lapar banget." dalih Reno yang sebenarnya malas dengan hal percintaan yang rumit. Dia takut juga jika mengingat hal dahulu, hampir mencintai Tante Ningsih. Bisa-bisa nyawa melayang jika bersama Tante Ningsih.
PakLek hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Reno yang sepertinya sudah dewasa, tetapi masih saja suka bercanda seperti anak kecil. "Ya, sudah. Terserah Reno saja," ucap PakLek singkat membuat Reno takut.
Reno segera meletakkan piring yang masih berisi makanan, baru dimakan separuh. Dia segera mendekati Kak Santi yang masih bersedih. "Kak, sudah donk sedihnya. Kalau dilihat orang, 'kan, nggak baik. Lagi pula yang jadi istri sirinya aja udah nggak nangis, tuh," kata Reno yang coba menenangkan tetapi justru menyulut amarah.
"Ya jelas dia nggak sedih! Dia, 'kan, cuma ngorbanin Bang Joko! Tahu apa kamu soal kata orang! Bahkan kamu juga sama saja pernah termakan rayuannya! Nggak usah sok pedulu!" teriak Santi membuat orang yang ada di sana terkejut.
Ningsih yang merasa tersinggung pun mendatangi Santi. Budi mengejar Ningsih dan menggenggam tangannya agar tidak terjadi keributan. "Bu, saya mohon dengan sangat. Tidak usah ditanggapi. Ini masih suasana duka." bisik Budi yang khawatir.
Ningsih melepaskan tangannya dari genggaman Budi. Lalu berdiri dihadapan Santi seraya berkata, "Maafkan tante jika melukai perasaanmu. Tante pamit dari sini. Apa pun yang kalian rencanakan, lebih baik urungkan saja. Tante memilih bersama Bima. Tante tak ingin membawa kedukaan lagi dan tak mau membuat kalian terlibat dalam masalah ini. Pulang saja. Tante pamit. Nindy, salam buat Abah dan Ibu dan sampaikan kalau aku pulang."
Pernyataan Ningsih tak mendapat jawaban dari Santi yang masih dilingkupi kesedihan dan kekecewaan. Nindy hanya mengangguk dan menatap Ningsih yang berlalu pergi. Keadaan menjadi hening dan Reno pun kembali ke samping PakLek Darjo. "PakLek, Reno pesan homestay dulu, ya. Sepertinya ini akan menjadi perjuangan panjang. Tante Ningsih pulang dan bilang milih Bima."
PakLek hanya mengamati kepergian Ningsih. Mobilnya pun melaju pergi tanpa sepatah kata pun terucap untuk berpamit dengan orang lain selain Santi dan Nindy.
__ADS_1
***
Sore harinya ....
Reno sudah memesan homestay untuk seminggu. Dia bergegas mengajak rombongan beristirahat dan meninggalkan rumah Nindy. Tentunya, mereka sudah berpamit pada Ibu dan Abah.
Mereka sampai di homestay yang memiliki tiga kamar tidur, satu ruang tengah, ruang tamu, dapur, dan dua kamar mandi. Reno sengaja pesan tambahan kasur untuk diletakkan di ruang tengah. Tiga kamar tidur itu untuk Santi, PakLek Darjo, dan Pak Anwar. Sedangkan lelaki yang lain tidur bersama di ruang tengah.
Mereka pun membicarakan soal Ningsih. "Saya sudah paham situasi ini. Wanita itu tak hanya terjerat pesugihan, tetapi rasa cinta kepada Iblis yang membuatnya makin jauh dari cahaya Ilahi. Ini sudah tumbal ketujuh. Dalam tujuh hari, kita tak bisa melakukan apa-apa, tetapi setelahnya ... kita harus sadarkan Ningsih jika tidak, hari keempat puluh kemungkinan dia akan tiada." kata Pak Anwar yang sudah menerawang Ningsih.
"Iya, Pak Kyai. Saya juga berpikir seperti itu karena kekuatan Iblis yang mencengkram jiwa Ningsih saat ini sudah maksimal setelah mengambil tumbal ketujuh. Sebaik-baiknya Iblis adalah seburuk-buruknya manusia. Jangan sampai lengah." ucap PakLek Darjo menanggapi.
Kelima santri, Reno, Budi, dan Santi mengamati pembicaraan serius tersebut. Seolah waktu yang makin sempit, atau memang sudah saatnya semua terjadi.
***
Di sisi lain, setelah Ningsih pulang dari pemakaman ....
Ningsih masuk ke rumah dengan perasaan yang tak karuan. Dia membanting barang yang ada di meja dan berteriak, "Iya, salahku! Semua salahku!"
Vas bunga jatuh dan pecah, sedangkan beberapa buku pun jadi berserakan di lantai. Ningsih menangis dan merasakan sesak di dada.
Bima yang mengetahui itu segera mendekati istrinya dengan wujud manusia. Dia mengelus pundak Ningsih dan berkata, "Sabar, Ningsih. Ini hal baik yang kau lakukan. Saat ini, energiku sudah pulih 100% dan aku akan melindungimu. Entah gerombolan orang sok suci itu atau dari Tuan Chernobog, aku akan menghadapinya."
Ningsih segera memeluk suami gaibnya itu. Manusia bisa berubah pikiran dan melupakan jika sudah bosan, tetapi Bima berbeda. Meski cinta yang Ningsih alami tidak normal, setidaknya itu yang tersisa di hidupnya.
Sore berganti malam, Bima mengajak Ningsih makan malam dan melihat langit yang bertabur bintang. Pemandangan dan situasi yabg romantis. Bima pun berbisik, "Ningsih, maukah kamu mengandung anakku?"
Kalimat yang sangat mengejutkan keluar dari mulut Bima. Ningsih pun menatap Bima tanpa berkedip. Lalu anggukan kepala Ningsih menjadi jawabnnya.
Bima pun mengelus rambut Ningsih yang panjang terurai. Dia lantas mengecup dahi Ningsh. "Nanti malam, tepat purnama. Aku akan memberimu keturunan. Anak kita." kata Bima yang bahagia. Satu fase yang tak dia lewati saat menjadi manusia dahulu kala yaitu memiliki keluarga san orang yang dicintai.
Hal ini membuat Ningsih semakin yakin bahwa mereka berdua bisa bersatu. Anak gaib? Apakah mungkin? Ningsih hanya pasrah dengan perkataan Bima.
Malam harinya, saat di kamar seusai makan malam ... Bima membuka jendela kamar lantai dua agar sinar rembulan bisa masuk menerpa mereka. Bima segera melakukan pemanasan, memancing gelora asmara yang Ningsih pendam. Setelah itu, mereka saling menautkan rindu disaksikan bulan purnama dan hiasan bintang di langit.
Angin berembus menerpa tubuh sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Kali itu, Bima meminta bantuan purnama untuk memenuhi takdirnya dengan menanamkan benih cinta di rahim Ningsih.
"Ningsih, apakah kau mencintaiku?" tanya Bima saat permainan mereka berlangsung.
"Aku mencintaimu, Bima. Lebih dari apa pun." lirih Ningsih.
"Kalau begitu, akan kubawa kamu ke neraka untuk melihat seperti apa di sana. Setelah ini ...." ucap Bima yang kemudian menyelesaikan semuanya.
Ningsih meleguh panjang, lalu menutup matanya. Saat membuka mata, betapa terkejutnya dia sudah berada di tempat yang asing. Gelap dan sunyi. Bima menggandeng tangannya. "Ayo, kita mula berkeliling," kata Bima yang menggenggam erat tangan Ningsih.
Tubuh Ningsih yang tadinya tak berbusana, menjadi terbalut kain hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Ningsih mengikuti Bima yang berjalan entah ke mana. Apakah ini neraka?
"Ningsih, tempat ini sudah masuk ke neraka lapis ketujuh. Sebentar lagi kuperlihatkan semuanya." ucap Bima agar wanita yang dicintainya tak menyesal memilihnya jadi teman hidup.
Wujud menyeramkan berjalan di mana-mana. Ningsih mencoba mengabaikan itu agar tidak takut. Namun, saat tahu ada Joko yang sedang mengalami siksaan, seketika hal itu membuat hati Ningsih terasa nyeri.
Bersambung ....
__ADS_1